Guebukanmonyet!

Karena Saya Sudah Muak

Posted on: August 10, 2007

sampah-2.jpgPasangan Fauzi Bowo-Prijanto akhirnya menang dan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur baru Jakarta. Pasangan yang didukung oleh 20 partai politik ini secara tidak mengejutkan memenangi pemilihan umum langsung pertama di DKI Jakarta. Apakah Anda yakin pasangan ini dapat merubah Jakarta menjadi kota yang lebih baik dan mampu memperbaiki semua masalah yang selama ini dihadapi oleh Jakarta?

Saya sendiri sangat disayangkan telah menjadi bagian dari orang-orang yang pesimis bahwa pasangan yang menang akan mampu melakukan terobosan-terobosan positif bagi Jakarta. Tapi tidak ada salahnya apabila saya tetap berharap dan berdoa bahwa Pilkada DKI yang diadakan pada 8 Agustus kemarin dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat Jakarta yang sudah mulai bosan dan muak dengan iklim politik di tingkat nasional dan lokal. Saya telah menjadi bagian dari masyarakat Jakarta dan Indonesia yang sudah bosan mendengar janji-janji palsu dari para pemimpin negeri ini. Ketika mereka menganjurkan masyarakat untuk hidup hemat karena kondisi negara yang sedang prihatin di saat yang bersamaan mereka tidak pernah mau turun dari mobil-mobil mewah mereka dan mencoba merasakan panas dan sesaknya udara di dalam angkot atau bus metro mini di Jakarta yang bentuknya sudah tidak karuan.

Andaikan saja para pemimpin Jakarta mau sekali-sekali merasakan susahnya menjadi orang miskin di Jakarta mungkin mereka bisa menjadi lebih manusiawi dan tidak sadis. Andaikan saja mereka bisa merasakan bagaimana keringnya tenggorokan dan laparnya perut para tukang ojek, supir angkot, atau tukang parkir mungkin mereka bisa menjadi lebih baik dan tidak rakus dalam menggerogoti uang rakyat. Kampret!

Saya sadar betul bahwa merubah suatu kota sebesar Jakarta sangat tidak mudah. Seorang pemimpin paling hebat di duniapun pasti akan mengalami kesulitan untuk merubah kota Jakarta menjadi kota yang lebih baik untuk ditinggali. Jakarta mungkin saja memiliki begitu banyak potensi yang dapat digali seperti lokasinya yang strategis, fasilitas bisnis yang cukup memadai, gemerlapnya dunia hiburan, atau pendapatan pajak yang sangat besar namun Jakarta seperti yang kita tahu juga memiliki segudang masalah yang begitu ruwet untuk dibenahi. Menurut pandangan saya ada tiga poin utama yang harus menjadi fokus utama pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru, yaitu:

  1. Kemiskinan
  2. Pendidikan
  3. Sistem Transportasi Publik

Ketiga poin diatas saya kira merupakan tiga masalah utama yang benar-benar harus dibenahi oleh para pemimpin kota Jakarta. Ketiganya bisa dibilang sama-sama penting dan saling berkaitan sehingga kita tidak bisa berpendapat bahwa misalnya masalah kemiskinan jauh lebih penting dari masalah pendidikan dan sistem transportasi umum. Karena pendidikan merupakan solusi jangka panjang paling jitu untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan sistem transportasi yang baik akan mampu meningkatkan produktivitas masyarakat Jakarta yang pada akhirnya akan memperbaiki tingkat ekonomi Jakarta secara keseluruhan.

Kemiskinansenayancity.jpg

Dalam artikel ini saya tertarik untuk menggali kemiskinan di kota Jakarta sedikit lebih dalam. Mengapa ada kemiskinan? Kemiskinan secara sederhana merupakan bentuk dari ketidakmampuan golongan tertentu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi, mereka tersisihkan dari orang-orang lain yang mampu merebut kesempatan dan menjadikan diri mereka lebih sejahtera. Ada banyak cara agar seseorang mendapat kehidupan ekonomi yang lebih baik, seperti menempuh pendidikan hingga ke tingkat tertingi dan bekerja keras membanting tulang siang dan malam. Hampir semua orang berpendidikan percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh perbaikan dalam hidupnya asalkan mereka mau berusaha, sehingga mereka percaya bahwa kaya miskinnya seseorang sepenuhnya merupakan hasil usaha dari yang bersangkutan. Lalu, apakah orang-orang miskin dapat begitu saja kita lupakan dan memberi mereka label sebagai kumpulan orang yang tidak mau berusaha? Tentu tidak.

Di dalam sebuah dunia yang berorientasikan kepada uang dan harta (kapitalisme) adalah peran pemerintah untuk menciptakan sistem ekonomi yang seimbang bagi seluruh masyarakatnya sehingga segala usaha untuk melakukan monopoli kemakmuran dapat diminimalisasikan. Kalau Anda hidup di Jakarta atau pernah berkunjung ke Jakarta Anda pasti dapat menyadari betapa tidak adilnya perekonomian ibukota, yang kaya makin kaya sementara yang miskin makin miskin dan tertindas. Golongan kaya dapat menikmati indahnya hidup ini dimana setiap akhir pekan mereka bisa selalu ke mall dan nongkrong bersama teman-teman sementara golongan yang miskin tetap saja bingung memikirkan besok mau makan apa. Anda pasti sering atau pernah melintasi jalan raya Sudirman-Thamrin dan sebagai orang Indonesia Anda mungkin bangga melihat gedung-gedung pencakar langit berdiri begitu kokoh yang menjadikan mereka sebagai simbol kesuksesan ekonomi bangsa Indonesia. Tapi pernahkah Anda menengok ke balik gedung-gedung tersebut? Di balik sebagian gedung-gedung berbeton tersebut ternyata rumah-rumah jelek dan warung-warung kecil berdiri reyot tidak bertenaga. Orang-orang yang lalu lalang sudah pasti tidak memakai dasi dan jas, tubuh mereka tidak wangi dan wajah mereka terlihat tidak segar. Mereka adalah golongan tertindas. Mereka adalah para satpam, petugas cleaning service, atau para tukang ojek. Keberadaan mereka sebenarnya sangat dibutuhkan hanya saja kita pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu.

Kondisi kehidupan di balik gedung-gedung megah di Jakarta tersebut masih tidak ada apa-apanya dibandingkan perumahan kumuh di pinggiran kali Ciliwung, kawasan tanah Abang, Kebon Melati, dan kawasan perumahan kumuh lainnya. Apabila Anda pergi kesana mungkin Anda akan kaget atau minimal pura-pura kaget melihat betapa jorok dan kumuhnya kondisi perumahan warga disana. Anda pasti bingung tujuh keliling melihat kenyataan betapa sebagian besar masyarakat Jakarta bisa hidup di dalam kondisi seperti itu. Rumah-rumah mereka begitu kecil dan hanya terbuat dari bahan bangunan seadanya mulai dari seng, kayu, atau mungkin terpal. Bau tidak sedap tercium dari berbagai sudut karena sampah berserakan dimana-mana sementara air bersih dan makanan menjadi barang mewah yang keberadaannya menjadi begitu berarti dan mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya, apa saja!

Lalu apa yang kita lakukan sebagai masyarakat Jakarta yang lebih beruntung berada di kalangan ekonomi menengah keatas? Sudah pasti, kita pura-pura tidak tahu dan pura-pura bego. Kita semua merasa sudah puas karena telah memberi zakat secara rutin ke mesjid-mesjid yang ternyata uangnya hanya digunakan untuk membuat mesjid baru atau memoles mesjid lama. Kita merasa puas karena telah secara rutin memberi uang receh kepada para pengemis di perempatan jalan padahal uang receh tersebut sebagian besar ternyata direbut oleh para koordinator gembel. Kita merasa sudah pasti akan masuk surga karena telah membantu para polantas yang hidupnya kesusahan dengan uang “damai” padahal para polantas tidak bisa menikmati uang “damai” tersebut sepenuhnya karena harus membaginya dengan para atasan. Beberapa dari kita mungkin ada yang beralasan bahwa kemiskinan di Jakarta cuma sebuah fenomena alam yang memang harus terjadi dan semua ini adalah sebuah proses keseimbangan alam. Mau tahu apa jawaban orang miskin? “Fenomena alam dari hongkong!”

Economic Fairness

Untuk mengatasi masalah kemiskinan di kota Jakarta saya memiliki sebuah solusi yang saya sebut dengan Economic Fairness atau Keadilan Ekonomi. Implementasi solusi ini mudah saja dan saya kira saya bukan orang pertama yang memiliki pemikiran seperti ini. Gagasan Economic Fairness muncul dari keprihatinan saya terhadap ketidakadilan di Jakarta yang dialami oleh kalangan miskin dan tertinggal. Masyarakat Jakarta yang bodoh dan miskin tidak diberikan kesempatan untuk bisa berkreasi dan menikmati keindahan globalisasi serta kemajuan teknologi. Pendidikan sebagai salah satu alat untuk mendongkrak kemiskinan masih belum bisa diharapkan, pemerintah DKI Jakarta sejauh ini baru bisa memberikan pendidikan gratis bagi setiap murid SD Negeri sementara untuk masuk SMP dan SMA para orang tua harus membayar ratusan ribu hingga jutaan rupiah yang dibarengi dengan sistem penerimaan murid yang memusingkan dan tentunya penuh korupsi.

Strategi Economic Fairness menurut saya paling memungkinkan ditargetkan kepada perusahaan-perusahaan besar yang berpusat di Jakarta yang selama bertahun-tahun telah memperoleh keuntungan dari berusaha di Jakarta dan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia sudah semakin banyak perusahaan besar dari dalam dan luar negeri yang berlomba-lomba melakukan strategi Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendapatkan social capital dari pasar (market). Keinginan untuk membantu masyarakat yang datang dari sebagian perusahaan besar di Jakarta seharusnya dilihat oleh Pemerintah DKI sebagai sebuah solusi untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Jakarta, dan membuat sebuah peraturan yang dapat lebih “memaksa” perusahaan-perusahaan besar untuk berkontribusi lebih banyak dan tersistem kepada masyarakat miskin di Jakarta.

Kalau selama ini perusahaan-perusahaan besar di Indonesia lebih banyak membantu masyarakat miskin dengan memberikan bantuan berupa makanan, minuman, atau perlengkapan kesehatan yang sifatnya hanya membantu mengurangi kemiskinan dalam jangka pendek atau bahkan hanya sedikit menghibur masyarakat miskin maka melalui strategi Economic Fairness ini pemerintah DKI Jakarta dapat membuat skema pengurangan kemiskinan yang sifatnya jangka panjang. Artinya, jangan berikan umpannya tapi pancingnya, jangan berikan masyarakat miskin cuma makanan dan minuman yang besok pun akan habis tapi beri mereka ilmu dan keterampilan yang mampu membuat mereka menjadi masyarakat yang mandiri yang bisa menghidupi diri sendiri. Analoginya seperti ini, kalau Anda memberi uang sepuluh juta kepada seorang gembel saya yakin uang itu tidak akan bertahan lama dan beberapa saat kemudian ia akan tetap meminta-minta di perempatan lampu merah.

Strategi Economic Fairness saya secara sederhana memiliki implementasi seperti ini: Pemerintah DKI membangun lima Sekolah Keterampilan untuk Orang Miskin (SKOM) yang masing-masing berlokasi di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Tiap sekolah memiliki fasilitas yang lengkap untuk mengajar para orang miskin sehingga mereka memiliki ketrampilan mulai dari bidang menjahit, otomotif, perkebunan dan pertanian, salon, hingga pembantu rumah tangga. Semua orang miskin bebas masuk ke sekolah-sekolah itu sesuai dengan Jakarta bagian mana mereka “berdomisili” dan mereka sama sekali tidak dipungut bayaran. Tiap orang miskin yang masuk akan mendapatkan pendidikan gratis selama tiga bulan pada bidang ilmu yang mereka harus pilih sebelumnya.

Untuk menyukseskan program Economic Fairness ini Pemerintah DKI Jakarta perlu membangun satu badan yang berfungsi sebagai penyalur tenaga-tenaga kerja siap pakai yang dihasilkan oleh tiap sekolah ketrampilan tadi. Badan khusus ini bekerja ibaratnya seperti sebuah perusahaan job hunter yang bekerjasama dengan berbagai perusahaan dari bidang industri yang beraneka ragam, dan kalau perlu badan khusus ini menjalin kerja sama dengan pemda-pemda lain yang membutuhkan tenaga kerja terampil dengan biaya murah sehingga bisa menjadi salah satu solusi Pemda DKI untuk mengurangi kepadatan populasi penduduk kedepannya.

Sumber Dana dan Sistem

Semua memang tidak ada yang gratis di dunia ini maka ide Economic Fairness saya pun sudah pasti akan membutuhkan dukungan dana yang sangat besar. Nah, disinilah peran perusahaan-perusahaan besar di Jakarta bermain. Untuk membiayai program sebesar itu Pemda DKI Jakarta dapat menciptakan undang-undang baru yang mengharuskan perusahaan-perusahaan dengan skala tertentu memotong 2,5% keuntungan bersih tahunan mereka setelah pajak untuk langsung disalurkan ke program Economic Fairness. Terdengar mudah bukan?

Melalui undang-undang atau peraturan baru ini Pemerintah DKI Jakarta dapat menyerukan kepada semua perusahaan di Jakarta untuk tidak melakukan CSR secara gencar karena pemerintah sudah menfasilitasikan kemauan mereka untuk membantu masyarakat miskin. Tapi melihat tingkat korupsi yang begitu tinggi di Indonesia sudah pasti banyak perusahaan yang pesimis kalau uang bantuan wajib mereka tidak bocor kesana-kesini.

Untuk mengatasi kebocoran dana, Pemerintah DKI Jakarta dapat melemparkan proyek SKOM kepada pihak lain yang benar-benar kompeten, sebuah strategi yang dikenal dengan istilah outsourcing di dunia bisnis. kalau perlu Pemerintah DKI Jakarta bekerja sama dengan lembaga atau perusahaan luar negeri yang sudah berpengalaman dalam mengurusi masalah kemiskinan dan pendidikan di kota-kota lain di dunia. Pemerintah DKI Jakarta juga perlu untuk menunjuk satu perusahaan auditor ternama yang akan bertugas memonitor laju keuangan supaya tetap transparan.

Tantangan

Tidak ada satu sistem yang sempurna di dunia ini, setiap sistem pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Proyek Sekolah Keterampilan untuk Orang Miskin (SKOM) pun sudah pasti memiliki kekurangan dan tantangan yang harus dihadapi oleh Pemerintah DKI Jakarta sebagai pelaksana. Salah satu tantangan terbesar yang mungkin muncul adalah peningkatan laju urbanisasi dari kota-kota lain di Indonesia ke Jakarta padahal saat ini tingkat populasi penduduk di Jakarta sudah begitu tinggi. Dengan dijalankannya proyek SKOM akan banyak orang miskin di luar Jakarta yang ingin mendapatkan pendidikan keterampilan gratis tersebut sehingga membuat Jakarta semakin padat dan tidak terkendali.

Untuk mengatasi masalah ini Pemda DKI Jakarta harus menjalin kerja sama jangka panjang dengan kota-kota di sekelilingnya dan mendorong mereka untuk melakukan program pengentasan kemiskinan yang hampir sama. Di saat yang bersamaan Pemda DKI Jakarta harus memotong atau minimal mengurangi secara drastis arus urbanisasi ke Jakarta dari daerah-daerah lain dengan berbagai cara yang kreatif.

Langkah kedua yang bisa dilakukan adalah dengan secara agresif menyalurkan lulusan-lulusan SKOM ke luar Jakarta melalui badan khusus yang sudah disebutkan di atas ke daerah-daerah lain di Indonesia, bahkan kalau perlu ke luar negeri dan menjadikan Jakarta sebagai penyalur TKI profesional terbaik di Indonesia.

Kesimpulan

Pendidikan dan kemiskinan memang saling berkaitan, kemiskinan secara jangka panjang dapat dikurangi melalui sistem pendidikan yang baik dan berkesinambungan. Economic Fairness dengan program SKOM-nya pun sebenarnya merupakan sebuah sistem pengurangan jumlah orang miskin melalui jalur pendidikan walau dengan sistem dan target yang berbeda dari biasanya, tapi ide saya melalui Economic Fairness sebenarnya lebih menekankan kepada kemampuan pemerintah untuk “memaksa” golongan kaya untuk mau membantu para orang miskin yang tidak memiliki kemampuan secara ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Pemerintah harus mampu memaksa golongan kaya memberikan sedikit harta mereka dan tidak terus menjadikan orang miskin sebagai badut yang setiap saat bisa menjadi hiburan bagi mereka untuk tertawa geli.

Melihat kondisi Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan program Economic Fairnes memang terlihat to good to be true. Anda yang membaca artikel ini mungkin akan berkata, “Lo gila yah? Mana bisa lagi menciptakan program seperti itu, ini Indonesia bung! Mana mau para pejabat ngebuat program kayak gitu, mereka gak mungkin rela jatah dari para pengusaha berkurang?” Dan Anda tidak sepenuhnya salah.

Jakarta yang saya tahu memang bukan gambaran sebuah komunitas manusia yang punya hati dan jiwa. Tapi siapa lagi yang masih bisa bermimpi kalau suatu hari nanti Jakarta bisa menjadi sebuah kota seperti Paris atau Hongkong kalau bukan kita warga Jakarta sendiri?

Ide Economic Fairness saya jelas masih sangat kasar dan tidak teruji. Saya berharap akan muncul ide-ide baru yang segar dan lebih terinci dari pemikiran generasi muda Jakarta dan Indonesia yang masih perduli dengan Ibu Pertiwi.

Saya sudah muak dengan kondisi bangsa ini. Hati ini sepertinya sudah begitu terluka dan teriris-iris. Saya iri melihat bangsa-bangsa lain bisa membangun bangsa mereka begitu hebat dengan penuh semangat. Kota-kota unggulan mereka berdiri begitu kokoh dan megah mulai dari Kuala Lumpur, Bangkok, Dubai, hingga Shanghai. Sementara bangsa Indonesia dengan Jakartanya tetap saja menjadi sekumpulan orang yang bodoh dan terbelakang. Kita terus saja sibuk bertengkar dan berselisih antar sesama. Kita terus saja sibuk merusak dan menindas. Kita benar-benar memalukan.

Sudah lupakan para pejabat negara ini yang masih memiliki pemikiran kuno dan ketinggalan jaman. Lupakan mereka yang mewarisi pola pemikiran feodal dari penjajah dan orde baru. Sebentar lagi adalah kesempatan kita generasi muda untuk memimpin negara ini. Mari siapkan mental kita supaya tidak tercemar dengan pemikiran-pemikiran lama yang penuh dengan kolusi, korupsi, dan nepotisme. Waktu kita sebentar lagi datang bung!

Apabila ada seseorang yang menanyakan mengapa Anda ingin menjadikan Indonesia dan Jakarta menjadi lebih berbudaya dan berhati nurani, jawab pertanyaan itu dengan berteriak sambil mengepalkan tangan Anda di udara, “Karena saya sudah MUAK!”

Foto diambil dari sini dan sini.

37 Responses to "Karena Saya Sudah Muak"

Tasa, ini salah satu artikel blog terbaik yang pernah saya baca di seluruh blogosfer Indonesia (and the world, for that matter). Anda sangat berbakat menulis dan saya pikir sudah saatnya Anda memaksimalkan kemampuan/talenta/ketrampilan menulis ini ke tingkat lebih tinggi. You’re a natural writer, Tasa, and I’m so proud of you as a whole package.

I thank you for your enlightening views. God bless.

Saya bukan orang Jakarta, tapi saya ikutan pesimis karena pak Kumis adalah bagian dari sistem lama. But, he had promise us for changes.. let’s see🙂

Kampret…Luar biasa tulisan lu bung, ga percuma lu jadi CEO MorePower Indonesia selama beberapa tahun dan sekarang jadi Co-Founder Komunitas Jakarta Butuh Revolusi Budaya…GW bangga sama lu, mudah2an semangat lu terus terjaga dan impianlu akan selalu jadi kenyataan…”Melihat sebuah bangsa yang menerapkan prinsip unconditional love; sebuah cinta tanpa pamrih”, Gw percaya dan yakin…InsyaAllah Sukses..Wass

-Karena Jakarta Butuh Revolusi Budaya

Jennie: Wah, terima kasih Mba Jennie. Thank you for your support, I really appreciate it:) You’ve been my inspiration and I promise I will give your advice a serious consideration. Thank you.

JiE: Yah, kita semua hanya bisa berharap dan berdoa ya semoga pemimpin Jakarta yang baru bisa merubah Jakarta menjadi kota yang lebih baik. Sudah lama masyarakat Jakarta hidup dalam penderitaan, sudah saatnya mereka mendapat haknya!

Udiot: Whaha, kampret! Salam luar biasa Bung Udiot, apa kabar Indonesia dan Bumi Pertiwi? Terus berdoa buat gue, supaya gue bisa menjadi seseorang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, bangsa, dan agama. Setiap lo sedih dan putus asa, ingat cerita sop buntut kita bro. Sukses. Kita memang luar biasa!

Tasa, why dont you write a book? A short one is fine to start. Your voice is strong and vivid. Clear and sharp. I’m proud of you. I’m here if you ever need a pat in the back.

Wow, Mba Jennie, are you serious? Do you think I can write a book? I’m sure gonna need some advice from you Mba. Thank you again for the support, if only all people were as nice as you are🙂

well,,,gw mang bkn warga jakarta,,nyerempet dikit,,aka Bekasi…gw c ga masalah yg menang syapa,,malah gw dukung Bang Yos buat jd Gubernur DKI lg,,,secara dia temen nya babe gw,,,heheheh,,,,tp kan qt haruz ngerasain suasana baru dari Jakarta,,Kalu Bang Kumis yg maju b’arti suasana lama masih berasa bgt,,,knp ga sekalian WaGUb nya Bang YOs aja,????kan tukeran tuh jadinya….
gw cm kepengen,,daerah2 yg disekitar DKI kudu diperhatiin jg,,Bekasi,Tangerang,Depok,,megapolitan yg kaya diumbar2 Bang Yos boleh bgt,,,jd warga sekitar DKI bisa ngerasain fasilitas DKI jg…

buat Gubernur&WaGub terpilih,,Selamat Yak Pak….???!!!!semoga ga cuma omong duank…

yoshhhh !!!!!
ganbatte’ne!!!!!!

??? bingung mo komen apa, baca aj deh…

tulisan yang bagus bung. Gak hanya mengeluh, tapi juga memberi solusi yang bagus buat jakarta. Saya bukan penduduk jakarta, tapi mau gak mau dan kurang lebih nasib ekonomi kita juga dipengaruhi oleh orang2 jakarta. pembangunan jakarta yang amburadul merupakan cermin pembangunan indonesia, yang mana hanya segelintir saja yang menikmati buahnya. orang lama yang terpilih ini, dan katanya berpengalaman walau memberi janji yang berbusa2, ptut dicurigai dan dimonitor terus…soalnya dia katanya hanya akan meneruskan pola pemerintahan lama yg diemban sutiyoso. artinya, warga jakarta siap2 saja akan menerima banjir, penggusuran, dll sebagaiamna pola bang yos…

tp anyway, tidak ada kata stop untuk berdoa dan berharap, semoga jakarta, dan indonesia menjadi lebih baik. mudah2an kita tidak pernah apatis akan perubahan positif sikap dan perilaku para aparat2 ini…amin

hebat……

tapi memang butuh waktu ya….
dan sepertinya kesadaran dituntut bukan hanya dari pemerintahannya tapi juga dari rakyatnya…..

seperti idenya untuk menyalurkan lulusan SKOM ke luar jakarta….apa mereka mau?

jd inget waktu model transmigrasi….banyak bgt yg nolak krn mrk sudah masuk ‘comfort zone’

jd mgkn jg…jgn lupa….’cuci otak’ utk memersiapkan masyarakat terutama kalangan bwh utk menuju pembaharuan hidup yg lebih baik….

*komennya sama dg yg di JBRB*

LitotomiInSpekulo: Wagubnya Sutiyoso? hehe, ide yang bagus. Well, mudah2an aja dech pasangan baru ini bisa menjadikan Jakarta dan kota-kota sekitarnya menjadi lebih baik dan bermartabat.

rd Limosin: Boleh-boleh, gimana bacanya?

Noertika: Terima kasih Bung Noertika. Iya, pasangan yang baru jelas wajib diawasin 24 jam! Janji memang selalu terdengar manis tapi buktinya kita lihat aja nanti. Jakarta suka gk suka memang mempengaruhi kota-kota lain di Indonesia, apalagi gosipnya 50% lebih perputaran rupiah terjadi di Jakarta.

Nila: Thanks Mba. Memang benar, sistem yang saya sarankan jelas membutuhkan persiapan yang lama, sangat tidak mudah untuk menerapkannya. Yang paling sulit adalah membangkitkan rasa percaya dari publik dan perusahaan-perusahaan yang bersangkutan. Transmigrasinya Orba sebenarnya adalah ide yang bagus untuk mengurangi tingkat populasi di pulau Jawa, kelemahannya mungkin karena orang-orang yang dikirim tidak memiliki keterampilan sehingga justru menjadi masalah bagi pemda2 lokal yang menerima mereka.

nice article bro,
According Globe Asia Magazine 7, August 2007: Fauzi Bowo Menjadi pejabat pemerintah terkaya di Indonesia nomor 5 dgn total kekayaan $4,500,000… well darimana uang itu??? apakah dr pengabdian kpd pemerintah selama 30 tahun? apa dia punya bisnis? Sutiyoso ada di peringkat 19 dgn total kekayaan $1,300,000 ehem-ehem… batuk dulu gw boz… spertinya Jakarta jadi ajang pencarian kekayaan para pejabat nech (ya Allah mudah2an saya tdk suudzon).

Coba 5% dari kekayaan 2 orang itu dialokasikan untuk merealisasikan mimpi bro tasa… hmmm nice,

@AdhiRock, just penasaran. How much wealth is “wealthy” by Indonesian standard?

Compared with GDP? Compared with what? Sorry I’m kinda obsolete with such information. Information overload.

KOOL Tas🙂 you were just being a good citizent i guess🙂 MAJU TERUS TASA! MAJU TERUS JAKARTAKU😀

AdhiRock: Halo Bung Adhi, saya justru kaget melihat data itu, kok dikit ameeet? Perasaan jadi Gubernur dan Wagub bisa kaya luar biasa, masa cuma segitu? Apa sisanya diumpetin yah?

Jennie: Mmmh, nice question Mba, I was wondering almost the same thing.

Indi: Thank you🙂 I’m trying to be, you know. How are you anyway?

Ini sebuah tantangan terbesar bagi pasangan yang menang itu… Banyak PR yang harus dikerjakan… Semoga, ada sedikit perbaikkan di 3 fokus utama menurut GueBukanMonyet.

Jangan hanya mengumbar janji,.. kami perlu fakta!!!

Selamat bekerja Pak Gub dan Wakilnya…

mmm. masuk tuh idenya. tapi bukannya udah ada dan gw juga udah pernah denger mengenai sekolah2 keterampilan yang gratis dijakarta. kalo menurut gw sih yang lebih utama penciptaan nilai2 pada masyarakatnya bagaimana menjadikan masyarakat itu merasa memiliki jakarta, dan tidak merasa asing dikotanya sendiri dan bagaimana peran pemerintah menggerakkan masyarakat untuk mengelolanya sendiri kotanya seperti yang sudah terealisasi di bogota. karna sebagus apapun infrastruktur dan selengkap apapun fasilitas tidak akan dapat mengubah kota menjadi lebih baik tanpa warga kotanya sendiri merasa terlibat mengelola, memiliki dan menikmati jakarta.

Iko: Benar sekali, mari kita tunggu janji-janji pasangan yang menang. Apakah mereka benar-benar akan melaksanakan janji mereka ketika kampanye?

Oky: Mengenai sudah adanya sekolah2 keterampilan memang sangat mungkin kalau sudah ada, tapi kalau pun ada sepertinya skala dan jangkauannya sangat terbatas. Ide Economic Fairness saya sebenarnya lebih mengedepankan akan kemampuan pemerintah untuk “memaksa” golongan kaya untuk berbagi melalui bentuk apa saja, salah satunya bisa melalui SKOM.

sip, setuju dan keren banget idenya.

Thank you dan gue harap anak-anak JBRB siap menggebrak Jakarta.

koreksi: bukan 50% perputaran uang di Jakarta. Tapi 70%!!! Imagine it!

ummbbb,
apakah ini teriakan kekecewaan atas hasil pilkada gubernur DKI yg mengecewakan..?

I guess.. yup!

Rusle: 70%, masa Bung? Bener-bener kacau yah, pantas saja daerah-daerah lain begitu bergantung terhadap perekonomian Jakarta.

Nieke: Enggak juga sich, hehe. Sedikit kecewa memang.

Pendidikan dan kemiskinan memang saling berkaitan

Sependapat dengan anda Tasha. Yg paling ditakutkan adalah kemiskinan dekat dengan kejahatan. Pendidikan dan kesehatan adalah dua hal krusial yg harus diperhatikan pemerintah. Kl tidak salah anggaran pendidikan dan kesehatan kita masih dibawah Afrika Selatan (dapat ariktel bahan diskusi dikampus), miris ya mendengarnya. Kl memang mau pastinya Indonesia bisa merubah keadaan, tp spt biasa hal ini hanya menjadi wancana saja, dan tidak ada implementasi yg berarti.

harriansyah: Kesehatan memang jadi masalah yang tidak kalah penting. Dan pendidikan memang selalu menjadi cara paling jitu mengurangi kemiskinan jangka panjang, tapi yah kita cuma hanya bisa berharap. Dengan Vietnam saja kita sudah ketinggalan, kita dibutakan oleh emas yang didapat oleh para murid kita di olimpiade sains, padahal itu hanya proyek mercu suar pemerintah saja.

Nice topik mbak,
Tapi kalo gak salah sebagian yg mbak uraikan masih sebagian dari banyaknya benang kusut yang terjadi di pemerintah DKI dan pada skala yg lebih besar pemerintah indonesia ?
Teringat pembicaraan tadi sore dengan rekan saya, siapa yg sangka sekarang harga telur 1 kg = Rp.12.000,- ? So siapa yg bisa beli dan makan telur sekarang ? kemudian apakah harga telur (barang konsumsi) yang semakin mahal yang bikin taraf hidup kita makin sulit atau dibalik karena taraf hidup kita yg makin sulit jadi gak mampu beli telur ? Apa kita juga tidak lihat, harga telur naik utk meningkatkan taraf hidup si pemilik ayam ?

cheers.

gila ni biaya hidup makin mahal aja…
tol naik, tapi masih aja macet di jalan toll..
cape de..

Eka: Fyi, saya bukan Mba2 loch. Memang topik yang sangat menarik dan benar kalau ini sepertinya bukan hanya masalah lokal Jakarta, tapi juga Indonesia secara keseluruhan. Masa harga telur sudah segitu? Apakah naiknya harga telur juga meningkatkan penghasilan peternak ayam?

Cah Sakti: Naiknya berapa dan dimana aja sich?

Hmmm …
Abiizzz deh Lo !!!

Masalah akan selalu ada selama kita hidup di dunia ini.
Pusiiing ngga sih Lo !!!
Mikirin semua harga naek. Biaya sekolah Perguruan Tinggi aja se-Langit bagi orang2 pinter nan cerdas tetapi tak berduit.
Heheheh … itulah aku !!! (ngaku deh akhirnya!). Pusing juga kalo kita ngikut mikirin Kota Jakarta yang ngga abis2 masalahnya.

Hey … Bapak Gubernur kita yang baru !!! Itulah tugas dirimu untuk mencicil menyelesaikan masalah setidaknya sedikit dari berjuta yang ada (kalo ngga dicicil kapan selesainya?). Kami hanya rakyat, yang banyak harapannya, tetapi enggan sebenarnya hati berkomentar tentang apa yang ada…
Ya itu dia, udah keburu PUSIIING !!

Dengan Rahmat, Ridho, Maghfirah, dan Pertolongan-Nya lah aku turut mendo’akan Jakarta, kota kelahiranku tercinta yang sering banjir, macet ngga keruan di mana2, rampok, copet, preman, pengemis, dan pengamen telah merajalela di mayapada Jakarta dan Indonesia. Agar senantiasa diberikan kemudahan yang semudah-mudahnya, dilancarkan yang selancar-lancarnya oleh Yang Maha Kuasa untuk menyelesaikan masalah yang di antaranya juga tarif tol, BBM alias ongkos angkot, hutang luar negeri yang belum kunjung lunas, Duh … nyebutinnya juga bingung saya !!!
Biar selesai deh semua ujian duniawi ini. Ya … paling engganya udah melakukan sesuatu yang ada manfaatnya gitu ! BUAT RAKYAT, BUAT INDONESIA JUGA.
Syukur2 bisa jadi teladan kalo udah ngelakuin yang kaya’ gitu buat Gubernur2 laennya, Amiin !!!

Inget sama Yang Maha Kaya ! Jangan merasa kaya dulu. Masih ada langit di atas langit. Oke Pak Gubernur !!!

tambah muak gara2 pembangunan koridor busway….jakarta tambah macet byar tambah naek darah deh kita2🙄

*hehehe lucu ada yang ngirain Tasa tu cewek…kalo saya udah nyangka cowok dan bener ternyata…kan namanya Tasa bukan Tasya:mrgreen:

Izmi: Apanya nih yang abis? Hehe. Iya, harga-harga di Jakarta makin hari makin gila2an yah. Kasian orang-orang miskin yang setiap harinya harus selalu bergelut dengan kejamnya ibukota, ditambah Jakarta lagi macet buangeeet.

Mari deh, kita berdoa bersama agar Jakarta bisa menjadi sebuah kota yang lebih nyaman untuk ditinggali.

Yonna: Sabar donk, kalau sudah jadi kan kita juga yang bisa menikmati manfaat busway.

Bagus Yonna buat pemberitahuannya, gue itu cowok! Whaha.

Salam damai.

macet gara2 pembangunan koridor busway udah mencapai klimaks lho, ntu ada gugatan class action warga Jakarta vs Fauzi Bowo karena berkat macet itu ngasih kerugian ampe milyaran.

warga Jakarta udah emosi semua Tas…bahkan yang jualan di deket pembangunan koridor busway menurun pendapatannya gara2 orang males lewat situ.

sabar…gigit jari…hiks

salam.
wah, tulisan yang menarik sekali dan mudah-mudahan menjadi pijakan untuk real action dilapangan. saya pikir, ide-ide maju dari tasa perlu dipublikasikan secara masal sehingga rakyat juga sadar akan kondisi bangsa ini, bahwa bangsa ini begini lho masalahnya dan inilah alternatif solusinya. dan saya pikir, tulisan ini mengarah ke sana.
tulisan ini juga selayaknya harus dijadikan cambuk bagi pemerintahan bukan saja jakarta tapi juga kota-kota lainnya untuk menjalankan kepemimpinannya yang berbasis kerakyatan. betul sekali, uang dari perusahaan-perusahaan besar di jakarta dan juga Indonesia semestinya harus dialokasikan untuk kesejahtraan publik dan mengangkat rakyat miskin dari belenggu kemiskinannya. saya setuju banget dengan ide dari tasa.
saya sendiri ada hasrat yang besar bahwa hal itu juga terjadi di Bandung, kota dimana saya dilahirkan. saya ingin memulainya dari komunitas terkecil di kampung saya. insyaAllah, setelah perpulangan saya dari tki di saudi arabia, ingin sekali saya membentuk kelompok remaja yang suka belajar, mengadopsi budaya-budaya positive untuk memajukan komunitas nya. mata rantai mental-mental ketergantungan harus disegera di potong dan diganti dengan mental mandiri. konsep “berdikari” jangan sampai menjadi slogan tapi harus benar-benar menjadi sebuah aksi nyata.
salam perubahan, salam revolusi,
ahmad. saudi arabia

wah, ga nyangka saya suka dengan cerita ini.semoga membuat semua orang akan sada diri ya!! saya dukung oke??Bruntung yaa……..

Kemiskinan?
Percuma, mereka bangga kemiskinan turun, padahal itu dikarenakan kategori orang miskin diubah.
orang miskin yg tadinya meliputi orang2 yg berpenghasilan dibawah 0,6 US dollar misalnya, diganti menjadi orang2 yg berpenghasilan dibawah 0,01 US dollar.
kalau seperti ini, siapa yang miskin?

Pendidikan?
mereka selalu pura-pura miskin dan nggak mau subsidi.
korupsi sih jalan terus.
bahkan kepala sekolahnya korupsi.
ada juga yg jualin akta kelahiran.
ckckck.

Sistem Transportasi?
cuma bisa bikin busway yg nggak efektif.
ini sih proyek “tak ada akar rotan pun jadi”.
asal ada sistem transportasi baru, asal pemerintah menunjukkan usaha sedikit, suatu masalah sudah dapat dianggap selesai.
begitu kan?

I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future.

I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: