Guebukanmonyet!

Asyik, Jakarta Banjir Lagi!

Posted on: February 3, 2008

bajaj23.jpgSungguh apes nasib masyarakat Jakarta. Setiap hujan turun hati mereka tidak pernah tenang. Mereka memikirkan nasib rumah dan kendaraan mereka, mereka memikirkan bagaimana anak-anak mereka dapat pulang dari sekolah, dan mereka memikirkan bagaimana caranya dapat pulang tepat waktu padahal lalu lintas pasti akan sangat macet di saat hujan turun. Sungguh apes nasib masyarakat Jakarta. Hujan yang seharusnya menjadi sebuah hiburan gratis dari Tuhan justru menjadi momok yang amat menakutkan bagi mereka. Setiap hujan turun, hati mereka menjadi gelisah tidak karuan. Sungguh menyedihkan. Kondisi ini sungguh ironis karena di berbagai tempat lain di dunia hujan justru menjadi simbol romantisme dan waktunya bermesra-mesraan. Sementara hujan di Jakarta, justru dicaci dan dimaki.

Sungguh apes nasib masyarakat Jakarta. Mereka tidak punya kekuatan untuk melawan Pemerintah DKI Jakarta dan berteriak, “Kami sudah bosan dengan banjir.” Yang ada, masyarakat Jakarta hanya bisa diam dan termenung menatapi rumahnya terendam air. Mereka hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun harus rusak dan tidak tersisa akibat kekuatan alam yang tidak terbendung. Raut wajah mereka yang selama ini jarang ceria karena harus melawan kerasnya kehidupan di Jakarta untuk sekian kalinya harus muram dan sedih sambil menatap kosong ke depan. Memang sungguh berat untuk bisa menjadi bagian dari masyarakat Jakarta, rasanya satu nyawa saja tidak pernah cukup.

Banjir lagi banjir lagi. Tapi apa mau dikata, hujan bukan suatu hal yang bisa dikontrol. Hujan adalah sebuah gejala alam ciptaan Tuhan. Hujan pasti akan terus turun selama bumi ini masih berputar. Ingin rasanya berdoa dan meminta Tuhan agar menghentikan turunnya hujan di Jakarta, tapi saya tahu itu tidak mungkin. Toh, di lain sisi kita semua juga membutuhkan hujan sebagai sumber air minum kita. “Jadi mau bilang apa?” Tanya seorang pejabat Pemerintah DKI Jakarta. “Yah, hadapi saja dan terima dengan lapang dada.”

Mau tahu apa jawaban orang miskin? “Ngomong emang gampang!” Untuk sebagian besar masyarakat Jakarta yang hidup pas-pasan yang setiap hari harus lari mengejar metromini dengan napas terengah-engah, bukan jawaban seperti itu yang ingin mereka dengar dari para pejabat kota. Tubuh mereka sudah terlalu lelah dan jiwa mereka sudah begitu jengah. Muka mereka yang hitam dan berdaki akibat kepulan asap kendaraan bermotor tampak tidak puas dengan jawaban seperti itu, tapi apa mau dikata suara mereka hanya dianggap angin lalu saja.

Masalah banjir memang bukan barang baru di Jakarta. Sejak tahun 2002, banjir di Jakarta semakin parah saja setiap tahunnya. Apabila hujan turun lebih dari satu atau dua jam saja bisa dipastikan banyak lokasi di Jakarta tergenang air. Setiap banjir terjadi baik masyarakat dan Pemerintah DKI Jakarta sama-sama tidak mau disalahkan. Kalangan masyarakat menuduh Pemerintah DKI Jakarta tidak becus dalam menata dan dan mengatur kota sementara kalangan pejabat juga tidak mau disalahkan begitu saja dengan balik menuduh bahwa masyarakat Jakarta tidak memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan. Menurut hemat saya, tuduhan masing-masing pihak adalah benar. Sebagai bagian dari masyarakat Jakarta selama enam tahun saya sadar sepenuhnya bahwa mayoritas masyarakat Jakarta tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan itu tidak saja perlu tapi sangatlah penting. Saya ingat bagaimana seorang teman dekat saya dengan santainya selalu membuang sisa makanan di mana saja ia berada, bahkan di tengah jalan apabila kami sedang berada di dalam mobil sekalipun. Saya biasanya langsung melotot dan berteriak, “Buset!” Teman saya yang kebetulan punya kepribadian sangat nyentrik hanya menjawab sembari mesam-mesem, “Yaelah, sok bule lo. Semua orang juga begitu.”

Di sisi lain, Pemerintah DKI Jakarta sama sekali tidak memiliki strategi jangka panjang dalam mengelola tata ruang kota Jakarta. Sebenarnya sih ada, tapi tidak dilaksanakan. Coba lihat saja sekeliling Anda, sebagai warga Jakarta Anda tentu sadar bahwa diri Anda dikepung oleh pusat-pusat perbelanjaan. Gedung-gedung beton yang mewah dan megah berdiri begitu kokoh lalu secara arogan merebut hak masyarakat Jakarta untuk memiliki daerah-daerah pusat resapan air. Sudah berapa sering Anda mendengar dari teman Anda atau membaca beritanya di koran atau majalah bahwa daerah Senayan di Jakarta Pusat sebenarnya adalah daerah hijau? Tapi kenyataannya, satu mall yang begitu mewah dengan sukses dibangun beberapa tahun lalu mendampingi mall, hotel, dan bangunan mewah lainnya di daerah itu. Sudah berapa sering Anda mendengar para ahli lingkungan berkata bahwa banjir yang terjadi di Jakarta adalah hasil keserakahan manusia yang tidak berhenti membangun gedung dan rumah sembari memusnahkan pohon-pohon di Jakarta? Tapi, gedung dan rumah baru terus saja dibangun.

Di tengah ketidakpastian Pemerintah DKI Jakarta dalam mengatur tata ruang kota Jakarta, minimal ada satu strategi yang pasti dalam menghadapi banjir. Strategi itu adalah membiarkan masyarakat Jakarta terus-terusan mengomel dan mendumel. Masuk kuping kanan lalu keluar kuping kiri. Toh seperti biasa, nanti mereka diam sendiri. Pemerintah DKI Jakarta sepertinya tahu kalau protes masyarakat Jakarta lebih baik didiamkan dan tidak perlu didengar karena lama-lama mereka akan bosan sendiri lalu menganggap banjir itu adalah hal yang biasa saja, seperti yang sudah mulai terjadi saat ini. Apabila dahulu masyarakat Jakarta tampak begitu marah melihat lambatnya Pemerintah DKI Jakarta menanggulangi bencana banjir, sekarang banyak masyarakat Jakarta yang diam saja sembari mengelus dada ketika rumah mereka terendam banjir. Pemerintah DKI Jakarta tampaknya tahu persis bahwa mereka memiliki warga yang baik hati, warga yang mudah untuk memaafkan dan menerima segala cobaan. Kalau kata orang Jawa, yo wis ditrimo wae. Pemerintah DKI Jakarta mungkin bahkan berpikir kalau bencana banjir sudah menjadi hiburan cuma-cuma bagi masyarakat Jakarta. Buktinya, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa justru tertawa girang dan main kapal-kapalan setiap banjir datang. Mereka lalu berpikir, kenapa banjir mesti dihilangkan?

Kalau memang kondisi ini yang diinginkan oleh sebagian besar masyarakat Jakarta, masyarakat golongan menengah dan bawah harus tahu diri dan tidak boleh iri kalau melihat orang kaya menginap di hotel bintang lima atau liburan sebentar ke luar negeri ketika banjir menggenangi Jakarta sementara mereka harus menjaga rumah dengan gayung dan ember. Yo wis ditrimo wae. Mau marah gimana? Toh, kita juga yang paling gembira apabila mengetahui ada mall baru yang akan segera dibuka. Toh, kita juga yang paling bangga kalau rumah kita berdekatan dengan Carrefour.

Foto diambil dari sini.

35 Responses to "Asyik, Jakarta Banjir Lagi!"

asyik pertamax lagi:mrgreen:

row row row your boat, gently down the flood
:mrgreen:

Selamat loch, he-he. Ayo kita main kapal, Yonna yang dayung gue mah tidur-tiduran aja yeee.

hahaha…. baru 6 taun bro….kalo udah 26 taun lama2 mati rasa kayanya haha…

kayanya gak bakalan ada siklus banjir jakarta 5 taunan lagi, karena ternyata dipercepat menjadi siklus 1 taunan, atau kalo jakarta didera banjir selama 1 hari lama2 jadi banjir rutinan:mrgreen:

yang saya takutkan jakarta kelelep 10 taun ke depan karena titik banjir semakin luas…bahkan daerah bebas banjir jadi kena banjir kemarin jumat itu…bahkan rumah saya sempat jadi tempat penampungan korban banjir heheh, cuma nampung kakak dan temen sekolahnya keponakanku yang rumahnya kebanjiran doang….

blame the flood, but never the rain (kok mirip artikel sebelah yak?)…saya suka hujan…bersyukur karena saat hujan turun Allah SWT menurunkan rejeki dan berkahNYA, insya Allah never complain about it…paling kalo ujan turun langsung lari angkat jemuran…wajar deh ya:mrgreen:

yang saya sebel adalah saat hujan biasanya suka mati lampu, banjir, macet dll alias akibat2 yang gak seharusnya terjadi gitu. hujan ya hujan aja….tapi jangan pake banjir, mati lampu, macet, dll dong!

SIGH….i wish Washington DC was my city:mrgreen:

*lagi usaha menuju pendekar pertamax dan pendekar hattrick

glek… rupanya gagal hetrick😦

yeeyy….daripada dayung mending jadi duyung…anggun, kalo dayung kesannya kuli aja deh😛

fenomena banjir tidak hanya di jakarta, di Kuta Bali, sebagai kawasan wisata juga tidak luput dari banjir, pembangunan disini juga kurang memperhatikan masalah lingkungan. saluran air saja tidak ada.

weee…. iya tuh. gw bingung deh, padahal hasil AMDAL-nya ga oke, tp kok boleh2 aja mbangun. gila deh!
segala macam aturan AMDAL, kelayakan bangunan, dll cm jadi tulisan diatas kertas aja.
skrg udah kayak bgini masih mau blg klo banjir2 ini kiriman dr bogor? cm sekedar musibah?…. gila, yg ngomong apa ga pernah makan bangku sekolahan yak? hehehehh… *dulu ada kan pejabat yg ngomong gtu waktu nanggepin soal banjir bandang yg mahadahsyat waktu itu?

ya udahlah…minimal kita mulai dr diri sendiri dulu kli ya Sa. jgn buang sampah sembarangan… soalnya biar kita ngritik langsung di depan muka si pejabat dan pengurusnya juga ga bakal ditanggepin kan? dasar om-om senayan…

bener sa. Mental “Toh, kita juga yang paling gembira apabila mengetahui ada mall baru yang akan segera dibuka. Toh, kita juga yang paling bangga kalau rumah kita berdekatan dengan Carrefour.” ini, selama masih ada di sebagian besar orang jakarta (miskin maupun kaya, krn di jkt orang miskin pun bisa merasa kaya), ya jkt akan tetap begini. Pressure dari publik ngga ada, pasti pemerintahnya santai2 aja.

O iya, pressure dari LSM yg selama ini ada (kyk yg pake Urban-urban itu), ngga kena soalnya yg ditarget orang2 miskin ilegal, yg malah di mata masyarakat jakarta umumnya dianggap “sampah” yg harus dibuang. Kalo mau ngerubah jkt, targetnya harus kelas menengah: mereka yg punya kepastian sumber hidup tp masih “lembam”, males bersuara utk kepentingannya. Bikin mereka gerah dan mau berbuat. Pasti jkt membaik.

Salam. Wah di Saudi, hujan itu menjadi barang langka sehingga keberadaannya ditunggu-tunggu. Memang sih, sebagaimana api, air itu sangat dibutuhkan untuk mempermudah proses hidup sehari-hari. Jadi air dan api merupakan teman dan sahabat kita sehari-hari.
Tapi nampaknya, ia bisa menjadi musuh ketika ia mengamuk dan menyeruak dengan jumlah yang tak terkendali. Musibah alam pun tak bisa dihindari.
Tapi setahu saya, musibah alam juga bisa dikaji dan ditinjau dari keterkaitannya dengan musibah-musibah yang memang dibuat manusia baik sadar maupun tidak disadari.
bukankah membuat sampah dimana saja merupakan kegiatan sepele, padahal jika dipikir-pikir, jika yang membuang sampah sembarangan itu dalam jumlah yang banyak, apa yang akan terjadi? bukankah ia bisa menjadi penghambat aliran air sehingga air justru berbelok liar kejalan-jalan bahkan kerumah-rumah yang dihuni orang.
mungkin air akan berkata “jangan salahkan saya jika saya kemudian menubruk rumah-rumah dan jalan-jalan kalian, karena jalan buat saya sudah terpenuhi dan tersumbat oleh sampah yang kalian buang sembarangan, juga disebabkan oleh hutan yang pohon-pohonnya kalian tebang sembarangan dan kalian tidak bertanggung jawab untuk menanamnya kembali, jadi mohon maaf saya terpaksa harus menubruk rumah kalian, tanpa pandang bulu.
Sekian dulu.
ahmad. TKI disaudi (orang bandung asli euy) hehehehe

I think, everybody of us should look into our heart, our mind, our way of thinking.
If we feel that we want to be a good citizen of Indonesia, it is better to look into our heart, our mind, our thought. Let us breath for a moment and think why flood happen very often in Jakarta, or In many cities in Indonesia.
The government and the society should join to avoid every single danger. but what happen to most of us?
the government say it is because of you who throw the rubbish in any places, while the society say that the government is very smart in talking but without any action.
from this point, every part, government and citizen are in different places, there is no any solidarity or even collaboration in making positive thing for the country.
I believe, if there is no any commitment from any element of Indonesian society, the terrible situation may happen any more., again and again.
we never learn from our mistake, but we always repeat the same mistake.
I hope we should have a strong commitment with a new vision to build our country Indonesia.
ahmad.

memalukan ya, ibukota kok underwater? saran saya buat pemerintah pusat, pindahkan saja ibukota Indonesia.. di mana kek. di Kalimantan masih luas.. aman lagi dari jalur gempa (eh, apa itu Sulawesi yah?) hehe..

sementara itu untuk pemda DKI sendiri, seharusnya memikirkan ulang kebijakan-kebijakan mereka yang sudah memberikan kontribusi dalam penyebab terjadinya banjir ini. di antaranya proyek reklamasi Pantai Indah Kapuk (yea, yea, a long time ago..) dan banyaknya pembangunan-pembangunan sentral bisnis dan apartemen2 mewah serta mall2 megah itu. karena permukaan tanah Jakarta semakin turun beberapa senti per tahunnya, karena bangunan-bangunan berpondasi beton tersebut menambah beban yang harus disalurkan ke permukaan tanah. akibatnya permukaan tanah turun.. karena hal ini jg berpengaruh sama tekanan air tanah, daya kapilaritas, dll.. (saya ngga bisa ngejelasin detailnya, bkn apa2, saya jg bukan expert soal ini.. huhu)

yang saya soroti adalah: apakah bijak, jika pemerintah jakarta terus menerus menyetujui pembangunan proyek-proyek multitrilyun untuk mall-mall dan apartemen-apartemen mewah untuk kalangan terbatas saja, sementara rakyat kecil yang tergusur akibat proyek2 tersebut terus menderita? bagaimana dengan proyek-proyek perumahan rakyat yang terjangkau dan manusiawi?

masalahnya bukan pada ketersediaan dana, saya rasa.. tapi pada bagaimana pemda DKI menentukan prioritasnya.

ahh.. mengenai banjir, saya hanya bisa berkata ‘my deep condolence..’ turut berduka… mari kita berdoa supaya pemerintah DKI segera tobat dan memikirkan nasib rakyat..

dan…
sekali lagi saya mendukung pemindahan ibukota negara ke kota yang lebih sepi. yay!

Saya pikir, pemindahan ibu kota dari jakarta ke kota lain bukan lah disana persoalannya. tapi persoalannya yakni orang-orangnya berikut cara berfikirnya.

bayangin aja, kalau pemindahan ibu kota ke tempat lain namun masih dikelola oleh orang yang sama, maka tetap saja memiliki mental yang sama, yakni gemar membangun mall2, gedung-gedung mewah karena memang orientasinya bisnis dan semangat kapitalis yang luar biasa.

ahmad.

Sangatlah sedih melihat kota termegah, terbesar, terpadat, dan ter-lainnya ditimpa bencana yang sudah bisa dipastikan akan datang setiap tahun, seperti banjir. Keadaan ini telah berjalan puluhan tahun sejak jaman Belanda. Belanda sendiri mempunyai itikad yang kuat untuk mencegah banjir dan mereka lakukan itikad itu, tetapi hanay sempat dikerjakan sebagaian.

Setelah merdeka, apa yang dilakukan oleh pemerintahan Indonesia atas kasus ini?

Banjir adalah salah satu masalah pokok selain macet dan city planning yang ambul-radul di Jakarta. Ketiga masalah ini hanyalah gunung es yang kelihatan, di bawahnya terhampar ratusan masalah besar lainnya.

Sayangnya pemerintah, termasuk pemerintah lokal yang sudah merdeka cenderung mendukung dan mempromosikan pembangunan gedung tinggi dan mall mewah. Bukan begitu, Guebukanmonyet? Karena itu pembangunan kanal, waduk dan levee dikesampingkan. Mengapa? Apakah hal ini tidak menguntungkan atau mendatangkan uang bagi mereka secara pribadi?

Jika bisa aku ringkas, masalah utamanya adalah pemerintahan (lokal dan pusat), para pengambil kebijakan dan pelaku politik dan ekonomi tidak melihat pemecahan banjir adalah hal yang urgent. Dengan kata lain mereka ignorant dan rakus. Mereka hanya melihat keuntungan jangka pendek untuk mereka sendiri. Jika mereka mau berpikir mengenai kelanjutan nasib anak cucunya atau rakyatnya, maka mereka akan mengambil langkah kongkrit.

Indonesia merdeka tidak menjamin kemerdekaan mayoritas rakyatnya dari malapetaka banjir buatan manusia, kemiskinan dan penindasan.

@ahmad: bukan gitu, mas.. permasalahan di jakarta teh udah kompleks sebagai kotanya sendiri.. sementara ibukota kan pusat kegiatan pemerintah pusat. urusannya udah seluruh Indonesia. untuk urusan itu aja pemerintah udah ribet, kayaknya ga perlu lagi ditambah pusing dengan banjir, dll

jadi, biarlah jakarta mengurus dirinya sendiri, sementara ibu kota dipindahkan ke kota yang belum seruwet dan sekacau jakarta. hehe. tapi ini usulan becandaan kok, mas. lagipula mindahin ibukota kan urusannya panjang. persiapannya jg ga bisa dalam hitungan bulan. hanya komentar skeptis dari saya.. =)

dan setuju, lah, mentalitasnya jg harus berubah! pastinya..

satu statement menarik yg saya kutip dari dosen saya hari ini: ‘Jakarta tuh bukan kota yang sesungguhnya, tetapi kampung yang tumbuh membesar..’
karena walaupun diselubungi gaya hidup mewah, mentalitasnya masih kayak orang kampung… (baca: buang sampah sembarangan, tingginya pelanggaran lalu lintas, dll)
kita adalah orang ndeso yang ngesok bergaya hidup global.

Yonna: I don’t blame the rain and the flood, I blame the people. Kalau begini terus, Jakarta jelas akan tenggelam beberapa tahun lagi. Tragis banget deh.

Nyoman: Wah, masa di Kuta juga bisa banjir? Wah gawat juga donk.

Macangadungan: Iya, kesel juga sich melihat tingkah laku para badut itu. Bisanya cuma ngomong dan kasih janji-janji palsu, capeek deh. Setuju, kita bisa mulai dari diri sendiri, buang sampah pada tempatnya bukan sebuah hal yang sulit kan?

Panji: Pandangan yang sangat menarik. Golongan menengah emang kurang mendapat perhatian dari LSM atau lembaga politik di Indonesia padahal kekuatan golongan ini sangat kuat. Jumlahnya cukup banyak dan tingkat pendidikan mereka juga cukup tinggi.

Ahmad: Thanks for sharing. Tidak seperti di Saudi yah, di Jakarta hujan kalau bisa jangan pernah dateng. Hehe. Setuju kalau sudah saatnya terjadi perubahan mental di kalangan masyarakat Jakarta, membuang sampah pada tempatnya kan sebuah perbuatan yang sederhana tapi entah kenapa masyarakat Jakarta begitu susah untuk melakukannya.

Vienz: Baru baca di Kompas kalau Jonggol diusulkan menjadi ibukota baru Indonesia, mmh. Sebuah wacana yang menarik sich, tapi apakah kita punya dana untuk itu? Pasti kan membutuhkan dana yang gila-gilaan. Saya sendiri sangat jengah melihat pembangunan mall dan gedung-gedung mewah di mana-mana, bukannya saya anti yah. Toh saya juga dulu doyan ngemall, tapi mbok ya kira-kira. Buset. He-he.

Beni: Iya Bung, sedih kan kita sebagai bangsa Indonesia. Masa bandara utama kita jadi lumpuh total begitu hanya gara-gara hujan, apa kata dunia coba? Benar-benar memalukan. Tata ruang Jakarta emang sangat amburadul, kacau deh pokoknya. Dan benar apa yang dikatakan Bung Bevly, pejabat kita itu tidak pernah punya strategi jangka panjang, pokoknya selagi berkuasa yanh dikuras abis-abisan. Mana perduli mereka dengan rakyat, yang penting bisa mendapat uang sebanyak mungkin, sesudah itu: Masa bodo!

@Tasa
emang Jakarta sudah diprediksi bakal tenggelem sekitar 50 taun lagi…bisa lebih cepet atau lebih lama atau tidak sama sekali nah itu tergantung kebijakan pemimpin masa depan ya.

secara geografis, jakarta ibarat mangkok atau dataran rendah yang dahulu dimaksudkan untuk menjadi pembuangan air dari kota2 penyangga seperti bogor, dkk. mengetahui keadaan ini, makanya pemerintah belanda membuat begitu banyak waduk, kali, dam, dll karena kota jakarta mirip dengan kota amsterdam…cuma jakarta tidak menguruk laut /menambah daratan seperti amsterdam. tata kota yang sudah dibuatkan oleh pemerintah hindia belanda waktu itu sudah sangat tepat jika kota jakarta ingin dijadikan tempat tinggal, pemerintahan, bisnis apalagi ibukota negara….menjadi kota yang sehat, efektif dan bebas banjir. jikalau orang belanda saja sudah mampu berpikir di luar kotak seperti itu lantas sebagai orang yang tinggal terima jadi sebuah tata kota yang sempurna, kenapa dirusak ya? kalau alasannya pertambahan penduduk, dll masa’ harus merusak lingkungan?mgkn itu bedanya orang indo dengan orang belanda…maka gak heran kita dijajah lama banget ma mrk, abis titik-titik sih🙂

belum lagi, keadaan geografis pesisir jakarta kaya jak-ut dan jak-bar yang lebih rendah dari permukaan laut, gara2 reklamasi pantai tambah rendah aja deh dan sekarang rutin nerima banjir pasang air laut tiap bulan purnama ditambah banjir dari hujan….mau nyamain venesia kok maksa sich?:mrgreen:

jakarta masa depan kaya apa ya? ah moga2 jangan ampe tenggelem deh….

pas denger Jakarta banjir saya langsung otomatis mikir, emang udah lima taun yah?? lah…perasaan baru taun lalu banjir. loncat gitu jadi banjir tahunan…banyak banget kenalan saya yang stress gara-gara bandara ketutup. Yang mau ke bandara ga bisa masuk, yang didalem bandara ga bisa keluar…saya cuma nemenin mereka ngamuk-ngamuk kebosenan aja.

udah kaya gini, tetep aja mall-mall ditambahin. ada yang arsiteknya las vegas lah, ada yang arsiteknya apa lah…mall terbesar seasia lah…bo…penting ye? buang duit aja…bikin sengsara lagi buang duitnya.

panji:
hmm…iya juga yah, tapi targetnya mereka karena mungkin dianggap yang suka sikapnya jelek itu masyarakat menengah karena pendidikannya kurang. walaupun sebenernya yang kaya juga sama aja…

Beni:
kenapa? soalnya di Indonesia politik=bisnis…

vienz:
“kita adalah orang ndeso yang ngesok bergaya hidup global.”
saya setuju banget, tapi orang-orang seperti biasa lebih suka nyalahin orang lain. kalaupun setuju akan adanya perbaikan, biasanya pada pake kalimat “not in my backyard” seperti biasanya…ga jadi-jadi deh…

@vienz.
saya pikir orang kampung dan kampungan merupakan dua topik yang berbeda. saya sendiri berasal dari kampung di kota bandung, karena memang secara geografis, saya terlahir dari kampung. tapi apa kah saya lantas disebut kampungan hanya karena geografis saya dari kampung?

saya pikir, orang kampung tidak selalu identik dengan kampungan, karena kampungan adalah sebuah mentalitas yang uncivilized atau istilahnya tidak “nyakola”. istilah sundanya begitu.🙂, jadi orang kota ataupun orang desa, bisa saja terjangkit penyakit ini. so, waspadalah.

Gw rasa ini bukan saatnya menyalahkan rakyat dan warga Jakarta. Gw percaya kebiasaan buang sampah sembarangan itu berpengaruh. Tapi gw lebih percaya kalo itu sama sekali gak signifikan artinya, dibandingkan dengan kebiasaan pemda Jakarta yang kerjaannya cuma beresin Thamrin dan Sudirman (sebagai ruang tamu Jakarta), gusur2 pedagang kecil sambil memberi izin kepada pengembang2 gak bertanggung jawab untuk membangun sarana di atas wilayah yang seharusnya daerah hijau tempat resapan air. DPRD Jakarta masa reformasi ini juga ternyata belum sama sekali berkontribusi untuk membangun Jakarta yang lebih ramah lingkungan dan tidak koruptif. Setelah kesalahan sistematis maha hebat ini yang dibuat pemda dan DPRD ini, masihkah kita punya hati memojokkan masyarakat karena mereka membuang sampah sembarangan? Sementara mereka sendiri yang jadi korban..

@ itsme231019:
yups. memang orang kampung tidak selalu kampungan kok. dan saya tidak menyatakan maupun memaksudkan demikian. saya cuman meng-quote perkataan dosen saya; dan yang dia maksud ‘kampungan’ di sini adalah kebiasaan2 warga jakarta seperti: melanggar peraturan lalu lintas, naik2 ke atap kereta, naik jembatan penyeberangan pake motor, pedagang kaki lima liar, membuang sampah sembarangan (yang menyebabkan banjir, dalam konteks ini), hingga ke level atas seperti: aparat yang tidak taat pada hukum, adanya indikasi bahwa beberapa kalangan yang kebal hukum, korupsi, dan lemahnya penegakkan hukum. dan lain-lain..

YANG seperti kata anda, menunjukkan gejala-gejala urang uncivilized atau ‘teu nyakola’.

dan menurut saya, statement ini bukan suatu hal yang perlu diperdebatkan di forum ini.

dan saya jg orang bandung kok. lagi belajar untuk ga buang sampah sembarangan. terima kasih.. =)

Hai vient, betul sekali, sifat kampungan itu memang tidak nyakola. sifat kampungan itu memang tidak identik dengan orang kampung.
Banjir ada kaitannya erat dengan sifat kampungan tadi. yakni doyan buang sampah sembarangan, doyan tebang hutan sewenang-wenang. intinya sih, bencana alam itu sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh ulah dan prilaku manusia itu sendiri.
Lalu apa yang bisa kita lakukan agar banjir tidak datang kembali bukan saja di jakarta, tapi juga ditempat-tempat lain di Indonesia?
Yang bisa saya lakukan adalah, saya harus punya kesadaran bahwa membuang sampah harus pada tempat nya. kalau saya tidak menemukan tong sampah, maka sampah itu saya simpan sementara di saku saya sampai saya menemukan tempat sampah.
saya sendiri sering melihat orang disekitar saya membuang puntung rokok atau bekas jajanannya dibuang begitu saja tanpa ada rasa bersalah, duh….gimana ya kalau orang seperti itu dalam jumlah yang banyak…..masalah juga kan.
anyway…thanks for sharing about kampung and kampungan.
ahmad

Hmmmm…. tentang banjir …

Saya jadi teringat hari pertama saya masuk kerja. Pas banget hari itu tanggal 1 Februari 2008, hari Jum’at. Hari masyarakat banyak banget yang saya dengar ada yang sampe nginep di dalam bus dan baru pulang besok paginya. Tapi, saya punya cerita sendiri nih…. Kalo punya judul mungkin judulnya tuh,
” Derita sehari ” kali ya…

Berangkat pagi, hujan kecil menyambut. Awan mendung sepanjang hari itu mungkin juga ngga bakal bisa dilupain sama warga yang lain hari itu. Bahkan, waktu mau jam makan siang, saya inget banget waktu pesen makanan delivery HokBen. Pesen makanannya sih sekitar jam 11.30, tapi Masya Allah, sampe ke tangan yang mesen jam 14.00.
Masih bersyukur tuh makanan nyampe ke tangan yang mesen. Alhamdulillah……….

Pulang jam setengah tiga, nunggu bisnya satu jam. Gara-gara ngga ada yang mau ngangkut ke daerah Slipi, jadi dari Sudirman ke Blok-M dulu. Dari situ naek bis berdiri sampe ga tau di mana, pokoknya di atas jalan layang yang kalo dilihat dari atas pemandangan banjir itu jelas sekali dilihat di mana-mana. Eh, sendalnya mba Lala putus. Trus, gara-gara ada patas mau lewat ya minggir dulu….
Tapi ada bapak-bapak yang keluar dari mobilnya saat macet itu, disangkanya mau bunuh diri !!! Oh, ternyata dia baik sekali mau nebengin kita ber-3 masuk ke mobilnya.
Setelah sampe tempat yang menjadi tujuan tebengan, kita turun. Naek bis AC sih….
Tapi ini adalah momentum yang bagi saya sendiri adalah siksa ! Udah ketauan naek bis AC, eh AC-nya mati, berdiri pula, bayar full pula !! Kaki sakit, cantengan, kekurangan oksigen karena pintu mobilnya ditutup, desek-desekan, ngga bisa napas..pas..pas…pas…!!!!
Tapi lagi, kita bertiga masih aja bisa cengengesan dalam patas AC yang sumpek itu. Menghadapai macet di sepanjang jalan tol yang udah ngga keruan. Sampe tempat tujuan kira-kira jam delapanan. Dan karena cowo gw yang bedegul itu kaga jemput, ya gw sendirian pulang ke rumah dengan hati sedih, napas kempas-kempos, kaki cantengan sakit bukan main, badan lelah, letih, lengket, mata layu, perut laper, semuanya deh !!
Tapi, saya yakin banget masih banyak yang pada takut mati di jalan waktu itu. Ini cerita baru saya yang kasih. Coba aja tanya tetangga, teman, atau saudara anda yang turut merasakan indahnya macet dan kebanjiran bersama waktu itu. Astaghfirullahal’adziim……..

Bosan dengan kota yang seharusnya sangat kita cintai ini.
Pemerintah ngga mau ngalah, rakyatnya ngedesek mulu. Apalah arti kesejukan AC dibandingkan udara yang bersih dan dirindukan? Apalah artinya gedung mewah beritingkat-tingkat dibanding lingkungan bersih dan sehat? Kita perlu semua itu jadi kenyataan kan? Yah, berkacalah.

Buat Pemerintah…
Jangan pura-pura budeg lah ……………

sebenernya ini conspiracy theory untuk mengurangi kepemilikan kedaraan (roda 4 dan roda 2) bermotor lagi…
trus untuk membersihkan jalanan yang berdebu…
trus untuk mengurangi polusi udara….
trus untuk menghemat pemakaian bbm (karena udah ga ada lagi yang beli kendaraan bermotor)…
trus untuk nurunin harga sembako (karena bbm udah ga ada yang make, harganya turun, harga sembako juga turun)…
akhirnya, semuanya untuk kita-kita juga, lebih sehat…. karena harus berangkat ke kantor pagi2 pake sepeda ontel….
tuh kan… terbukti lagi kalo sebenernya pemerintah tuh perhatian banget ma kita….
gimana coba?
ekhkehkehkehkehkehekhekhekehkehkehe…..

hehehehe….conspiracy theory….hahaha analisis yang bagus, bagus dan bagus.

a clever way to reduce poverty (baca: the poor) jadi yang diberantas bukan kemiskinannya tapi orang2nya…hehe.

naek sepeda ke kantor? bike to work? btw community? gimana jadinya naek sepeda dari lebak bulus ke tanjung priok? hmmm….mau jadi lance armstrong atau lance feetstrong tuch? cari sehat atau cari penyakit yak? hmmmm
:mrgreen:

tuh kan bener… emang gitu lagi, yang diberantas orangnya, bukan kemiskinannya…. coba kalo ga ada orang yang miskin…. ga ada kemiskinan kan???

egh.. naek sepeda ke kantor juga ga papa lagi yon.. kan sehat… pegel + cape kan cuma karena ga terbiasa aja…coba kalo udah terbiasa, paling sesek napas…. hehehehhehe….

lagian nih… *tau kan betapa jeniusnya “ary” ini?* kalo emang cape, ya naik sepedanya nebeng aja…

ato naik sepeda sendiri, tapi minta ditarikin ma temen lain (yang juga naik sepeda tentunya!!)

ato beli sepeda yang double seater, trus sewa orang untuk bawain… nah tuh! jadi mengurangi pengangguran juga kan?!

emang bener2 nih pemerintah kita sangat memperhitungkan setiap langkahnya dengan sangat cermat, ampe masalah ketenagakerjaan juga rupanya….

wakakakkakaka… *ehm* *ja’im*

*ehm.. tiba2 mau serius…*

guys, here’s what i really think.

since our government are too busy paying our debt (and search for another one), let’s start from our self. stop littering, put your garbage in where it should be, teach your children how to do it. put a tree in each of your home, try to develop a sense of belonging in your own neighbourhood and surrondings.

you, and me ought to make a start.

not in a minute, not later, but now.

not after him, not after what, but now.

not until what, not until whom, but now.

yes. start now. in this moment. now.

later, try to make a serious choice in the general election, because what we’ve gone through now and in the near future to come is a serious matter that needed a serious thought from a serious man.

we are human. we are capable of whatever we think we are capable of.

the problem is, how far will you appreciate your own capability.

i have start mine. when is yours?

Yonna: Wah jangan ampe tenggelam donk, serem amat. Tapi emang bener kondisi geografis Jakarta udah kayak mangkok karena beban dari gedung-gedung berbeton. Doain aja Pemda bisa cari solusi secepatnya, terakhir Foke mau bangun bendungan dengan meminjam uang dari Bank Dunia.

Zahra: Tau payah dah, udah cukup kalee mall di Jakarta. Udah lebih dari cukup, masa terus ngebangun aja. Dasar muka duit tuh para pejabat Pemda DKI. Buat lagi donk taman kayak di Menteng gitu. Bagus banget tuh.

Dodol: Bener banget, gue setuju tuh. Masalahnya memang itu dan semuanya juga udah tau, tapi para pejabat cuma pura-pura bego aja. Capek juga sich mikirinnya, hehe.

Vienz: That’s the spirit. Yaudah mari kita sebarkan pesan akan pentingnya berbudaya tidak kampungan. Setuju? Ayo donk ikutan program Berburu! Hehe.

Ahmad: Thanks for sharing bro. Your comment is always nice to read. Say setuju deh, orang yang kampungan tidak selalu orang kampung. Orang kota yang katanya berpendidikan ternyata bisa kampungan juga loch. Saya ingat dulu pas kuliah banyak teman yang gak perduli ama lingkungan dan orang sekitar, ngerokok seenaknya emang biasa banget di Jakarta. Trus buang sampah seenaknya aja, terus kalau dibilangin balesnya, “Ach, sok tau lo.”

Izmi: Wah pengalamannya sangat menarik. Untung selamet yah🙂 Emang kalau udah banjir gede gitu kepala bisa dibikin mau pecah. Takut kemana-mana. Jakarta lama-lama bisa kayak di film-film neh. Gawat dan gawat banget. Sedih banget melihat kenyataan ini, Jakarta gitu loch. It’s the city I love or at least I should love. Tapi kok begini yah?

Ary: Gue setuju banget. Naik sepeda yah. Hehe. Asyik dan seru. Lo bisa boncengan ama si Yonna tuh. Jadi kan bisa gantian. Naik sepeda sebenernya seru banget lagi, cuma sayangnya udara Jakarta kurang bersahabat. Kantor-kantor harus menyediakan kamar mandi yang bagus kalau gitu, kan gak lucu nyampe ke kantor dengan badan penuh keringat gitu. Aduuuch.

kalo jakarta sampe tenggelem, program berburu bisa terancam gagal.

Bener banget tuh! Jangan ampe banjir makanya yah.

tasa:
bener… bener… harus ada kamar mandi… ma tukang pijit tas….. hehehhehehe…

tasa (lagi):
kata2 ini: “terakhir Foke mau bangun bendungan dengan meminjam uang dari Bank Dunia.” tau dari mana lo?

kalo bener… nyanyi bareng yuk… cangkul, cangkul cangkul yang dalam, kalo dah dalam bayarnya lupa….

ary:
setuju, mulai aja dari diri sendiri dulu
I have start mine too…

Ary: Sorry lelet nih balesnya. Yah gue sih baca di Kompas bos. Tau de beneran apa bokis tuh Gubernur.

Zahra: Setuju!

sdasdwadasdawdadwd

a anto minta duit dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: