Guebukanmonyet!

Mari Kita Rayakan Valentine’s Day

Posted on: February 15, 2008

val3.jpgApabila Anda pergi ke pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta Anda akan menemukan berbagai macam produk yang bertemakan Valentine’s Day mulai dari kartu ucapan, boneka lucu, coklat, dan pastinya bunga. Semua orang tampaknya tidak ingin ketinggalan untuk merayakan hari spesial yang satu ini. Di dalam sebuah dunia yang semakin menyatu, perayaan Valentine’s Day dirayakan hampir di seluruh negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Tapi ternyata tidak semua kalangan mendukung keberadaan Valentine’s Day di Indonesia. Saya ingat ketika masih di SMA dulu, setiap perayaan Valentine’s Day sudah dekat teman-teman saya akan terbagi menjadi dua kubu: Kubu yang pro Valentine’s Day dan kubu yang anti Valentine’s Day. Kubu yang pro dipelopori oleh anak-anak gaul sementara kubu yang anti didukung oleh anak-anak mesjid. Apabila anak-anak gaul sibuk membuat kado spesial untuk pacar masing-masing maka anak-anak mesjid sibuk membagi-bagikan brosur tentang segala keburukan Valentine’s Day kepada siapa saja yang lewat.

Saya sendiri tidak terlalu merayakan Valentine’s Day ketika masih di bangku sekolah dulu, namun bukan berarti saya anti. Berdasarkan pengamatan saya, ada dua poin utama yang diungkapkan oleh kalangan yang berpandangan bahwa perayaan Valentine’s Day itu tidak ada gunanya, yaitu: (1) perayaan Valentine’s Day merupakan budaya Kristen dan Barat sehingga umat Muslim tidak patut mengikuti dan (2) perayaan Valentine’s Day hanya mengajarkan nilai-nilai tidak bermoral kepada generasi muda Indonesia.

Valentine’s Day adalah budaya Kristen dan Barat
Apabila Valentine’s Day dikatakan sebagai bagian dari budaya Kristen hal itu tidak salah karena perayaan Valentine’s Day memang lahir di antara masyarakat Barat yang mayoritas beragama Kristen. Tapi untuk mengatakan bahwa Valentine’s Day adalah ajaran kristen hal itu tidak sepenuhnya benar karena kenyataan yang ada adalah perayaan Valentine’s Day dihilangkan dari daftar hari libur Kristen oleh Gereja Roma di tahun 1969.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita tidak boleh melakukan sebuah tradisi yang lahir dari budaya Barat? Menurut saya, jawabannya adalah boleh. Kenapa tidak? Kita semua pasti setuju bahwa tidak ada salahnya mencontoh sesuatu yang baik dan membuang yang buruk dari budaya lain. Coba Anda pikirkan, berapa banyak jumlah mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di negara-negara Barat? Para mahasiswa tersebut menimba ilmu di negara-negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim dan saya yakin sebagian besar dari Anda tidak memiliki masalah dengan fakta ini. Pernahkan Anda berpikir bahwa internet sebagai sebuah teknologi luar biasa yang telah memudahkan hidup ini ternyata diciptakan oleh orang-orang yang bukan Muslim. Saya yakin Anda pun tidak memiliki masalah dengan fakta ini. Bukankah ilmu juga bagian dari budaya? Lalu mengapa kita tidak bisa melakukannya terhadap perayaan Valentine’s Day?

Valentine’s Day Mengajarkan Nilai-Nilai Tidak Bermoral
Poin kedua ini merupakan kelanjutan dari poin pertama. Karena sebagian masyarakat Indonesia menganggap bahwa perayaan Valentine’s Day adalah adalah bagian dari budaya Kristen dan Barat maka menurut mereka Valentine’s Day sudah pasti mengajarkan nilai-nilai yang tidak baik kepada generasi muda Indonesia. Menurut saya, pandangan ini tidak sepenuhnya salah karena bukti di lapangan membuktikan bahwa perayaan Valentine’s Day di Indonesia lebih banyak dijadikan sebagai ajang hura-hura dan percintaan monyet saja. Kebanyakan kalangan muda kita menganggap bahwa Valentine’s Day itu identik dengan waktunya bermesra-mesraan dengan pasangan mereka, sementara coklat dan bunga mereka jadikan sebagai media untuk mengungkapkan perasaan hati mereka.

Pola pikir seperti itu jelas keliru. Di negara seperti Amerika Serikat, misalnya, perayaan Valentine’s Day tidak melulu soal pacaran. Perayaan Valentine’s Day juga dinikmati oleh pasangan suami-istri untuk saling memberikan rasa cinta mereka. Perayaan Valentine’s Day juga bisa digunakan sebagai media yang tepat bagi seorang anak untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada kedua orang tuanya. Saya percaya bahwa perayaan Valentine’s Day memiliki makna yang lebih dalam dari pada hanya memberikan coklat atau bunga kepada pacar.

Islam dan Valentine’s Day
Bagaimana sebaiknya kaum Muslim menanggapi perayaan Valentine’s Day? Kalangan Muslim yang tidak mendukung perayaan Valentine’s Day menggunakan berbagai macam alasan untuk menjelaskan mengapa perayaan Valentine’s Day sebaiknya ditinggalkan. Dari sekian banyak alasan yang biasanya diungkapkan, kata bid’ah sering kali dimunculkan. Bid’ah di dalam ajaran Islam memiliki pengertian sebagai perkara yang diada-adakan dalam agama. Beberapa pihak yang tidak setuju dengan Valentine’s Day berpendapat bahwa karena tidak ada yang namanya perayaan Valentine’s Day di jaman Nabi Muhammad maka perayaan Valentine’s Day saat ini adalah sebuah tindakan yang diada-adakan. Kalau analisanya seperti itu, lalu apakah kita juga tidak boleh menggunakan internet? Bukankah di jaman Nabi internet juga belum ada? Menurut saya perdebatan mengenai apakah perayaan Valentine’s Day adalah sebuah bid’ah atau bukan tidak pada tempatnya.

Para pemuka Islam seharusnya sadar bahwa apabila mereka ingin lebih diterima oleh generasi muda maka sudah saatnya mereka untuk menjadi lebih fleksibel. Jangan salah artikan maksud fleksibel di sini. Apabila Islam adalah sebuah ajaran agama maka secara sederhana Islam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu content (isi) dan context (cara penyampaian). Saya setuju apabila Islam tidak bisa fleksibel dalam urusan content (isi), perintah sholat lima waktu, misalnya, adalah sebuah perintah dari Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Tapi, bagaimana soal context? Banyak orang yang tidak sadar bahwa kemampuan Islam untuk menjadi fleksibel adalah suatu hal yang mampu membuat Islam menjadi agama nomer satu di Indonesia. Anda tentu masih ingat cerita tentang Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam di berbagai wilayah di Indonesia. Dan Anda tentu masih ingat cerita tentang bagaimana para Wali Songo dengan cerdik mampu menyelipkan ajaran Islam di antara nilai-nilai kebudayaan yang saat itu masih sangat dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Budha. Para Wali Songo sadar bahwa melawan budaya adalah suatu hal yang sangat sulit dan mereka akhirnya memutuskan untuk bermain secara “cantik” dari pada melawan arus budaya secara agresif.

Kaitannya dengan perayaan Valentine’s Day, menurut saya dari pada para pemuka Islam menjelek-jelekkan Valentine’s Day sebagai bagian dari budaya Barat dan malah memperlebar jarak dengan generasi muda yang akhirnya justru membiarkan mereka mengikuti berbagai macam pesta bertemakan Valentine’s Day di café atau klub malam lebih baik para pemuka Islam menjadikan perayaan Valentine’s Day sebagai media untuk menarik hati anak-anak muda Indonesia di berbagai kota besar. Salah satu contohnya adalah dengan mengadakan ceramah tepat di hari perayaan Valentine’s Day: Ajak generasi muda Indonesia datang ke mesjid, langgar, atau mushola di hari perayaan Valentine’s Day. Apabila tempat-tempat hiburan mengajak generasi muda untuk beromantis ria dengan kekasih mereka maka para pemuka Islam dapat mengajak mereka untuk menghormati dan menyayangi kedua orang tua atau kakek dan nenek mereka.

Jadi, mari kita rayakan Valentine’s Day!

68 Responses to "Mari Kita Rayakan Valentine’s Day"

a good chance to pertamax:mrgreen:

i won’t hattrick here:mrgreen:

hahahah….kok sama ya, dulu pas sekolah juga gitu…yg pro valentine adalah anak2 gaul dan yg kontra adalah anak2 rohis….

yah valentine sih gak berarti apa2, dari aku remaja juga biasa2 aja nyambut hari valentine…another day to spend ajah mah.

btw, ide Tasa dalam hal merayakan valentine dengan cara baru itu bagus banget loch….brilian banget….perayaan valentine di indo biasanya hanya sebagai bentuk ekspresi dan kreasi anak muda aja.

*coba hari valentine dirayain dengan gajian…bahagianya:mrgreen:

hahahah bener yon… coba di hari valentine’s day, berhubung itu adalah hari kasih sayang, maka para pemuka perusahaan memberikan bonus untuk para karyawannya…. sebagai tanda bahwa sebenarnya manajemen men-cintai kalian….

waaaaaahhh *mata berbinar-binar* pasti para karyawannya betah banget deh…. hehehehe…

Yona & Ary: Dasar pada banyak maunya! Kalau gitu mah yang ada kantor pada bangkrut. hehe. Happy Valentine’s Day guys🙂

hehehe… zamanku sekolah ini, tak ada pro dan kontra. adanya, rayain atau tidak.
dari anak gaul, ada yang rayain dan ada yang nggak. anak gak gaul juga sama. semua tergantung kepentingan masing2.

eh, gw yang kristen ajah baru tau kalo v’day itu budaya kristen. beneran tuh? apa cuman gara2 datengnya dari barat, langsung identik dengan kristen? padahal kristen kan asalnya dari timur juga (Yesus lahir di mana, hayo?)…

eh lagi, kenapa kok muslim itu gak open minded yah? maap kalo stereotipe dan generalisasi. kayaknya, muslim tuh pikirannya sempit dan tertutup. kaku gitu. apa2 yang baru, langsung ditolak dan dianggap sesat. harusnya, ajarannya (yang kata kak tasa “isi”) ditarik (kalo bahasa geometrinya, mungkin diproyeksikan) ke konteks (kata kak tasa jugak) zaman sekarang biar gak jadi manusia purba. eh, gak bermaksud sara lhow… cuman uneg2.

lagian, v’day kan hari kasih sayang. (udah dibahas kak tasa). justru, di skul aku sih udah kuno kalo ada yang identikin v’day dengan pacaran dsb. itu kan jadi arti sempit. trus, aku juga baru tau kalo v’day itu ada pesta2nya. tadi pagi di skul sih, ada acara v’day. tiap tahun ada sih. demi pengalaman berorganisasi anak2 kelas tiga, tiap kelas harus buat acara (kalo di kalender kagak ada event apa2, tema acaranya jadi bebas). nah, di acara itu, yang diutamakan dan ditekankan adalah v’day buat orang tua. judulnya aja “flavour: forever love for our parents”. gak sesat kan?

Salam. wah nampaknya menarik sekali mengikuti tulisan mas tasa ini. oya, sebagai TKI, saya tidak menemukan perayaan valentine day disini. tidak terdengar hiruk pikuk tentang valentine day disini. dan saya tahu dari berita bahwa valentine day disini memang dilarang.
pelarangan ini mengacu kepada pandangan bahwa valentine merupakan budaya luar islam sehingga mengikutinya berarti mengikuti budaya luar islam tersebut.
memang sih, kalau sudah masuk persoalan yang sifatnya normatif dan dogma, segala sesuatu yang datang dari luar selalu dihadapi dengan kacamata curiga dan prasangka.
saya kira, semangat dari valentine day adalah semangat kasih sayang. adapun bagaimana cara merayakannya, tidak perlu mah membebek, karena itu soal pilihan yang sadar dari masing-masing manusia. jadi modifikasi perayaannya sangat mungkin terjadi. dengan kata lain, we have to be more creative to define valentine day.

saya setuju apa yang dikatakan tasa bahwa dari pada mengeluarkan fatwa yang tidak mencerdaskan, sebaiknya para juru agama tersebut mengajak muda mudi untuk mengadakan ceramah atau diskusi yang mencerahkan bagaimana sebaiknya mengisi valentine day agar kesadaran pemikiran makin tercerahkan dan tidak terkungkung dogmatisme yang menjajah kreatifitas berfikir.
kayaknya segitu saja deh dari saya.
tambahan. kalau misalnya valentina diharamkan hanya karena budaya luar, maka gimana dengan perintah Nabi Muhammad untuk mencari ilmu kenegri cina. cina kan bukan negeri Islam, dan ilmu kan sangat berkaitan dengan sebuah peradaban. kira-kira itulah yang saya pahami.
sorry kalau saya salah, lawong saya cuma seorang TKI yang punya semangat untuk belajar.
ahmad

Kemaren pas tanggal 14 Februari gue juga nulis tentang ini, lebih tepatnya pengamatan gue tentang cara pengungkapan cinta di hari Valentine.

Anyway, soal pro dan kontra perayaan Valentine sendiri sih gak terlalu nyata dulu waktu gue SMA mungkin mengingat gue sekolah di sekolah swasta katholik, paling waktu itu yang kontra yang jomblo, haha.

Gue juga bisa dibilang kontra kalo yang dinamakan Valentine adalah dinner di restoran mahal dengan hadiah ratusan ribuan. Gue suka sama ide merayakan Valentine sama orang tua yang loe tulis di atas, kebetulan gw ama adek gw dari dulu tiap Valentine beliin mereka coklat dan bunga trus taro di bantal mereka pagi2, dan mereka juga melakukan hal yang sama.

gw setuju banget mas!

bagi gw orang2 yang kontra dengan valentine day adalah orang2 yang menutup mata mereka dengan segala hal yang berkaitan dengan modernisasi, karena mungkin bagi mereka modernisasi bukan datang dari mereka melainkan datang dari agama selain mereka dan buruk bagi semua umat. apa harus mereka menjelek2an suatu budaya? apa mau budaya mereka sendiri dijelek2an?

dikelas gw sendiri ada orang yang bener2 kontra ma valentine, ampe2 orang2 yang ngerayain ama dy juga di ceramahin. kalo aja gw liat tulisan lo terlebih dahulu bakalan gw balikin tuh semua omongannya.

semua tindakannya membuat orang2 yang disekitarnya jadi mikir bahwa islam itu kaku dan kayak jaman purba (bener kata areta).

gw sendiri aja ampe ‘gerah’ dengernya.

salam.
sebagai orang islam, saya pikir islam yang saya pahami tidak selalu sama apa yang dipahami orang lain. dan memang agama, jika dijalankan secara formalistik dan tekstual, cenderung kaku. jadi memang cara keberislaman itu sangat berbeda-beda, ada yang lebih ke formalistik seperti bahwa merasa lebih islami jika pandai bahasa arab atau dengan pakai baju kokok, atau jenggot dipanjangkan. tapi ada juga yang melihat bahwa keberislaman itu ada pada essensi dimana adanya supremasi penghormatan, kejujuran, kemanusiaan, keadilan.
tapi memang sering kali islam tertutupi oleh orang islam itu sendiri sehingga idealitas sebuah ajaran berjarak sangat jauh dengan tindakan umatnya.
ahmad. riyadh.

Well said, Tasa, well said. I’m speechless at your so-called spiritual intelligence. TNB possesses much higher prophetic intelligence than some pemuka agamas.🙂 Such a young person with such an old soul.

bagi saya, valentine’s day adalah saatnya mencari sumber berita yang tepat, akurat dan ikhlas dibongkar kisah cintanya.

*kapan saya bisa mewawancarai anda lagi?!

valentine… ajang jual beli produk coklat, film2 cinta, barang berwarna pink, dan benda2 berbentuk hati.

Gue sendiri agak mencurigai bahwa hari Valentine mungkin dulunya dibuat sama perusahaan2 coklat masa lampau untuk menjual semua produknya supaya laku.. uhuhuheueh..

Hari Valentin sebagai hari kasih sayang yang lahir dari kebudayaan barat, menurut saya tidak dapat dilepaskan dengan bagaimana kebudayaan barat itu sendiri mengatur interaksi antara pria dan wanita. Kalo kita melihat kenyataan di kebudayaan barat bahkan sepertinya tidak ada aturan sama sekali. Kalo sudah suka sama suka ya sudah, malah untuk membentuk rumah tangga tanpa suatu ikatan pernikahan adalah hal yang sah-sah saja. Di sini kita bisa mengambil hal-hal yang baik-baik saja memang, karena kasih sayang adalah milik seluruh umat manusia. Akan tetapi kita tidak bisa memisahkan sisi yang buruk (kebebasan pergaulan antara pria dan wanita) dari valentine, karena balik lagi, valentine adalah produk dari budaya barat dan demikianlah budaya barat memperlakukan aturan (bebas) dalam interaksi antara pria dan wanita. Di sinilah juga letak pertentangannya dengan aturan Islam.

Kemarin saya melihat berita di metro-tv tentang perayaan valentine di kota mana saya lupa. Di situ terlihat beberapa adegan antara pria dan wanita yang saling berciuman. Sedangkan saya sangat meragukan bahwa mereka adalah pasangan yang sudah menikah. Sebagai orang yang merayakan valentin dan orang yang berkebudaan timur, apakah kamu senang ataukah sedih melihat hal ini, Tasa?

tas, yon dan yang lainnya, tolong koreksi kalo salah.

areta:
memang valentine berasal dari budaya kristen, tepatnya perayaan st. valentine, seorang pastor yang selalu mengajarkan perdamaian. yes, kayanya gue yang muslim juga tau, Yesus Kristus lahir di Jerussalem, tapi…… kayanya ga ada hubungannya ma pembahasannya yah?! ato ada, tapi gue agak dodol aja untuk menyadarinya?
muslim ga open minded? ummmmm…. agak susah nih menjelaskannya… gini aja deh… ada pepatah berkata “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”… nah, itu yang paling tepat kayanya… ati2 lo areta membuat komen seperti itu di forum yang terbuka seperti ini… banyak “ultras”.. hehehehe.. mo liat contoh muslim yang open minded? ngobrol ma mba yonna….. muslimnya pasti, tapi pola berpikirnya terbuka… coba deh open discussion dengan mba yonna… (kl udah bilang gimana hasilnya yah.. karena gue belum pernah…. hehheheeeheh)

sari barley:
?????? waduh tas…. siapa nih???? from her name, she’s using your last name… dan baru kali ini gue liat…. gosip ah gosippppppp….. hehehehehehhe….

Jen:
why do i laugh -a fun laugh -ment for GBM-please do not offended by it- every single time i see your comment for GBM? wakakakakakak

anggun pribadi:
weks! gue setuju! kayanya bener deh…. ummm… gue suit yang mana yah? lindt ataww… van houten? kayanya pendapat gue soal asal mula valentine yang gue jelasin ke areta diatas harus dicabut *sambil berpikir, manggut-manggut memegang dagu* ummmmm…..

fin:
gue setuju! valentine tidak sama dengan mesum!

Lahirnya Valentine’s Day, menurut sebuah legenda, adalah karena sebuah Priest, bernama Valentine, melarang aturan dari Emperor Claudios II yg melarang laki2 muda untuk menikah supaya mereka bisa menjadi tentara yg baek (source: history.com). Jadi awalnya Valentine’s bukan untuk menyebarluaskan pergaulan bebas antara laki2 dan wanita, melaenkan supaya laki2 dan wanita bisa saling menikah.
Saking giatnya membantu para laki2 untuk bisa menikah, si Valentine ini di hukum mati oleh sang Emperor dan karena martyrdom dia maka lahirlah hari Valentine untuk mengingatkan kita kepada perjuangan dia untuk menyatukan pasangan2.

Banyak legenda2 seputar Valentine’s Day, tapi ini yg lebih di kenal karena faktor martyrdom sang Valentine untuk para pasangan.

Pergaulan bebas negara barat adalah fenomena yg lumayan baru. Dulu2 banget mana bisa laki2 dan perempuan bebas seperti sekarang, banyak sekali aturan2. Ciuman di tempat publik aja gak bisa selebih dari sebuah sun di pipi.

Para kakek2 dan nenek2 disini juga geleng2 kepala ama kebebasan yg mereka melihat di media dan sekitarnya. Mereka suka bilang anak2 sekarang lebih kurang ajar, gak tau peraturan, dst. Dan setelah di pikir2, mereka ada benarnya. Pergaulan sekarang jadi lebih ‘kasar’, kita gak mikir dua kali sebelom mengeluarkan kata kotor, bahkan dengan bangga kita memanggil diri dengan kata kotor itu.

Dan budaya “kasar” ini bisa di temukan di negara timur dan juga barat. Apa ini fenomena majunya teknologi, globalisasi? Mungkin. Tapi apakah ini hanya ada di negara2 barat? Tidak. Apa ini pengaruh budaya barat? Mungkin saja iya, tapi juga mungkin saja tidak.

Banyak orang2 sini yg tak berperilaku demikian, yg menunggu untuk hubungan intim bersama sang kekasih, yg menghormati orang tua, yg tidak kasar, yg tidak minum2/obat2an. Mereka lahir dan besar di negara dan budaya barat. Apakah mereka bukan orang barat jadinya?

Kalo kita terlalu mengantungkan diri ama label2 barat atau timur, yah kita tak akan bisa maju sebagai individu ataupun komunitas.

Maka saya setuju ama artikle si Tasa yg encourage kita untuk mengambil yg baek2 saja dari budaya apapun.

Valentine’s Day, or any day, is whatever we make of it. Kalo kita tidak mikir itu suatu hari spesial, yah tak akan jadi spesial.

Kita gak harus merayakan Valentine’s Day seperti yg di lihat dari tipi, filem2, koran, atau dorongan advertisements. Ini hanya sebuah hari, yg di tentukan, untuk memorialize perjuangan si St Valentine dan suatu hari yg kita bisa gunakan untuk mengingat orang2 yg kita cintai, bisa itu ibu, bapak, kakek/nenek, anak, dst. Atau bahkan ingat untuk berhubungan ama komunitas dan gimana pentingnya untuk cinta ama komunitas dan saudara2 kita yg laen.

Hari Valentine aku merayakan bersama keluarga saja. Gak ada spesial kecuali kebersamaan kita saat itu.

Dan pada akhirnya, itulah yg penting. Bukan bunga, coklat, kartu, tapi bersatu sama orang2 yg kita cintai.

oh dan happy belated Valentine’s untuk semua disini!

areta: Thanks for the comment. Kalau menurut saya sich, sebenarnya sangat banyak umat Muslim di Indonesia yang openminded namun sayangnya mereka tidak mendapat sorotan yang cukup dari publik atau media. Masalah Valentine’s day, sebenernya adalah biasa bahwa selalu terjadi kecurigaan terhadap nilai-nilai budaya lain apalagi melihat sejarah Indonesia yang dari dulu selalu “dikerjain” oleh kalangan Barat.

Ahmad: Sudah pasti tidak ada perayaan Valentine’s day yah di Saudi. Lagian kayaknya udara di sana memang tidak mendukung buat gitu-gituan. hehe. Saya setuju dengan Anda bahwa kita harus mencari ilmu sejauh mungkin, kalau perlu ke Cina sekalipun. Nabi Muhammad memang hebat, mungkin beliau sudah dari dulu tahu bahwa Cina bakal mejadi sumber barang-barang murah. Jadi, sekalian cari ilmu kita kan bisa belanja. hehe.

Yuki: Nice comment bro. Memang benar, perayaan valentine’s day jelas tidak melulu soal pacaran. Itu salah besar.

Sari: Hehehe. Bener-bener, tapi kita juga tetap harus menghargai kalangan yang kontra.

Jen: Hey Mba. That’s a bit too much, I think. hehe. It’s always good to read your comment.🙂

reporter VOA: Telepon sekretaris saya dulu. hehe.

Anggun: Pandangan yang tidak salah tuh. hehehe. Melihat kenyataan betapa banyaknya coklay yang dijual pada hari Valentine’s day, itu mungkin saja. Hehe.

Fin: Saya sangat setuju dengan analisa tersebut. Jelas kita harus hati-hati dalam mengambil nilai-nilai dari budaya lain. Apakah saya sedih? Tentu saya cukup terganggu dengan kenyataan itu. Saya juga punya pertanyaan untuk Anda. Kita semua tahu internet memiliki begitu banyak sis negatif. Anda pasti tahu betapa banyaknya situs porno di internet, anak kecil dengan begitu mudah dapat mengakses situs-situs tersebut. Apalagi sekarang kecanggihan internet semakin tinggi, orang dengan mudah dapat menonton segala bentuk tayangan secara online. Nah, apakah lalu kita mengharamkan internet?

Ary: Hahaha. she’s my cousin bro. No gossip please.

ns: Nice comment, like always. Saya setuju bahwa Amerika itu tidak sebebas seperti yang kita kira selama ini. Memang benar banyak orang yang banyak melakukan hubungan bebas di Amerika tapi banyak juga loch yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan keluarga. Sayangnya kalangan itu tidak terekspos oleh media. Perayaan Valentine’s day bukan hanya untuk memberi coklat dan bunga kepada pacar, tapi seharusnya bisa lebih dari itu.

Sory Tasa, pertanyaanku emang kayaknya ga sopan. Sebenernya mo kuganti sih, tapi udah terlanjur.

Pertanyaan yg sulit. Wew.

Barangkali inilah beda antara teknologi dengan budaya. Dalam internet, penyediaan atau penggunaan jasa internet melibatkan seorang sistem administrator yang dapat melakukan kontrol. Menyaring mana saja yang bisa diakses dan mana saja yang tidak. Kebetulan saya pernah menjadi system administrator warnet dan saya juga pernah melakukan pengeblokan semacam ini. Kontrol dalam penggunaan internet itu bisa dilakukan. Paling tidak ini adalah pengalaman saya pribadi.

Sedangkan dalam masalah budaya, dapatkah kita melakukan hal semacam ini? Bisakah kita mengawasi apa yang dilakukan oleh masing-masing orang, apakah ia melakukan hal yang buruk ataukah tidak, bukan hanya di tempat umum tetapi juga di tempat yang tersembunyi sekalipun?

Yang kedua adalah, keburukan yang bisa ditimbulkan dari internet adalah dengan melihatnya saja. Sedangkan dalam pergaulan, keburukan yang bisa ditimbulkan adalah dengan melakukannya secara langsung. Saya sangat takut bahwa budaya valentine yang datang dari barat akan membawa baik sengaja maupun tidak, sisi buruk dari budaya barat, yaitu pergaulan bebas.

Memang benar apa yang dikatakan ns, kita sebaiknya tidak melakukan labelisasi, tindakan amoral bisa dilakukan oleh siapa saja baik orang timur ataupun barat. Tetapi tidakkah kita tahu bahwa kontrol sosial masyarakat timur terhadap pergaulan bebas jauh lebih kuat daripada barat? Di barat melakukan hubungan di luar nikah adalah hal yang sepertinya normal, dan jika ada masyarakat barat yang memandangnya memalukan, mereka tidak bisa melakukan apa-apa terhadap hal ini. Di masyarakat kita, yaitu Indonesia, apa yang terjadi jika ada pasangan yang kepergok? Bisa jadi mereka akan diarak massa atau dibawa ke kantor polisi.

Apakah labelisasi itu tidak perlu? Saya pernah melihat tayangan dalam american idol, dimana ada orang dari timur tengah yang ikut audisi. Waktu seorang gadis amerika tahu bahwa orang itu belum pernah melakukan hubungan hanya karena belum menikah, ia (gadis Amerika) itu malah tertawa. “Di sini Anda tidak perlu menikah untuk bisa melakukannya”, katanya. Dengan melihat banyaknya orang/anak muda yang melakukan hubungan dan membentuk keluarga di luar nikah dan juga banyaknya film-film (maaf, kumpul kebo) dari barat, saya merasa dalam hal ini labelisasi itu memang perlu, agar kita bisa memisahkan hal yang buruk yang datang dari lain tempat.

Jika misal valentine diterima oleh orang timur, berapa banyak orang yang bisa memisahkan mana yang baik dan mana yang buruk dari budaya barat? Berapa banyak orang yang bisa memutuskan untuk tidak melakukan perayaan valentine seperti yang terlihat di televisi? Bagi anak muda terlebih yang tidak mempunyai nilai-nilai religi yang cukup, menerima budaya valentine, kemudian melihat sendiri bagaimana itu dirayakan secara tidak baik di masyarakat budaya asal, saya kira akan membuat nilai yang ada pada diri mereka bergeser lebih buruk lagi.

Wah masukan yg sangat baek fin! Saya sangat seneng bisa berdiskusi dengan anda!🙂

Rasanya, seperti saya ungkapkan di post pertama, dua budaya tersebut (Timur dan Barat) sedang melawan arus yg menjujung tinggi “instant gratification”, dimana semua serba gampang di dapatkan, serba cepat, serba instant. Fenomena ini bisa di katakan datang karena perkembangan teknologi yg membuat apa2 serba gampang untuk di dapatkan–sekarang, dalam waktu satu detik, bukan nanti, harus menunggu berminggu2.

Budaya Barat dulu seperti Budaya Timur, yaitu pergaulan bebas sangat amat di cemoohin. Perempuan dan laki2 tidak bisa bergandengan bebas di umum, kalo pergi keluar harus dengan banyak orang, mereka tak bisa tinggal bersama kecuali sudah menikah.

Perubahan mulai terjadi di dekade2 yg baru2 ini. Saya ingat waktu masih kecil, tayangan di tipi masih hati2 dalam menayangkan ciuman, omongan kotor, dan kekerasan. Sekarang? Kata2 kotor, adegan seksual, kekerasan tidak di sensor habis2an seperti halnya beberapa puluh tahun yg lalu (late 80’s dan 90’s).

Salah satu contoh nyata adalah tayangan filem “Pretty Woman”. Sewaktu masih kecil, filem itu sangat di sensor. Dan aku sadar ini pas nonton lagi filem Pretty Woman dan ada adegan seksual yg di lihatin sekarang yg aku sama sekali tidak ingat di tayangin pas aku masih ABG itu. Cartoon2 sekarang banyak konotasi seksualnya. Filem2 sekarang sangat eksplicit untuk rating PG, PG-13, dan R.

Semakin saya mengamati dan introspeksi, semakin saya mikir bahwa fenomena budaya bebas tidaklah datang karena budaya Barat, melaenkan karena faktor perkembangan teknologi dan munculnya budaya instant gratification itu.

Jadi budaya Barat juga mengalami bentrokan yg sama ama budaya Timur: yaitu bagaimana mengimbangi kemajuan teknologi dan budaya instant gratification (Yg berupa produkt dari kemajuan itu) dengan nilai2 tradisi masyarakat, yg lebih menjujung tinggi kesabaran.

Maka, menurut saya, labelisasi dan terlalu menunjuk2 jari, tidak akan menghasilkan solusi, dan malah bisa membahayakan perjuangan kita. Apalagi kalo kita, karnea terlalu frustrasi ama keadaan sekitar, malah mengadopsi cara2 keras untuk mengembangkan perjuangan kita supaya orang nurut.

Cara ini, dari pengamatan saya melihat keluarga2 kita disini yg memiliki anak2 yg besar di dua budaya yg berbeda di tengah fenomena instant gratification ini, malah akan mendorong orang untuk lebih berontak dan menjauhi lingkungannya–straight to the culture of instant gratification and excess.

Nah walo saya mikir demikian, bahwa karnea kemajuan teknologi maka kita ada masalah2 ini, apa berarti kemajuan itu suatu hal yg buruk? harus di cegah? Bukan. Karena dengan waktu semakin berjalan, tentu kita akan semakin maju, terutama lewat teknologi. Masalahnya bukan kemajuan ini, tetapi bagaimana kita menghadapinya dan mengimbanginya supaya kita tidak terlalu kemakan oleh fenomena2 yg akan datang karena hasil kemajuan itu.

Fondasi pendirian yg kuat tidak cukup lewat memorisasi nilai2 agama yg berhubungan dengan ritual2nya. Apalagi dengan lingkungan (dan keluarga) yg dogmatis, authoritarian, dan serba kekerasan. Banyak orang bisa baca buku2 agama, bisa melakukan ritual2 agama, dst tetapi apakah mereka memiliki fondasi yg kuat untuk menghadapi fenomena2 dunia yg berupa tantangan baginya?

Saya melihat banyak yg tidak. Makanya kita jangan jatuh kepada obsesi ama label2 atau facade2 laennya. Yg lebih manjur, lebih sukses, menurut saya, untuk perjuangan kita adalah didikan. Didikan lewat komunikasi terbuka dan pengertian yg dalam.

Salam.
instant gratification itu kan proses dimana keinginan ingin secepat mungkin didapatkan. tentu saja ini sangat kontradiksi dengan konsep kesabaran atau bisa juga delayed gratification.
valentine day sendiri dalam pemahaman saya adalah memiliki semangat kasih sayang. tapi bagaimana kasih sayang ini diekpresikan diantara muda mudi yang belum menikah?
nampaknya ini perlu penelitian terutama bagaimana muda mudi mengekspresikan rasa sayang mereka?
saya menduga, banyak sekali cara-cara yang dipakai. dalam alam dimana freedom of choice diakui, maka pergaulan bebas tak dapat dihindari. selama itu tidak mengganggu kepentingan publik, maka semuanya berjalan lancar-lancar saja. karena itu mungkin merupakan wilayah privat seseorang.
tapi jika saya melihat pada tempat dimana pergaulan bebas ditabukan, maka sesungguhnya pergaulan bebas itu bisa jadi ada tapi tidak berani terbuka karena ada kontrol sosial. akhirnya terjadi apa yang dinamakan sembunyi-sembunyi.
saya pikir, pergaulan bebas itu sendiri tidak bebas dari kritikan. pergaulan bebas dalam pandangan saya cenderung tidak ada komitmen sehingga tidak ada rasa cemburu. tapi saya juga melihat bahwa dalam konteks pernikahan resmi, terkadang komitmen juga ada yang kurang kuat sehingga terjadi cerai atau talak.
tapi saya pikir, menikah dengan satu pasangan lebih baik dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. karena berhubungan diluar nikah, pihak perempuan kurang mendapatkan proteksi kalau pasangannya benar-benar mencintai seutuhnya, apa adanya.
saya pikir itu saja, sorry banget jika ide saya kesana kemari tidak nyambung..heheh…
iam just TKI in saudi arabia..katanya sih pahlawan devia..ah masa iya sih….kok perlindungan nya kagak ada tuh…

hmmm….setauku sih tanggal 14 februari itu belum waktunya gajian jadi sama sekali gak menarik minatku untuk membahas peristiwa yang terjadi pada tanggal tsb…

peace yak cuma becanda:mrgreen:

@ary
aduh ampun dije…kenapa jadi nunjuk2 saya? saya ini cuma penunggu blog GBM…biasalah saat tuan GBM lagi sibuk naracap di luar sana, saya yang nungguin blognya…hehe kok jadi ngaco abis gini sich?! intinya, salut buat brother ary….haiya:mrgreen:

@tasa
kayanya gue kualat ma elu dan temen2 dah…sejak ada ary gabung disini, gue merasa ketemu ma cermin…ennggg anu, mungkin karena berasal dari satu perguruan dimana cara ngomongnya, cara nimpalin, gaya bahasanya, dll mirip gitu. hiiii…saya minta ijin cuti liburan dulu ya om…sampe situasi aman lagi hahaha😛

menggenapi hattrick saja….belum ada kesempatan buat pertamax….sigh sejak pengumuman pembatasan BBM jadi agak sensi nulis2 pertamax:mrgreen:

yonna:
egh.. egh… jangan pegi dong…. sini baru mau belajar ma situ…. yah… gue juga cuti deh… ga seru kalo ga ada bu jilbab… *hekhekhekhekhekkhe*
salam buat suami ya yon….

Salah satu contohnya adalah dengan mengadakan ceramah tepat di hari perayaan Valentine’s Day: Ajak generasi muda Indonesia datang ke mesjid, langgar, atau mushola di hari perayaan Valentine’s Day. Apabila tempat-tempat hiburan mengajak generasi muda untuk beromantis ria dengan kekasih mereka maka para pemuka Islam dapat mengajak mereka untuk menghormati dan menyayangi kedua orang tua atau kakek dan nenek mereka.
>>sebuah pemikiran brillian!! gw suka bgt gaya pemikiran lo, Sa.
sejujurnya walau gw christian, gw ga bgtu tertarik merayakannya. secara mnurut gw emang kasih sayang ga cuma buat ditunjukkin pas hari valentine kan? tp ada baiknya juga hari valentine ini. bisa dibuat jadi hari peringatan…
kadang ada org yg saking sibuknya sampe ga bisa ngasih perhatian lebih ke keluarganya..tp gara2 ngliat iklan bertema valentine, dia bisa jadi inget klo ternyata dia krg mengekspresikan kasih sayangnya ma kluarganya. sama aja kayak hari bebas rokok sedunia atau lainnya yg diadakan dan dimasukin di kalender sebagai pengingat untuk kita…
jadi menurut gw…
mari kita rayakan hari valentine
SETIAP HARI =)

(*eh tapi gw ga menganggap merayakan valentine dengan tingkah yang hedonis sebagai bentuk ekspresi kasih sayang loh

dear kak ary, ada donk hubungannya dengan pembahasan. kan katanya budaya barat tuh dianggep sesat gitu sama muslim. entah sesat karena dari barat ato karena kristennya? gak tau ah..
st.val emang dari barat sonoh sih… hehehe… eh, sebenernya muslim ngebedain kristen protestan dengan katolik gak sih? (gak nyambung keliatannya, tapi si st.val itu kan pasti katolik. keliatan dari gelar “st”-nya).
maap, saya emang kedengeran stereotip kalo bilang muslim gak open minded. cuma, bener deh, muslim yang kolot itu lebih “bunyi” dan “keliatan” dibanding yang baik2.
muslim yang anarkis lebih “menonjol” lagi. gak maksud sara deh, sumpah. cuman bener kan?
saya tau kok, muslim yang baik2 dan open minded juga banyak. temen2 saya kan banyak yang muslim. bahkan pacar keluarganya muslim semuah… hehehe… makanya, saya sering nanya2 juga sama mereka perihal masalah ini. jawaban mereka juga sama: “gara2 nila setitik, rusak susu sebelangga”.

dear kak tasa, bener tuh.. yang baik2 itu gak kesorot. jadi, kesannya yang jelek lebih banyak. entah kenapa, orang-orang emang lebih tertarik dengan berita yang jelek2.

dear kak yonna, diskusi yuk?

just drop by to say hi….and byeeeeee
:mrgreen:

areta:
kan udah dibilang, gue lagi cuti juga…. (tapi ko nanggapin yah?) hekhekehkehkek…
okay…
question no. 1:
dear kak ary, ada donk hubungannya dengan pembahasan. kan katanya budaya barat tuh dianggep sesat gitu sama muslim. entah sesat karena dari barat ato karena kristennya? gak tau ah..
–> mungkin karena salah belok…., ato salah bapak yang menaruh benih *(jadi bukan salah bunda mengandung…..)* hehehe (apa seeeeehhhh ry….).. hekhekhekhe…

question #2:
st.val emang dari barat sonoh sih… hehehe… eh, sebenernya muslim ngebedain kristen protestan dengan katolik gak sih? (gak nyambung keliatannya, tapi si st.val itu kan pasti katolik. keliatan dari gelar “st”-nya).
–> kita tau, tapi gue ga mau ngomong… abis ntar salah sih… di blognya tasa ini banyak orang yang pinter2… dan senengnya mengkoreksi orang… tapi yaaaaahhh… itulah fungsinya tukar pendapat…. tapi emang gitu yah ret? kalo ada “st.”nya pasti katholik? trus kenapa bisa ada 2 yah? gue sebenernya pengen tau lebih banyak soal kristen sih… (ps untuk yang berkepentingan: cuma pengen tau, bukan pengen mendalami dan memeluk loo…) mau tuker ilmu? tapi jangan disini… contact me via crash_here@yahoo.com

question #3:
maap, saya emang kedengeran stereotip kalo bilang muslim gak open minded. cuma, bener deh, muslim yang kolot itu lebih “bunyi” dan “keliatan” dibanding yang baik2.
muslim yang anarkis lebih “menonjol” lagi. gak maksud sara deh, sumpah. cuman bener kan?
–> ngga bener, cuma gini deh, sama kaya tong kosong, pasti lebih nyaring bunyinya dari yang berisi… tong kosong akan terus berbunyi panjang lebar tanpa ditanya dan terus menerangkan versinya “yang benar” soal hal yang belum tentu dia tau benar, sedangkan tong yang berisi, biasanya lebih memilih diam *antara melengos dan mentertawakan tong kosong* dan cuma berbunyi kalo dibutuhkan atau ditanya.
jelas, yang mendapatkan perhatian lebih dulu kan pasti si tong kosong, tapi kalo sudah waktunya, sekali aja si tong berisi ngomong, pasti si tong kosong akan kempes kaya ban mobil kena paku….
pernah nonton film “american president”? seperti itulah kira-kira posisi umat muslim sekarang, tapi di ending, -mungkin terdengar bodoh-tapi saya percaya sekali- bahwa kebenaran, pasti akan menang.
(loh, loh, kok jadi kemana-mana ya ri?)

si empunya blog ini, adalah tong yang berisi, yang hanya membahas masalah 1 kali saja. no replay… yang membuatnya melebar adalah si pengunjung blognya… kaya saya ini… hehehehhe… bukan cari perhatian, tapi mengungkapkan kebenaran menurut versi-nya sendiri, yang -tentu saja- tidak ada satu orang maupun badan pun berkuasa untuk melarang dia untuk melakukannya.

jadi, *hosh-hosh* *berusaha untuk menarik napas* nggggg…. kesimpulannya apa yaaaaaaaaahhh??? *twewew..!*

yonna:
*baru sadar* kalimat “cara ngomongnya, cara nimpalin, gaya bahasanya, dll mirip gitu”
*ary terhuyung-huyung sedikit puyeng plus mimisan karena ge-er*
ngga lah yon, we’re like david & goliath… lo yang jadi batu buat nimpuknya… hehehheheheheh….
+ gue yang jadi karet buat yang dipegang david untuk nyambit batunya….
*ary masih terhuyung-huyung*

egh… gue udah kebanyakan ngomong yah? yaaahhh… maklum lah… kan tong kosong?! hehehehhehe…..

*ary bersiap-siap bawa jaring plus tali buat ngiket*

*siap-siap lari dan ngumpet

*run like hell…run for your life

hihiih:mrgreen:

fin: Thanks buat jawabannya. Sebelumnya, kita perlu menyatukan pemahaman. Kalau menurut saya teknologi atau ilmu itu adalah bagian dari budaya. Internet merupakan hasil dari peradaban budaya masyarakat dunia Barat dan begitu juga sebuah ideologi seperti halnya ideologi yang disebarkan oleh perayaan Valentine’s Day. Kalau menurut Anda internet bisa dikontrol, itu memang benar dengan berbagai macam program yang bisa memblok situs-situs porno. Tapi tampaknya tidak ada satu program pun yang sempurna untuk melakukan hal tersebut, apalagi dengan kenyataan banyak anak yang memiliki komputer dan akses internet di kamar mereka. Keburukan yang didapat dari internet juga bisa berdampak buruk terhadap pergaulan atau kehidupan sosial seseorang, misal dengan menonton tayangan porno terlalu berlebihan.

Intinya, dengan segala keburukan yang bisa didapat dari sebuah teknologi kita akan selalu mencari cara untuk meminimalisasikannya. Kenapa tidak dengan perayaan Valentine’s Day? Thanks for sharing🙂

macangadungan: Yeah I agree with you on that. Rasa kasih dan sayang jelas harus disebarkan setiap hari dan setiap saat, perayaan Valentine’s Day hanya menjadi pengingat saja. Thanks for sharing.

Terima kasih buat yang lain yang telah meramaikan diskusi ini🙂 Thanks guys.

Pengalaman loe mirip banget sama pengalaman Gw waktu SMA😀 Sampe2 waktu gw dulu, anak2 mesjidnya udah standby bagi2in selebarannya habis kita wudhu pas mau masuk mushola untuk shalat, trus, ada anak mesjid yang nyuruh untuk nyobek selebaran2 “happy valentine”, wakakakaka….
Gw pribadi sih gak permasalahin mo ngerayain ato nggak, toh cinta khan sifatnya universal dan klo emang pengen merayakan cinta khan gak harus satu hari aja. Dari pada mikirin ngerayain ato gak ngerayain, mending kita rayain No-Car Day atau No-Ciggarette day. Jelas bakal bermanfaat kahnn??

kak ary…
astaga, jadi panjang begitu. capek juga jawabnya.
1. karena udah ngelantur, kita tinggal sajah.
2. kita email2an ajah.
3. itulah yang saya bilang. yang tong kosong itu lebih “bunyi”. jadi, mereka yang jelek2 itu lebih “menonjol”. entah karena norak sangking gak ada kerjaannya atau begimana, pokoknya mereka yang lebih menunjukkan diri. mereka juga dengan overpede gembar-gembor bahwa mereka muslim. jadi, banyak pihak yang jadi melabeli muslim sebagai kaum yang bodoh dan anarkis. bukan salahku yah! bukan bermaksud sara. emang bener kayak gitu loh…
masalah kayak gini kan sama aja dengan label yang ditempel ke kristen bahwa mereka adalah kaum penjajah, dll (dll berarti “gak tau apa lagi”. sebabnya adalah, saya sendiri umat kristiani, sehingga orang lain gak akan ngomongin label2 itu terang2an di depan saya).

kak yonna, kapan mulai diskusi? hehehe…

eh, btw, topik palentinnya ilang neh!

kak fin dan kak tasa, aku mau nambahin neh… berubung tadi pagi ada pelajarang Kewarganegaraan di sekul. di buku aku, ada pembahasan tentang sikap keterbukaan Indonesia.
Ini kutipan dari karya ilmiah daku dkk yang ngutip dari buku kewarganegaraan. “Indonesia mempunyai sikap keterbukaan yang berarti ‘memberi peluang pihak luar untuk masuk dan menerima berbagai hal dari luar untuk masuk, baik di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, ideologi, paham dan aliran, maupun ekonomi’ (Sujiyanto dan Muhlisin, 2007:54)”.
terus, “Sujiyanto dan Muhlisin juga menyatakan bahwa ‘dalam menghadapi keterbukaan, kita tetap bersikap waspada bahwa tidak semua kemajuan yang berasal dari luar itu cocok dengan kepribadian bangsa kita. Oleh karena itu, Pancasila harus menjadi penyaring untuk semua itu’ (2007: 55). Itu berarti kita tidak anti atau menutup diri terhadap dunia luar, tapi juga tidak berarti bahwa kita mentah-mentah menerima masukan dari dunia luar tanpa menyikapi sesuai dengan ideologi dan prinsip-prinsip yang telah kita anut dan kemudian kehilangan identitas bangsa sendiri karena “invasi” indentitas bangsa lain. Kita harus mempertahankan identitas, ideologi, dan prinsip-prinsip negara kita dalam menerima, menyaring, dan menyikapi berbagai hal dari luar untuk menentukan apa yang terbaik bagi bangsa kita.”
kayaknya itu berhubungan dengan apa yang sedang didiskusikan kakak2 berdua. soalnya ada maen saring2an itu. hehehe…
*garuk2 kepala*

ikutan juga ah…

masalah valentine, saya sih nggak kontra. siapa yang nggak seneng kalo dapet bunga, coklat, ditraktir? heheh…
terus kalo dikasih masa ga bales?

saya setuju sih sama anggun. valentine sekarang mah kayanya cuma propagandanya hallmark dan pengusaha lainnya aja. bukan memperingati perjuangannya santo valentine. menurut saya ini udah bukan budaya barat atau timur lagi.

masalah bermoral atau nggak, balik ke orangnya masing2. cinta kan bisa banyak artinya. tergantung si pelaku percayanya apa.

saya setuju sama ns, jangan dilabelin. liat secara keseluruhan, terus pendekatannya jangan pendekatan konflik, tapi pendekatan konsensus.

soal banyak orang islam yang nggak terbuka. apalagi pas sma yah? dulu pas saya sma juga dilarang, haram, dosa valentine tuh. tindakan ekstrim yang mereka sendiri ga jelas dasarnya apa. cuma liat dari permukaan aja. padahal mah yang kaya gitu bukannya ngebuat orang simpati malah jadi sebel.

bener kata ary, karena nila setitik rusak susu sebelanga, dan tong kosong nyaring bunyinya. dan saya juga setuju sama ahmad, islam itu tertutupi sama orang islam sendiri.
(ah, cuma bisa setuju aje lo ra…)

blog walking nich… main” ke tempatku yach. btw, katanya valentine menurut MUI haram. Menurut anda semua bagaimana?

zahra & anggun:
jadi kapan kita mau mulai nuntut hallmark ma perusahaan coklat nih? minta tolong yonna aja untuk nyusun tuntutannya… asiiiikkk… kerugian materil: Rp. 75.000,- (harga kartu hallmark), kerugian immateriil: ~, kompensasi: sebungkus coklat harus diberikan oleh perusahaan coklat kepada kita prorata setiap minggu selama 20 tahun… nyam! hehehehehhe…

areta:
setuju! (apa sih?!); mba yonna lagi ngumpet… coba dicari dibawah tumpukan bungkusan toblerone…

@mas ary
halah-halah, hahahaha….lagi asik baca artikel tebarunya bung GBM nih

@areta
kapan mulai diskusi? kapan-kapan:mrgreen:

kak ary, akhirnya kita mencapai kesepakatan! hore!

kak yonna, kapan-kapan itu kapan yah?

kak brillie, sumber infonya dari mana tuh?

egh… ada yang kepancing ngasih komentar… katanya ngumpet? ntar ketangkep looohh… =P

wah rame walopun udah maret!!
mw kash saran:
waktu v’day rohis ikut ngerayain dg cara bwt acara di masjid? jgn… drpd sakit ati, bhub gw masih muda gw kasih tw aj, anak muda muslim skrg susah bwt k masjid apalg tgl 14 feb, gmana kalo rohis ngajakin fieldtrip aja ke pabrik coklat, pasti banyak yg mw ikut! yakin! slrubb… yummy… btw coklat masuk kategori afrodisiak lho…

Gue setiap Valentine’s Day ngga pernah mikir hal” yang berbau agama dan budaya..
Malah mikir ..hadoooooooooooohhh masih jomblo aje gueeeee.. siaaal.. ahahahahah. Tapi temen-temen gue yang muslim juga sepertinya ngga terlalu memikirkan hari Valentine itu bersangkutpaut dengan agama atau *sensor*-isasi. Santai aja sepertinya.. (bangga juga sih ma mereka)
Pola pikir selalu melabelkan dan mengkotak-kotakkan itu bukan dari generasi kita ko ..dari yang di atas-atas ni. Banyak politik kepentingannya. Ribet jadinya suasana..

Happy belated Valentine’s Day ya Tasa, yonna, dan semuanya disini.😀

asik asik… ada satu temen lagi buat nuntut perusahaan coklat… wah… bisa class action nih… hehehhe…

Marisa:
ehm… banyak ko temen2 gue yang highly qualified tapi jomblo… hehkhkehkehkehkeh…

alin:
afrodi… apa? apaan tuh? trus artinya apa?

Harry: setuju banget tuh idenya.

Areta: Waaah, kamu murid yang sangat pintar yah. Langsung dimaknai secara mendalam gitu, hebat2. Hehe. Setuju kalau kita tidak boleh kaku dalam menghadapi budaya luar.

Zahra: Nice comment🙂 Pandangan sederhana tapi bijaksana dari seorang Zahra, hehe.

Brillie: Seingat saya MUI TIDAK mengharamkan Valentine’s Day tapi mengharamkan perayaan Valentine’s Day yang negatif seperti berpesta secara berlebihan. Itu sich yang saya baca dulu di Kompas.

Alin: Waaah, itu ide yang sangat bagus! Mau banget ke pabrik coklat…..Asyik kan jalan-jalan. Setuju deh.

Marisa: Apaa? Elo jomblooooo?! Gilaaa haree genee! Whahahaha. Makanya jangan blogging terus di depan komputer, bergaul donk ke luar sana. hehe. Thanks btw, Happy Valentine’s Day for you too🙂

Ary: Aduh-aduh, kok malah jualan coklat neeh. Haha

@Icha
happy belated valentine too🙂

@Tasa
deuuuhh mentang2 baru valentine-an ma VOA:mrgreen:

ary:
masa g tau afrodisiak?
itu lho pisang, kerang, kepiting, kambing, pasak bumi…

Yang paling gue suka baca dari blognya Tasa: bukan tulisannya (sorry Tas, bukan berarti tulisan loe gak layak baca), tapi komennya itu lho hahaha…
Baca komen orang2 ngalor-ngidul seru banget hahaha…nih blog lama-lama kita konvert aja jadi forum gmn hahaha..🙂

Yonna: Teteep yah.

Alin: Terima kasih buat penjelasannya, saya juga baru tahu loch🙂

Ian: Begitulah, blog ini banyak dipenuhi komentar-komentar yang berbobot, lucu, dan kadang ngalor ngidul. Tapi di situ uniknya, hehe.

Btw, kapan nih follow up program?

@Tasa
ya dah gak dibahas lagi, peace:mrgreen:

Ian: Secepatnya Bos. Lo masih sibuk gawe gak? Si Dila dan Novie udah ngajakin ketemu sih, nanti gue kabarin yah. Thanks.

Yonna: Whahaha, kacau-kacau!

Lho bukannya perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi? Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno.

@alin:
oooohhh…. afrodisiak = makelar ?

@alin (lagi):
berarti coklat itu diciptakan oleh makelar? ….. ato…… diedarkan oleh makelar?

*mengerenyitkan dahi sambil bertopang dagu dan agak monyong dikit*

*garuk-garuk kepala*

*garuk-garuk pipi*

duh…. ko tiba2 dunia berputar-putar ya?

ary: makelar apa? sama deh ikutan bingung, terserah ajah!

perspektif yg bagus mas tasa

kak tasa, (tersipu2 malu) makasih… kebetulan baru belajar tentang itu… jadi masih fresh. oh ya, lusa presentasi karya ilmiah tentang nasionalisme ituw… duh, deg2an.

kak pemburu, daku baru tau kalo palentin tuh ada ritualnya segala?

coba kalo gini:

Bung.guebukanmonyet as President
YOnna as wakil president

pasti indonesia bakalan damai…..uhuuuy….. ^^

hah? tasa presiden? jangan.. jangan… kasian… indonesia masih belum siap untuk Mr. Barley! apa lagi kalo pasangannya yonna… gue sih kasian indonesia-nya… ga bisa ngikutin pola pikir mereka… indonesia belum siap bung canon… hehheehhehe….

waduh baru tau nama gue disebut2 hahahha.

kalo Tasa-Yonna jadi presiden-wapres ntar kaya Gus Dur-Megawati dong? perfect match:mrgreen:

gue jadi curiga ma si canon, jangan2…….?:mrgreen:

@yonna

oooooo… perfect match ya???

*mengerenyitkan dari sambil bertopang dagu tapi agak ngangkang*

@ary
ya bayangin aja kalo gbm jadi gus dur dan gue jadi bu mega, sama2 ancur kan?:mrgreen:

Judulnya mari rayakan valentine dan saya baca rujukannya dari sejarah wali songo. Mau masukan Islam ke Budaya sih sah sah saja tapi mau memasukan budaya yang condong kepada kejelekan entar dulu dong. Sunan Gunung Jati pernah bertanya pada saat diminta saran oleh sunan giri untuk membuat kesenian apa untuk berdakwah, yakni dengan wayang golek tetapi para wali lainnya khawatir kalau hal itu membuat ruksak akidah islam. lalu jawab sunan gunung jati akan ada orang yang menyempurnakan takala umat islam indonesia mengenal secara keseluruhan islam itu sendiri.

Lah wong bukannya islam itu dibersihkan malah mau dimasukan yang macem – macem, jangan dibandingkan dengan teknologi dan ilmu dong valentine itu kan dasarnya kepercayaan yakni keimanan patut kita hindari memperingati misionaris agama atau pastor valentine.

lagian kasih sayang itu emang wajib dalam islam ” tidaklah sempurna iman seseorang bila tidak menyayangi sesamanya. tapi bukan berarti mesti valentine day’s. sayang dan cinta tak mengenal waktu tapi kalo mau jadi event idul fitri murni dari Islam.

Pemburu: Sebenarnya tidak Bung.

canon: Hahaha. Yang ada presiden ama wakilnya berantem mulu.

ilmu: Terima kasih atas masukannya Bung! Sangat dihargai.

ya i mo kom
1.i pikir klo ingin mengalalkan “palenten”klo munrut i tergantung personalyx klo merayain u\ sekdar ingin hura2 a\ berhedonis ria jelas haram,tapi klo u\ masalah suami istri,tapi ya jgn d beri nama palenten coz sudah biasa kta2 palenten tu haram cari aza nama lain ex kumpul2 keluarga a/ hari bahagia lhah kan awalx palenten tu hi…. sekali kan n cari hari lain lhah biar ta membuat suuddo coz “bila suatu kaum mengikuti suatu kaum maka dia termasuk dlm kaum tu”tp u|pd hari palenten d buta u?ke mesjid u\ nyelimurin nak2 tu i tak bisa komen tp boleh jg asal d isi acara yg buat mereka TOBAT.BALES YA………….

Salam, maaf postingnya saya kutip sedikit.
tapi aku kasih link koq.

Benarkah Valentine bertentangan dengan Ajaran Islam??
sedikit aku ulas disini :
http://manusiajawa.blogspot.com/2009/02/valentine-diantara-pro-dan-kontra-02.html

semoga bisa menjadi bahan bacaan.
bagus tidaknya terserah anda.

trims.
salam

[…] Day memiliki makna yang lebih dalam dari pada hanya memberikan coklat atau bunga kepada pacar. (dikutip dari sini). Apakah Valentine’s Day bertentangan dengan ajaran Islam […]

hanya MONYETLAH yang merayakan valentine day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: