Guebukanmonyet!

Apakah Mungkin Batas Kecepatan Diterapkan di Jakarta?

Posted on: July 6, 2008

Artikel ini didukung oleh Jakarta Butuh Revolusi Budaya.

Di Amerika Serikat tanda batas kecepatan seperti gambar di atas dapat ditemukan di setiap jalan. Rambu ini dapat dilihat mulai di jalan kecil, jalan besar, hingga highway.

Setiap pengemudi kendaraan diwajibkan untuk selalu mengikuti rambu ini kalau tidak mau ditilang oleh polisi yang kebetulan lewat atau sedang menunggu mangsa dengan radar khususnya.

Biasanya, setiap pengemudi di Amerika Serikat mendapatkan keringanan untuk dapat memacu kendaraannya lima hingga sepuluh mile/jam lebih cepat dari batas yang berlaku di suatu jalan. Lebih dari itu, harus siap menerima hukuman berat.

Berdasarkan pengamatan saya, mengemudi kendaraan di atas batas kecepatan maksimal termasuk di antara pelanggaran lalu lintas paling berat di Amerika Serikat selain mengemudi ketika berada di bawah pengaruh alkohol dan menerobos lampu lalu lintas.

Di Jakarta rambu seperti ini tidak ada. Para pengemudi kendaraan di jalan raya “dipersilahkan” untuk menggeber mesin mereka sekuat dan sekencang mungkin.

Saya ingat bagaimana jalan raya di Jakarta selalu digunakan untuk balapan liar setiap malam minggu. Saking sering dan biasanya, kegiatan ini malah dijadikan sebagai hiburan gratis yang menarik bagi masyarakat luas.

Kondisi ini jelas bukan merupakan kenyataan yang membahagiakan kita semua (minimal sebagian dari kita) yang ingin melihat kota Jakarta lebih berbudaya. Sebuah kota dengan masyarakat yang tertib dan teratur.

Pertanyaannya sekarang, “Apakah mungkin peraturan seperti itu dapat diterapkan di dalam sebuah komunitas masyarakat yang percaya bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar?”

Kita dan seluruh elemen masyarakat Jakarta adalah pihak yang harus menjawab pertanyaan tersebut. Namun, saya yakin kita bisa.

Saya ingat beberapa tahun yang lalu seorang dosen di kampus saya mengomentari peraturan wajib memakai sabuk pengaman, “Saya sekarang nyetir ke warung saja tidak bisa tidak pakai sabuk pengaman.”

Tepat sekali. Kita itu bisa karena terbiasa. Seorang pakar motivasi dunia pernah berkata di dalam bukunya bahwa sebuah tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi sebuah kebiasaan dan kebiasaan yang dilakukan terus-menerus akan menjadi karakter.

Sebuah contoh yang bisa kita pelajari dari negara-negara maju adalah kemampuan mereka untuk “memaksa” masyarakat mematuhi begitu banyak peraturan. Hal ini tidak selamanya mudah, sering kali ketika sebuah peraturan baru mulai diterapkan muncul banyak protes dari berbagai pihak. Namun begitu, lama-kelamaan masyarakat akan mengikuti juga karena menjadi terbiasa.

Pada akhirnya masyarakat akan sadar bahwa peraturan sebenarnya dibuat untuk memberikan kenyamanan bagi semua, dan bukan untuk DILANGGAR.

Apakah kita bisa? Tentu kita bisa. Karena ingat, kita bisa karena kita terbiasa.

Foto diambil dari sini.

2 Responses to "Apakah Mungkin Batas Kecepatan Diterapkan di Jakarta?"

Boleh juga neh artikel dipost di Jakarta Post🙂

Jadi ingat ma komentar orang bule tentang kecelakaan lalu lintas di Jakarta, mereka heran dengan angka kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi padahal negara Indonesia tidak punya pengemudi yang bermasalah di jalan gara-gara mabuk. Mereka memuji Islam sebagai agama yang mengharamkan alkohol (khamr) karena kata mereka jika negara Amrik dan Eropa juga mengharamkan alkohol maka masalah kecelakaan lalu lintas dan pelanggaran lalu lintas bisa berkurang atau hilang sama sekali, karena itu merupakan major problem.

Duh Mister, gak mabuk2an aja udah ugal2an setengah mampus gitu, apalagi kalo pake mabok? Gak usah heran, emang pada gak punya otak tuh:mrgreen:

kak yonna, otak sih punya, tapi jarang difungsikan. hehehe…

kak tasa, sebenernya, apapun peraturan yang dibuat di indonesia, akan susah ngejalaninnya.
pertama, karena disiplin masyarakat dan pemerintah sendiri kurang.
kedua, masyarakat sering ngeremehin aturan2. semisal kita bilang, “pake sabuk pengaman biar kalo kecelakaan gak tewas”, mereka bilang, “ah, gak bakal kecelakaan. gw kan gak ngebut2an”.
ketiga, aparat penegak hukum sendiri gak taat hukum dan gak bener2 negakin hukum (paling kalo lagi butuh uang, cari2 orang buat ditilang).
entah apa lagi deh faktornya… pokoknya susah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: