Guebukanmonyet!

Universitas Negeri adalah Penghasil Koruptor Terbesar?

Posted on: August 26, 2007

logo_ui.pngUniversitas Indonesia selalu membanggakan dirinya sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia, sebuah pernyataan yang memang tidak salah. Universitas Indonesia begitu bangga karena banyak lulusannya yang menjadi pejabat, mereka bangga karena banyak lulusannya jadi menteri ini, menteri itu, Dirjen ini, dan Dirjen itu sehingga tidak heran apabila sebagian besar murid Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta bermimpi untuk bisa berkuliah di universitas tersebut. Begitu juga dengan universitas negeri lainnya, mulai dari Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, hingga Universitas Padjajaran bangga karena telah banyak menghasilkan petinggi negara bagi Indonesia. Tapi tidak ada satu universitas negeripun yang mau dengan jujur mengakui bahwa mereka adalah penghasil koruptor terbesar di negeri ini. Memprihatinkan.

Tidak bisa dipungkiri bangsa ini harus berterima kasih kepada para universitas negeri yang telah memberikan lulusan-lulusan berkualitas kepada masyarakat. Para lulusan terbaik telah dihasilkan untuk turut membangun bangsa ini, tapi membangun bangsa ini ke arah mana?

logoitb.gifSeperti yang kita semua tahu, bangsa ini adalah salah satu bangsa terkorup di dunia. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sebuah artikel di situsnya menyebutkan bahwa Indonesia berada di ranking lima negara paling korup di dunia berada satu level dengan negara-negara seperti Bangladesh, Nigeria, Burma, Haiti, Angola, Azerbaijan, Kamerun, dan Tajikistan. Sebagai anak bangsa, saya benar-benar malu melihat kenyataan bahwa Indonesia, negara yang begitu kaya raya, disamakan dengan negara seperti Bangladesh atau Haiti. Tanpa bermaksud mengecilkan negara-negara tersebut, tapi akal sehat saya mengatakan bahwa bangsa Indonesia jauh lebih “diberkati” oleh Tuhan dengan kekayaan alam yang begitu melimpah ruah. Koes Plus lewat lagunya menggambarkan betapa luar biasanya kekayaan alam kita, “Kata orang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Ini tanah surga Bung!

Apabila para universitas negeri mengaku bahwa mereka adalah pemasok utama pejabat tinggi bagi Indonesia maka pada saat yang bersamaan mereka seharusnya dengan gagah berani juga mengakui bahwa mereka adalah pemasok utama koruptor bagi negeri ini, seperti para pejabat di negeri ini yang tidak malu-malu, karena mungkin sudah tidak punya malu, melakukan praktek korupsi.

logo_unpad.jpgUniversitas negeri sebenarnya bukan satu-satunya pihak yang harus disalahkan, universitas swasta sebagai pusat pendidikan bagi generasi muda Indonesia, yang sayangnya juga tampak diam-diam saja melihat praktek korupsi seakan-akan korupsi memang sudah menjadi fenomena biasa di Indonesia, juga memiliki kewajiban untuk memperbaiki mental bangsa. Tapi menurut saya para universitas negeri memiliki kewajiban tidak tertulis untuk menjadi pelopor terjadinya gerakan anti korupsi di Indonesia, toh namanya juga universitas negeri. Universitas negeri seharusnya sadar bahwa pendidikan adalah solusi jangka panjang paling efektif untuk memberantas praktek korupsi, karena menjadi seorang koruptor bukan tentang masalah pintar atau tidaknya seseorang tapi lebih merupakan masalah karakter atau mental.

Saran saya bagi para universitas negeri adalah menciptakan kelas baru bagi seluruh fakultas yang dimiliki. Sebut saja “Pelajaran Anti Korupsi” dimana melalui pelajaran tersebut para mahasiswa diajarkan betapa menjijikannya praktek korupsi di dalam sebuah bangsa yang begitu miskin dan tertinggal seperti Indonesia ini. Ciptakan sebuah pelajaran atau kurikulum terpadu yang dapat mengajarkan kepada para mahasiswa bahwa kedamaian hati jauh lebih penting dari kedamaian materi. Seperti yang sudah saya sebutkan pada artikel sebelumnya, mengubah mental korup para petinggi negara yang berasal dari generasi tua walau bukannya tidak mungkin tapi sangat lah sulit, masa depan cerah tanpa korupsi bisa diharapkan datang dari generasi muda dan pendidikan adalah sebuah alat yang paling jitu untuk mencapai kondisi itu.

Sukses Indonesiaku.

142 Responses to "Universitas Negeri adalah Penghasil Koruptor Terbesar?"

>Apabila para universitas negeri mengaku bahwa mereka adalah pemasok utama pejabat-pejabat tinggi bagi negara ini, maka mereka seharusnya dengan gagah berani mengakui juga bahwa mereka adalah pemasok utama bagi ketersediaan para koruptor di negeri ini, seperti para pejabat di negeri ini yang tidak malu-malu, karena mungkin sudah tidak punya malu, melakukan praktek korupsi.

Masuk akal, Tasa.🙂 Biar pun saya lulusan UI juga, tapi karena saya bukan pejabat maka dengan menggunakan logika ini… saya bukan koruptor dong. Phew!

uuummbbb.. pembalasan dendam kah, dari postingan Trisakti Bukan Universitas Swasta Terbaik ???

saya yakin, postingan ini pasti gak kalah serunya diperdebatkan dari postingan yg kemarin..
ah, kak Tasa emang bisa aja🙂

berhubung saya bukan masyarakat mahasiswa univ. negeri, saya juga kurang punya bayangan ttg yg satu ini..
maaf, kak.. kurang bisa memberi input ttg postingan🙂

Jennie: Semoga Mba gak marah dengan artikel saya kali ini, hehe. Iya Mba, saya percaya Mba Jennie bukan koruptor, tapi kalau bukan pejabat harus dipertanyakan tuch. Lol. Perlu ditambahkan, tidak semua lulusan perguruan tinggi negeri bermental korup, banyak dari mereka berhati mulia.

Nieke: Bukan balas dendam kok, hehe. Hanya sebuah artikel yang mencoba untuk melihat kenyataan. Mohon maaf kalau menyinggung perasaan sebagian orang.

weit, sadis dan mengena, sayapun tidak mampu untuk melakukan pembelaan. tapi merupakan suatu tanda tanya besar kenapa mantan2 mahasiswa yang dulunya sangat keras untuk meneriak2kan kebenaran, dan terlihat sangat teguh untuk memegang idealismenya hingga sempat membuat negeri ini cukup bangga dan mempunyai harapan, namun ketika mereka sudah memasuki dunia nyata dalam pemerintahan maupun perusahaan2, seakan-akan teriakan2 dan tindakan2 yang sangat kental dengan idealismenya dahulu bagaikan sebuah cerita usang, apa mungkin mereka lupa? atau dulu mereka cuma pura2 aja? mmmh cukuplah mereka saatnya kita nih ceuy apa mau seperti yang udah2.

selama itu baik gw dukung, hehehe lagian buat apa sih fanatisme buta terhadap almamater, yang penting dalam penjagaan nama baik almamater adalah tindakan2 nyata seseorang dimanapun dia berada.

X : emang UI paling banyak ya mencetak sarjana2 berjiwa korupsi melakukan korupsi dan hanya bisa ngomong doang?

Y : menurut lu?

X : kok cuma ada lambang UI ya?

Y : kalo mau lu bikin blog sendiri aja yang isinya mengelu-elukan UI.

X : tapi kan.

Y : udah lah kita dukung aja. kan itu cuma lambang apa sih artinya cuma lambang doang kok.

X : tapi kan.

Y : udah sih.

Oky: Maaf kalau menyinggung perasaan para mahasiswa dan alumni Universitas negeri🙂 Memang suatu hal yang menyedihkan melihat begitu banyak pejabat yang dulunya dikenal sebagai aktivis sekarang justru melakukan banyak tindakan KKN. Tapi memang tidak semudah itu melawan godaan korupsi, sangat mungkin saya juga tidak bisa menolak uang kotor apabila menjadi seorang pejabat. Sudah sedemikian parahkah lingkaran setan korupsi di Indonesia?

Sudah saya masukan juga lambang ITB dan Unpad, hehe. Biar lebih adil yah.

“Pelajaran Anti Korupsi” ??
Kayak ngimpi di siang bolong…

Soal IPB sbg kampus unggulan, masa sih?!!

Masalahnya, masyarakat umum menilai suatu kampus bisa dikategorikan unggulan apabila bisa melahirkan sarjana-sarjana yang exist di bidangnya. Tapi sampai hari ini, jarang banget denger lulusan IPB yang dari Pertanian bener-bener sukses di agribisnis.. . atau sarjana lainnya yang sukses sesuai dengan jalur kesarjanaannya.

Mungkin emang beda kali ya antara dunia kampus dengan dunia kerja. Dunia kampus mempunyai orientasi ke arah pendidikan/kemajuan pemikiran, sedangkan dunia kerja orientasinya ke mana lagi? Pasti ujungnya uang. Mahasiswa yang dulu ngotot ga suka korupsi, tp klo ud masuk dunia kerja mungkin bs jd lain. Lingkungan kan bisa sangat berpengaruh thd sikap & sifat seseorang. Solusinya ya dng mempertebal idealisme anti korupsi dng pelajaran kayak yg mas guebukanmonyet bilang. Ato klo ud kerja nanti sering aja mengunjungi blog kyk blog ini jd idealisme antikorupsi ga gampang luntur. hehehe

Lebih bagus lagi klo orientasi orang bekerja bisa bergeser dari uang ke arah pemikiran. Mungkin bangsa Indonesia bs jd cepet maju krn banyak orang punya ide-ide brilian.

Salam kenal ya mas guebukanmonyet, artikelnya bagus-bagus. Gw ngelink ke site ini boleh kan?🙂

Buat saya pribadi, bisa jadi bukan Universitasnya yang salah, tapi lingkungan setelah Universitas yang membuat mentalnya menjadi seperti itu. Kebanyakan orang lurus akan menjadi buruk pula ketika memasuki sistem yang bobrok.
Biar bagaimanapun, sistem yang buruk bukan kesalahan orang perorang melainkan kolektif dan sudah mendarah daging selama berpuluh-puluh tahun.
Jangan jauh-jauhlah. Di lingkungan Pemda DKI saja sulit sekali memperbaiki kondisinya, bagaimana memperbaiki suatu negara? Sejujurnya hal ini masalah pelik yang terus kita pikirkan darimana memulai memperbaikinya, ketimbang mempertanyakan darimana asal birokratnya.
Kenyataannya ajaran korupsi itu tidak sekalipun pernah saya dapatkan ketika berkuliah di sebuah Universitas negeri yang lambangnya dicantumkan di paling atas.

PS: Saya tidak marah kok😀

Dimulai dari diri sendiri tepatnya, hehehe.

@Guebukanmonyet: Banyak variabel mengapa korupsi terjadi, namun jelas riset soal “pindah mental dari idealis menjadi pragmatis korup” masih sangat langka. It’s a very good topic to be explored. Saya lagi riset soal korupsi, Tasa, so if you have ideas, feel free to e-mail me. Tengkayu for your good conscience. Mari kita memilih untuk hidup sederhana alias sesuai kebutuhan.

@Amir: he heh…🙂 Well said. Saya juga tidak marah, cuma senyam senyum simpul penuh makna.

Tasa, sebelumnya salam kenal.

tidak ada satu universitas negeri pun yang mau dengan jujur mengakui bahwa mereka adalah penghasil koruptor terbesar di negeri ini. Memprihatinkan.

Sungguh memprihatinkan Tasa, terlebih nama almamater saya ada di tulisan yg kamu tulis. Miris jadinya. Tapi saya setuju sama mba Jennie kl banyak variabel untuk mengukur korupsi di Indo sini, dan saya jg sependapat dengan comment anda bahwa tidak semua lulusan PTN bermental korupsi.

Maju terus dengan tulisan2nya

*meski lulusan UI saya jg tidak marah koq..😀

tukang ketik: Mimpi di siang bolong? Memang yah ide itu terdengar begitu sulit untuk dilakukan, tapi saya kira bukannya tidak mungkin. Lulusan IPB tidak sukses di bidangnya? Masa sich, sebagai Institut Perbankan Bogor tampaknya IPB cukup sukses🙂

fin: Benar sekali kalau dunia kampus dan dunia kerja sangat berbeda, orang kalau udah liat duit matanya langsung ijo. Hehe. Solusi jangka panjang menurut saya yah melalui pendidikan, itu paling jitu. Dengan senang hati saya akan link balik.

Amir: Saya sebetulnya setuju bahwa universitas tidak bisa disalahkan begitu saja, tapi menurut saya universitas tetap memiliki kewajiban tidak tertulis untuk memperbaiki mental bangsa karena mereka memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Saya yakin sekali tidak mungkin ada satu universitas negeri yang mengajarkan korupsi, tapi kalau mengajarkan anti korupsi? Kenapa tidak.

Oky: Setuju!

Jennie: Setuju Mba. Wah, keren tuch idenya. Saya mungkin punya beberapa ide yang bisa di-sharing, mikir dulu yah Mba. Thanks.

Harri: Salam kenal Bung. Maaf loch kalau menyinggung perasaan, tapi benar bahwa masih banyak lulusan yang berhati mulia. Nah, lulusan seperti itu yang harus terus diproduksi.

Maaf loch kalau menyinggung perasaan,

Wahh santai aja, kg menyinggung apa2 koq.. Cuman miris aja sama temen2 yg lulusan dari PTN terlebih satu almamater tapi termasuk kategori orang2 yg bermental korupsi. Mungkin kl dilihat lingkungan jg yg membawa orang2 kearah sana. Maksudnya bukan cuman lingkungan kampus, tapi lingkungan dimana dia sekarang spt kantor mungkin. Soalnya ga sedikit orang2 yg dulunya orasi2, tp idealismenya skrg luntur..😀

thanks dah mampir ke blogku, Tasa??
wah postingan2nya menarik nih..

-willy-

I have a “theory” on why idealist people jump over the fence and choose to become “pragmatic corruptor.” Well, sebuah lilin sangat mudah tertiup angin, lantas mati dan menggelinding. Sangat sulit untuk mempertahankan lilin untuk selalu menyala.

Selain perlunya pendidikan “anti korupsi” juga perlu pendidikan “menghidupkan lilin” setiap mahasiswa/i. Sebenarnya saya sendiri melihat kata “maha” siswa sebagai too much, karena “maha” or “omni” must be earned with hard work. Perhaps after they have proven that they are a “lilin,” then they can use “maha” siswa attribute.

Anyway, too philosophical, but perhaps it’s a start.

hehehe…..

Setujuu… ups setuju apa nih..
Lulusan Universitas Negri “yang jadi pejabat” banyak yang korupsi…
Setuju untuk introspeksi tunjuk dada kita sendiri untuk mengingatkan kita agar tidak ikut2an korupsi..
Tapi tidak setuju untuk selalu menunjuk orang lain, kok kamu begitu kok kamu begini…
Lebih baik.. Oh begini…. dan ini yg bisa saya lakukan… sebagai solusinya..
karena menurutku selama orang cuma bisa saling tunjuk tidak akan pernah ada satu perbaikan dan solusi.

Beda pandangan saat kuliah dan kerja ?
hmm. wajar kali ye…
Di Universitas ku dulu.. mengukur sejauh mana kita bisa bermanfaat bagi lingkungan… So dikenal Mantan Rektor yang sangat merakyat dengan ide KKN (Kuliah Kerja Nyata) .. yang ketika beliau wafat.. Indonesia menangis…

Ketika bekerja.. ups…
Mosok kerja gak punya HP, ups masak kerja gak bisa pake baju bagus, ups masak dah kerja lama gak bisa punya mobil,.. ups masak harus nunggak SPP anak, ups masak istri gak pake gelang, ups tetangga sebelah kamarnya pake AC semua dan ups… ups… yang lain.

Trus, ternyata si sulung mau UAN besok.. ternyata… nilainya jelek.. gak keterima di sekolah unggulan,.. malu doong, msk gak keterima,.. sst..sstt.. pak kepsek ada jalan belakang gak ?… kita juga yg nyogok…

Kita gak berani menegakkan kepala akui ya tidak diterima di sekolah unggulan,.. jalankan… itu yg saya bisa,.. itu yg anak saya bisa..

“Kalau saja sejak muda saya mampu merubah diri saya, saya yakin di masa tua saya mampu merubah dunia, namun sayang dimasa muda saya habiskan waktu saya untuk merubah dunia, sampai saya tua dunia tetap tidak berubah….

perlunya pendidikan “anti korupsi” juga perlu pendidikan “menghidupkan lilin” setiap mahasiswa/i

Good idea. Tapi tidak hanya itu, kl boleh menambahkan Mba Jennie. Sptnya butuh sesuatu tambahan lain, jadi tidak hanya sebatas penambah bobot SKS mereka aja. Orang melakukan korupsi karena posisi mereka saat ini, its White Collar Crime isn’t.

harriansyah: Memang benar, sepertinya kondisi dunia kerja begitu kejam, terutama di lingkungan pemerintahan sehingga orang yang tadinya begitu anti korupsi bisa terbawa arus. Mungkin karena mereka serba salah karena semua orang di lingkungan kerjanya sudah menganggap korupsi itu biasa, apalagi dengan kondisi ekonomi kita yang masih seperti sekarang.

Sakuralady: Terima kasih sudah berkunjung loch. Nanti saya baca artikel-artikel Anda lagi.

Jennie: Yes, we need more candles in our hearts. The word “maha” is too much you think? Mmh, that’s possible.

eka: That’s a good one: “Kalau saja sejak muda saya mampu merubah diri saya, saya yakin di masa tua saya mampu merubah dunia, namun sayang dimasa muda saya habiskan waktu saya untuk merubah dunia, sampai saya tua dunia tetap tidak berubah.”

Kalau sudah bekerja dan punya keluarga semuanya memang jadi beda yah, semua ideologi ketika masih mahasiswa tiba-tiba hilang begitu saja. Lol.

Harriansyah: Setuju tuch, gimana kira-kira implementasi idenya?

Pengen cerita aja pengalaman waktu pernah aktif di organisasi kemahasiswaan. Ada anekdot, yang bikin negara ini hancur ada empat institusi:
1. Golkar
2. TNI
3. HMI
4. UI
Dengan tanpa tendensi apapun, mohon maaf sebelumnya klo mungkin ada yang tersinggung. Gue sendiri pun dulu sempat aktif di HMI, dan waktu pertama denger anekdot ini yang ada cuma bisa ketawa kecut. Soalnya kalo dipikir-pikir emang ada benernya.
Peace…

haha… betul! ini anekdot yang selalu saya (lulusan ITB) dan teman-teman ITB bincangkan dan kamipun mengakui dan mengamini-nya.

tapi masalahnya bukan berarti univ swasta tidak menghasilkan banyak koruptor. karena ternyata koruptor-koruptor di bidang non-pemerintahan juga banyak toh…😉 mungkin lebih tidak terlihat — krn tidak berada di panggung pemerintahan — tapi secara kuantitatif banyak juga.

pada akhirnya, seluruh universitas di indonesia “pandai” mencetak koruptor :p

Masalah pembibitan koruptor ini bukan hanya muncul di tingkat univ (neg atopun swasta), tp sudah mulai ada d tingkat elementary school…
Cara yg paling efektif..mulai ajarkan pertama kali mindset sukses n kreatif yg d bungkus oleh kejujuran..kpd para pendidik. Buat pemerintah, jgn doyan naikkan harga barang2 pokok dong..kapan profesi pendidik dpt dijadikan profesi yg ‘aman’ utk berkarya tanpa mikir lg belitan ekonomi..? (jd curhat nih hehehe)

Kalo UN korupsi saya kurang paham, tapi kalo UN jadi badan usaha saya lebih kurang paham kenapa tempat belajar kok malah jadi ladang bisnis bukannya ladang untuk mencari ilmu???

Memang benar, meski dengan biaya murah mahasiswa bisa masuk didalamnya tapi itu tidak menjamin bahwa semuanya dapat menjadi mahasiswa yang berbudi pekerti luhur, pintar, berdedikasi dll.
Tapi kenapa mereka berubah menjadi calon koruptor handal?
Karena mereka belajar dari almamater mereka yang uang negara aja bisa mereka embat.
Buktinya?
Lihat aja semua universitas negri yang katanya di subsidi langsung oleh pemerintah tapi gedung, sarana dan prasarananya tetep tidak dapat dibandingkan dengan univ swasta.

Harry: Menarik juga anekdotnya, hehe. Seharusnya semua instansi di negeri ini bisa mawas diri dan berkaca. Kapan tapi itu terjadi?

Mer: Benar juga teorinya. Tapi masalahnya para pejabat pemerintahan makan uang rakyat, kalau sektor swasta bisa dibilang tidak begitu “merugikan” rakyat. Yah, kayaknya secara keseluruhan Indonesia memang penghasil koruptor terbesar.

rachma: Wah, itu sich benar sekali. Kalau pendidikan anti korupsi bisa dimulai dari tingkat terendah maka hasilnya akan jauh lebih baik. Karena kan “mencuci” otak anak kecil jauh lebih mudah dan efektif.

Jufri: Hehe, saya juga tidak paham Bung.

evelyn pratiwi yusuf: Tapi jangan salah, universitas negeri di kota-kota besar banyak mahasiswa mampunya. Jadi relevansi subsidi pun harus dipertanyakan lagi.

@tasha

Setuju tuch, gimana kira-kira implementasi idenya?

Ini yg harus dipikirkan bersama2 pak. Memang sedikit sulit, karna banyak yg harus diperbaiki tp kl tidak ada upaya bagaimana kita mengevaluasi. Ide dari Mba Jennie bisa menjadi salah satu bagian yg dapat dijadikan wancana. Mungkin ada yg lain dari Tasha sendiri atau teman2 yg lain ?

hehehe…
yang namanya korupsi mah udah kayak jualan permen aja, dimana-mana bisa ditemui dengan mudah. Sebut saja contohnya di lembaga pemerintah, BUMN, partai politik, universitas, sampe ke SD bahkan TK…

Tergantung mentalnya… kalo udah mental korupsi, ya ujung-ujungnya korupsi juga😛

Soal pelajaran anti-korupsi, beberapa waktu lalu, temen gw mengikuti suatu pelatihan anti-korupsi yang diselenggarakan oleh KPK bekerjasama dengan kampus gw, disana diterangin kalo mau memberantas korupsi itu kita harus tau dulu gimana cara korupsi…🙂 ya balik lagi ke mental tadi sih, kalo mentalnya udah koruptor trus ikut pelatihan anti-korupsi tersebut, lantas dia tau gimana cara korupsi dan memberantasnya, ujung-ujungnya dia mencari ‘cara baru’ agar tindakannya tidak ‘tercium’…

Gw mah setuju-setuju aja kalo hukum Indonesia yang dibenerin, masak hukuman buat koruptor pada beberapa kasus, justru lebih ringan dibandingkan hukuman yang dijatuhkan buat ‘pencuri bawang yang terpaksa mencuri untuk makan anak istrinya’… Itu kan ga adil!!!

Harry: bro harry menarix juga anekdo ente, tp ati2 bro ntar kena somasi loch🙂 hehehe….

mungkin ada baiknya ketika mau diangkat menjadi pejabat di perlihatkan dulu kali ya bagaimana “nikmatnya” hidup di neraka, biar pada tau gmn rasanya klo ntar hidup dr hasil KKN, coz hidup bukannya hanya didunia, ada kehidupan yg lebih nyata setelah dunia…

Harriansyah: Saya sich setuju dengan ide bahwa pendidikan adalah cara paling manjur memberantas korupsi dan mental bangsa yang sudah bobrok ini. Ide lain? Mmh.

xvader: Itu dia, masalahnya penegak hukumnya juga pada korupsi, masa koruptor menghukum koruptor?

KucinGaronk: Bener juga, nanti bisa dituntut. Gimana caranya memperlihatkan kehidupan di neraka?

sebenarnya kita semua belajar dimana aja bisa jadi koruptor kok tergantung pribadi serta lingkungan yabg memproses si individu itu. Kebetulan aja banyaj lulusan PTN yang kita lihat seakan-akan korup dsb tapi apa yang lain gak.kan kita gak tahu. Persoalannya apa banyak orang mau masuk PTN supaya dapat ngeruk uang dengan gampang dan seenaknya? kan gak juga.
Yang dibutuhkan mungkin hati nurani siapa pun serta menempatkan diri kita seperti orang lain. Apa pun sistemnya dan siapa pun pelaku hukum kalau hal itu gak ada ngomong besar!

waktu saya masih di SMA , ada seorang guru yang menasehati begini :
Sebentar lagi kalian akan menjadi Mahasiswa, menjadi aktifis ikut demo turun ke jalan dengan gagah berani dan garang untuk menyuarakan kebenaran, mengkoreksi yang salah, mengeritik pemerintah itu semua baik dan mulia. Tapi apakah kalian juga dengan gagah berani dan dengan garang juga di ruang ujian untuk menegur teman sebelah mu yang nyontek waktu ujian ? tak dipungkiri masih ada juga mahasiswa yang ntontek waktu ujian. Di unv swasta maupun di nv negeri. Mari digalakkan tegur temanmu yang nyontek saat itu juga di ruang ujian, karena nyontek adalah cikal bakal korupsi.

ngga masalah sih, orang mau dari universitas negeri ato swasta. salahin aja orangnya, jangan universitasnya. emang ada universitas ato institusi pendidikan yang menyuruh mahasiswanya buat korupsi? emang ada dosen yang nyuruh mahasiswanya titip absen? seorang bijak baru2 ini mengajari saya (cieh, bahasanya), kalo budaya korupsi itu dimulai dari kebiasaan2 kecil, kayak nyontek, titip absen, plagiat tugas. makanya, dengan bangga saya mulai semester ini menghindari sekali titip absen. kalo emang jarang masuk, trus di akhir semester dapet nilai C, ya itu konsekuensinya. berani berbuat, berani tanggung jawab dong. nah. semoga di masa depan, saya ngga jadi koruptor yah? amin..

Wilson: Setuju kalau itu. Tapi kalau kenyataannya PTN banyak menghasilkan pejabat negeri maka seharusnya mereka memiliki inisiatif untuk mengeluarkan lulusan yang tidak hanya pintar tapi yang lebih penting berhati nurani.

Mblegedes: Hehe, bener tuh. Menyontek dalam ujian bisa dibilang salah satu bentuk korupsi kecil-kecilan.

Vienz: Memang universitas tidak bisa disalahkan, tapi itu tadi seharusnya mereka peka dengan masalah bangsa dan mau berinisiatif. Didoain dech yah biar gak jadi koruptor di masa depan🙂

rasanya mau menulis ttg korupsi n dikaitkan dengan teorinya merton tp koq msh terpending trus.😀

Ditunggu kalau gitu. Thanks buat link-nya🙂

Halo bos long time no see..apa kabar???Giling tas tulisanlu makin gigit aja heheh

Klo emang universitas negeri merupakan penghasil koruptor di negeri ini, itu emang pantes soalnya jarang lulusan swasta yang bisa jadi pejabat di negeri ni, klo ada palingan 1 atau 2 orang doang heheh jadi wajarkan…???

Korupsi is about mental, mau ga nerima klo orang lain lebih dari kita, lebih mewah, lebih kaya, lebih modis, lebih punya harta banyak, …lebih…, lebih dan lebih…banyak orang korupsi hanya karena rumput tetangga lebih hijau dari rumahnya…ini yang bahaya…dan ini selalu terjadi…coba tengok klo orang baru lulus kuliah, dapet kerja terus maen ke kampus lagi…dengan sombongnya dia akan naya kerja dimana lu sekarang???Berapa gajilu???mereka ga pernah sadar bahwa statement yang kaya gini yang menyesatkan, terkesan “peduli” tapi “membunuh” hhehhe…mereka ga pernah sadar klo itu semua kompensasi dari kehidupan mereka yang bodoh, kehidupan tanpa lilin (cahaya) dalam hati, bukan jamannya lagi menonjolkan diri untuk mendapatkan kompensasi dari orang…tunjukan seberapa bernilainya dirilu untuk orang lain…itu baru Hebat…

Solusi buat nuntasin korupsi bagi gw cuma satu, Selamatkan Indonesia dengan syariat, terserah mau pake cara siapa, mau diimplementasikan dalam hukum negara atau mau diimplementasikan sebagai nilai seharai-hari, karena hanya itu jawabannya…Selamatkan Indonesia Dengan Syariat!!!heheh ya ga …

Dari teori ” siklus rantai makan memakan” urutannya spt ini ;
Orang bodoh itu dimakan oleh orang pintar.( ini tidak perlu penjelasan).
Orang pintar dimakan oleh orang kaya ( orang kaya bisa memperkerjakan banyak orang pintar, untuk menambah kekayaannya).
Orang kaya dimakan oleh tokoh agama ( bisa pendeta , ulama dsbnya ). karena mau masa muda foya-foya, masa tua kaya-raya kalau mati masuk surga, jadi mudah ditakut-takuti tidak masuk surga ketakutanlah dia, dan ya sumbang sana sumbang sini lah untuk agama.
Tokoh agama dimakan oleh orang malas ( dengan mengiba-iba mereka datang padahal sih malas, dan tokoh agama kan orang baik jadi harus menolong, keluarlah bantuan ini itu.
Orang malas berkerabat sangat amat dekat dengan orang bodoh.
Nah kalau di negara masih banyak orang ” bodoh” dan “malas”, dan mereka ” bermimpi ” ( ingat ada Republik Mimpi ), maka mimpinya apa ?
Ya hampir pasti ingin jadi si kaya, tanpa melalui menjadi orang pintar dan meninggalkan kebodohan dan kemalasannya. Kalau mimpinya tak terrealisasi frustasi kalau terealisasi ya korupsi.Jadi korupsi itu usaha ” si bodoh” dan “si malas ” untuk ambil jalan pintas menjadi si kaya.
Ini hanya salah satu teori.
Solusinya brantas kemalasan dan kebodohan.
catatan .
Kenapa ya kita ikut-ikutan menerapkan 5 hari kerja dalam 1 minggu seperti yang berlaku di negara maju. Kita itu masih negara terbelakang harus mengejar ketinggalan mana bisa santai-santai. Kalau mereka kerja 5 hari kita harusnya kerja lebih keras , kerja 6 atau kalau perlu 7 hari ( ekstrimnya ).
Lihat negara tetangga yang sama-sama Asia ( Jepang dan KorSel) etos kerja mereka luar biasa, mereka bisa mengejar ketinggalan .Sama-sama orang Asia. kita ???

menarik. salam kenal juga, skarang uda ganti layout lagi lhoo😀

Udiot: Long time no see my brother, missing every single memory we had. Sukses buat hidup lo. Setuju dengan pendapat lo bahwa korupsi itu adalah mental. Tapi syariat sebagai jawabannya? Hehe. Tolong jelaskan lebih lanjut donk.

Mblegedes: Analogi yang menarik. Jadi caranya adalah memberantas orang-orang malas yah? Setuju banget. Pendidikan sudah pasti jadi solusi yang paling jitu.

Setuju juga kalau seharusnya etos kerja masyarakat Indonesia ditingkatkan, kita seharusnya malu dengan negara lain di Asia seperti Jepang, Cina, dan Korea. Negara2 tersebut punya etos kerja yang luar biasa. Enam hari kerja? Boleh juga tuch, nice one.

Nanien: Thanks for visiting. I’ll visit your blog then🙂

hahaha

kebetulan gw adalah alumni Trisakti en lanjut kuliah di UI jadinya gw bisa ngeliat dua2nya

kenyataan di lapangan bahwa sepertinya bukan karena universitasnya.. tapi karena sistemnya aja yang korup!! kebanyakan aja lulusan dari UI kerja di Instansi pemerintah karena sama2 memiliki stakeholder yang sama yaitu milik Pemerintah Negara Indonesia..

hanya karena alumni2 dari PTN tersebut mendominasi sehingga klo ada instansi yang bekerja Buruk, almamater dari instansi itu juga kena. padahal yang salah selama ini adalah sistem dan kontrolnya aja yang buruk!! sehingga peluang untuk korupsi itu menjadi tinggi sekali.. jadi siapapun yang ada di posisi itu pasti akan tergiur untuk melakukan korupsi..

mungkin pertanyaannya kenapa sih sistem itu ga dibuat dari dulu?? ya itu.. sistem dan peraturan itu dari undang-undang yang dibuat oleh anggota DPR.. mo liat kualitas Anggota DPR kita?? apakah mereka orang2? yang terbaik?? apalagi gw ga liat reformasi yang ada menghasilkan anggota2 DPR yang lebih baik!! ini adalah korban reformasi

klo di amerika serikat, yang berada pada posisi senator adalah orang2 yang punya kualitas yang baik.. kalau kita.. coba lihat kualitas anggota DPR?? gw ga akan memberikan pendapat.. tapi sepertinya DPR kita kurang memberikan hasil yang memuaskan klo menurut saya.. itu wajar

mungkin yang mesti di angkat forum ini adalah bener ga sih PTN seperti IPB dah sesuai dengan fungsinya?? apa IPB masih Institut pertanian Bogor? ato Publisitas Bogor? ato Institut “pinansial bogor” ato hanya Institut Pembesaran Betis? liat aja alumninya ada ga yang masih mau bkerja di pertanian??hehhe yang jelas kenapa sih Indonesia masih krisis pangan?? gimana pertanian kita?? itu lulusan IPB pada ngerebutin posisi anak2 ekonomi si pada ke Bank ato ke Publisitas.. liat aja waktu Trans TV buka lowongan.. berapa banyak dari IPB.. ato perekrutan Bank??

Ostiawan: Menarik. Bukankah banyak anggota DPR yang lulusan PTN? Hehe. Saya setuju bahwa PTN tidak bisa disalahkan 100% akan kondisi yang ada di Indonesia, tapi menurut saya mereka memiliki kewajiban tidak tertulis untuk membantu negara ini melepaskan diri dari korupsi, karena pendidikan adalah solusi paling jitu untuk menghapuskan korupsi di Indonesia.

Setuju kalau Universitas2 seperti IPB harus diperbaiki fungsinya, percuma kita punya IPB tapi pertanian kita melempem tidak berdaya.

Saya dulu sewaktu SD pernah mendapat pelajaran “Budi Pekerti, Etika Sopan Santun”, Saya setuju kalau pelajaran tersebut Wajib kembali diberikan pada semua tingkatan negri, negara atau Swasta, Kursus dari TK, SD, SMP, SMU, D1, D2, D3, S1, S2, S3 Lemhanas. Kalau sudah dilaksanakan dan masih Korupsi juga wah, kita perlu membujuk Negara Belanda untuk kembali “Menjajah ” selama 2 X 350 tahun untuk memperbaikan Mental Bangsa Indonesia

Wah, ide yang bagus tuch. Jaman saya sepertinya sudah tidak dapat, nice idea. Tapi kalau gagal jangan minta dijajah Belanda donk, yang kerenan dikit Amerika kek, atau Inggris. Hehe. Kalau Belanda, mending kita yang jajah. Orang se-Indonesia kencing di Belanda juga banjir tuch negara. Whaha.

@Ostiawan

lulusan IPB pada ngerebutin posisi anak2 ekonomi si pada ke Bank ato ke Publisitas

Memang anda blm tau kl IPB jg ud expansi jurusan ke Ekonomi, Komunikasi dan sampai Computer Sciences. Coba ente cari tau deh, dan ini bukan HOAX.

Harriansyah, bener juga tuch. Saat ini IPB memang semakin mengikuti trend yang ada, nah tapi pertanyaannya, “Apakah itu pantas?” Takutnya lama-lama Indonesia makin kurang ahli-ahli pertanian, perkebunan, dan perhutanan.

wow!! menarik nih..sedikit “menyentuh” berhubung ane juga PTN nih..hehew..

kalo dicari akar masalahnya sih banyak bgt bung tas!..simple sih sebenermya…mungkin kurang penghargaan aja kali ya..tiap orang sulit mendapat kebutuhan psikologis yg satu itu di negara kita…dan yg kedua hukumnya bokis!!..

hhehe…sedikit berbagi pengalaman nih , ketika melihat teman saya korupsi..dy bilang “gila lo do, gw udah kerja capek gini duitnya dikit,,lagian gak bakal dihukum mati!”…hehe..wow !…sedikit tambahan yang ngomong adalah juara umum di kampus gw..duh aduh menyedihkan!…

—btw sori kalo ada salah kata..ayo semangat trus monyet kampret!!

cheers mate!

Halo Bos, masukan yang sangat inspiratif. Ide Anda ada benarnya, namanya juga manusia butuh makan untuk hidup dan untuk beli makan harus pakai duit.

Kapan lulus lo? Hehe.

Woi…
Saya tahu kenapa kamu berkata demikian.
Karena kamu merasa cemburu dengan Universitas Negeri yang lebih baik dari Universitas Trisakti.

Sejelek jeleknya Univervitas Negeri masih lebih jelek Universitas Trisakti. Tau?

Jika Seluruh Universitas Negeri diurutkan ratingnya dan dimasukkan juga Universitas Trisakti, maka saya jamin Universitas Trisakti menduduki posisi TER-BAWAH!!!

Masih lebih baik Koruptor. Dibanding Universitas Trisakti masih belum lulus aja udah TAWURAN…Kalo udah lulus KORUPSI kan wajar karena itu pilihan mereka masing masing. Daripada belum Lulus udah bikin masalah kayak UNIVERSITAS TRISAKTI. Apa ngak malu?

Whaha si Alvin masih aja ngebawa ego kampus, malu ah…masih mending punya kampus daripada ga jelas, saya rasa anda bukan anak PTN deh, saya rasa anda oknum saja yang cuma mau ngebanding-bandingin satu universitas satu dengan universitas lainnya, atau anda ga pernah sekolah whahah maaf yah…
Coba anda pikir dan cari datanya,karena setau saya Tawuran di Trisakti separah-parahnya hanya mengakibatkan rusaknya enam mobil, 1 mobil dibakar dan ada beberapa yang terluka itu terjadi pada tahun 2002. Ini memang sangat buruk dan memalukan generasi muda bangsa kita. Dan perbuatan seperti ini harus dikutuk, Say No to Tawuran!!!
Tetapi kalo emang dibandingin sama korupsi dampaknya luar biasa bung, korupsi telah membuat bangsa ini menjadi bangsa miskin, konsumtif, rawan kriminalitas, tingkat pendidikan rendah, dsb, dan anda tau kan klo ada komposisi anggaran di APBN yang diperuntukan untuk pemberantasan korupsi???anda taukan lulusan darimana koruptor bulog???klo anda memang sekolah seharusnya anda tau…dan harus tau…!!!Masa korupsi lebih baik dari tawuran..whahha..goblok ah…
Selamat belajar bung!!!Jadilah cerdas buat jadi pemimpin Indonesia, saya doakan sukses!!!

Bener juga sich, kalau dibilang korupsi lebih baik dari pada tawuran itu mesti ditelaah lebih dalam. Anda tahu tidak dampak apa yang diberikan para koruptor kepada 40 juta lebih masyarakat miskin di seluruh Indonesia? Busung lapar dan kebodohan!

Tepat sekali seperti yang Udiot katakan korupsi telah membuat bangsa ini menjadi bangsa miskin, rawan kriminalitas, tingkat pendidikan rendah dan berbagai macam keburukan2 lainnya. Oleh karena yang banyak melakukan tindakan korupsi adalah para pejabat dan kebanyakan dari para pejabat tersebut adalah lulusan dari perguruan tinggi negeri maka bisa ditarik kesimpulan kalau perguruan tinggi negeri adalah penghasil banyak koruptor dinegeri ini. Tetapi apakah ada perbedaan jika kebanyakan pejabat adalah lulusan Trisakti? mungkin ada sedikit perbedaan tetapi yang pasti korupsinya tidak mungkin menjadi lebih sedikit (hehehe Peace). Korupsi adalah hal yang sangat buruk kita semua mungkin sadar akan hal tersebut tetapi sampai saat ini hukuman bagi para koruptor sangat tidak sebanding dengan akibat yang mereka timbulkan, paling berat hanya 5 tahun penjara. ckckck kalo begini terus koruptor tidak akan kapok dan yang ingin korupsi juga bakalan tambah banyak. Seharusnya hukuman bagi koruptor adalah hukuman mati atau penjara puluhan tahun + denda ratusan kali lipat dari yang ditimpakan kepada koruptor yang tertangkap baru2 ini adalah tindakan nyata yang paling tepat.

Setuju dengan pendapat Anda, korupsi memang suatu hal yang menjijikkan sehingga para pelakunya seharusnya dihukum seberat mungkin seperti yang dilakukan oleh pemerintah Cina. Saya juga setuju bahwa apabila para lulusan universitas swasta menjadi pejabat tidak serta merta mereka tidak menjadi koruptor, karena korupsi yang telah menjadi bagian dari budaya bangsa ini.

Ayo lawan korupsi.

itu nama universitasnya diurutin berdasarkan penghasil koruptor terbanyak ga?

Bukan Bung, jangan marah dulu yah. Hehe.

haha..UI emang korup, gue saksi hidup penyelundupan biaya penelitian.. itu baru yang kecil2an oleh dosen, bayangin yang dikerjain di tingkat rektorat/dekanat yang kesejahteraan dosen/profesornya jauh lebih tinggi! what to do??
btw salam kenal yah, i like ur blog

Jika anda menemukan adanya korupsi ataupun indikasi korupsi apalagi didalam suatu institusi resmi maka sebagai manusia (bukan monyet) yang harus anda lakukan adalah melaporkan hal tersebut kepada lembaga2 anti korupsi yang sudah ada seperti KPK.

Lucu ga sih ya nanti2 orang yg ribut ini dan itu sekarang ini, ato dulu2 pas masih mahasiswa sekarang jadi korup ato masa depan korup. Kayaknya emang pengalaman hidup mereka masih kurang dan terlalu menggebu2 sama idealisme, tapi kalo dah dihadepin sama keluarga dan perut, sama pasti korupsi. setelah berhasil dikit2 baru deh skala besar.

lama2 bukan monyet kita2 berubah jadi monyet dah tuh.

ya udah gw minta pisang aja satu.

Whahahha…idealisme gue bukan monyet dipertanyakan tuh, gimana nih GBM…

kuchikuchi: What to do? Well, that’s a million-dollar question, hehe. Thanks for your support for this blog.

oky: Betul tuh pendapat Anda. Ayo laporkan ke KPK.

cascadeLight: Menolak uang emang susah2 gampang, saya juga belum tentu tahan. Hehe. Gimana donk solusinya biar kebal korupsi?

Udiot: Lo sendiri gimane? Kuat gak?

Gue sih kuat, asal jangan lu kasih gue gadis impian gue, itu baru gw ga kuat whahaha…

Wah – wah pada ributkan negeri atau swasta, penting ga seh….?, sebenernya semua itu tergantung dari pada orangnya atau pribadi masing2. Inget ABC , A = attitude, B = Behaviour,
C = characteristic, ya kalo memang sudah sampai ke tahap C ya memang susah diubah, tidak semudah membalik tangan. sudah menjadi sifatnya. banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk berbuat korupsi, salah satu faktor yang paling penting ialah lingkungan, gimana kita bisa tahan dengan lingkungan yang isinya korupsi mau ga mau meskipun kita tidak korupsi tetap disebut sebagai korupsi, masih ingat jaksa agung ARH, yang dibilang jaksa di negara maling, ya pasti ikut2an juga terkena dampak, ya seperti peribahasa nila setitik rusak susu sebelanga, ya meskipun kesalahan kecil jadi rusak semuanya. kita tidak usah memperdebatkan lulusan mana, wong lulusan sma aja bisa korupsi kok, korupsi ga usah jauh2 ke materi, korupsi waktu juga bisa, jadi kita harus lebih memperjelas apa pengertian korupsi apakah hanya sebatas pada materi ternyata tidak. lulusan bukanlah sebagai tolak ukur, tetapi tolak ukur yang harus kita lihat adalah peribadi keseharian orang itu, baik di keluarga, maupun masyarakat, jadi tolak ukur lulusan mana itu tidak bisa menjadi patokan apakah orang itu korupsi atau tidak, nah hal inilah yang menjadi suatu incaran empuk bagi pengadu domba untuk memecah – mecah belah bangsa ini,
terlalu mengagung2kan gengsi. sehingga dapat dengan mudah dipecah belah, bukti nyata malysia dengan produk astronya, mereka menyiarkan ke seluruh dunia program2 acara televisi seperti sctv, dan lain yang notabene di negeri kita sendiri gratis, tetapi mereka menjual ke orang indonesia yang berada di luar negeri karena kangen dengan acara tanah air mereka jual melalui situs worldip.tv yang servernya berada di malaysia. lambat laun bangsa ini hanya dijadikan sapi perahan untuk memerah uang, kerja sebulan uang nya digunakan untuk berbelanja produk2 yang notabene buatan indonesia tetapi dipasang merk dari luar negeri, sungguh hal yang menggelikan. apakah memang bangsa ini dengan jumlah penduduk yang banyak yang seharusnya sumber daya manusia itu di bina untuk menjadi sumber daya yang luar biasa tetapi jadi SDM = sumber daya money, yang artinya 200 juta orang merupakan pangsa pasar yang besar untuk mendapatkan uang. anggap aja satu orang 1000 rupiah dikali 200 juta. sudah bermilyar, hmm, apakah indonesia dapat bangkit dan melawan kebodohan dengan sistem pendidikan sekarang ini. hmm sungguh sangat disayangkan banyak kemampuan tapi tidak digunakan.

duh gusti….kalo Universitas Negeri penghasil koruptor terbesar maka Universitas Swasta penghasil pengangguran terbesar? karena instansi dan swasta lebih sreg merekrut lulusan negeri atau lulusan sekolah luar.

duh tambah tragis aja:mrgreen:

Wah, masa penghasil pengangguran terbesar? Hehe.

sumpe de?! nih saya kan lulusan UMJ alias swasta udh gitu gak terkenal lagi:mrgreen: emang rada susah saat menunggu panggilan wawancara/diterima kerja di perusahaan besar yang bagus. kadang kudu bolak balik tahajud dulu baru mempan hehe.

kalo dibandingkan ma temen2 lulusan PTN atau swasta yang bagus kaya Trisakti, Atma Jaya pasti lebih mudah diterima kerja. sampe dulu saya sempat mau ambil S2 di UI biar naek dikit pasarannya, tapi karena belum sempat akhirnya gak jadi.

ya gini lah Tasa, duka seorang lulusan swasta yang tinggal di Jakarta. di mana asal kampus kita dijadikan bahan pertimbangan untuk perekrutan. pahit!!!!!

Universitas Indonesia adalah penghasil koruptor terbesar?
Hm…..bisa juga iya, bisa juga tidak.
Permasalahannya adalah bahwa manusia dipengaruhi berbagai hal. Universitas sbg salah satu pemasok kemampuan akademis, namun tidak hanya kemampuan akademis saja yang menentukan kan?
Logikanya begini, di sebuah Rumah Sakit Jiwa di Kota Solo terdapat banyak penghuni pasien gila. Di antara pasien tersebut, paling banyak adalah orang Jawa karena Solo berada di Jawa Tengah. Berbeda dengan Rumah Sakit Jiwa di Kota Medan, dimana paling banyak orang sakit jiwa disana adalah orang Batak (misalnya gitu).
Sama saja bahwa di pemerintahan banyak penyakit sakit korupsi. Nah, penghuni lembaga pemerintahan atau pejabat negara, paling banyak adalah alumni UI. Ketika banyak koruptor tertangkap, peluang bahwa koruptor tsb adalah alumni UI, tentu saja lebih besar karena alumni UI paling banyk duduk di pemerintahan.
Ya…seterusnya silakan dipikir sendiri.
Yang jelas, menurut saya, bukan masalah dia lulusan UI atau bukan yang membuat korupsi. Namun yang paling penting adalah (1) bagaimana dia menjaga idealismenya, (2) bagaimana lingkungan di sekitarnya dan (3) bagaimana sistem bekerja. Sebuah sistem yang bagus adalah sistem dimana membuat orang yang berada didalamnya susah korupsi.

Setuju dengan ariep, mungkin memang kasus RSJ di solo itu bisa menjadi analogi. Namun tetap tidak bisa meninggalkan kenyataan yang ada, kenapa ya kok kebanyakan orang UI yang duduk di pemerintahan itu melakukan korupsi. Artinya memang mereka telah meninggalkan idealismenya (seperti poin ariep nomer 1) dan terbawa serta tidak mampu mengubah lingkungan dan sistem yang sudah terlebih dulu berjalan (good question, SIAPA sih yang bisa?).
Mungkin hal itu yang memprihatinkan ya, karena kenyataannya memang lulusan PTN memiliki animo lebih besar untuk jadi abdi negara (baca pegawai pemerintah) dan karena itu pula lebih banyak alumni PTN disana (opini sih…), tapi kenapa mereka tidak bisa membuat perubahan seperti yang mereka elu-elukan dulu?

hmmm, sedang cukup sedih karena saya juga lulusan UI…

emang korupsi ditentukan dari kampus ya???? sejak kapan ada mata kuliah korupsi???

yang jelas korupsi adalah suatu kegiatan yang pastinya ada nafsu akan kekayaan dan kekuasaan… kalo pejabat udah puas dengan “gaji”nya ngapain dia korupsi ..

masalahnya pejabat di pemerintahan INDONESIA pasti selalu berhubungan dengan hal-hal yang namanya “UANG” atau DANA…. biasanya manusia jika sudah berhadapan dengan begituan langsung lemah iman kecuali manusia tersebut mampu menahan nafsunya…

kayknya segitu aja komentarnya
kenapa kalo hal2 kaya gini selalu bawa2 almamater (lulusan UI yang insya ALLAh ga korupsi)

huehehehe… makanya marilah kita beramai2 tidak usah melamar jadi PNS!!

berikut wacana obrolan saya dulu dengan seorang kepala staff ahli menteri. dia bilang PNS itu adalah lapangan untuk menyerap pengangguran. dan kinerja mereka satu departemen (dia waktu itu di satu departemen tertentu, sebutlah instansi P) itu ngga ada apa2nya dibandingkan selusin staff ahli menteri tersebut. jadi dengan kata lain, sebetulnya departemen P tersebut cukup dijalankan oleh selusin orang, bukan oleh ribuan PNS di dalamnya, lengkap dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. percaya atau tidak, tapi itu kenyataannya. tim staff ahli ini mengurus semuanya di departemen P, mereka tahu detail sampai dengan situasi di tingkat daerah. mereka bekerja di balik layar dan mereka bukan PNS!

kalo proses jadi PNS ya udah ngelamarnya susye benerr (pake bikin kartu kuning, SKCK dsb, dll yang kudu ngasih uang “pelicin” ke petugas yg berwenang )-ini nih yang bikin pikiran mereka berisi: “gue kan masuk instansi A pake modal, makanya ntar kudu balik modal”, kerjannya ga jelas (dateng, istirahat, pulang bebas jam brapa aja malah seringan siang2 saya ktemu para pejabat berseragam PNS pd kluyuran di mall – saya kerja part time jadi after lunch sudah bebas u/jemput anak2 pulang dr sekolah), tukang mark-up (plus bikin proyek yang engga2 ). pokoknya semua yang diatasnamakan “dinas” pasti dibayari negara (uang kita, teman2!!!), termasuk “studi banding” ke luar negeri (coba tanya sama rekan PNS yang baru pulang dari “studi banding” di inggris misalnya, pasti mereka (atau istri2 mereka yang ikut dengan “biaya kantor” -sebagai pendamping entah diperlukan atau tidak) akan sangat lincah memaparkan harga gucci atau prada di harrods dibandingkan dengan yang di plaza indonesia.

apa mereka semua sadar kalo semua itu on indonesian citizen’s expense?!!! pake pajak yang kita bayar yang katanya buat “pembangunan”. apa teman2 sebagai ‘orang bijak taap pajak’ sadar kalo dengan cara itulah uang kita dipakai??

terlepas dari alumni almamater apa seorang PNS itu kembali lagi ke integritas dirinya sebagai pribadi, bagaimana dia menyikapi lingkungannya dimana korupsi sudah tersistem. mungkin dia kuat iman, tapi kemudian kesempatan datang begitu saja. misalnya: “gue ngga korupsi ah, itu amplop kan emang semua orang dapet, buat ‘tambahan’ THR”. padahal jelas, misalnya sumber si “dana tambahan” adalah hasil korupsi (dan temen2 harus inget kalo jumlah si amplop siluman ini jumlah isinya semakin banyak seiring semakin tingginya jabatan seorang PNS). nah lho! kalo misalnya temen2 jadi si PNS tersebut, apa yang akan kalian lakukan???

saya ingat pernah ada wacana menaikkan gaji PNS u/memberantas korupsi. tapi itu sama saja dgn “mimpi kali ye…”. yang ada mereka malah makin makmur, gaji naik, korupsi tetap jalan. happy2 joy2 ga sihhh?

sementara itu… di lain pihak apa yang kita dapet sebagai warganegara indonesia yang taat dan telah membayar pajak? ke kelurahan bikin KTP diminta “biaya sukarela” di depan loket yang diatasnya tertulis “pengurusan KTP gratis”, ke kantor polisi laporan dompet hilang tetep kena “biaya administrasi” (woy pak pol, dompet saya ilang! gmna bayarnya coba?), ke kantor imigrasi bikin paspor musti ngasih “tip” ke para petugas di tiap meja, kalo ngga paspor anda akan “segera” jadi entah kapan, dsb.

kalo saya pribadi, mending jadi pegawai swasta yang merit-based. saya mendapat reward (walopun ngga mungkin bisa sebanyak bapak dan ibu pejabat terhormat) sesuai kualifikasi dan effort yang saya keluarkan. kalo memang dapet bonus perusahaan swasta punya prosedur yang jelas. lagipula, mayoritas perusahaan swasta profit oriented, jadi memang bonus itu ya keuntungan perusahaan yang digunakan u/menghibur para karyawan yang sudah berdedikasi u/kentornya. jelas lebih halal. saya seorang ibu, jadi sangat memperhatikan apa yang masuk ke tubuh anak2 saya, darimana asalnya.

maaf kalo postingan saya ini terlalu “nyelekit”. i’m just telling the truth and nothing but the truth.
PNS indonesia=buah simalakama. entah kalo terdengarnya absurd.
mari kita merenung sejenak, apa ya yang akan terjadi kalo kita acuhkan saja lowongan PNS itu. toh tanpa mereka pun sebetulnya organisasi pemerintah tetap bisa survive malah bisa mengurangi excess baggage negara.

gimana teman2??

sapa coba yg ga maw jadi PNS
kerjaannya ringan n dapat tunjangan ini itu yg ga jelaz fungsinya.
namanya aja uang maka idealisme pun akan mengikuti kemana arah uang berlari

lagian klu saya liat mah sebagian orang2 yg melanjutkan ke Perguruan Tinggi kan emang bertujuan untuk jadi PNS biar cepet naik golongannya.
mungkin bagi orang2 spt kita yg ga punya keluarga PNS bisa bilang klu PNS ntu morotin duit negara tapi bagi mereka yg bapaknya/ibunya/sodaranya PNS bakalan bilang beda karna mereka dari satu sisi diuntungkan
bilang aja lo ngiri ga punya keluarga jadi PNS!!!

klu saya sebagai orang kecil yg ga mampu berbuat apa2 dan
sebagai orang beragama saya hanya memohon keadilan kepada tuhan
semoga para koruptor mendapat tempat yg layak diakhirat nanti
menderita sampai akhir jaman
itu saja uda cukup bagi saya
amin

wah ikutan boleh..neh…!!!
yang buat korupsi itu bukan almamater…tapi birokrasi…
ngk adil lah…alumni UI tukang koruptor..IPB..ngk sesuai bidang…ITB…merasa dirinya terbaik…sedangkan yang lain merasa rendah diri…
sesungguhnya setelah kita masuk universitas tertanam idealisme yang kuat…seiring berjalannya waktu idealisme itu terkikis dengan pengalaman pragmatis…lah
wong jujur aja..pandangan kita setelah luluskan pengenya cpet kayak, ma naik mobil…ayo jujur…lah temen saya sampe bela-belain loncat sana sini biar dapet gaji gede…,,
banyak juga kok orang UI yang baik, anak IPB yang masih care ama pertanian ato anak ITB yang masih ‘care” ama teknologi…malah saya pernah bandingkan..penelitian anak ITB ngk jauh beda ama anak IPB dan sebaliknya…
indonesia itu tidak menghargai spesialisasi..
contoh lamar kerja jadi MT kan any disiplin…makanya mau anak ekonomi, pertanian, kehutanan, teknik nuklir, sampe geologi ngelamar MDP/MT di BCA , Blue bird ato bank mandiri..
itu masalahnya..lah kalo anak teknik nuklir nungguin batan buka lowongan ya lama toh..mana saingannya banyak lagi…dan lagi-lagi pake sogokan ato orang dalem..nah…itu mungkin yang bisa saya kasih masukan.
yang penting sekarang jgn saling menyalahkan…tapi berkaca apakah kita sudah melakukan sesuatu???

Wah, diskusinya menarik nich. Saya setuju tuh dengan komentarnya tentang PNS. Negara ini terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk menggaji para pegawai PNS yang kerjanya gak jelas. Sudah saatnya profesionalisme diberlakukan di departemen-departemen dalam negeri.

Tunggu dulu deh, gw tadi baru baca pemicunya. lah, wong menurut gw sih pemicunya aja udah salah. mana bisa tingkat korupsi langsung dihubungin sama universitas tertentu (UI-red). jelas banget ga ilmiahnya. ada bukti penelitian ga?

gw ga ngeliat hubungannya antara UI dengan korupsi tuh. betul kata ariep, tergantung orangnya bisa megang idealisme apa ga. dan betul juga kata temen-temen yang laen bahwa kenyataan di lapangan yang bisa ngebuat siapapun (bukan hanya alumni UI) untuk berbuat korup.

kalo ngehubungin langsung antara universitas negeri dengan korupsi, maaf ya, tapi logika pemicunya jelas salah. emangnya di universitas negeri ada pelajaran atau penyebaran “Ide Korupsi”?! kenapa cuma menunjuk ke suatu universitas sih?!

premis nya aja udah ga punya kerangka pemikiran apalagi kebenaran isu ini… ga jelas

hahah…setuju. ironis, tapi menurut saya bener.
saya anak ITB, masih kuliah. dulu waktu OSKM (ospek institut) ada alumni yang ngisi dengan materi korupsi, dia juga bilang koruptor kita banyak yang dari ITB.

Terus tragedi lapindo (itu masuk korupsi ngga?) tragedi paling bikin shock buat saya, soalnya ngga ada yang bertindak! Pemerintah, perusahaan, kemana? Bakrie, yang harusnya tanggung jawab, malah cuek2 aja…dan dia alumni ITB.

dan ada temen saya yang bilang, dia ngga nolak korupsi “ngga papa lah dikit-dikit…” dan yang ngaku ini ada yang kuliahnya di UI, di ITB, di UGM, di Unpad…
pathetic…indeed.

saya sih ngga ngeliat universitasnya, ngga marah juga lambang yang sering nangkring di tugas saya ada disini. Itu kan fakta. tapi menurut saya yang mau ditekankan disini ironisnya, universitas negri kok malah nyumbang banyak koruptor? namanya juga institusi pendidikan, harusnya bisa dong memperkecil jumlahnya. Memang tergantung mental, lingkungan , dkk (menurut saya, maaf kalau sok tau atau malah salah, hehe…)

sebuah analogi goblok yang berasal (mungkin dari orang yang nggak kuliah).

atas dasar apa anda mengatakan sebagian besar orang2 di pemerintahan adalah alumni ui ? atau itb ? … ada tau statistik ga ? kasih data statistik dulu baru ngomong ! kalau saya berpikiran seperti anda saya akan berasumsi bahwa alumni IPDN lah yang banyak koruptor. Towh kalo dilihat alumni universitas pasti lebih sedikit dibanding dengan alumni IPDN yang masuk ke pemerintahan. bener ga logika gua ?. IPDN korup ? Lo liat aja cara pembinaan mereka. Gua sendiri tidak menafikkan ada alumni univ. negeri yang korup ? tapi mbo ya kalo nulis blog, dan dijadikan konsumsi umum ya mikir dulu toh ! jangan asal jeplak !

BEGO !

erwinhadat: Saya tidak bilang kok Universitas negeri pemicu korupsi, baca dulu kali yah.

zahra: Memang ironis dan saya setuju kalau universitas negeri tidak bisa disalahkan begitu saja karena saya yakin tidak ada universitas negeri di manapun yang mengajarkan mahasiswanya bagaimana berkorupsi. Tapi yah itu tadi, harusnya universitas memulai gerakan anti korupsi melalui kurikulum atau kegiatan2 kemahasiswaan di dalam lingkungan kampus mereka.

Bujang: Wah kasar amat nich. Kalau Anda setuju bahwa IPDN jadi sarang koruptor, berarti Anda setuju dengan artikel saya. IPDN kalau dipikir2 kan “universitas” negeri juga? Siapa donk yang bego?

Saya setuju sama ariep muttaqien..namun yang jadi sorotan disini adalah penting untuk meluruskan masalah bahwa universitas negeri terkesan memproduksi alumni yang korup!! Pada kenyataannya, yang kita semua alami (bagi yang kuliah), di Universitas kita diajarkan berbagai hal baik, sama halnya dengan apa yang diajarkan sebagian besar orangtua kita, semua tentang kebaikan, seolah-olah dunia ini hitam putih. Padahal ada zona abu-abu (yang saya rasa mereka pun tau atau malah pernah memasukinya-karena itu mereka tidak ingin kita terjebak didalamnya lebih jauh daripada salah langkah!),yakni zona dimana orang menyadari bahwa ada hal-hal yang baik dan buruk, nah..masalahnya orang tersebut (yang kebetulan oknum dan kebetulan alumni UN) ini memilih untuk melakukan yang BURUK!! Yang sebaiknya kita bicarakan adalah konsep konsep yang tidak hanya teoritis tapi juga dapat dipraktekkan ke depan untuk memperbaiki kinerja birokrasi di dalam pemerintahan kita. Daripada kita membuang waktu untuk menjelekkan kampus kita sendiri malah mengurangi rasa nasionalisme kita. Mungkin pembicaraan kita bisa lebih membangun..Dimulai dari Departemen yang paling banyak korupnya!!=P

kita udah berbuat apa untuk ini???? wong posisi kita sama2 tidak berada di dalam sistem tersebut sama2 tidak melakukan tindakan konkrit atas hal tersebut (misalnya kita bergabung dengan tim KPK) atau apapun.. inilah lemahnya kita belum berbuat apa2 kok udah banyak ngomong.. apa cuma beraninya ngomong doang… mana kongkritnya… gw boleh acungin jempol dan hormat kalo yang ngomong ini itu adalah orang yang udah berkutat dengan pemberantasan korupsi udah melakukan penelitian bahwa memang univ negeri adalah penyumbang terbanyak… mana datanya…. jangan cuma bisa ngemeng doang.. ato mentang2 punya wadah blog bebas ngomong seadanya tanpa data yang jelas… blog juga harus punya etika karena kalian bukan diliat sama satu dua orang seluruh dunia bahkan bangsa kita sendiri yang melihatnya.. lantas bagaimana kalo tukang sayur yang gak ngerti apa2 baru pertama kali buka internet ngeliat blog lu… apa jadinya coba.. mereka akan ngomongin dgn sesama mrka tanpa ada data yang jelas… darimana..
ga perlu lah saling tuduh ini itu….gak perlu lah ada diskriminasi almamater kita ini semua sama bangsa Indonesia.. almamater hanyalah t4 kita belajar…. setelah keluar di Bangsa Indonesialah kita akan mengaplikasikan apa yang kita pelajari.. kapan kita mau maju kalo trus berkotak2 seperti ini trus membeda2kan ini itu ini itu… kalo seperti ini sama saja dengan gerakan2 yang ingin membebaskan diri dari Indonesia tercinta ini karena merasa mereka hebat ato beda dari yang lain… yang terpenting adalah kita udah berbuat apa????? kalo belum berbuat apa2 ato lulus pun belum???? ngapain ngomong ini itu tanpa data yang jelas. Kita gak akan pernah maju kalo terkotak2 begini terus…

Fauzan: Maaf, saya pribadi kurang suka kalo baca komentar orang yang bilang “Kalo belum bisa ngapa-ngapain jangan ngomong”. Menurut saya, justru mental kaya gini yang bikin Indonesia ga kemana-mana.

Kalau punya ide, tapi belum bisa ngapa-ngapain, masa harus diem aja? Nunggu sampe kita bisa berbuat sesuatu baru berpikir? Kenapa ide atau pemikiran kritis harus ditahan-tahan? Kalau punya ide, memang sebaiknya diimplementasikan…tapi kalau belum mampu, menurut saya seharusnya memang dibagi. Supaya, siapa tahu ada orang yang bisa berbuat sesuatu liat/denger dan jadi terinspirasi.

Waktu ide-ide di kepala ditahan, ngga disalurkan, akhirnya orang jadi males mikir, nggak kritis, akhirnya jadi ignorant-ga pedulian. Menurut saya sih kita butuh bacaan kritis begini untuk menstimulasi otak, supaya lebih sadar keadaan, dan menginspirasi kita.

LAGIPULA, guebukan monyet kan udah ngasih asumsi : “Apabila para universitas negeri mengaku bahwa mereka adalah pemasok utama pejabat tinggi bagi Indonesia”. Dan koruptor kita memang paling banyak pejabat tinggi kan? Berarti asumsinya nggak salah kan?

DAN guebukanmonyet udah ngasih SARAN. Itu udah bisa dihitung melakukan sesuatu bukan? Berpikir ‘kenapa’, lalu ‘harus bagaimana’. Dan tulisannya juga mengundang komentar-komentar yang ngasih ide dan saran lain. Coba kalau ide ini ngga disalurkan sama guebukanmonyet karena ngerasa ‘dia belum bisa ngapa2in’, orang-orang jadi ngga ikutan mikir kan?

Saya sendiri bukan orang dengan pemikiran kritis, tapi saya suka baca-baca blog-blog seperti ini. Saya memang masih kuliah, belum bisa berbuat apa-apa. Tapi nanti, saya ingin berbuat sesuatu. Sampai saya punya kemampuan nati, saya ingin menyiapkan diri dengan membangun mental, buka mata, belajar, dll. Baca-baca blog salah satunya. Dengan harapan, saat nanti saya punya kemampuan untuk berbuat sesuatu, ideologi saya masih ada. Namanya juga usaha kan..? Makanya saya kurang suka sama komentar seperti anda yang bukannya nambahin bacaan malah bikin orang males berpendapat.

Guebukan monyet : maaf panjang dan OOT. oiya, ijin ngelink blog yah..

sepertinya begitu….ada cerita (nyata)pada jaman gencar-gencarnya demo pejabat…ternyata pada masa kuliahnya dulu sipejabat itu aktivis yg sering mendemo jg tapi setelah punya kedudukan heheh tahu sendiri lah..ademm.. setiap saya lihat mhs demo..saya suka senyum2 dan bergumam dalam hati …..hmmm..sekarang anda berdemo nanti setelah anda punya kedudukan giliran anda didemo(sudah berasa enak kan lupa sama yg dibawah..😀 )…pada intinya tergantung orangnya jg mau swasta atau negeri kalau orangnya tahan banting (tidak terbawa oleh situasi sekitarnya, apa bisa?)dan berfikiran lurus2 saja saya kira mungkin tidak akan ada koruptor..nggak usah jauh2 kekoruptor deh….menghilangkan budaya suap saja susah banget…ternyata setelah ditelusuri budaya suap sudah ada pada jaman kerajaan..(upeti) 😛

mas Tasa, maaf nih ane nyampah disini😀

tuwh kan. bener kan penulis tidak kompeten dalam berlogika. baca baik baik kata2 gua.

kalau saya berpikiran seperti anda saya akan berasumsi bahwa alumni IPDN lah yang banyak koruptor

kalo gua berpikiran seperti anda = itu artinya gua nggak berpikir gitu. ngerti ?

karena gua kalo nulis/ngomong berpikir dulu. ga kaya elo yang cuman nyari sensasi. nulis blog boleh dan sangat ama berguna. tapi kalo cuman maen tulis tanpa ada dasar yang jelas. ke laut aja nyet !

BEGO !

@zahra

mba zahra, justru emang kalo belom bisa apa2 ya jangan ngomong. tau pepatah tong kosong nyaring bunyinya ? air beriak tanda tak dalam.

lagian kata siapa kita ga bisa apa2 ? jangan nyuap polantas. bikin ktp sesuai jalur etc etc.

jangan pernah nyontek, titip absen. jelas kan ?

justru orang yang banyak omong tapi otak bego yang bikin indonesia ini jadi blangsak !

bujang : yang saya maksud dengan saya belum bisa apa-apa itu belum bisa apa-apa seperti yang disebut sama fauzan: belum bisa nangkep koruptor, belum bisa memperbaiki sistem, belum bisa bikin pendidikan indo lebih baik.

Kalo bikin ktp sesuai jalur, buang sampah ditempatnya, ga nyuap polantas, ga nyontek, itu yang saya maksud dengan membangun mental. Saya berusaha kok membangun mental saya…

masalah tong kosong nyaring bunyinya, saya udah ngasih argumen kenapa tulisan ini menurut saya nggak tong kosong nyaring bunyinya. people with visions itu beda loh sama tong kosong nyaring bunyinya…

Bujang, yah saya sepertinya salah membaca maksud Anda. Saya waktu itu bacanya kurang konsentrasi, hehe. Sepertinya saya memang bego yah, makasih kritikannya🙂

Ayra: Saya suka tuh semangatnya. Memang benar, kita tidak bisa menyalahkan universitas negeri begitu saja, dan saya sangat setuju. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, tidak ada satu universitas pun di negeri ini yang mengajarkan korupsi. So, solusinya?

Fauzan: Well, ini negara demokrasi Bung, disitulah indahnya alam demokrasi. Kalau gak diomongin keenakan donk para pejabat yang korup. Apakah kita harus jadi anggota KPK baru bisa mengkritik para koruptor? Sayangnya, para penjual sayur gak punya akses internet, hehe.

Zahra: Wah, pandangan Anda sangat menginspirasi saya. Terim kasih atas dukungannya. Itu baru anak muda yang kritis dan open minded, selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Saya setuju sekali dengan Anda: “Kalau punya ide, tapi belum bisa ngapa-ngapain, masa harus diem aja? Nunggu sampe kita bisa berbuat sesuatu baru berpikir? Kenapa ide atau pemikiran kritis harus ditahan-tahan? Kalau punya ide, memang sebaiknya diimplementasikan…tapi kalau belum mampu, menurut saya seharusnya memang dibagi. Supaya, siapa tahu ada orang yang bisa berbuat sesuatu liat/denger dan jadi terinspirasi.”

Dengan senang hati saya akan me-link balik blog Anda, apa blog-nya?

mr.t: Thanks sudah mampir Mas, masa begitu dibilang nyampah?🙂 Jadi, budaya korupsi di Indonesia sudah ada sejak dahulu kala yah? Gimana dong cara menguranginya?

Salam damai.

first, ga ada kampus yang ngajarin korupsi!!! soalnya kampus kan lembaga pendidikan, bukan cuman pengajaran…

klo ternyata banyak lulusan PTN yang menjadi koruptor, kemungkinan besar, hal ini dikarenakan banyaknya lulusan PTN yang masuk ke dalam ranah PNS…

salah satu ciri korupsi (menurut KUHP) adalah: adanya kerugian yang dialami negara… dalam hal ini, peluang PNS untuk berkorupsi dan ketahuan disidik ma petugas negara (dari elemen lain), sangatlah besar… berbeda dengan karyawan yang menggelapkan uang kantornya. kalau dia melakukannya, palingan buntut2nya dia kena sanksi perdata (beda ma korupsi yang sanksinya perdana).

gw sih ga peduli lagi ngeliat dia lulusan mana, klo dia koruptor, dah gantung aja! gara2 koruptor nih negara ga maju2… orang miskin bergelimpangan, pengangguran, kesejahteraan hidup buruk banget, sarana transportasi ga bisa dibanggain, apalagi pariwisata. walopun gw bingung juga, klo dihukumn gantung bisa hilang puluhan % orang Indonesia nih, hehe…

yah, mudah2an gw dan pembaca blog ni ga jadi koruptor, amin. takut ah, ntar kaya raya (beberapa tahun ampe gw mati) tapi nanti dikehidupan abis mati (yang kekal) gw jadi ‘miskin’, hihi. takut ah

salam
-lulusan PTN yang sekarang di PTS-

sori, ko jadi sanksi perdana, maksudnya pidana, haha… sori nih, baru bangun tidur gw

Alvin : saya baru baca tulisan anda. YANG SERIUS LO??? Korupsi PILIHAN? Meennn…itu kriminal itungannya!! Agama, pilihan. Jurusan, pilihan. Musik yang didenger, pilihan. Film yang ditonton, pilihan. Baju yang dipake, pilihan. Membunuh, kriminal. Memperkosa, kriminal. Mencuri, kriminal. Korupsi, KRIMINAL. Bedain meenn…bedain!

Udiot: Waduh…dengan syariat maksudnya hukum islam gitu? Saya sih nggak setuju…(saya islam loh), soalnya kita punya banyak kultur. Kalo pake syariat islam, ntar kultur budaya macem-macem yang kita punya ilang lagi. Kita ini kan bukan negara islam, cuma penduduknya aja mayoritas islam.

Andy tirta : Iya setuju, gantung dan disiarin. Biar kapok dan berasa efeknya ke masyarakat.

Maaf, ikut nimbrung sedikit saja.. Tapi menurut saya “penghasil” koruptor itu bukan Universitas Negeri atau Lembaga Pendidikan apapun..
Tapi KELUARGA..! Pendidikan itu dimulai dari keluarga bung.. Hayo, mau pajang lambang apa kalo begini? :p

waduh2 saya baca2 jadi tambah wawasan ni!!
jadi sumber dari korupsi yg terjadi pada pejabat pemerintahan kita belum ktauan yaa??!!
lalu menurut temen2 samua dari mana saja korupsi itu bersumber dan berikan alasannya?!

sori klu cuman numpang liwat n numpang nanya doank ^^

Gimana kaga banyak koruptor, orang negara kita udah meterialistik bgt. Orang kuliah belajar idealis dari text book sih. Mahasiswa kalo lulus jadi pada oportunis karena apa…
Gampang takut susah….
Susah itu relatif, coba liat dipinggir rimba,dikaki gunung,di pinggir pantai, kolong jbtn dsb. Masi banyak yang lebih susah….
Jangan demo ditengah kota doang sambil nunjukin almamater,buat apa sih…..
Coba latih kepekaan dengan liat denganlebih dekat rakyat Indonesia…..
Mungkin ini prinsip pencinta alam terutama Mapala UI(gua akuin anak Mapala emang kurang akademisnya tapi kalo udah lulus walaupun dunia ini godaanya berat bgt tapi gwbisa jamin(walau kaga 100%) kaga jadi koruptor,karena pernah liat orang susah…kaga belajar idealis lewat doktrinasi atau text book…Dan yg jelas egaliter bgt engga beda-bedain orang apalagi sekolahaanya( nga jls bgt)…”karena dialam kita tak berbeda”
Hidup Indonesia,Hidup alam raya
Semoga Pencinta alam tumbuh subur diBumi Indonesia…Makanya kuliah Masuk Pencinta Alam…biar kaga ngeliat satu sisi…

Andi tirta: Saya setuju tuh kalau koruptor seharusnya digantung! Biar pada ketakutan.

Zahra: Thanks for your wonderful insights🙂

srg: Hehe, bener juga sich. Lambangnya bingung kalau itu.

lengkonk: Selamat datang. Sumbernya dari mana? Wah, pertanyaannya berat banget. Ada yang mau jawab?

badairimba: Masukan yang bagus Bung, biar gak jadi koruptor harus ikutan Pencinta Alam yah? Hehe. Tapi saya setuju sich, kalau orang jadi koruptor itu karena tidak memiliki kepekaan terhadap orang miskin. Seharusnya para murid di Indonesia harus diperlihatkan kenyataan betapa banyaknya orang miskin di Indonesia dan bagaimana hidup mereka sangat susah.

Salam damai.

DAMAI ALL BWAT UNIV. SWASTA N NEGRI……

korupsi tidak memandang swasta maupun negri… mungkin ini hanya kebetulan saja, para koruptor berasal dari lulusan negri.. tapi klo di biarin terusss… mungkin akan bertambah lulusan negri yg menjadi koruptor… krn memiliki relasi yg sudah menjadi koruptor… KKN booo!

potong semua leher para koruptor..
kita sebagai generasi muda harus semangattttt & JANGAN OMDOOOOO ( alias OMONG DOANK ). waktu jadi mahasiswa aja DEMONYA BERANTAS KORUPSI. pas udah kerja, PERUTNYA GEDE SENDIRI GARA2x KORUPSI…. MALU ATU MASSSS! KUMAHA???????

lengkonk : dulu waktu kuliah 2 sks yang amat membosankan…saya sama temen saya pernah mikirin hal yang sama dan akhirnya kita ngebahas. Kesimpulan dari obrolan kita adalah, budaya korupsi itu ada karena penjajahan VOC dulu.

Bedanya dijajah sama negara sama dijajah perusahaan…kalo negara nggak sepenuhnya mengeksploitasi, karena mereka butuh negara jajahannya untuk mensuplai mereka terus menerus, dan ngembangin wilayah kekuasaan. Sedangkan kalo perusahaan, maunya nguras aja.

Nah, waktu dijajah ini kan kita nggak boleh sekolah…biar tolol dan nggak bisa ngelawan.
Selama 200 tahun dijajah VOC kita ngak boleh sekolah, dan kalo diitung…berapa banyak generasi yang rusak karena kebijakan ini?? Waktu dijajah belanda pun nggak semua boleh sekolah. Waktu si orang tua bodoh dan miskin, maka anaknya juga akhirnya bodoh dan miskin. Pola pikirnya dan tindakannya adalah pola pikir dan tindakan orang bodoh dan miskin. Mentalnya adalah mental orang yang bodoh dan miskin. Terus menerus diturunin ke cucunya cicitnya, terus dan terus.
Setelah merdeka, orang-orang yang biasanya dijajah ini belum bisa berpikir, bertindak, dan punya mental orang merdeka. Karena terlalu lama miskin, ga heran kalo kita ga tahan kalo liat uang. Makanya korupsi.

Ditambah lagi perbedaan budaya yang harus disatukan secara tiba-tiba, kita nggak bisa meng-handle(ini bahasa indo yang enak apa ya?). Terlalu banyak budaya yang berbeda. Jadinya, masih banyak dari kita yang nggak bisa berpikir bahwa kita itu satu bangsa. Mikirnya sukunya sendiri aja, akhirnya jadi egois. Makin hebatlah korupsi, kolusi, dan nepotismenya.

Yahh…begitulah hasil pembicaraan saya dan teman saya. Ini cuma menurut kami berdua loh…just wanna share it. Menurut kalian gimana?

@zahra
jadi kesimpulannya, koruptor itu lulusan VOC yak? Tuh kawan2 Universitas Negeri yang dimaksut ternyata Universitas Negeri Hindia Belanda VOC kok bukan UI, ITB, UGM, dll. Buset deh ngeri banget hari gini masih ada lulusan VOC yang masih idup:mrgreen:

Hahah gue lucu baca komentar emosi orang2 disini, sepertinya Tasa berhasil mengaduk2 emosi penonton😆

Dari kenyataannya emang para pejabat yang korupsi itu rata2 lulusan universitas negeri jadi gak salah timbul artikel ini yang menjadikan kenyataan tsb sebagai pijakan argumennya. Cuma namanya koruptor bisa lulusan swasta juga. Tindak pidana korupsi bukan milik lulusan universitas negeri kok, tapi milik semua orang yang lemah iman dan finansialnya😀

Udah deh pada baekan semua, ini cuma diskusi bukan perang…emang elo kire si Tasa kompeni apa😆

FK USAKTI ’07: Yah benar, kita semua harus cinta damai donk. Tapi jangan kasih kedamain buat para koruptor, gantung koruptor!

Zahra: Setuju banget Zahra. Kita memang terlalu lama dijajah ama Belanda. Bayangkan saja, lebih dari 300 tahun dijajah, gimana kita gak jadi bangsa bodoh? Salah satu contoh bagaimana budaya feodalisme masih ada di Indonesia adalah bagaimana ospek masih ada di tiap kampus dan bahkan SMA. Ospek adalah bentuk nyata dari feodalisme, yaitu meminta orang lain untuk menghormati kita melalui paksaan fisik dan mental.

Yonna: Bener Mba Yonna, pastinya juga banyak lulusan swasta yang jadi koruptor. Korupsi itu udah bagian dari budaya Indonesia kok, hehe. Parah kan?

Ada yang lupa, setelah dijajah, jadi bodoh, kaget disatuin sama suku lain, kita juga kena influence barat, globalisasi. Pijakannya belum kuat, tapi udah diterjang lagi, makin kocar-kacir deh…makin parah kondisi mentalnya. Kita memang butuh revolusi budaya.

Mba Yonna:
Iya…begitulah kira-kira. Saya setuju..kan udah pake asumsi, kalo di statistik, variabel itu berlaku berlaku asumsinya. Mau bener apa nggak, ya namanya juga asumsi, ‘jika sama dengan jika’, anggapan. Saya yang anak negeri aja nggak marah…heheh…

Guebukanmonyet:
Whahaha…nyindir nih? ITB kan terkenal ospeknya. ;p
Kalo menurut saya sih tergantung ospek macem apa dulu. Kalo ospek pembodohan kaya di SMA, atau kontak fisik kaya di STPDN saya nggak setuju. Tapi kalo di ITB ospeknya nggak kaya gitu. Saya nggak merasa dipaksa untuk menghormati senior, karena isi ospeknya bukan masalah menghormati senior.

Ospek institut itu dikenalin lagu-lagu kampus, ideolodi kampus, salam kampus, ya orientasi lah mahasiswa itu harusnya gimana. Kalo ospek jurusan, tekanan mental dan fisik emang ada, tapi tujuannya untuk ngebuat si angkatan kompak, bisa berpikir cepat dalam tekanan, kritis, dan cerdas dalam ngambil keputusan. Di saat sulit sekalipun. Contohnya, jargonnya anak sipil itu ‘bos selalu benar’. Tapi ada lanjutannya…‘bukannya bos tidak pernah salah, tapi bos selalu melakukan hal-hal yang benar’. Jadi bukan asal ‘gw bener’ aja (anak sipil…punten yah dipinjem kalimatnya).

Dan biasanya tekanan fisik tergantung jurusan. Anak farmasi, plano, biologi, biasanya emang ga berat. Tapi kalo kaya geologi, geodesi, minyak, sipil, tambang gitu emang berat, soalnya nanti mereka kerjanya juga berat.

Yah…mungkin terdengar(terbaca) seperti pembenaran, tapi saya ngerasain kok manfaat ospeknya. Dan setelah itu baik-baik aja sama senior. Ospek cuma pembelajaran, kaderisasi penerus himpunan. Ke junior pun kita nggak pernah semena-mena kaya nabrak, atau nyabot lift, atau nyinyir gitu. Tekanan juga cuma ada waktu ospek. Pas ketemu kuliah mah nggak dijutekin,…nggak diapa-apain malah…

Oiya, makasih udah mampir ke blog saya…:)

Saya sendiri tengah menimba ilmu di UI.

Jujur saja, tidak ada satu mata kuliah pun secara implisit mengajarkan trik dan memberikan stimulus untuk berkarakter korup.

Saya pribadi tidak meniatkan diri untuk menjadi pejabat. Cukup menjadi pengajar saja. Itu sudah cukup. Juga ditunjang dengan sandang, pangan, dan papan yang utama, tentunya.

Jadi pejabat itu harus gemar dan piawai berpenampilan “wah” , juga serba cekatan dalam merangkai kalimat (walaupun sedikit bohong) dalam konferensi pers ataupun menjadi pembicara di seminar-seminar.

Membohongi rakyat, itu keterlaluan. Rakyat tidak bodoh.

Justru itu, jika ditemui para aktivis yang dulunya gemar berteriak sampai suaranya serak dan cenderung “idealis” pas demo, ternyata di “medan laga” pascalulus dari almamater UI gandrung bohong, maka kita hanya bisa mengerutkan kening dan mencibirkannya sembari tetap tertawa kecil.

Itulah ironi sebuah idealisme. Realisme di “medan nyata” jauh lebih lezat dari pada sekeping “idealisme” yang baru tumbuh di ranah kampus.

Bagi alumnus UI yang tetap menjunjung tinggi idealismenya, saya mutlak untuk acungkan jempol dan “angkat topi”!
Anda-lah yang lulus seleksi.

Zahra: Gak menyindir kok, hehe. Kalau ospek yang seperti itu sih yah bagus justru harus diperbanyak. Tentang pembelaan bahwa tekanan fisik dan mental dapat membuat sebuah angkatan jadi kompak, itu harus diteliti lebih dalam. Pembelaan itu memang yang selalu digunakan oleh para senior ketika menjalankan ospek, tapi apakah benar? Kalaupun itu benar, saya yakin ada banyak cara lain tanpa kekerasan fisik dan mental yang dapat membuat suatu kelompok solid dan kompak.

iwansulistyo: Menjaga idealisme yang jujur dan bersih memang sangat sulit dilakukan di negara seperti Indonesia dimana korupsi sudah menjadi bagian dari budaya. Tapi bukan tidak mungkin yah.

Salam damai.

wah klo dtuduh sbg univ. negeri penghasil koruptor, gw g stuju cz dr univ. swasta kn jg da walaupn g sbanyk negeri….lagian gw jg pengen jd koruptor ha3x…jst kidding bos,,,eh tp org korup tu enak y g da yg kurus pd sehat smua,,,wez ntr koruptornya Qt bikin kambing guling ja……..pokoke MAKNYUUUS!!!

guebukanmonyet:
yahh…tekanannya juga jangan pembodohan. Jangan asal marah-marah seenak jidat dan ga rasional….gitu sih…🙂

iwansulistyo:
doakan kalo gitu mahasiswa-mahasiswa sekarang ga mudah luntur ideologinya…

hori:
kanibal dong…hiyhh…:D
saya sih ga mau…hahaha

Sangat menyedihkan !!!

Tapi …ngomong-ngomong, mana ada maling yang mau ngaku? Penjara Penuh !!!!!
Maksudnya … mereka ngga mau ngaku lah…..
Soalnya nama Universitasnya aja udah keburu “GeDe”, ya … mereka juga “GeDe” gengsi untuk ngakuin hal itu !!
Tapi, di Indonesia ini emangnya cuma yang “Negeri” doang yang menghasilkan cetakan2 koruptor zaman sekarang?Pastilah Univ.Swasta juga ngga kalah hebohnya. Pasti juga ada.

Dan gw sangat setuju untuk diadakannya “Pelajaran Anti Korupsi”, sangat berguna untuk kelangsungan mata kuliah. Pasti banyak yang minatin tuh! Kecuali yang memang sejak dini ada orang yang bakat korupnya udah mendarahdaging/susaaah diilangin. Dan pelajaran tersebut tiap jurusan harus ada alias wajib. Usulin aja tuhh ke Unversitas seluruh Indonesia, siapa tau berminat ada PELAJARAN ANTI KORUPSI.

Tapi yang penting Pelajaran itu dimulai dari diri kita aja dulu. Apa ngga sadar kita sering berbuat korup walaupun itu sangatlah kecil. Insya Allah ngga ya!
Semoga Allah Yang Maha Pengampun mengampuni diri kita yang mungkin seperti itu. Amiin.

Sudah cukuplah kita malu sebagai yang disebut negara paling korup nomor 5. Untungnya nomor 5!!
Koruptor harusnya malu sama orang miskin. Karena mereka dikasih makan lewat duitnya orang miskin yang ngga nyampe ke yang berhak nerimanya.

Ya “koruptor”iyyun, La’natullah ‘alaikum !!!!!

YEEEE …. !!!!

Gw jadi komentator yang ke-100!!!
Plus yang ke-101. Tapi ngga mutu gitu !!

Yaelah, girang banget yak gw?!!!
Huehehehehehe …. ^_^

pelajaran anti korupsi mungkin diperhalus jadi pelajaran moral.
padahal udah ada pelajaran agama dan kewarganegaraan. kenapa masih bebal juga mental itu orang2.

hori: Hahaha. Bagi-bagi donk kambing gulingnya.

Zahra: Waah, kayaknya anak ormawa yang doyan ngospek anak2 baru yah? Hehe.

Izmi: Pastinya dari universitas swasta juga banyak calon-calon koruptor, kalau udah masuk sistem dan ngeliat duit idealisme yang dulu setinggi langit bisa goyah juga. Sapa coba yang kuat kalo udah ngeliat duit? Hehehe. Selamat udah jadi komentator yang ke-100 dan 101, dapet hadiah deh. hehe.

areta: Mungkin perlu diperbaiki model pelajarannya. Ada usul?

hahaha…nggak juga kok tapinya…saya kan baik…jadi bagian jadi yang baik…hehehe.

tapi beneran kok, kalau disini ospeknya ada materinya…biasanya tekanan yang diberikan sehubungan sama tugas mereka, sama kalau mereka salah, sama kalau kita pengen mancing mereka untuk melakukan sesuatu yang merupakan materi…hahaha…ga ngerti yah?

ya pokoknya gitu deh…harus dirasain baru ngerti…hehehe. dulu saya juga bawaannya suudzon aja, tapi pas dijalanin baru deh ngerti maksudnya…ternyata yang ngospek bukannya pengen bales dendam, tapi ada tujuan yang jauh lebih baik….jadi curhat deh…hahaha maaf ya.

Salam. Memang betul bahwa korupsi bukan saja terjadi di pusat dan didaerah, tapi juga ia seakan-akan menjadi hal yang lumrah. Sudah menjadi mentalitas. Saya pikir hingga detik ini , korupsi masih terjadi. Saya pikir, hidup instant, berfikir instant, bisa berkontribusi pada praktek korupsi. Contohnya saja, ingin bikin paspor secara instant..tinggal membayar uang lebih, udah deh lancar. jadi, ada dua belah pihak yang memberi dan menerima (dalam hal ini penyogok dan yang disogok). Inikan masalah mentalitas dan gaya hidup yang selalu ingin instant. Kalau seandainya lulusan-lulusan perguruan tinggi terkemuka mau mendapatkan uang secara instant, apa gak malu tuh…kan harus kerja keras dulu, berkeringat dulu untuk membangun dan memajukan bangsa, lalu karena prestasinya, ia digaji secara wajar. tapi sayang kini korupsi dianggap wajar juga…pasti deh ada kesalahan paradigmatik dan error dalam cara berfikir.
ah segini dulu deh dari saya.
ahmad tea

Zahra: Maap lama balesnya. Iya deh ngerti kok, hehe. Mau donk diospek ama Zahra kapan-kapan.

itsme: Betul sekali Bung Itsme, orang Indonesia itu emang suka yang serba instan. Buktinya mie instan kan laku keras di negara kita dan menjadikan Indofood kaya raya, hehe. Sekarang di kalangan anak muda trend menunjukkan mereka semua mau beken secara instan juga, pokoknya serba cepat deh. Merubah budaya dan mental sayangnya tidak bisa cepat dan instan, dibutuhkan kerja keras dari pemerintah dan para tokoh masyarakat. Kita bisa ikut membantu, mari lakukan saja perubahan2 positif kecil di lingkungan sekitar.

wei guys suhartonya mana? tanjung juga dikemanain?
mereka emang ga pantes diborgol tapi lebih!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

masukin liang lahat kale!!!!!!!!!!

we tanya kalo arpol penghasil koruptor pa’an?

setuju bgt sama nih artikel. gw 2 taun kerja kontrak sebagai tenaga outsource di sebuah institusi pemerintahan di jakarta. cuma gw doang di institusi tsb yg lulusan swasa, sisanya negeri semua, UI, ITB, STT Telkom, dll. korupnya parah bgt, asal tau aja, gaji gw tertulis 4 jt, tapi yg diterima 2 jt. 2 jt sisanya dibagi-bagi atasan. kerjaan gw gak jelas, mereka gak peduli gw mo sering gak masuk apa enggak. proyek yg dikerjakan memakan dana 2M setaun, padahal kalo diserahkan ke perusahaan swasta paling abis 200 jt, 4 bln kelar. kerjanya di lama-lamain.

suasana kerja di sana, itu ‘damai’ sekali, orang diluar teriak2 reformasi mereka pura2 gak denger. itu gw rasain bgt. liciknya lagi, PNS itu kalo orang bilang identik dengan pegawai yg penghasilannya kecil dan jauh dari kemakmuran, tapi kenyataannya terbalik. mereka kalo di tanya gaji, pasti jawabnya dengan gaji pokok doang, padahal total penghasilan mereka sebulan bisa 3x lipat gaji pokok, belum pensiun, kredit rumah, dll.

kalo emang PNS profesi yg melarat, kenapa sekali buka lowongan yg ngelamar bisa ribuan orang ??!! aneh. beda sama swasta, paling yg ngelamar cuma puluhan orang. ini sebenarnya kebohongan publik besar-besaran.

gw ini bicara fakta, kalo lu gak setuju sama gw, palingan keluarga lu ada yg PNS, dan lu ikut makan duitnya.
😀

yang aneh bukan pns bos, yang aneh masyarakat kita, udah tau pns sarang korupsi, kenapa ribuan orang melamar ingin jadi pns? ingin ikutan korupsi?

wah ada bahasan seru nih, numpang nimbrung ah.. kalo soal korupsi, kok daritadi gak ada yang berpikir korupsi terjadi karena kecilnya gaji yach? dan walapun gaji PNS tidak naik2 kenapa PNS tidak ribut? demo atau apa gitu? menurut gue, karena udah terbiasa dengan sistem korupsi itu sendiri.. jadi gaji kecil nyantai aja, toh bisa “maling”

sekarang sudah makin parah. kalaupun gaji dinaikkan untuk mencegah korupsi. gak akan terhapus deh.. ada omongan orang deket gue yang dalem banget.. “Orang Indonesia itu lebih senang diberi 500rb, tapi dia bisa “mencuri2” ekstra 300rb. daripada digaji 1juta tp gak bisa korupsi. pathetic? yes. but also true..

damn man.. sohib gue yang PNS gak akan bisa hidup dengan gaji 1,1jt sebulan. no way, tp gak pernah tuh dia ribut soal gajinya? santai ajahh.. why? karena gue yakin dia dah ada “slepetan” dan itu sudah “dididik” oleh atasan dia. setiap ada proyek, doi yang jobdescnya baru “gitu2” aja eh dapet amplopan sebulan gaji.. itu mingguan lho :p.. hehe, kebayang kan? sanggup kita nolak duit kayak gitu? wake up and get reaL..

sikap membenci dan mengutuk ketidakadilan adalah sikap yang patut ditiru. hanya saja, semakin dewasa dunia akan semakin abu2 saja juragan.. hehehe, dan God knows apa yang akan kita lakukan ketika hal tersebut jaraknya hanya sejengkal dari diri kita.. maka itu tidak usah terlalu keras dan jangan juga terlalu lemah.. biasa2 aja dan let it flow..

menurut gue, 99,9% orang yang mengutuk korupsi adalah orang2 yang gak kebagian aja. ketika udah kebagian, weeheheheh.. beda lagi. liat aja lah posisi2 penting pemerintahan kita bukankah banyak sekali diduduki oleh orang2 yang dulunya menentang tindakan-tindakan pemerintah yang merugikan rakyat..???

ibarat kucing ngambek, dikasih aja ikan. anteng dah.. kalau itu sampai terjadi pada diri kita? apa nggak malu ngejilat ludah sendiri? jawabnya.. JELAS TIDAK!! wakakakaak!! ngapain malu wong duit banyak kok?? iya kan? money is everything dudes.. dan para pihak yang ditentang tahu benar bagaimana menjinakkan para “kucing2” ini.. sudah 2 generasi yang sukses mereka jinakkan.. are we gonna be the 3rd?? God Knows..

kalo soal PTN adalah penghasil koruptor terbesar.. gue sangat tidak setuju.. tp gue sangat setuju kalau kalimatnya PTN adalah kampus yang alumninya paling banyak menjadi koruptor.. naahh mantep tuh.. itu baru kebenarannya bisa dicek sendiri dan telah jadi rahasia umum..

karena kalau dikatakan “penghasil” maka sama saja mengatakan bahwa kurikulum di PTN ada mengajarkan bagaimana caranya korupsi.. hehehe nggak lah.. gue gak pernah tau tuh ada pelajaran kayak gitu di fakultas manapun baik PTN maupun PTS. karena gue yakin para koruptor pun ketika masih menjadi mahasiswa, khususnya yang menjadi aktivis. pernah memiliki visi yang tulus demi perbaikan bangsa ini.. tp ya itu. duit itu emang bener2 mantap dah!! Bikin Hidup Jadi Korup!!

Just My Two Cents..

ah….
saya seorang koruptor…
pasti diantara lo – lo semua disini juga pernah korupsi… ada yang sadar… ada yang ngga… tapi pasti pernah…
gue juga pengen sih stop tabiat korup gue, tapi jujur harus diakui, bahwa itu susah banget bro…
bener banget *ada yang bilang diatas – entahlah siapa* bahwa pendidikan korupsi itu sebenarnya yang mengajarkan adalah keluarga inti kita sendiri…
gue juga setuju dengan pendapat *entahlah siapa tadi udah jauh banget diatas* bahwa korupsi itu pilihan kok…
kalo lo ga mau korupsi, ya jangan… gampang tokh….
kalo lo mau ngilangin korupsi, mulai dari anak lo deh… mereka masih bisa di-didik, ngga kaya kita yang udah bebel… hehehehehhehe…
sori ni tas… jadi nyampah…

UI sarang koruptor? Bukan UI nya kali, tapi orang orang didalamnya – ada profesor, dosen senior – yang jadi ‘aparat pemerintah’ di berbagai lembaga. Mentalnya udah rusak – kedoknya dosen, tingkah lakunya ‘penyamun’.

Gayanya PNS, tapi rakus rakus juga sama proyek, dan susahnya mereka ini seolah olah dewa yang pegang kendali dan serba tahu, serba ‘dekat dengan orang pemerintah’ jadi gayanya itu sombong-sombong.

Yang banyak ditangkep karena kasus korupsi atau penyelewengan itu dari kampus ini – makanya tantangan buat yang berkuasa sekarang, gimana caranya untuk tetap menjaga nama baik kampus.

Jangan sombong, kalian kan pake dana APBN – duit rakyat. Jangan kritik pemerintah, kalau disogok juga mau, malah kerjasama. Doktor profesor jadi pemain sinetron, cari duit di dunia entertainment – malu maluin tuh, melacurkan ilmu nya – huh, kampus ternama di Indonesia.

Dimanapun kita berada, korupsi telah menjelma menjadi maslah yang personal.
Universitas manapun pasti tidak berniat mencetak orang dengan mental korupsi.

Next question is…

UNJ mana niyh…

hmm, stuju sama tulisannya. cuma, mnurut gw, bukan almamater yg mencetak seseorang menjadi koruptor ato ga. lebih pada kesadaran diri n lingkungan.
n mnurut gw, ga perlu lah ngebikin kelas ato mata kuliah tentang anti korupsi, coz gw yakin bakal kosong, karena seumuran mahasiswa itu ga mau hanya diceramahin omong kosong tanpa ‘action’. kelas seperti itu malah justru harus ada pada pendidikan dasar, n mungkin temanya bukan anti korupsi, tapi kelas moralitas.
kebetulan, gw dari TK mpe kerja ni statusnya ‘negeri’ terus:D n sedini mungkin, gw dah dibekali dg ‘moralitas’ oleh ortu (ortu gw bkn PNS) n lingkungan. so, sekarang di lingkungan krj yg ‘engap’ dg tindakan penyimpangan, gw masi mencoba utk berjalan di jalan moralitas, kalopun terengah2:D eits, bukan karna gw ga kebagian dwit trus ngomong moralitas. gak. bukan pula sok suci. tp ini masalah hati (cieee..). kebayang, ketika lo nrima duit yg ntu sebenernya bukan hak lo? huaaaaaah, beraaattt. berat nolak? bukaaaaan. berat dipikiran bahwa ntu dosa. ga dipungkiri, gw pernah nrima yg seperti ntu, ga banyak sebenernya kalo dibandingkan koruptor2 (ato gw bs jg disebut koruptor:p), cuma beberapa ratus rebuu. tp bow, beratnya dipikiran minta ampuuun…
haduh, makanya sekarang sebisa mungkin de ngehindarin (beneran ngehindarin) nrima2 kaya gitu

Apakah anda bangsa indonesia yang terkenal didunia…? tentu bangsa Indonesia sangat dikenal dimana-mana dalam hal penghasil kroptor didunia. KALAU kita berada diibukota Jakarta Indonesia kita harus berhati-hati karena banyak perampokan dengan segala kemunafikan gaya pura-pura santun dengan beribahasa yang hangat halus, tetapi anda setiap saat pasti terjepak harta yang anda miliki akan berpindah tangan dengan hepnitis.

Apa yang dapat kita bangkakan sebagai bangsa Indonesia yang besar…? ini pertayaan bagi semua anak bangsa. Seperti komentar Malaysia dan Singapore mengatakan:
Indonesia itu ibarat GAJA,.bangsa yang besar dari sabang sampai ke merauke….tetapi
tidak tahu apa-apa masihn tetap terbelakang dan sangat bodoh.

Banyak setelah selesai study menjadi Profesor, sanjana, insyunyur tehcniel, dokter….
tetapi semua gak dapat berbuat apa bagi negaranya…? paling yang bisa mereka lakukan
menjadi kroptor kelas dan pembodohan kepada rakyatnya,

sudah 62 tahun kita merdeka, sudah 18 kita dalam masa reformasi,
sudah saatnyalah kita berubah, kita sebagai warga negara indonesia tidak ingin melihat universitas-universitas terbaik di indonesia melakukan korupsi.
dan semoga korupsi di indonesia hilang untuk selama-lamanya.
JAYA INDONESIAKU, JAYA BANGSAKU, MERDEKA MERDEKA

anti pns: Saya gak tahu juga sih dengan informasi itu tapi yang saya tahu memang sebagian besar institusi pemerintahan di Indonesia itu kuno dan lamban. Sesuai pengalaman saya, kinerja pns itu serba lama. Tapi, kita tidak boleh menutup mata bahwa banyak institusi pemerintahan yang berusaha keras untuk meningkatkan kualitas mereka.

Life is beautiful: Analogi yang menarik, hehe. Yah emang banyak orang seperti itu pastinya, mudah-mudahan kita tidak termasuk yah. Setuju sich kalau PTN sebenarnya bukan penghasil koruptor seperti yang Anda sebut, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Tapi satu hal pasti, kenyataan bahwa banyak lulusan PTN yang menjadi koruptor harus menjadi perhatian besar bagi mereka. Mungkin sudah saatnya mereka menciptakan kurikulum baru yang benar-benar anti korupsi atau sebagainya.

Ary: Gak papa dimaafkan, hehe.

nugraha: Semoga kita semua bisa memperbaiki diri kalau begitu.

dian: What’s wrong with UNJ emang?

kay_belle: Setuju banget. Secara langsung memang PTN tidak menjadi penyebab korupsi tapi menurut saya ada baiknya apabila setiap perguruan tinggi di Indonesia memiliki inisiatif untuk memberantas korupsi melalui kurikulum mereka. Kalau pelajaran di kelas dirasakan membosankan bisa melalui bentuk lain yang lebih kreatif. Pokoknya ada 1001 cara deh yang bisa dilakukan.

Nunusaku: Benar itu, Indonesia adalah negara yang besar tapi sayangnya tidak pernah belajar dari kesalahan. Orang pintar di Indonesia saya yakin jumlahnya lebih banyak dibandingkan orang pintar di Singapore dan Malaysia, tapi nyatanya mereka tidak bisa memberikan kontribusi kepada negeri ini.

robert hartono: Setujuuuu!

klo gtu, universitas universitas jangan pernah dibuka lagi, cukup para siswa sekolah sampai jenjang SMA, sangat memuaskan bukan….!!

salam kenal tasa…
maaf kl postingan saya ini menyinggung byk pihak, ini hanya sudut pandang dari dalam struktur pemerintahan
aq pns nih (tanpa nyuap lo masuknya), dan lulusan salah satu program diploma milik pemerintah
sekarang kerja di departemen yg diasumsikan orang sbg sarang korupsi
aq setuju ama pernyataan tasa kalo univ negeri pmasok koruptor tbesar, alasannya :
1. mayoritas yg kesaring jadi pns penerimaan sarjana ya lulusan2 univ negri==>lulusan swasta yg bagus jarang jadi pns, mayoritas mikir pns gajinya terlalu kecil dan gak idealis
2. lulusan sarjana (terutama yg lokasi univnya di jkt) rata2 lebih ngerti fesyen dibanding lulusan diploma2 ato sma, jadi lebih ‘brand minded’==> godaan datengnya dr sini
3. lulusan sarjana begitu diterima jadi pns, golongannya langsung tinggi, promosinya cepat n mayoritas sebagai pengambil keputusan==>beberapa kasus, kurang kerja keras, tapi karena gol tinggi maka karir cepat melonjak.
4. pada beberapa kasus, lulusan2 ptn itu cenderung berfikir untuk mendapatkan kerja yang ‘layak’ dipandang orang==>jarang ada lulusan s2 ptn yg mau jadi guru sd ato smp, padahal pendidikan mental yg bermutu dari kecil itu penting.
sudut pandang saya bisa jadi ekstrim tuk beberapa pihak, tapi ini yg saya rasakan setelah 5 tahun jadi pns. dulu saya pernah tgoda korupsi sampe cobaan lain menyadarkan saya. ga semua pns itu koruptor. kl ada yg mau lihat lebih dalam, pns yg antikorupsi(mungkin termasuk di dalamnya lulusan ptn) itu lebih berdarah2 melawan korupsi daripada yg masyarakat tau , mereka rata2 gak pernah dipromosikan, ditempatkan di daerah yg benar2 tpencil selama berpuluh2 tahun, hidup di bawah standar anak kos ato mahasiswa. kog kedengarannya melow bgt ya…
tolong kalo ada yg berpotensi jadi pns, jangan mundur karena tulisan2 disini. saya yakin anda bisa jadi pns antikorupsi. ayo semangat, bangun pemerintahan yg bersih dari dalam. bagi yang merasa ga berpotensi jadi pns, jangan kendur juga. katakan tidak pada segala bentuk suap atau kolusi. cukup dramatis khann ??
tapi insyaAllah Tuhan Maha Adil, gak satupun koruptor yg pernah saya kenal benar2 menikmati hidup. mereka hanya budak nafsu saja. yukk kita doain mereka tobat.
maappphhh bgt ya kalo kepanjangan…

aank: Wah jangan donk.

Cheche: Salam kenal juga, nice knowing you🙂 Wah, sepertinya analisa Anda sangat dalam, sudah sangat berpengalaman yah. Hehe. Well, Anda patut bangga karena walau bekerja di sebuah departemen yang dituduh sebagai sarang koruptor tapi tidak korupsi. Mungkin bisa dibagi tips2 agar bisa menahan godaan korupsi kepada kami semua.

Sangat ironis kalau yang dikemukan itu benar, bahwa yang anti korupsi justru karirnya terhambat. Namun begitu setuju dengan Anda, bahwa hal itu bukan jadi hambatan untuk menjadi PNS sejati dan membangun bangsa.

Thanks.

Emank,korupsi diindonesia sangat begitu mengakarnya sampe-sampe rakyat juga yang kena
saya sekarang tinggal dikorea suatu ketika ada orang sini membanggakan negara indonesia,sekilas saya pikir betapa bangganya jadi orang indonesia tapi saya sangat terpukul saat dia biolang indonesia sampai kapan pun gak bakal maju kalau hasil kekayaan za dinikmati para orang atas aja orang bawah ga kebagian,pejabat2-y pada KKN & HUKUM DINDONESIA GA TEGAS.
kalau dibandingin ma negara korea walaupun penganut”kepercayaan”tapi kesadarn mereka sangat tinggi,orang buang sampah sembarang aza ditanggkep apa lagi maling duit,para aparatnya cepat tanggap lah orang masuknya za ga pake duit coba DIINDO,BUAT MASUKNYA aja harus ngejual tanah,mau ga mau udah jadi ya mikir gmn duitnya cepet balik ga jauh beda sama petinggi negara.
kalau menurut saya sih HUKUM_Y kurang tegas orang hakim agung-y aja korup,
HUKUM DIindo hanya berlaku sama maling Tapi ga belaku sama Perampok,permpok hak-HAK Rakyat
lht kehidupan kerja sama oarng korea
untuk menyelesain suatu produk mereka ga dikelolah oleh satu orang saja tapi bagi2
entah itu kulitas impor atau exspor,contohnya pembuat,mobil HYUNDAI,KIA,SAMSUNG electronik,LG electronik,dan masih banyak yang lain itu Bagian2 komponennya dibuat oleh HOME2 INDUSTRI,jadi masing2 pengusaha punya keuntungan.wah ga nyangka yHa..! beberapa merek barang ternama ternyata hanya dikelolah sama HOME INDUSTRI
MaaF mas pOsting-y kurang nymbung,xexexexexex

setau gw itu bukan salah UI nya deh. Tapi salah MEREKA yang emang mental nya KORUPTOR. Soalnya di UI gw NGGAK PERNAH DAPET tuh yang namanya MATA KULIAH yang NGAJARIN KORUPSI.

Korupsi itu emang udah menjadi kebiasaan orang2 kita yang terbuai oleh kekuasaan dan jabatannya di pemerintahan. Jadi kalo anda nyalahin univ2 negeri, gw kira ga pantes.
Thx

gw liat dinegara maju anak2 dr SD udah diajarin disekolah mengenai cara2 bermasyarat dgn diajak bermain drama, klo berbuat begini jadinya begitu, diajak berdiskusi bagaimana menyelesaikan satu masalah dgn hasil yg baik,mungkin hrs dr kecil juga dech dimulai pelajaran anti korupsi atau perbuatan lain yg enggak baik.

Logikanya sangat dangkal…bukan krn aku alumni UI,….premisnya ngga benar…menggeneralisasi suatu tindakan krn ia tamat UI…
Pertanyaanku…apakah harus masuk UI agar orang bisa jadi koruptor? Atau…setiap koruptor adalah tamatan UI? Mengapa UI yang disalahkan…?Masalahnya bukan di UI…biar ngga seolah UI..org bisa jadi koruptor…Pendidikan mulai dari Keluarga,lingkungan sekolah,masyarakat, agama dan budayanya…interaksi sosial,…dan ngga ada urusan dgn UI…kalau mau belajar logika…silahkan hubungi saya di leonardoernesto81@yahoo.com. aku akan beri les privat gratis tentang logika mayor dan logika minor serta epistemology…kuliah gratis….bayarannya anda tidak mendiskreditkan UI dgn logika murahan…
thanks,
leonardo

Logikanya sangat dangkal…bukan krn aku alumni UI,….premisnya ngga benar…menggeneralisasi suatu tindakan krn ia tamat UI…
Pertanyaanku…apakah harus masuk UI agar orang bisa jadi koruptor? Atau…setiap koruptor adalah tamatan UI? Mengapa UI yang disalahkan…?Masalahnya bukan di UI…biar ngga sekolah UIpun..org bisa jadi koruptor…Pendidikan mulai dari Keluarga,lingkungan sekolah,masyarakat, agama dan budayanya…interaksi sosial,…dan ngga ada urusan dgn UI…kalau mau belajar logika…silahkan hubungi saya di leonardoernesto81@yahoo.com. aku akan beri les privat gratis tentang logika mayor dan logika minor serta epistemology…kuliah gratis….bayarannya anda tidak mendiskreditkan UI dgn logika murahan…
thanks,
leonardo

Leonard: Oke terima kasih atas tawarannya, saya akan mempertimbangkannya. Mungkin yang lain juga tertarik?

kalo … begitu mari, mas – mas, mbak-mbak, karena kita tahu bahwa korupsi itu “salah” dan menyengsarakan tidak hanya pada orang lain, tapi kelak akan menyengsarakan diri sendiri dan keluarga. mari kita mulai untuk tidak korupsi, karena selain haram juga “disumpahi” banyak orang … yuk kita mulai saat ini … (:D

Kasian juga PTN..
Selalu di elu-elukan sebagai penghasil Koruptor..?

Saye emang bukan anak PTN.. tapi bierpun saye anak PTS, saye kureng setuju kalo PTN terus di salehkan.

PT mane siech yang pengen menghasilkan lulusan berjiwe koruptor..????
Mereka maleh prihatin, telah melahirkan dan mendidik seorang koruptor mase depan.

Sebelum menghakimi orang laen, liet dulu ape kite sendiri bersih dari koruptor.
Koruptor itu buken cume orang-orang yang mencuri uang negare loch.

Pesen saye sie, emang tadak bise di pungkiri.. banyak lulusan dr. Univ terbaik di negeri ini yang jadi koruptor. Tapi buken bearti kite berhak menghakimi Univ itu sendiri kan..?
kemungkinan dari Univ laen juga banyak.

Kalo banyak lulusan PT terbaik itu yang jadi koruptor..
Kite juga harus buktikan juge dong, kalo kite juge bise membasmi pare koruptor yang telah merugikan begare Indonesia tercinta ini.
KEY

indonesia terlalu banyak ngomong, buat ngerubah negeri ini. tapi nyatanya mereka sendiri yang ngancurin, ya salahsatunya korupsi ini mereka ngomong berantas korupsi tapi mereka sendiri tokohnya….
kesadran akan suatu kejujuran belum benar-benar ditanamkan

Mas Tasa, menurut saya mas seorang sosok yang amat sangat kritis. Pemikiran mas tajam dan innovatif mengangkat sebuah titik permasalahan yang mungkin belum terfikirkan oleh yang lain. Saya ikut urun rembug, dalam hal ini adalah masalah moral yang notabene sangat berhubungan dengan yang namanya budaya dan kebiasaan.
Untuk masa sekarang saya rasa semenjak undang2 subversif di cabut, kita bebas dalam menentukan pilihan, mengungkapkan pendapat di depan umum dan bebas dalam menentukan gaya hidup kita.
Menurut saya, moral sangat di tentukan oleh tingkat pemahaman terhadap sebuah ajaran keyakinan. Semakin paham akan semakin berhati2 dalam bertindak dan akan muncul sebuah prinsip dalam menentukan gaya hidup.
Dan, moral akan sangat sulit di kontrol dalam komunitas yang sangat besar seperti sebuah negara. Kontrol yang paling efektif adalah dari diri kita, keluarga dan semoga akan menjadi sebuah kontrol untuk masyarakat yang lebih luas lagi.
mungkin itu dulu mas, klo ada salah saya mohon maaf, karena kebodohan saya.
Maturnuwun

Waduh..kampus gw ikutan nongol logonya..kenapa di antara sekian banyak PTN di Indonesia, kampus gw yg dipilih..hehehhe..jadi enak, ga kalah top sama UI & ITB..
tapi ko rada kontradiktif ya, Tas, sama kalimat ini, “Begitu juga dengan universitas negeri lainnya, … hingga Universitas Padjajaran bangga karena telah banyak menghasilkan petinggi negara bagi Indonesia.” klo dari kalimat itu mah gw nangkep kesannya UNPAD agak terpinggirkan..hahahhhaha..

tapi bukan itu yg penting bwt gw..baca kalimat pertama tulisan ini, gw jadi inget jargon2 yg selalu digembor2kan senior gw, waktu jaman awal gw kuliah, “Selamat datang di Fakultas Hukum terbaik di Indonesia!”
well, untuk pikiran seorang MaBa saat itu, gw ngerasa bangga karena bisa masuk kampus FH (yang kata mereka) terbaik di Indonesia, sekaligus juga bingung & bertanya-tanya,”iya gitu?”

tapi bukan itu lagi yg mo gw sampaikan..
membaca tulisan Tasa, gw jadi merasa cukup malu & tersindir..gimana engga, di luar kebanggan gw bisa masuk PTN, lewat jalur SPMB, dan akhirnya alhamdulilah lulus..dw ngerasa belum bisa banyak berbuat untuk masyarakat, yang udah menanggung biaya kuliah gw selama 4 thn..
berbicara ttg koruptor yg banyak berasal dari alumni PTN, yg kepikiran oleh gw adalah, apa mereka lupa sama kata2 “Pengabdian kepada masyarakat”?! setau gw di PTN juga digembor2kan itu..dan seinget gw lagi, salah satu janji (atau ikrar yah?!apapun itulah..yg dibaca pas wisuda) alumni, ada poin yg berbicara (pada intinya) ttg pengabdian masyarakat itu..
jika makna dari pengabdian masyarakat itu bisa bener2 diresapi, dipahami & dilaksanakan..setidaknya para koruptor dan calon koruptor (amit2!) bisa menyadari kekeliruannya..

Ingat, yang membiayai anda kuliah adalah masyarakat, jadi tolong pikirkan juga nasib mereka..

*Ya Allah, terangilah selalu jalan hamba-Mu ini supaya tidak tersesat dalam kegelapan. Amien*

Setiap perguruan tinggi membuat kotak pos keluhan masyarakat tentang alumninya yang bekerja di pemerintah kepandaian utamanya adalah korupsi dan menjilat agar tetap menjadi pejabat sementara prestasi nol.
DPR dalam membuat undang-undang anti korupsi mencantumkan aturan hukum terkait dengan pendidikan jika yang korupsi itu bergelar/berpendidikan S3 (doktor) hukumannya seumur hidup di penjara, S2 (master/magister hukumannya = 15 thn penjara, S1(sarjana) = 10 thn, dst, jika yang korupsi itu profesor hukuman mati. Alangkah biadabnya disekolahin menjadi pintar kepandaiannya yang ada hanya korupsi, terutama yang sekolah dibiayai negara atau yang dikirim study keluar negeri pulang ke indonesia dan bekerja, ilmu yang diterapkan adalah jago korupsi/sangat lihai mengkorupsi uang negara, jauh dari jujur dengan berbagai cara memperalat bawahan/menekan bawahan/membentuk kelompok korupsi, pura-pura bersih dan munafik serta pura-pura jujur agar tetap bertahan membuat uang setoran/upeti keatas, siapa yang lihai korupsi dan setor akan diperhatikan.siapa yang tdk bisa setor/jujur dipinggirkan.
Sampai kapanpun korupsi di indonesia tdk akan pernah berhenti jika pejabat-pejabat yang dituntut perkara korupsi dipilih-pilih.Seharusnya salah satu ukuran untuk menempatkan sdm menjadi pejabat apakah dia jujur dan bersih dari korupsi, konduite calon pejabt dapat diliahat al informasi dari bawahan dan masyarakat. hayo mulai reformasi penetapan pejabat.

[…] teruuus.  mungkin ini salah bapak2 pemerintah saat kuliah dulu, ada artikel “jahil” di blog ini yang […]

Salam kenal..

Klo menurut saya, itu bukan masalah universitas negeri atau swasta, karena samasekali tidak ada jaminan bahwa lulusan univ.swasta akan lebih jujur dan kompeten..
Sependek pengetahuan saya juga, tidak ada perbedaan yang mencolok antara sistem pendidikan univ. negeri-swasta.

Sekadar info aja, di ugm udah pernah diadakan Sekolah Anti Korupsi. Tapi yang mengadakan bukan pihak kampus, tapi dari BEM dan salah satu dosen yang emang vokal klo masalah korupsi, Denny Indrayana yang sekarang jadi staff khusus SBY.
Saya kurang tahu klo program itu berkelanjutan/nggak, cuma pernah liat posternya aja sh..

Sori klo ad unsur2 repost, comment.nya belum dibaca semua,,
Lagian emang telat kali ya?
hehe..

Hidup itu pilihan bung, semua orang juga sudah capek menghujat koruptor.. kalau memang loe mau hidup enak.. ya berjuang.. pasti bisa.. kalo anda emang rasa pemerintah goblok.. korup.. ya coba lawan., kalau gak bisa?(dalam kenyatannya emang gak pernah bisa) ya sudah.. if u can’t beat them.. ada pilihan : join them or leave them. kalo kita join, dengan cara2 kotor yang kita semua tuduhkan itu.. kita ada 2 kesalahan.. apa itu? salah secara agama dan moral.. nah pilihan lagi kan tuh? kalo loe emang ga mau hidup kaya tapi jorok, ya hiduplah lurus.. cuma materil duniawi yang loe terima seringkali tidak banyak.. cuman kan dapat pahala? dan satu nilai plus.. hidup ente pasti tenang sob.. gak was2.. itu gue berani jamin 101%!! tuL?

gue pribadi aja.. masih mahasiswa.. jajan ngepas.. tapi jualan kecil2an.. kepaksa juga sih.. bis sekarang apa2 kuliah dah pake ketikan dan serba internet.. gak enak ama ortu.. Alhamdulillah duit skripsi gue dah beres.. trus tinggal di kos2an sederhana sebulan 300rb++.. plusplusnya hantu!! beneran.. buset deh.. cuman ya ikhlas aja.. soalnya keluarga gue gak mau main aneh2.. kami memilih hidup yang lurus2 aja lah.. gak gue pungkiri.. kadang gue suka iri liat orang tajir.. cuman ya mau dibilang apa? ini jalan yang gue dan keluarga gue pilih.. lurus2 aja.. lagipula gue takut orang kalo suudhan ama orang tajir.. ntar kebeneran yang gue suudhan-in orang tajir yang bersih?? mampus gue., makanya.. ikhlas sajalah..

kalo loe mau hujat pemerintah(baca:koruptor).. yah silakan.. semua orang sudah tau bahwa sistem kita sudah cacat(apalgi pelaksanaannya).. cuma bagi gue itu sama saja dengan buang kritik ke udara.. karena belum pernah gue liat lagi ada pemimpin2 yang benar2 berjuang jiwa dan raga tanpa pamrih buat bangsa ini semenjak jaman kemerdekaan dulu.. sekarang mah udah money-oriented.. dan daripada cape ngomongin.. mending tentuin pilihan.. dan ikhlas nerima konsekuensi pilihan loe.. gue cuma khawatir.. banyak orang yang menghujat koruptor, dll tanpa sadar sebagian besar didasarkan pada rasa iri dan dengki dan bukan murni didasarkan kepekaan sosial kita kepada sesama maupun terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa ini.. udahlah.. hidup ikhlas aja boss.. kalo kita ikhlas dalam hidup.. makan tempe bongkrek 3x sehari pun mantap.. how do i know?? pengalaman pribadi boss.. piss

btw.. kayanya respon gue rada OOT yah?? wkakakak.. sori om mod..

I read some of the posts and I think it is a great place! Be good to my quick sovereignty I have a nice joke. What did one worm say to another worm? I know a restaurant where we can eat dirt cheap!!

Mending kita punya leader model Mao Ce Tung skalian aja yg berani nyiapin 101 peti mati untuk nembak’in koruptor (well yg 1 lagi untuk dia sendiri kalo korup).Gmana? Ada gak yah leader yg berani model gini?

wah, jangan salahkan universitasnya dong!! wong kita kuliah cuman pengen belajar, cepet lulus, cepet kerja, klo emang bisa masuk negeri knp harus swasta?? nah loh..

masalahnya terkadang bukan pada orangnya, tapi sitem yag memaksa, ane punya senior yang jadi inspektorat di salah satu deprtmen pemerintah (masi polos ntu),. nyatanya mau g mau dia dipaksa mengikuti rules yang ada, serba salah, klo gak ngikuti berurusan ma pusat, mau di tinggalin ntuh kerjaan kena penalti yang mayan gede,..

so.. pesen dari dia, klo mo jadi anak baek2, jgan pernah punya niat untuk jadi PNS, mending kerja di swasta aja ato wiraswsta,.

masi ada yang berminat jdi PNS??
yok kita bubarin aja semua departemen yang ada, biar hukum rimba yang berjalan,.. sapa setuju!!!

pinter banget yang bikin blog. rame deh, definisi korupsi dalam undang-undang adalah perbuatan/tindakan baik orang atau badan hukum baik perorangan maupun bersama-sama/berjamaah yang dapat merugikan negara.kurang lebih kayak gitu deh, negara kumpulan para pejabat, jadi kalo para pejabat dan korporasi baik milik negara/swasta cuma ngambil-ngambil ya nama juga milik pejabat kalo diambil atau di salah gunakan ya sah-sah aja lah, suka suka yang punyalah,……rakyat?????….dipikirin???siapa suruh jadi rakyat Endonesia,…buruh???siapa suruh jadi buruh. PTN/PTS,PNS/PSS.siapa cepat dia dapat

mana kerja keras anda sebagai pejabat tinggi negara Indonesia tercinta…
Kalian semua telah lahir dari perut ibu yang sudah secara turun temurun mendiami tanah Bumi Pertiwi,tapi setelah besar…apa jasa kalian bagi Bumi Pertiwimu?

KORUPSI… Iya….
Lihat…para pejuang dimana kehidupan mereka telah tidak kau layakan dan telah kau turun derajatkan dibawah jembatan… Sadarlah… kaum marjinal selalu menunggu gubahan janji para pemimpin negara….

Dia ada karena kau yang mencipta

Saya dengar beberapa PT Swasta sudah membuat dan mengajarkan mata kuliah Anti Korupsi, semisal Univ Paramadya. Berarti saran penulis sudah diterima. Dan pemerintah kabarnya akan menaikkan gaji PNS menjadi layak, berarti dimasa depan akan mudah menghapus korupsi di negeri ini.

ASSALAMU ALAIKUM
ALHAMDULILLAH HIROBBIL ALAMIN
atas RAHMAT SERTA HIDAYAH RIDHO DARI ALLAH SWT.serta berbekal ILMU KEWALIAN KAROMAH,KESAKTIAN SEJATI,serta izin dari para guru/leluhur dengan melakukan tapa brata,beliau hadir untuk membantu anda yg sa’at ini dalam MASALAH HUTANG BESAR, BUTUH MODAL BESAR, INGIN MERUBAH NASIB,BANGKRUT USAHA,DI CACI MAKI,DI HINA,MENYENGSARAKAN/MENZHOLIMI ANDA ,JANGAN PUTUS ASA,INI SAATNYA ANDA BANGKIT DARI KETERPURUKAN, RENTANGKAN SAYAPMU,RAIH DUNIAMU, IMPIANMU,KEJAR CITA CITAMU,AGAR ORANG LAIN TIDAK LAGI MENGHINAMU,
BELIAU SIAP MEMBANTU ANDA DENGAN
-JUAL MUSUH
-UANG GOIB
-NIKAH JIN
-MENGGANDAKAN UANG
-UANG BALIK
-BULU PERINDU
-PENGASIHAN
-PELET HITAM
-PELET PUTIH
-SANTET MATI
-GENDAM PENAKLUK
-ANGKA/SIO JITU
hanya yg serius saja
hubungi beliau :
KH SA’ID ABDULLAH WAHID
(AHLI ILMU GO’IB)

HP: 082334608008

D/A : BATU AMPAR-GULUK GULUK –
SUMENEP
di jamin 100% sukses & berhasil , bebas agama/keyakinan
proses cepat tepat terpercaya

TERIMA KASIH WASSALAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: