Guebukanmonyet!

Should We Ban Dewi Persik?

Posted on: April 29, 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

Dangdut singer Dewi Persik is now officially banned in Bandung, Tangerang, and Depok. It is most likely that other cities will follow as the latest news shows that even her ex husband Saiful Jamil would also ban her if he was elected vice mayor of Serang.

Although she bravely claims that she’s not afraid and will keep doing the thing that she’s been doing for years I’m sure deep down inside she feels sad knowing the fact that some people put the label “haram” on her.

Some women may support Dewi Persik and claim that she is just a proof of how unjust this world is, especialy Indonesia. Men can easily get aroused without getting sued or banned while a woman who wears sexy clothes or shows erotic gestures will quickly be called najis.

Some women think that Dewi Persik shouldn’t be banned at all. They think people should be granted freedom and let God decide whether or not one is immoral.

Other women may approve the ban saying that such action must be done in order to save the country from immoral behavior.

What about the men? It’s a tricky question, but I think most Indonesian men are trying to avoid this discussion as some of them are just big fans of singers like Dewi Persik.

I feel trapped in the middle. I have a mother who thinks that the erotic dances of some Indonesian dangdut singers have crossed the line, she thinks they’re just disgusting. But at the same time I have a lot friends who think that people should be free and we just can’t judge others so arrogantly.

What do you think?

Educated Indonesians may mock Dewi Persik. We think she’s just a big joke, dressing like a clown and thinking that she looks hot and sexy. Well, she looks pretty hot sometimes, men have to admit that. But, for all those tukang becak, tukang ojek, and mas-mas out there, Dewi Persik without a doubt is their wildest fantasy.

I know you’re laughing now picturing how even mas-mas have a wild fantasy. They’re still human after all.

The debate of who’s right and wrong on this issue seems to have no ending. Just like any other thing in life, we’ll always have people who support and don’t support. There’ll be people who agree and disagree. The winner will be decided on how many supporters one side has.

At this point it seems that there are more people who support the ban than the ones who disapprove. It might be a sign that Indonesia is indeed a religious country where most of its people condemn immoral behavior.

Or is it because all those mas-mas just don’t have a voice in this country? Do they really care about moral and immoral behavior when all they want to have is a good and cheap entertainment? You have to keep in mind that while educated and rich people in big cities have so many choices for entertainment, from watching movies to going to nightclubs, those mas-mas literally don’t have many choices after a long and tiring walk pushing their gerobak.

Now that Dewi Persik has been banned in several cities, who does suffer the most? Is it Dewi Persik as the victim of “unjust” society who can still sing and goyang in other cities or those mas-mas in Bandung, Tangerang, and Depok who can’t enjoy their favorite entertainment anymore?

You decide.

Picture: Backstage crews fixing Dewi Persik’s top, taken from here.

48 Responses to "Should We Ban Dewi Persik?"

horeeeeeeeeee pertamaaaax

lah GBM tau aja masalah Dewi Perssik.

reaksi yang berlebihan emang gak baek, gak dewasa dan gak bijaksana. tapi aksi yang menyebabkan reaksi tersebut juga berlebihan sih, apalagi di tiap tayangan infotainment si pembuat reaksi terlihat menantang dan cari gara-gara kepada pihak yang mencekalnya.

beda ma Inul, yang juga dapet cekalan, dia justru diam dan minta maaf termasuk sungkem ke Rhoma Irama, karena sikapnya yang dewasa dalam menghadapi kritik akhirnya masyarakat yang tadinya berang berubah menjadi kasihan. sudah begitu saja masih ada saja yang menyindir Inul.

palagi Dewi? hmmm

Tetep ngga setuju sama Dewi Persik. Karena dia muslimah tapi tidak muslimah. Dia goyang erotis, tapi dia tau kalo itu ngga boleh sebenarnya. Makanya, mantan suaminya bilang kalo di belum bener-bener insyaf.

Hehehe … ngga tau lagi ah …😉

i…… really dont know where to start. i see the authors point of views but my eyes and my mind just simply dinied that Dewi Persik the victim of “unjust” society, because i truly think that she’s the one who is “unjust”. she -is many ways- are truly crossing the line, and just wont learn from the past.

As you wrote, your mother judged that some Indonesian dangdut singers have crossed the line, she thinks they’re just disgusting. I disagree. I think Dewi Persik is the only one. singers like inul daratista -as quted by yonna- are only showing the endurance-ness of her body. While she dance -a dance to most of the people considered as an erotic dance, which i absolutely disagree- she still wore a suit that covers her entire body from neck to toe. that is athletical.

Uut Permatasari? i think she showed to the public that she has a great balance.
Trio Macan? i dont see any erotic moves there.

But Dewi Persik? Dewi Persik is something else…

now that, is porno-action.

i constantly quoted -its not how high they wore their skirt, its how low you use your brain-. In Dewi Persik case? i think otherwise.

If you asking me, i claim disgust.

gees…

honestly, i still feel my stomach turn upside down.

Yonna: Benar banget tuh. Kasusnya emang hampir sama dengan Inul dulu. Tapi kayaknya Dewi Persik cukup “bandel” dan kelihatannya cuek menghadapi cekalan tersebut. Tapi perlu diingat bahwa usia Dewi Persik masih sangat muda, mungkin dia masih belum bisa bijaksana dalam menghadapi masalah.

Izmi: Mungkin Izmi bisa mengajarkan goyang yang tidak erotis yah, ditunggu. Hehe.

Ary: This time you’re serious, I appreciate it. Lol. Well, I think you have a point. Dewi Persik is indeed another case. She seems to be quite arrogant in holding her position.

hhmmm, aku pernah baca disuatu koran kalo Dewi Persik mungkin mengalami orgasme di panggung dengan aksinya….

*g penting y?*

Salam.
Bagi saya sih, masyarakat indo sudah terpola mengkonsumsi ritual-ritual yang bersifat hiburan (entertainment). Di televisi, acara-cara sinetron ternyata banyak disukai orang. Film-film yang mengandung kekerasan dan superstiti pun nampaknya masih digandrungi masyarakat. Saya melihat, aksi goyang dan tarian yang tunjukkan oleh dewi persik itu pantulan dari ritual-ritual yang sangat menghibur, murah lagi. Gimana tidak disukai orang.
Bisa jadi, berbasis kondisi inilah, dewi persik mendasarkan aksinya dan yakin bahwa penggemarnya akan banyak. Ternyata betul, dia punya penggemar. Tapi, semestinya dewi persik juga sadar, bahwa kasus goyang inul pun pernah di cekal dan artinya ada kelompok masyarakat yang keberatan. Inul sempat dianggap icon yang mengajarkan immorality ketengah-tengah masyarakat. Karena goyang ngebornya dianggap berpotensi membangkitkan gairah dan fantasi. Karena itulah goyangnya di cap immoral.
Saya pikir sih, jika masyarakat Indonesia cukup cerdas, tentu mereka akan memilih ritual ritual yang lebih mencerdaskan dimensi emosi dan kognisi mereka. budaya budaya trivial secara alami akan lenyap dengan sendirinya seiring dengan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia itu sendiri.
Menyalahkan inul atau murka terhadap aksi dewi persik memang harus dilakukan dengan pendekatan humanis. Tidak hitam putih. Saya pikir, dewi persik akan senang jika ia diajak dialog secara sehat tanpa ada prejudice atau dogma-dogma tertentu. Masyarakat juga pelu diberi pendidikan yang terbebas dari indoktrinasi yang berlebihan, sehingga mereka tidak ikut-ikutan saja dalam menghadapi dan bergelut dengan ritual-ritual hiburan. Bagaimana masyarakat indonesia pada cerdas, pendidikan saja makin mahal, korupsi masih berkeliaran disetiap sudut institusi. Saya pikir itu saja, let us keep moving together.
Ahmad.

No we shouldn’t. What we can do is JUST warn her.

Seperti disinggung Pak GM,

[quote] Kita hidup di sebuah zaman ketika benci bisa jadi advertensi. Jika tuan teriakkan rasa muak, geram, dan tak sabar tuan kepada sekelompok manusia—dengan teriakan yang cukup keras—tuan akan menarik perhatian orang ramai. Tuan bahkan akan dapat dukungan.[/quote]

Dewi Persik (DP) itu korban sensasionalisme pers, dan sejumlah administrasi daerah termakan gaya sensasional itu. Dan ketakutan.

Memang DP kontroversial. Dia salah. Kecuekannya disambar oleh pers, dan dimakan oleh admin daerah yang … elo tau aja deh …. kadar kemampuan politiknya gimana gitu. Publik kita memang lebih suka dg isu2 sensasi (termasuk sensasi apostolisasi) daripada ngurus ada balita yg kena busung lapar di daerahnya atau mikir gimana ngatasin masih banyak pengangguran di dekat rumahnya. Yah, memang kadar kemampuan otaknya … .

sudut pandang kasus ini mirip dengan sinetron…marak karena banyak yang suka…meski pada dasarnya belum tentu bagus, baik dan bener.

gimana indonesia mau maju kalo kayak gitu aja diributin. what’s that have anything to do with immoral behavior?

Hahaha …🙂 Mas Tasa bisa aja …

Aku sendiri aja ngga begitu peduli sama dangdut apalagi Dewi Persiknya …
Berita tentang dia sepertinya ngga usah dicari-dan dinanti tuh, karena pada akhirnya aku sendiri juga bakal denger, berita tentang di tuh kayak angin … hehe …

Jadi, gimana aku mau ngajarin goyang yang ngga erotis ? Hmmm … mungkin dengan ngajarin dia goyang jempol aja yah … Hehe😉

Isn’t Indonesia funny? The country is run by a bunch of uneducated alpha-male. Look at Rhoma Irama who thinks he’s holding a higher standard than everyone else, but basically has been sleeping with girls who are not his wives.

We yell about how immoral this lady moves, yet we don’t sanction Maria Eva socially, I heard she now is “laris” being invited in talk shows.

What a bunch of hypocrites.

@finally woken

i’m sorry for this comment, but really, i dont see the relation between this article and the first line of your comment.

i do agree that several people, male or female in indonesia -jakarta in particular- are hypocrite, but if i may, i prefer not to generalate things.

yes i agree that Rhoma Irama is one of the utmost hypocrite in Indonesia, but i dont believe that Indonesia, is run, by a bunch of un-educated alpha male.

sound a little sexist, dont you think?

and, who are you refer to in your third paragraph?

its just an opinion, though.. if the one who run this blog doesnt mind, why should i?

aku dukung dewi persik! aku emang bukan fans dia. denger dia nyanyi aja ogah, tapi -meskipun aku bukan cowok- aku juga mengakui kalo dia tuh sexi dan cantik.
aku juga gak ngerti kenapa negaraku yang kucinta ini suka sekali cekal2 orang. gak seneng dikit, langsung maen cekal.
dulu, inul yang dicekal karena goyang ngebornya. ampe mao diusir FPI dari jakarta (ini memang konyol). sekarang dewi persik karena goyang gergajinya. padahal dibilang vulgar juga kagak. mank dasar yang nyekal suka ngeres. takut ketauan bejatnya, jadi dia nyekal deh. ibarat maling teriak maling karena takut ketauan maling.
terus, si jamil… astaga. jijik banget rasanya ngebayangin dia jadi bupati. hoek!
oh ya, kak tasa, ada lagi gosip hot di sini… (hehehe.. kayak ibu2 arisan ajah..) si julia perez juga lagi ribut2 mao kena cekal gara2 album dangdutnya yang berjudul “kamasutra” tuh berbonus kondom. hahaha!

@areta

hahahha… kali ini aku harus tidak sepaham sama kamu areta… aku sama sekali ga berpikir dewi persik to sexi… apalagi cantik!!! ummmmm… dari mana yah liatnya???!! aku juga sangat yakin bahwa pendapatku diatas mewakili lebih dari 75% laki-laki indonesia yang mengerti definisi sebenarnya dari “cantik”…. hehehhehe… <– *gue ko ktawa ga jelas yah?!*

sekali lagi aku tegaskan, aku adalah penganut paham kebebasan berekspresi. hell, i consider my self as the front man of the freedom of expression. tapi mencekal dewi persik? aku juga menjadi orang terdepan untuk menyuruhnya stop membuat
pertunjukan!

Inul Daratista is something else. dulu aku bahkan menjadi orang pertama yang mendukung gerakannya, bukan karena mupeng, tapi karena menghargai ke-atletik-kan-nya, menghargai kreativitasnya, menghargai hak ciptanya.

Julia Perez? saya mendukung! saya juga udah bicara sama bu mentri untuk men-drop tuntutannya mengenai penarikan seluruh kaset julia perez dari peredaran. but we all must understand her concern. membagikan kondom kepada yang belum dewasa memang suatu bentuk “provokasi”, dan JP tidak bisa menjamin kasetnya hanya dibeli oleh orang dewasa.

saya juga tau bahwa pre-marital sex di kalangan remaja SMP bahkan, sudah sangat umum, dan “membagikan” kondom mungkin dapat menjadi salah satu alternatif pencegahan penyakit menular seksual, tapi bayangkan anda adalah siswa/i SMP yang masih ingin tahu segalanya dan difasilitasi, bukankah (pembagian kondom tersebut) akan menjadi “provokasi”?

see??? semuanya itu relatif -lagi2 harus dilihat dari sudut pandang mana dulu-

tapi untuk dewi persik? ntar dulu…. liat aja kelakuannya diatas panggung… “goyang gergaji adalah goyang yang sama sekali tidak memperlihatkan keindahan, kemampuan atletik, kemampuan keseimbangan atau seni dalam arti paling luas sekalipun. “goyang gergaji” memang semata-mata hanya ingin “memancing” lawan jenis untuk berpikiran ke “antara dua kaki”. “goyang gergaji” adalah porno-aksi.

tanggapan dewi persik kepada protes yang bermunculan pun benar2 menunjukkan bahwa dia tidak mengerti seni, tidak mengerti kemampuan atletik atau bahkan estetika sekalipun. terlihat sangat jelas bahwa dia tidak mengerti essensi dari gerakan inul daratista, uut permata sari atau trio macan. bagi dia semua itu sama, goyang pinggul, ditambah kerlingan *alah… bahasa gue* dan senyuman nakal. yang penting laku, yang penting dibayar.

kalo dia mengerti seni, dia akan menjelaskan dari mana dapet “unsur seni”nya. bukannya “alah, walikota tangerang doang kan?! saya juga tau siapa dia!!”

hehehhe… kasian jadinya…. keliatan banget tidak berpendidikannya!!!! *ini bukan meledek, tapi untuk menunjukkan bahwa sebenarnya perlu orang yang “well educated” -bukan berarti anak sekolahan lo yaa…- untuk mengerti “seni”*.

kalo komentar areta mengenai (saipul) jamil, saya ga mau nanggepin dalem2… berbau politik, dan saya males ngomong politik. cuma perlu ditambahin bahwa *cuma pendapat pribadi lo* kalo bini gue dewi persik juga udah gue cere’in dari dulu!! saya cuma suami yang pengen ngeliat istrinya dihargai dan dihormati orang lain tanpa harus memperlihatkan bagian2 tubuh dan melakukan gerakan2 yang seharusnya cuma dilakukan didepan saya…. belum ngeliat ada salahnya sih…

This kind of news always leaves me flabbergasted. Why bother?

But, okay, I know next to nothing about Dangdut. The singer and the music is not really among my collection of CD’s. But reading your post I understand people of “high culture” tend to look down on this “low culture” music.

But by your entry – which, like always, is a smart one – I conclude she and her performances are made really relevant now by her opponents; she steps over the line set by traditionalists and conformists. In as far as I know countries, cultures, have usually benefited from daring individuals who crossed this kind of boundaries. So, in my ignorance, you made me now believe Dewi Persik (is the meaning of that word “peach”?!!), is on her way to become an Indonesian martyr. A martyr for moderation and reason in her society.

Go Dewi, go.

mbak yonna koq tau soal “pertamax”?? aktif di kaskus yah?? hehe

mas tasa jg tau dr mana soal Dewi persik? Wah, ternyata tinggal di DC tetep updated ama berita di Indo yah, hehe

Dewi oh dewi, menjanda seperti keluar dari lubang harimau, bertingkah sesukamu. Emang sih kita harus menghargai kebebasan orang berekspresi apalagi ini di bidang seni. Tapi setidaknya kita juga bisa memilah pantas atau tidaknya sesuatu untuk dinikmati (secara indra). Pentingnya memilih sesuatu disini bukan semata untuk kita tapi untuk generasi setelah kita. Anak-anak kita.
Di tengah tayangan TV maupun Film di Tanah air yang, IMHO, pengawasannya masih kurang. Dewi Persik adalah sosok yang patut kita jauhi (aksinya di atas panggung). Mudah sekali suatu tayangan dicerna oleh anak lima tahun dan mudah sekali diikuti. Saya gak mau anak saya (nanti kalo punya anak :)) terpengaruh sosok seperti Dewi Persik.

Saya setuju, tidak ada salahnya Dewi Persik di Banned.

paragraf yang pertama kayaknya ada yang salah tuh, kata bandung diulang dua kali. jadi bingung pembaca…

“Other women may approve the ban saying that such action must be done in order to save the country from immoral behavior.”

Oh for God’s sake, these other women, do they have God on their speed dial? Are they moral experts?

immorality/pornography/the so-called pornoaction that should be banned are the corruption that is embedded deep in our government and its institutions, it is the fact that the bloody DPR are still having trips allover the world while there are people dying of hunger, it is the fact that the government officials are doing nothing to better the country while food prices are soaring and poverty is spreading faster than herpes in an orgy, it is the flood and pollution that needs to be dealt with but is forgotten because of the profit the pejabats will get if they ok-ed mall and apartment building commission.

This is a perfect example of what I wrote in indonesiamatters.com titled “Wag the Dog A la Indonesia” this is something blown up out of proportion to hide the incompetence and impotence of the government in solving real issues, urgent problems. Inul, Dewi Persik, RUU ITE, RUU Pornografi dan Pornoaksi, Ahmadiyya banning.. if these things does not exist, the focus of the Indonesian people will be on their incompetence. We are a stupider nation to focus on silly petty stuff like this while the government officials and its cronies are laughing all the way to their banks.

@Toshihiko
pertamax-pertamax gitu tau dari blognya extremusmilitis.wordpress.com dan chikastuff.wordpress.com mungkin temen2nya mereka yang aktif di kaskus ya hehehe karena itu saya ikutan mereka, tadinya saya gak ngerti pertamax itu apaan taunya untuk pemberi reply pertama rupanya. kaskus? gak pernah buka, tapi denger2 komunitas mereka rajin ngadain kopi darat ya, pernah denger doang sih hehehe

@Toshihiko
hehehe saya tau istilah pertamax dari blognya extremusmilitis.wordpress.com dan chikastuff.wordpress.com saya rajin mampir ke kedua blog tsb karena rame dan lucu2, kalo kaskus gak pernah buka cuma pernah denger aja🙂

aduh payah, Tas tolong diapus komen di atas ma yang ini ya, hehehe thanks

i didn’t know what article u red that wrote “Actress Wulan Guritno in one article says that Dewi Persik shouldn’t be banned at all. She thinks that people should be granted freedom and let God decide whether or not one is immoral”. that make u wrote the same in your article.The truth is I’ve never been interviewed about this case at all. I never said a word at all about this case pro or contra..thank you..

Di harian the jakarta post 27 apr 2008, a noted novelist said;
….sangat menarik menyaksikan fenomena di Indonesia mengenai masalah moralitas. Orang Indonesia selalu mengasosiasikan moralitas dengan sexualitas, cara berpakaian, porno atau tidak dan sejenisnya, namun jarang yg mengaitkan moralitas dengan korupsi, kejujuran, rasa keadilan dan sejenisnya.

Tanggapan saya;

yah…apa boleh buat, level bangsa kita memang masih sampai disini….

well, it is a dilemma. there are always arguments when we’re talking about this kind of topic.

And this happening-never-ending-case is becoming a circle of death. dewi persik do her act, people react, and the mass media provide a hot-and-steamy battlefield for both parties.

i prefer to ignore her. go dance naked in front of the camera, i don’t care.

nice to meet you, michaeljubel here.

hehe…mas tasa ini makin kontroversial saja
untuk masalah dewi persik, itu tergantung pandangan masing2 orang. Memang sih, terkadang dia bertingkah “keterlaluan”, atau kalau kata bang Rhoma Irama Ter-la-lu… tapi kita harus menghargainya. Bukan cuma dewi persik lho yang jadi bahan perdebatan, akhir2 ini julia perez pun mulai dicekal dimana-mana karena menyisipkan kondom dalam paket album terbarunya:D

@kak ari, areta malu banget neh… cantik tuh relatif sih. menurut areta, mbak dewi tuh cantik, tapi kalo lagi polos yah. gak pake kosutm, make up, ato rambut aneh2.
saya akui sih, dewi persik memang kurang pendidikan dan terkesan vulgar. tapi, tetep deh, di mata saya goyang gergaji itu enak dilihat. meskipun saya gak bisa bilang nilai estetikanya atau nilai seninya tinggi, tapi paling nggak enak dilihat. emang sih, kesannya dia udah menyalahgunakan kebebasan berekspresi untuk membuat kehebohan. tapi itu kan kesannya. mungkin dia juga gak bermaksud kayak begitu. itu emang udah sifat dia. yang dia ekspresikan itu yah… ekspresi dia. kalo memang begitu cara dia mengekspresikan dirinya. gak bisa juga kita menghakimi bahwa dia sengaja menggoda laki2.
nah, kalo saya jadi suami dia, saya gak akan ceraikan dia. kan harusnya saya mencintai dia apa adanya. jadi, harusnya saya menerima kekurangan dia dan membantu dia untuk memperbaiki kekurangan dia.

Emang om, kl dilihat kasusnya ga beda jaduh sama inul. Tp kynya si biduan ini jauh lebih ngeyel deh

@Ary: just checked this thread and found your comment to me. When I was writing my comment, I was thinking about those who call themselves as “authorities” and behave like they’re holier than the rest of us. That’s why I gave 2 examples: one was Rhoma Irama who now is the MP, and the other is Maria Eva who slept with an MP. With those immoral examples they showed to public, how could the government think they could teach about what’s appropriate and inappropriate to public? They should take a look at themselves in the mirror before accusing others.

@areta
loh? kok malu? kenapa malu?
ok. i see your point of view about dewi persik dan “goyang gergaji”-nya, and i think its fine. aku juga ga bilang bahwa aku adalah ahli seni…. kalo emang kamu ngeliatnya bagus, mungkin aku harus melihat dan meresapi kembali goyangan dewi persik dan mencari “keindahan” yang kamu lihat tapi tidak aku lihat…. =) i will, really… *glek!*

kalo menurut kamu kebebasan berekspresi (benar2) tidak boleh dilarang -diambil dari argumen kamu: “itu emang udah sifat dia. yang dia ekspresikan itu yah… ekspresi dia”, mungkin saya sedikit kurang setuju. kalo seseorang harus bertoleransi dengan sifat seseorang yang memang sudah “IRRITATING” menurut orang banyak, dan negara tidak bertindak, apa gunanya negara? apa gunanya dibuat peraturan? kita suka2 aja… ciuman ato bahkan ML dimuka publik… itu kebebasan berekspresi kan? kalo yang melakukan tidak berkeberatan, kenapa negara ikut campur? ini maksud aku bahwa semua itu relatif….. dan menurut sudut pandangku, dewi persik classified as INAPPROPRIATE and should be banned.

One final question for you areta… arent you feel irritated if someday your daughter come up copycat-ing dewi persik? if you have the power to stop it now, would you use everything that you got to stop her?

Dewi Persik is not dangerous – she is just misunderstood. Dancing and entertaining is her thing, and it’s not really that erotic as what the media portrays about her – perhaps it’s because the majority of Indonesians are so sex-deprived, they think DP is this cum-guzzling ho that is out to rouse the desire of every men and make them so erect they will lose their minds.

What’s more dangerous is the fact that porn DVDs are so easy to get in almost every pirated DVD stalls, if we are talking about pornography and eroticism here. At least DP does not perform sexual acts on stage, where as porn DVDs can be bought by just about anyone, even ten years old boys, because the sellers don’t care, all they want is the money.

If the government want to ban DP, including the government of Bandung (this I really have to laugh, I mean, Bandung? cum onnnnnn you know what that city’s rep is like), perhaps they should’ve also banned Beyonce from having her concert here because she was also seckzee and has erotic mooooves baybeeee ….

Anyway, there are more important issues. Seriously. The government think too much with their crotches, instead of their heads, just look at that Al Amin guy! Another DPR member being caught hiring a hooker? So original.

@kak ary.
malu lah… abis kak ari bilang dia jelek. kan berarti seleraku jelek.
goyang gergajinya tuh enak dilihat kok. bener deh.
kalo aksi panggung dia emang bikin males sih. aku juga gak suka ngeliat dia nyanyi bergenit2ganjen dengan mulut yang dimonyong2kan. itu sisi yang gak indah dari dia. tapi kalo dia lagi biasa ajah, bener deh, dia tuh cantik! dan goyang gergaji tuh enak diliat!

kalo kebanyakan orang bilang dia tuh “irritating”… apa boleh buat… dia harus ngalah. selain kalah jumlah, ini kan buat kepentingan bersama.
tapi apa negara harus ikut2an ngurusin ginian?

about wo de nu hai ze, dia gak akan jadi kayak dewi persik. semisal gw bilang gw suka marilyn manson (gw emank suka) gak berarti gw pengen anak cowok gw gedenya jadi kayak dia. gw pasti punya kriteria khusus buat anak gw dan gw akan milih cara didik yang paling bagus buat mereka.

>I know you’re laughing now picturing how even mas-mas have a wild fantasy. They’re still human after all.

Very well written article, Tasa, I won’t be surprised if someday your book will become a best seller. And it’s so funny and humane how you put the words on “mas-mas”‘s fantasy.

@finally woken
then, who do you think is the most appropriate to teach about what’s appropriate and inappropriate to public?

@areta
hahahhaha… ngga gitu juga lah… kan gw udah bilang, gw bukan ahli seni, jadi gw akan coba melihat lagi goyang gergaji itu…*sampe mengerti, ary!!!* =P

kalo bukan negara, lalu siapa lagi, areta? memang negara yang paling berwenang untuk mengurus masyarakatnya, membuat batasan-batasan, membuat peringatan-peringatan…

perhaps you’re living in a nice environment. but from where i grew up, the biggest influence came from the environment -which are one of them is what i watch from TV-.
Im not telling you how you’ll grew your child, but i’m telling you, the threat came from many angle. if you have the power to stop one, will you stop it?

yeap,i really agree with ary kalo bukan negara siapa lagi? dan jangan lupa bahwa ada norma norma yg tidak bisa lepas dari setiap kehidupan masyarakat indonesia dan itu sangat kuat sekali,dan kalo mereka merasa tidak cocok jelas mereka akan bertindak dan pemerintah kita mendengar suara suara masyarakat makanya mereka melakukan pencekalan terhadap DP.sepertinya apa yg dilakuakan pemerintah indonesia sudah cukup baik hanya kita yg seharusnya belajar menghargai agar mereka bisa bekerja lebih baik…amin

banyak yang negara harus lakukan dahulu sebelum mengurusi hal hal seperti ini. pendidikan anak itu dimulai dari rumah. walaupun di luar sudah ‘liar’ tapi apabila pendidikan anak yang orang tuanya terapkan baik, itu jauh lebih baik daripada negara ban ini ban itu tapi orang tua mendidik dengan buruk.

misalnya, saya punya teman disini, orang belgi, yang anak anaknya sangat santun, yang teenager tidak pernah pakai baju overly seksi, pokoknya menyenangkan lah. kok bisa begitu? apalagi ini negara barat yang kalau menurut orang indonesia adalah sumber .. *gasps* kemaksiatan/free sex/drugs dll.

for one thing, mereka tidak punya tv di rumah. setiap ada hari libur atau weekend orang tua selalu membawa anak2nya untuk ke park, atau ke museum, atau hiking, atau menonton film-film bermutu di bioskop dll (aktivitas yang saya pribadi saja tidak begitu tertarik untuk melakukannya). Mereka punya komputer dan internet, anak anak boleh online 1 jam sehari, kalau ada pr, boleh research pr online, tentunya computer ada porn filter dan selalu dalam pengawasan orang tua (computer di ruang tamu, jadi selalu ada orang tua bersama anak yang online).
Teman teman anaknya boleh datang main ke rumah, dan apabila di rumahnya, bukan nonton TV atau internetan, tapi main board games seperti scrabble, monopoli dll.
yang teenager (umur 16) sudah punya pacar, tapi pacarnya juga tidak kalah santun, ketika saya tanya dia apa pikiran dia tentang teen sex, dia menjawab bahwa hal itu adalah hal yang tidak baik dan bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh anak anak. dia bilang sex itu adalah sesuatu yang sepatutnya dilakukan 2 consenting adults (2 manusia dewasa yang mau sama mau) tapi bukan teenagers karena konsekuensinya terlalu berat mental maupun fisik.

fyi, negara yang saya tinggali ini tidak religius, pemerintahnya tidak usil ngurusin pribadi orang orang, tidak pernah ada demo dan bakar2an, aman dan tentram, plus walaupun marijuana (sebanyak 3 gr per orang) telah dilegalkan sejak 5 tahun lalu, pemakaian drugs dan substance disini termasuk paling rendah di eropa, dan sulit sekali mendapatkan drugs disini (kasus drug abuse among teens termasuk jarang didengar).
anak anak disini relatif manis manis, produktif dan tidak ‘seliar’ di amerika atau di indonesia (yang notabene negara2 cukup religius yang pemerintahnya cukup ngurusi urusan pribadi warga).

Jadi saya agak kurang setuju dengan anggapan negara yang mesti mengurusi hal hal seperti ini. pemerintah indonesia saat ini cukup ngurusin koruptor, kalo bisa hukum mati, menaikkan kesejahteraan rakyat, membuat pendidikan terjangkau juga healthcare, memikirkan cara menyelamatkan lingkungan dan berhenti membangun berlebih2an di jakarta, mendistribusikan kesejahteraan – jangan tersentralisir di jkt melulu, menggalakkan toleransi antara umat beragama/ras/golongan/etnis/gender di antara masyarakat dan yang terakhir mengajarkan manusia indonesia bahwa moral buruk itu bukan hanya sex/pornografi/goyang gergaji/ngebor, tapi juga korupsi, jahat terhadap sesama, tidak sensitif pada kaum yang miskin, membiarkan sesama warga indonesia mati kelaparan, pembedaan sikap pada kaum yang berbeda, menekan minoritas dan lain lain. Itu tugas pemerintah. Kalau semua sudah diatasi, barulah hal hal seperti ini boleh dilirik..

@siapa saja
oh i c,kalo saja indonesia negara yg sudah maju mungkin pantas dibandingkan dengan negara negara yg lainya coba kita lihat kenyataanya ini indonesia gitu lho…betul bahwa pemerintah tidak perlu ikut campur dengan masalah ini tetapi setidaknya pemerintah mendengar suara masyarakat yg lainnya,diamerika sini saja jika setiap video klip yg bersifat nudity aja ditayangkan saat saat anak sedang sekolah ato larut tengah malam,dan kalo kita hanya bilang ya itu tergantung orangtuanya,ok kalo begitu saya tanya pada diri anda seberapa besar keingintahuan anda tentang hal hal baru, saya rasa itu tidak akan ada batasannya walaupun orangtua berusaha tapi kita sebagai anak pasti punya akal untuk membodohi mereka betul ga? jadi disini fungsi pemerintah untuk membuat regulasi agar kehidupan sosial dan interaksi dalam bermasyarakat akan terjamin aman dan tentram kalo kita selalu membandingkan negara kita dengan yg lainnya gak akan pernah ada ujungnya seperti apapun indonesia saya tetap cinta indonesia makanya sering kunjungi sitenya JBRB mari kita belajar kembali budaya indonesia yg sesungguhnya dan berlomba menjadi seorang insan indonesia yg beragama,berbudaya,dan berbudi luhur tinggi dengan pemikiran dan ide ide anda semua kearah kemajuan yg positif, jangan biarkan indonesia karam ditengah lautan…

setujuuuuuuuuuuuu!!!!!!! buanget lah..!!!! najis tralalalala-trililiiiii… gesek2 tiang mike??? ehmmm.. en so on, en so on, “dvd bokep” versi LIVE….

Quote dari dilah:
“jadi disini fungsi pemerintah untuk membuat regulasi agar kehidupan sosial dan interaksi dalam bermasyarakat akan terjamin aman dan tentram”

Serius loe men? Loe mau pemerintah ngatur2 kehidupan loe? Gwa sih ogah. What I do in my private time is none of their business.

Quote dari dilah:
“berlomba menjadi seorang insan indonesia yg beragama,berbudaya,dan berbudi luhur tinggi dengan pemikiran dan ide ide anda semua kearah kemajuan yg positif”

First, emang kalo jadi citizen indo yg baik harus beragama ya?
Second, definisi berbudaya apa sih? loe nyebut “budaya indonesia yg sesungguhnya” As an Indonesian you must know that we have many suku (tribes?). Jadi yg sesungguhnya yg mana bro?

Lastly, untuk semuanya, gak usahlah ngomong moral ini moral itu. Moral itu relatif.
Kalo si Dewi Persik kagak ganggu ketertiban ya udah biarin aja. Masih sempet aja loe semua ngritik2 dia.

@erik

“Serius loe men? Loe mau pemerintah ngatur2 kehidupan loe? Gwa sih ogah. What I do in my private time is none of their business.”
Nah, ini dia satu contoh masyarakat indonesia yg bersikap ignorant apa lo gak liat dan cermati apa yg terjadi disetiap celah kehidupan sosial lo? trus lo bilang private yg jelas itu tidak ada kaitannya dengan kasus DP jadi gw harap lo bisa tau peraturan mana yg gw maksud.

First, emang kalo jadi citizen indo yg baik harus beragama ya?

wah,pertanyaannya ko menyimpang dari topik,kalo lo mau beragama atau tidak itu urusannya lo tapi yg jelas dengan beragama gw setidaknya tau cara mensyukuri dan menjaga keindahan RI

Second, definisi berbudaya apa sih? loe nyebut “budaya indonesia yg sesungguhnya” As an Indonesian you must know that we have many suku (tribes?). Jadi yg sesungguhnya yg mana bro?

Apa lo gak baca? kan gw bilang budaya yg mengarah pada kemajuan yg positif,dan gw gak ngerti kenapa lo bawa- bawa suku segala macam ,apa ini cara lo mengadu domba dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa atas dasar kebebasan yg lo adopsi dari luar.

Lastly, untuk semuanya, gak usahlah ngomong moral ini moral itu. Moral itu relatif.

Wah berarti lo sudah membatasi pemikiran pribadi gw dong katanya bebas tapi malahan lo lebih kejam dari pada pemerintah,kalo menurut lo moral tidak penting gw rasa setiap orang dimanapun mereka tinggal ini akan selalu menjadi masalah besar untk menjadi bahan pembicaraan.

Imam Ali r.a. mengibaratkan dalam suatu ungkapan: “Budak beramal karena takut hukuman, Pedagang beramal karena menginginkan keuntungan, Namun orang merdeka beramal karena keimanannya mengharapkan Ridha Allah SWT.

Indonesia sebenarnya sudah lama hancur, negara kita kocar kacir.

well, indonesia is not a truly freedom country because we still have the religion’s prohibitions. so, if dewi persik wants to be a freedom woman and wants everybody like her hip’s sway, just go to america then.. indonesia already have enough problems to think about than just take care of her sensation.

Ironinya, org2 yg pengen nge-ban dewi persik adalah org2 yg sebenernya eksistensinya irrelevant. Meaning, mereka adalah org2 yg cuma menuh2in negara dan knowledgenya gak berguna buat negara. Misalnya itu org2 gak eksis di Indonesia, Indonesia juga gak bakal rugi. Malah bagus, less idiot crowd more space for the knowledgeable.

p.s. berfikir bahwa si dewi persik ini gak senonoh beda sama ribut2 untuk mencekal. if you think dewi persik is too vulgar, well that’s cool, your opinion is appreciated. kalo ribut2 mau nge-ban, man that’s just pathetic, go back to your cave.

tasaaa, gw lagi nyari-nyari info ttg kasusnya julia perez ehh malah nemu tulisan lo..
jadi gimana pendapat lo kalo ttg kasus kondom di album julia perez itu? ehehehehe

kak ary, kalo udah begitu omongannya, aku harus bilang, boikot2an itu semacam antiseptik.
kalo orang kebanyakan dikasi antiseptik, emang sih dia bersih dan sehat, tapi kalo antiseptik gak dikasih lagi, kuman2 pada nyerang, dia jadi sangat rentan dan mudah sakit.
jadi, kalo hal2 kayak gitu disensor dari anak2, mereka gak akan tau tentang itu semua. untuk sementara, mereka aman. tapi bagaimanapun juga, keberadaan sang dewi persik adalah sebuah kenyataan dan cepat atau lambat mereka akan tau (kecuali aku mantau mereka 24 jam -dan itu gak akan kulakukan).
ketika mereka tau tanpa terbiasa melihat yang seperti itu, justru mereka akan terkontaminasi.
jadi, urusan nge-ban2 itu sebenarnya kurang efektif. lebih baik tanemin ajaran yang baik2 ke anak2 itu biar mereka punya pegangan. kalo pola pikir mereka udah bagus, apapun yang datang dari luar gak akan ngebobol “firewall” mereka.

klo liat perssik yg skarang.
udda makin gila ajj tuh.
nyolot2in pengacara orang.
huh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: