Guebukanmonyet!

Dengar Jeritan Hati Mereka

Posted on: September 29, 2007

Suatu ketika di Jakarta saya menghadiri sebuah pameran di Jakarta Convention Center (JCC) dan di saat yang bersamaan tim sepak bola kebanggaan Jakarta Persija sedang berlaga menghadapi tim dari luar kota. Sebelum berangkat seorang teman saya sempat menasehati untuk tidak datang ke pameran tersebut dengan alasan Persija sedang bermain, Ia mengingatkan resiko terjadinya tawuran atau kerusuhan apabila Persija kalah dalam pertandingan tersebut. Saya tetap nekat untuk datang sembari terus berdoa supaya Persija menang.

Sayangnya doa saya tidak didengar oleh Tuhan, Persija untuk kesekian kalinya harus mengalami nasib sial, kalah. Usai kekalahan Persija suasana di dalam area Gelora Bung Karno menjadi mencekam. Para pengunjung pameran di JCC harus dilokalisasi supaya tidak menjadi korban dari kebringasan para Jakmania, julukan dari pendukung fanatik Persija. Petugas keamanan bersama polisi akhirnya berinisiatif untuk “mengurung” para pengunjung pameran di dalam area JCC sampai suasana di sekitar Gelora Bung Karno kondusif dan massa bisa digiring keluar. Orang-orang tampak panik terutama yang kendaraannya sedang diparkir di luar komplek JCC, termasuk saya sendiri. Kebringasan para pendukung Persija memang saat itu sudah cukup terkenal, mereka dianggap sebagai orang-orang pendukung olah raga yang tidak sportif karena tidak bisa menerima kekalahan. Setiap kali Persija kalah dalam laga penting para Jakmania selalu merusak dan menghancurkan fasilitas-fasilitas publik serta kendaraan-kendaraan pribadi yang kebetulan mereka lewati.

Hingga pukul delapan malam para pengunjung pameran tidak juga diperbolehkan meninggalkan area pameran. Suara letusan kembang api terdengar dari kejauhan dibarengi dengan teriakan dan nyanyian para pendukung Persija. Orang-orang yang berada di dalam area JCC mulai terlihat kesal dan jengkel, beberapa dari mereka meluapkan kemarahan dengan mengomel, “Payah banget sih Jakmania, masa gara-gara kalah aja sampai merusak begini.” Sementara ada juga memberikan sumpah serapah, “Dasar kampungan.”

Fenomena Jakmania di Jakarta memang unik dan patut dicermati. Untuk sebagian banyak kalangan masyarakat Jakarta terutama masyarakat kalangan menengah keatas keberadaan Jakmania hanyalah satu dari begitu banyak alasan mengapa Jakarta semakin hari semakin tidak aman dan nyaman untuk ditinggali. Di dalam pikiran mereka Jakmania adalah sekumpulan anak muda yang doyan berantem dan cari masalah. Sebuah pemikiran yang sebenarnya tidak salah mengingat Jakmania memiliki reputasi yang cukup buruk di Jakarta, kalau tidak percaya tanyakan saja kepada para supir metro mini atau angkot yang selalu jadi korban ketika Persija sedang bertanding. Kalau masih tidak percaya juga tanya saja kepada para petugas keamanan dan polisi bagaimana mereka harus selalu repot mentertibkan para pendukung fanatik Persija tersebut setiap kali Persija mengalami kekalahan.

Jakmania memiliki definisi yang negatif di dalam kamus orang-orang yang ngakunya beradab. Yang kita tidak sadari adalah kenyataan bahwa Jakmania merupakan sekumpulan orang-orang yang tertinggal dan tertindas. Para anggota Jakmania yang rata-rata berusia 15 tahun hingga 20 tahun merupakan bagian dari masyarakat Jakarta yang tidak memiliki kesempatan untuk menikmati glamornya dunia. Mereka adalah anak-anak muda yang tahu persis betapa nikmatnya jalan-jalan di pusat perbelanjaan tapi malu masuk ke dalam mal-mall mewah seperti Plaza Senayan atau Pondok Indah Mall karena takut diusir satpam karena baju mereka yang butut dan badan mereka yang bau keringat. Mereka adalah anak-anak muda yang tahu persis enaknya menyantap makanan cepat saji seperti McDonald’s atau Pizza Hut tapi terbatasnya uang yang dimiliki membuat sebagian besar dari mereka hanya sanggup menikmati santapan orang modern tersebut mungkin sebulan sekali.

Para anggota Jakmania adalah mereka yang memiliki hidup yang keras dimana yang kuat selalu mengalahkan yang lemah. Ayah mereka mungkin berprofesi sebagai tukang ojek atau tukang bangunan sementara ibu mereka adalah buruh pabrik atau tukang sayur. Anak-anak Jakmania setiap harinya harus melihat kenyataan bahwa mereka hidup di gang-gang kumuh dimana air bersih pun jadi barang mewah, mereka harus memahami kenyataan bahwa mereka tidak akan pernah bisa memperoleh pendidikan tinggi sehingga masa depan yang cerah jelas hanya jadi mimpi. Namun, di saat yang bersamaan mereka menyaksikan kenyataan bahwa ternyata ada cukup banyak orang di Jakarta yang hidup dengan bergelimangan uang dan harta, rumah mereka yang berlokasi di daerah-daerah elit terlihat begitu megah dan kokoh, orang-orang kaya ini dengan mudahnya mampu membeli mobil keluaran terbaru yang paling mahal sekali pun, hidup mereka terlihat begitu mudah.

Anak-anak Jakmania adalah sekumpulan orang yang patah hati terhadap ketidakadilan dunia. Berada di dalam stadion sepak bola sambil mengenakan atribut-atribut kebanggaan mereka adalah satu-satunya situasi dimana semuanya terasa masuk akal bagi mereka, dimana mereka merasa aman dan nyaman berada di sekeliling orang-orang yang senasib dan sepenanggungan. Hanya di dalam stadion itulah mereka bisa mengalahkan “dunia.” Singkat kata, sepak bola adalah hiburan satu-satunya bagi mereka. Hanya sepak bola dan Persija yang mampu membuat hati mereka terhibur dan mereka bisa tertawa untuk melupakan kejamnya dunia yang sesungguhnya, walau hanya sejenak. Mereka tahu dengan jelas bahwa begitu pertandingan usai dan mereka harus pulang ke rumah mereka akan kembali mendengar pertengkaran kedua orang tua mereka yang meributkan uang bulanan, adik mereka yang menangis karena belum minum susu, atau kabar tentang akan digusurnya rumah mereka.

Jadi bukanlah suatu hal yang aneh apabila para anggota Jakmania menjadi begitu beringas ketika Persija kalah, karena seseorang baru saja merebut hiburan mereka satu-satunya. Jadi bukanlah suatu hal yang aneh apabila ketika mereka pulang berbondong-bondong usai kekalahan Persija tangan mereka gatal ingin merusak mobil-mobil BMW atau Mercy yang melintas di hadapan mereka, karena mereka marah dan hati mereka untuk kesekian kalinya harus sedih.

Coba dengarkan nyanyian dan teriakan mereka ketika mendukung tim kesayangan mereka Persija bertanding, dengarkan jeritan hati mereka, “Yo… ayo… ayo Persija. Ku ingin, kita harus menang…. Yo… ayo… ayo Persija. Ku ingin, kita harus menang.

Foto-foto digunakan atas seijin www.thebigdurian.net

43 Responses to "Dengar Jeritan Hati Mereka"

well, walaupun tinggal di Jakarta juga, gw bukan pecinta Persija Jakarta, hidup PSMS Medan anyway, haha.. PSMS is still on the top lohh..

soal postingan loem indeed, mereka hanya mempertahankan mainan terakhir yang mereka punya, lantas menurut loe bro yang perlu disalahin siapa atas semua ini? merekanya sendiri atau pemda DKI yang membiarkan adanya orang2 yang masih hidup di bawah standard?

belum pernah nyaksiin langsung sih akss2 anarkis ala jakmania ini, cuma kalo bonek udah pernah.. menurut loe, apa alesan yang sama bisa diaplikasikan ke bonek? kalo iya, jangan2 emang udah mental orang2 kita yang gak bisa menerima kekalahan..

Memang tidak layak seseorang mengaku penggemar olahraga apabila merusak dan tawuran jika timnya kalah (jangankan setelah kalah, sebelum timnya bertanding saja sudah bikin onar dan memacetkan jalan). Namanya olahraga kan menang-kalah itu khan biasa. Tetapi fenomena seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada JakMania, setahu saya kelompok-kelompok pendukung tim sepakbola lain di Indonesia memiliki potensi yang sama untuk menjadi rusuh, misalnya dan tidak terbatas pada: Viking-nya Persib, Juku Eja-nya PSM atau Bonek-nya Persebaya. Dengan proporsi pendukung rata-rata remaja tanggung, berusia 15-20 tahun, sepertinya JakMania ini menjadi komunitas bagi anak-anak yang notabene-nya teraleniasi dari gemerlapnya jakarta itu, untuk proses aktualisasi dan pencarian jati diri. Seharusnya baik pemerintah dan pihak klub memiliki peranan yang lebih untuk membina anak-anak ini, karena komunitas yang berafiliasi dengan kegiatan olahraga, seharusnya dapat menumbuhkan sikap-sikap positif dari sportivitas untuk mengembangkan generasi muda, bukan perilaku merusak, tidak mau kalah dan mental terjajah.

Yuki: Jadi pendukung PSMS Medan toh? Masalah siapa yang disalahkan memang sedikit sulit untuk dijawab. Di satu sisi yang namanya tindak kekerasan selalu salah. Namun, untuk fenomena satu ini tampaknya Pemda DKI berhak untuk disalahkan. Karena gue yakin akar permasalahan yang sebenarnya adalah tidak meratanya kesejahteraan serta kurang pekanya Pemda DKI dalam membina mereka.

Gue rasa bonek dan pendukung sepak bola lainnya di Indonesia memiliki latar belakang masalah yang sama.

Harry: Setuju sekali Bung Harry, yang namanya olah raga memang selalu ada yang menang dan yang kalah. Mental seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh setiap pendukung olah raga di Indonesia, tidak melulu Jakmania. Keberadaan Jakmania sebenarnya dapat dilihat sebagai sebuah peluang bagi Pemda DKI untuk meningkatkan rasa solidaritas dan kebersamaan di antara generasi muda Jakarta.

iya nih PSMS Medan, maklum orang batak soalnya, haha..

gw setuju ama bung harry, itu jga saran yang selalu gw kasih ke orang2 yang kalo kalah ngambek dan mulai berbuat yang aneh2.. they really have to do some man’s sports, biar bener2 ngerti semangat olahraga, dan tau betapa “hina”nya mencari alasan dari suatu kekalahan dan melimpahkan kekesalan ke orang lain..

Yoi Tobing nich yee, hehe. Setuju sich gue kalau ada baiknya para pendukung sepak bola di Indonesia diajarkan untuk bisa sportif dalam menerima kekalahan. Kesel banget ngeliat kalau penonton malah lebih garang dari wasit, benar-benar merusak citra Indonesia. Kalau begini kita tidak bisa membanggakan diri sebagai bangsa yang ramah.

Sport fanaticism is an inevitable social issue. menurut gue yang dateng ke stadion gak semua mau nonton bola aja. sadly to say ada juga yang menunggu aksi jotos – jotosan.di eropa lebih dikenal dengan hooliganism. aksi jotos-jotosan ini menurut gue juga bukan karena masalah keterbelakangan pendidikan atau budaya, tapi itu bisa dibilang human instinct. bisa disebut sebagai human instinct karena hampir semua orang suka dengan adanya adrenaline rush. nah beberapa orang mencari adrenaline rush ini dengan cara datang ke stadion dan berkelahi.

Fanatisme memang seringkali diliat sebagai sebuah permasalahan yang mewabahi Jakarta, Indonesia, atau tempat-tempat dimanapun yang menjadi sarang percintaan dengan dunia sepakbola. Tapi, menurut saya, akar dari fanatisme ini menarik untuk dipahami.

Memang kalau dilihat dari segi sosio-ekonomi, bisa dibilang pendukung Jakmania itu ‘rusuh’ karena mereka datang dari kehidupan yang tidak terlalu menyenangkan, sehingga ketika bergabung bersama Jakmania lainnya menyaksikan 22 pemain bertarung demi mencetak gol, ajang ini dijadikan tempat pelampiasan atas apa yang mereka tidak miliki – hidup yang menyenangkan.

Dari segi budaya anak muda, memang menjadi suporter tim sepakbola, ada semacam ekspektasi bahwa suporter bola itu harus rusuh. Sama seperti hooligans di Inggris, mereka harus berperan lebih dari sekedar penonton, tapi sebagai pembela klub mereka. Tawuran dan kerusuhan adalah budaya penggemar sepakbola sejati.

Semua ini terdengar negatif. Tapi pernah kah kita berpikir bahwa sebenarnya akar dari fanatisme ini adalah patriotisme, yang merupakan akar dasar dari nasionalisme? Mereka memutuskan untuk menjadi Jakmania karena mereka merasa mereka adalah bagian dari Persija, darah daging tim Jakarta tersebut.

Selain dari pendukung tim sepakbola di Liga Indonesia, saya belum menemukan suatu ‘isme’ yang lebih menonjol patriotrisme atau nasionalismenya dibandingkan dengan mereka.

Ingat ketika Indonesia bertanding melawan Korea Selatan baru-baru ini? Gelora Bung Karno menjadi lautan merah putih, mendukung 11 pemain pilihan yang mewakili 17ribuan kepulauan yang ada di Indonesia?

Apabila kita bisa mengaplikasikan semangat juang pecinta sepakbola, ke dalam diri pemuda Indonesia untuk mencintai tanah airnya.. mungkin ini bisa memacu kalangan pemuda untuk lebih maju, tapi lebih penting lagi.. bersatu dalam mencapai kemajuan itu.

Hidup Sepakbola!

Rafael: Teori yang sangat menarik Bung, memang benar pasti ada sebagian orang yang memang mencari sensasi dari perkelahian. Tapi menurut saya itu bukan landasan dasar yang tepat mengapa Jakmania suka berantem. Kalau mengacu bukunya Malcom Gladwell berjudul “The Tipping Points” disebutkan bahwa segala perilaku di dalam sebuah komunitas masyarakat pada dasarnya bersifat menular. Dalam hal ini penularan watak keras dan tidak berbudaya di antara anggota Jakmania “menular” begitu mudah lantaran kebanyakan dari mereka tidak berpendidikan serta kurang mampu.

Journos: Komentar yang sangat bagus. Penampilan beringas para pendukung Persija sebenarnya dapat digali menjadi suatu yang positif. Bagaimana para anggota Jakmania mendukung timnas Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana semangat dan kecintaan mereka terhadap Indonesia sebenarnya sangat tinggi. Hanya saja mereka tidak diberi kesempatan, didikan, dan arahan oleh Pemda DKI.

bukan hanya jakmania sih, pendukung persebaya, pendukung psms, pendukung persita tanggerang, dan nyaris semua fans tim peserta liga di indonesia itu ya kaya’ gitu.

timnya kalah, ngamuk
nggak bisa masuk nonton di stadion, ngamuk.

ngamuk aja terus, toh setelah itu dengan berbagai alasan permisif dari berbagai pihak, hal itu akan terlupakan, sampai pertandingan sepakbola berikutnya [dan kalah]

Betul sekali, sepertinya fenomena suporter sepak bola yang rusuh sudah menjadi hal biasa di berbagai wilayah di Indonesia. Cukup menyedihkan sich. Harus ada keinginan kuat dari tiap Pemda untuk membina mereka.

Saya akui, ini adalah fenomena yg menarik untuk dibahas. Personally, saya kurang setuju dengan kelakuan para Jakmania tersebut. Saya yakin diantara penonton di stadion ada orang2 yang memang hanya ingin menikmati indahnya olahraga sepakbola tanpa terlibat dalam kesuruhan setelah pertandingan. Coba saja dibayangkan sehabis menikmati pertandingan sepakbola tiba tiba ada botol “nyungsep” ke kepala.

Menurut saya fanatisme itu adalah obsesi yg berlebihan. Segala sesuatu yg berlebihan itu tidak baik. Apakah betul keberingasan tersebut disebabkan oleh kemiskinan atau campuran antara fanatisme, ketidaksportifisan, dan egoisme ?

Ada botol nyungsep? Hehe. Dan ternyata masih banyak hal parah yang bisa terjadi loch. Fenomena yang sangat disayangkan memang, olah raga itu seharusnya digunakan ntuk bersenang-senang bukannya malah berantem.

well mungkin mereka tidak sportif karena mereka masih belom bisa berpikir secara kritis dan rasional, and lack of education may play a role in this, apalagi kebanyakan dari supporter nya anak muda yang lagi menjalani masa-masa ‘rebellious’,dan yang mereka butuh ya pengarahan buat merubah mentalitas mereka sedikit. rusuh di dalam stadium is one thing, tapi kalo sampe terus-terusan merusak property orang lain kan repot juga. I totally understand their cause, and sure their voice of agony should be heard more, but their action still can’t be tolerated.

Jangan pernah mentolerir setiap tindak kekerasan apapun alasannya, karena efek yang ditimbulkan dari perilaku kekerasan selalu tidak menyenangkan dan merugikan orang lain. Dengan alasan miskin, lack of education, banyak masalah di rumah dll, trus boleh jadi brutal…wah kacau dong…jawabannya adalah bukan menghancurkan milik orang-orang kaya, tetapi bekerja keras, giat dan semagat untuk menjadi orang kaya!!!
Menjadi seorang Fans Sepakbola tidak harus selalu menuntut “totalitas” yang akhirnya berujung pada anarkisme, totalitas dalam sepakbola bisa ditunjukan dengan menonton tim kesayangan di stadion dengan membeli tiket yang disediakan agar tim-tim tersebut bisa terus hidup tanpa harus bergantung dari dana APBD. Walaupun pembiayaan diambil dari dana APBD banyak tim dan pemain yang tidak sadar bahwa mereka dibiayai oleh negara, mereka masih belum bisa menampilkan sesuatu yang menghibur masyarakat, tetapi dengan memberi kesadaran kepada tim dan pemain bahwa mereka dibiayai dari penjualan tiket maka diharapkan mereka sadar dan berusaha untuk menampilkan permainan yang menghibur.
Sekarang coba pikirkan, HOW COME kita bisa memaklumi kalau Negara (APBD) harus menanggung biaya untuk permainan sepakbola di Indonesia dengan kualitas permainan yang tidak ciamik untuk ukuran pesepakbola amatir, pemain yang banyak “belagu”nya, wasit yang “bodoh”, dan harus ditambah dengan kekerasan penonton setelah pertandingan, sederhananya Negara membiayai dagelan dan kekerasan…lebih baik dananya dianggarkan untuk pendidikan di kota-kota tersebut, lebih jelas outputnya..Mari Menjadi Pintar dengan Berpikir Cerdas!!!

helmet_head: Nice thought🙂 Yeah, we have to see deeper why they’re doing that way but still we can’t deny that what they do is wrong. That’s something we need to solve. I believe opressing them and giving negative labels won’t help, they need attention and affection.

Udiot: Wah, pendapat yang luar biasa dari Anda. Memang benar, kemiskinan tidak bisa dijadikan alasan untuk berbagai pemakluman yang terjadi di Indonesia. Kalau begitu terus yah kita tidak akan maju menjadi sebuah bangsa. Orang miskin pun perlu diajarkan betapa pentingnya menghormati hukum dan peraturan, begitu juga orang kaya. Saya sangat setuju.

Untuk masalah The Jakmania, menurut saya Pemda DKI seharusnya dapat merangkul mereka dan memberikan pengarahan secara manusiawi. Bukannya dibiarkan begitu saja sambil melabeli mereka dengan sebutan-sebutan yang menyakitkan.

Tampaknya sepakbola masih komoditas, bukan untuk membina prestasi … bulutangkis yang dulu berjaya kini redup karena unsur itu juga … pejabat, pengusaha, atau petinggi jadi ketua induk organisasi olah raga apa masih akan terus dipertahankan? … nice article

Sayangnya begitu Pak Dedi, kondisi olah raga di Indonesia sayangnya memang sangat menyedihkan. Seperti yang Anda sebutkan, olah raga justru jadi ajang para pejabat cari muka dan dukungan massa, jadinya tidak profesional.

disini topik ini lebih banyak replynya dibanding blog sebelah:mrgreen:

ada tokoh yang mengatakan bahwa emosi seseorang berbanding lurus dengan seberapa besar pengetahuan dia terhadap suatu masalah.

kalo ilmu kurang ya pasti emosional, kalo gak ngerti gimana solusi untuk menyelesaikan masalah atau mentoggg ya pasti emosional.

Iya, lebih ramai disini nich. Saya setuju dengan teori Anda, tingkat pendidikan memang sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang di dalam lingkungan sosial. Jadi, pendidikan adalah salah satu elemen yang harus benar-benar diperhatikan oleh Pemda DKI.

mas, 2 thumbs up buat tulisannya…
salam kenal…

Dulu saya juga suka nonton persija ketika bertanding dan harus diakui kalau atmosfer dalam stadion tidak begitu bersahabat.

Jika anda ingin melihat kelompok suporter yang jauh dari kesan rusuh anda dapat melihat Aremania (suporter Arema). Aremania konon adalah kelompok superter terbaik di Asia Tenggara. Saya pernah memuat coretan tentang Arema di link dibawah ini:
http://kacamatamakna.blogspot.com/2007/10/aremania-yang-bersahabat.html

Dan jika kita melihat mengapa Aremania berhasil?? Ternyata jawabannya bukanlah campur tangan dari pemda. Akan tetapi adalah bagaimana cara klub mengelola dan mengedukasi suporternya. Sehingga suporter dapat menjadi dewasa dalam bersikap…

Sikap kedewasaan arema dapat anda lihat sendiri di Malang. Jika Arema berpenampilan buruk, mereka tidak akan bertindak anarkis, akan tetapi mereka akan menggalang opini yang akan menyudutkan manajemen, sehingga manajemen akan segera mengambil langkah antisipatif.

Yah, setidaknya itu yang saya lihat selama 2 tahun menetap di Malang..

wah iseng2 buka link yang laen, ketemu tulisan ini.

Jujur gue juga pernah ngeliat langsung kebrutalan JakMania, waktu itu mereka baru aja selesai tanding di Stadion Benteng tangerang lawan Persita. secara waktu itu posisi gue ada di pinggir jalan yang dilewatin mereka, ya apa boleh buat, gue cari perlindungan di sekitar jalan itu.

Ironisnya, banyak warung rokok pinggir jalan yang nutup dagangannya, sampe tukang-tukang jualan makanan yang ngungsi ke gang-gang kecil buat ngehindarin mereka. karena menurut mereka sih, Jakmania sudah terkenal sebagai TUKANG JARAH DAGANGAN !!!

Bener aja, begitu mereka lewat, mereka dengan tanpa dosa nyambit ke rumah-rumah pinggir jalan tanpa dosa, yang otomatis dilawan sama penduduk sekitar, dan kalo gak ada Polisi saat itu, mungkin situasinya udah chaos.

Intinya sih satu, menurut gue kebrutalan pendukung Persija a.k.a. Jakmania itu gak melulu karena kesenjangan sosial di jakarta dan fanatisme semata, tapi juga budaya kekerasan…

Kalo emang semuanya semata karena kesenjangan sosial, kenapa sih mereka nyambit ke seputaran jalan yg mereka lewati tanpa alesan yang jelas, apalagi sampe ngejarah warung-warung yang notabene sama-sama orang kecil juga ???

Tapi menurut gue gak semua Jakmania juga yang bertindak anarkis, karena sebagian dari mereka juga pecinta fanatik yang memang bener2 dateng ke stadion untuk nonton, dan mereka menikmati euforia-nya waktu nonton idola mereka dan waktu mereka konvoy bareng.

Dinda: Salam kenal juga yah.

Havid: Yah, contoh yang sangat baik. Saya juga pernah tinggal di Malang dan waktu itu Aremania masih cukup rusuh. Sekarang sudah berbudaya yah? Bagus berarti. Peran aktif dari masing-masing klub jelas sangat diperlukan seperti yang kita lihat juga pada klub-klub besar di Eropa.

dBRag: Mmh, masukan yang menarik. Tidak bisa dipungkiri korban para anggota Jakmania tidak melulu kaum kaya tapi juga orang susah mulai dari supir angkot hingga penjual warung. Kekerasan memang masuk akal tapi kira-kira apa yang menyebabkan mereka berperilaku kasar? Apakah kira-kira kalau mereka berpendidikan tinggi dan sejahtera mereka akan tetap berperilaku anarkis?

pas baca artikel ini lagi, saya tambah terharu dan sedih…campur aduk…ada rasa bersyukur karena gak mengalami penderitaan seperti itu.

bayangkan, maksutnya saya yang membayangkan, untuk kebutuhan sudah jelas mereka gak mampu memenuhi semua kebutuhannya, apalagi keinginan. Jadi emang memenuhi keinginan seperti rekreasi menjadi barang mahal yang sulit dijangkau, padahal sebagai manusia mereka juga perlu bersantai kan?! trus di saat kesempatan itu datang ternyata tidak bisa menyenangkan hati mereka….harus kecewa dan kembali pulang ke rumah menghadapi kerasnya hidup seperti biasa😦

hmm…jujur aja selama ini saya nggak pernah ngeliat dari sudut pandang begitu…biasanya saya langsung sebel aja sama mereka. Pendukung persib juga sama aja. Mau menang, mau kalah, bawaannya rusuh! Biasanya kalau lagi kaya gitu saya ngedumel aja kerjaannya…jadi malu…

tapi bukannya saya jadi mengijinkan…saya setuju sama udiot, apapun alasannya, kekerasan itu yang ngerasa efek ruginya orang lain. ga bagus. da saya setuju juga, sayang dana apbd buat biayain tim sepak bola…

wah ngomongin suporter nih…sayangnya agak ketinggalan ya…:)

Mau berbagi info aja ni…Aq punya blog ttg suporter&sepak bola Indonesia:http://bangunsuporter.blogspot.com, skripsi dl tentang konflik antar suporter, pernah digebugi suporter….dan pengen punya banyak temen yg nulis ttg suporter seperti anda.

Salam kenal….link back ya…

gw ga peduli org mo blang ape,
sape mati gw tetap dukung persja!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
satu jakarta satu!!!!!

by: jack mania (rawa miyak)

Maaf saya kurang setuju jika anda menyebut jika para jakmania adalah anak2 muda yg terpinggirkan, memang saya akui dalam tahun2 terakhir ini pendukung persija (tidak semua anggota jakmania) sering melakukan “kenakalan”.mungkin yang anda maksud adalah para simpatisan atau para jali2 (jak liar) yg tidak terkoordinir oleh jakmania resmi, sekarang saya tanya kepada anda sebutkan suporter klub di indonesia yg tdk pernah melakukan”keonaran” ?, Maaf mungkin anda adalah orang”mampu” yg main nya di pameran2 spti jcc ! Namun persepsi anda jika menyamakan semua suporter persija itu adalah (maaf)hanya para masyarakat2 bawah yg hanya mengandalkan “pertunjukan persija” untuk menunjukkan jati dirinya. Mungkin anda kurang mengenal para jakmania2 intelek ato paling gak mereka yg emang benar2 cinta terhadap persija .paling gak anda bisa melihat antusiasme jakmania saat tandang ke daerah . Yg mana mereka rela mengorbankan waktu & aktivitas mereka di jakarta. & menurut saya itu adalah hal yg sangat menarik di cermati , mengingat jakarta yg majemuk dgn ras & suku. Yach jika menurut saya jika tim daerah main di jakarta pasti sudah ada perwakilan pendukung mereka di jakarta (persib,psm,persebaya,arema, dll ) . Maju terus jakmania !!!
Kita bukan yg terbaik , tapi selalu berusaha tuk menjadi lebih baik.

keren, kak tasa.. artikel dari tahun lalu masih direply sampe sekarang.

kak tasa, aku gak setuju kalo kakak ngebela para jakmania karena mereka merasa “miskin” dsb.
sebagai pemilik BMW yang mobilnya pernah ditimpukin batu sama sekumpulan abang2 berbaju jingga di atas truk, aku bisa dibilang punya dendam pribadi sama mereka.
bukannya sombong ato gak mau ngertiin mereka (keluargaku juga bukannya gak pernah idup susah), tapi keadaan mereka juga gak bisa jadi alesan.
kalo idup mereka emang susah, hal yang harus mereka lakukan adalah berjuang agar hidup mereka jadi lebih baik di kemudian hari. itu yang dari dulu (zaman ortu saya masih tinggal di gubuk dengan makan nasi pake telor sebutir dibagi delapan) kami lakukan sampe sekarang bisa hidup dengan layak.
kalo mereka cuman bisa menyeret orang lain untuk ikut susah tanpa berusaha untuk mengurangi kesusahan, selamanya mereka akan tetep susah. ya toh? mereka gak berjuang supaya hidup menjadi lebih baik! mereka memilih lari dari kenyataan dan menyusahkan orang lain!

Sekarang udah lebih baik kayaknya tuh penonton2 Jakarta, dan Liga Super sekarang enak ditonton cuy, udah keren2 mainnya. Kita tunggu Indonesia di Pentas Piala Dunia 2010, hehehe.

Joy: Maaf kalau artikel menyinggun perasaan Anda. Sukses terus Jakmania.

Areta: Halo udah lama nich gak nongol🙂 Masukan yang sangat baik tuh, memang hidup keras tapi bukan jadi alasan untuk tidak berjuang. Terima kasih.

Oky: Serius lo? Wah jadi penasaran nich nonton Liga Indonesia.

Yah udah lumayan lah mainnya, udah oke dari segi teknik rata-rata pemain dibanding dulu. Penontonpun sekarang sudah tidakak berani rusuh lagi karena kalo rusuh timnya bakal kena sangsi yang berat. Contohnya Aremania sekarang kan kalo bertanding pendukungnya gak boleh pake atribut tim selama 3 tahun, trus persib juga sama dengan hukuman 1 tahun. trus The Jak juga kena hukum gak boleh bertanding di GBK gak tau sampe kapan. Tapi satu hal yang sangat jelek dari sepakbola Indonesia saat ini adalah Ketua Umumnya udah setahun lebih dipenjara tapi gak mau melepas jabatan. Nurdin Halid justru keukeuh untuk terus duduk di jabatannya kendati nyata-nyata ia sama sekali tak bisa memimpin roda organisasi PSSI. Alih-alih bisa memimpin PSSI dengan total, dia justru lebih sering “merepotkan” PSSI karena memaksa para pengurus PSSI mesti bolak-balik ke penjara, baik untuk rapat koordinasi maupun sekadar memberi laporan.

ue ghother ank jak mania RAWAMANGOEN BHELTHER…….

selalu doekoeng PERSIJA…

haaahaa….ada the jak anzing mo lewat di taman safari
the jak anzing loe the jak gw viking loe ngejek gw banting….

HIDUP PERSIB……
SEKALI ANZING YA ANZINK

VIKING + BONEX =THE JAK ANZING MATI

skali monyet tetap lah monyet!!!! mang pantas buat suporter yg nyalinya d kandang doank!!!! fuck the jakanjing

GW gak SETUJU KALO LOE bILAng ANAK THE JAK ORang YANG terpinggirkan…BAnyAK TEMEN2 GW YAng ANAK ORAng PUNYA tapi MEREka MAu PANAS2An duKUNG PERSIJA, Klo PERSIJA MAEN D LUAR KOTA JAKMANIA SELALU MODAL (INGET JAK Bukan SUPORTER BAYARAn)…LAGIAN GAK CUMA JAKMANIA AJA YANG sUKA RUSUh,KENAPA YANG loE KUPAS CUMA JAKMANIA AJE????
LOE liAT TETANggE SEBElah BANDUNG????DENGAN KUMPULAN ORANg NORAknye VIKING…SEmua SAMA AJE BRO…,TErus BONEK BaGAimNA, tinGkah LAku BONEk Dulu d JAKArtA SEbelum AdaNYA JAKMANIA???DAri PAda LOe CUMA MeNErka2 JAKMANIA,COba Loe IKUT AJA dulu Nonton PErsija….

euy aing viking garut ……………………. aing moal sien jeung ………………………..;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;; jakmania tai anjing.
euy?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

mending gadukung persib bandung euy???????????????????????/

viking+bonex
jak maneh modol meni sarua jeung kaos baju maneh

Klub Persija kaye karena dia disusui dengan uang panas hasil korupsi KOta Jakarte

the jak emg anjink
berani kandank euy . .

ngentot lah
sampah masyarakat sia mah jak .

viking anjing persib bangsat bandung kota maksiyat.by.the jak mania 12.ex.duren jaya+k-vling.

persija ampe mati,dukung persija sekarang dan selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: