Guebukanmonyet!

Kita Memang Tidak Tahu Malu

Posted on: July 27, 2007

forest-fire.jpgSudah saatnya kita lebih banyak berbicara tentang lingkungan hidup dan tidak terus-menerus menjadi sekumpulan orang yang bodoh dan ketinggalan jaman. Di saat para elit politik kita tetap saja sibuk, atau pura-pura sibuk, membicarakan masalah-masalah yang tidak penting negara ini diam-diam telah menjadi negara setelah Amerika dan Cina yang memberikan efek rumah kaca terbesar di dunia. Hebat bukan?

Negara Indonesia yang konon direbut oleh para pahlawan dari penjajah Barat dengan darah dan keringat ternyata sekarang adalah sebuah negara yang goblok dan rakus! Sudah, mari akui saja kita ini memang tidak tahu malu. Tidak tahu malu dengan Tuhan, negara lain, dan yang paling parah kita bahkan sudah tidak punya malu dengan diri sendiri. Kalau kata teman saya Dakka, “Dasar urat malu lo udah putus!”

Murid-murid SD di Indonesia terutama yang hidup di pulau Jawa setiap hari selalu dijejali dengan segala informasi tentang bagaimana luar biasanya kekayaan alam Indonesia, tentang bagaimana ramahnya masyarakat Indonesia, atau bagaimana Indonesia adalah negara dengan sejarah yang begitu besar yang disegani oleh negara-negara lain di dunia. Sejak kecil kita memang selalu didoktrin bahwa kita adalah orang-orang terpilih yang dikarunai Tuhan dengan sebuah negara dengan keindahan alam yang begitu memesona. Masih ingat salah satu lagu wajib kita di sekolah dasar?

Dari sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau

Sambung menyambung menjadi satu itu lah Indonesia

Indonesia tanah airku Aku berjanji padamu

Menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia

Menurut majalah Time edisi 23 Juli 2007, Indonesia mengeluarkan 3,3 miliar ton karbon dioksida setiap tahunnya yang hampir seluruhnya dihasilkan dari pengrusakan hutan. Indonesia bahkan menjadi negara kedua perusak hutan terbesar di dunia setelah Brazil. Menurut data yang dikeluarkan oleh PBB disebutkan bahwa di Indonesia 2,5 Juta hektar hutan hilang setiap tahunnya. Pohon-pohon berusia ratusan tahun dipotong dan ditumbangkan setiap harinya oleh orang-orang yang rakus dan tidak tahu malu.

Masyarakat Indonesia tidak hanya bodoh dan tidak berpendidikan tapi tampaknya kita juga sudah budek serta buta. Apakah kita tidak sadar bagaimana alam sudah marah dan muak dengan perilaku kita selama ini? Bencana alam terjadi dimana-mana mulai dari tsunami yang membunuh puluhan juta manusia, banjir besar di Jakarta yang terjadi setiap lima tahun dan menjadikan kota Jakarta sebagai salah satu ibukota negara yang paling tidak layak untuk ditinggali di dunia, atau lumpur di Sidoarjo yang belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Mau sampai kapan kita menjadi sekumpulan orang yang bodoh dan tidak tahu malu?

Negara-negara lain berlomba-lomba mencapai greatness. Negara-negara lain begitu bersemangat mensejahterakan masyarakatnya melalui pertumbuhan ekonomi, pendidikan yang baik, dan teknologi tinggi. Tapi apa yang Indonesia lakukan untuk masyarakatnya? Indonesia memberikan kebodohan kepada masyarakatnya. “Tuhan memberikan kekayaan alam yang begitu berlimpah, mari kita manfaatkan sebaik mungkin.” Sebaik mungkin? Tampaknya justru terlalu baik. Saking baiknya, alam dieksploitasi sedemikian rupa tanpa melihat dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan. Alam diperas dan dipaksa untuk memberikan kemakmuran yang sayangnya hanya ditujukan untuk segelintir orang. Kalau Amerika dan Cina adalah dua negara penghasil karbon dioksida (efek rumah kaca) terbesar di dunia minimal mereka melakukannya untuk “kebahagian” orang banyak. Amerika adalah negara adidaya dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia dimana masyarakat Amerika hidup dengan tingkat kesejahteraan di atas rata-rata seluruh masyarakat dunia lainnya. Sementara Cina seperti yang kita tahu merupakan kekuatan ekonomi baru dari Timur yang keberadaannya semakin lama semakin menakutkan negara-negara Barat. Kemana pun kita pergi kita selalu akan menemukan barang-barang “Made in China” yang membuktikan bagaimana hebatnya perekonomian Cina saat ini. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang secara mengejutkan, atau tidak mengejutkan, menjadi negara ketiga penghasil karbon dioksida terbesar di dunia? Apakah kita layak memperoleh predikat ini? Apakah masyarakat kita yang 50% lebih ternyata masih hidup di bawah garis kemiskinan layak mendapatkan ini? Dimana letak keadilan di dalam negara ini?

Kita memang tidak tahu malu.

The picture above was taken from here.

27 Responses to "Kita Memang Tidak Tahu Malu"

Tasa,

Aku ikut prihatin dengan apa yang kamu kemukakan. Betapa tidak? Kemana saja kita pergi di Indonesia kita akan temukan mayoritas orang yang ignorance terhadap linkungan. Dari mulai cara membuang sampah sampai pengrusan kan alam.

Perbuatan seperti ini agaknya sudah menjadi bagian kehidupan yang bisa diterima secara “positive” di masyarakat Indonesia. Perbuatan yang jelas tidak etis dan penuh tipu muslihat, bisa menajadi sesuatu yang dipuji.

Contohnya, seseorang yang tingal di Jakarta akan merasa bangga bila bisa buang sampah dalam jumlah besar dengan gratis (yang kalau melalui tukang sampah dikenai tambahan biaya), seperti dengan membuangnnya di kali.

Atau dalam hal lain, bila seseorang berhasil menorobos antrian. Orang tersebut akan dengan bangga menceritakan kepada orang lain beta pintarnya dia.

Atau yang lebih buruknya, mengambil sesuatu yang bukan miliknya dan orang tersebut memamerkan ke orang lain bahwa ia sangat luar bisa bisa melakukan hal itu.

Halo Mas Bevly,

Benar sekali, kita semua patut prihatin Mas. Sedih banget melihat kenyataan ini. Mayoritas masyarakat kita tidak menghargai lingkungan hidup sama sekali, mulai dari hal terkecil seperti membuang sampah sembarangan seperti yang Mas Bevly sebutkan. Dan jujur saja saya dulu bisa dibilang bagian dari masyarakat seperti itu, hehe. Bandingkan dengan negara-negara maju, orang tidak ada yang berani membuang sampah sembarangan karena takut mendapat ganjaran hukum (walau bisa dibilang tidak ada petugas yang mengawasi) dan segan serta malu dilihat orang lain. Singkat kata kesadaran mereka atas lingkungan hidup sangat tinggi.

Saya sangat setuju dengan Mas Bevly. Sungguh memalukan bahwa ada banyak orang Indonesia yang justru bangga apabila dapat melakukan tindakan-tindakan yang tidak berbudaya. Saya dulu punya beberapa teman seperti itu yang bangga apabila bisa berbuat “licik.” Tampaknya ada shared value yang negatif di antara masyarakat kita yang harus mendapat perhatian lebih dari para pemimpin bangsa ini. Kita memang butuh revolusi budaya.

Kalo memang menginingkan perubahan, putus hubungan dengan America dulu, usir semua perambah kekayaan alam kita itu, freeport, exxon mobil ‘n’ yang lainnya mereka itulah penyumbang kerusakan lingkungan terbesar di negeri ini, seberapa sih hasilnya buat kita jika dibanding dengan kerusakannya.. putus hubungan degan Amerika, cabut kuku kuku tajamnya dari negri ini! Merdeka!!

sulit memang untuk merubah keadaan yang sudah sedemikian parahnya seperti sekarang ini. karena kesadaran setiap individu itu gak mudah untuk digerakkan.

gw kadang suka ketawa dalam hati saat ada orang yang ngeliat gw memasukkan sampah bekas jajanan gw ke dalam tas kalo lagi ada di angkutan umum yang ga menyediakan tempat sampah. karena biasanya mereka memandangi saya dengan tatapan oh-please-deh-ga-usah-sok-bersih-deh!

hey, gw ga sok bersih! tapi apa susahnya sih menyimpan dulu sampah milik kamu untuk kemudian kamu buang ke tempat yang seharusnya???

dan soal karbondioksida hasil dari pembalakan liar, kata siapa yang punya ide orang luar negeri? yang punya ide untuk menggunduli pohon2 yang ada di hutan di Indonesia adalah masyarakatnyanya sendiri yang pikirannya cuman bagaimana memperkaya diri dengan memanfaatkan apa yang ada didepan mata!

Blog Walker Bush: Wah, ide yang cukup radikal. Hehe. Saya setuju bahwa Amerika Serikat melalui perusahaan-perusahaannya banyak memberikan kontribusi terhadap kerusakan lingkungan hidup yang kita alami. Tapi sepertinya langkah itu sangat sulit dilakukan dalam jangka pendek mengingat kontrak-kontrak bisnis jangka panjang yang telah diteken oleh para perusahaan dengan pemerintah Indonesia.

Kana: Setuju tuch, sudah saatnya kita semua memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga lingkungan hidup. Perilaku yang Kana lakukan sangat terhormat dan seperti itu lah perilaku anggota masyarakat yang berbudaya. Yang aneh adalah orang-orang yang main lempar dan buang sampah seenak jidat mereka! Saya pernah membaca satu artikel yang menyebutkan bahwa apabila tindakan pengrusakan hutan tidak dihentikan maka tahun 2020 Indonesia tidak akan memiliki hutan sama sekali. Mengerikan sekali bukan? Lama2 Indonesia bisa kiamat!

gw jd inget cerita tmn gw kmrn…..

tmn gw lagi ikut program MT di sebuah perusahaan finance, dan dia bercerita bahwa program Cash Express dimana kita bisa dapet pinjaman cepat hanya dengan jaminan BPKB.

Which is sebenarnya menurut peraturan Pemerintah hal seperti itu tidak boleh dilakukan oleh perusahaan yg bergerak dibidang financing dan leasing…. alias ILEGAL….

Tapi apa yg bikin gw terbahak-bahak…… bahkan untuk program MT sekalipun yg ditujukan utk menghasilkan para calon manajer, dengan entengnya si trainer berkata :

“Tapi tenang aja, bekingan kita kuat kok…..”

What would u do, buddy? It’s contagious… it’s everywhere…. Dan yg paling menyenangkan adalah ITU BENAR dan MEMBANGGAKAN…

Dapat salam dr temennya bawang…..
CABEEE DEEHHHHH….

Iya benar sekali. Sungguh disayangkan di Indonesia kita memiliki budaya seperti itu dan tampaknya sudah benar-benar menjadi budaya bersama. Semakin lama semakin menjadi suatu hal yang biasa saja. Emang bener, capeeeek dech🙂

Pemanasan Global memang perlu kita tanggapi secara serius, dengan iklim yang tidak tentu sekarang dan banyak timbul berbagai penyakit yang aneh membuat kita perlu aware dengan kondisi sekarang ini. Saya juga sempat mereview film yang berjudul inconvinient truth, film dokumenternya Al Gore di blog saya. ternyata banyak hal yang menyangkut pemanasan global dari Penggunaan Plastik, Penggunaan air,listrik sampai pembakaran sampah. Setuju banget dengan mas guebukanmonyet, kita perlu revolusi budaya buat menyelamatkan bumi pertiwi kita.

Yeny, benar banget pemanasan global sudah semakin gawat. Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekayaan hutan yang begitu berlimpah memiliki kewajiban untuk turut menyelamatkan bumi ini. Bumi ini sudah benar-benar makin memanas. Tampaknya kita perlu sosok seperti Al Gore di Indonesia. Siapa kira-kira?

Biarpun kita udah gak punya malu, kita tetap saja mengagung-agungkan kebudayaan timur kita yang salah satu cirinya adalah punya malu.
Kita memang semakin tidak punya malu, untuk merusak alam, korupsi, melanggar lalu lintas, dan begitu banyak pelangaran lain.

Benar sekali tuch, kita ngakunya cinta budaya Timur tapi semakin hari semakin tidak punya malu. Lucu banget yah. Melanggar dan merusak sudah jadi hobi, ada usulan bagaimana memperbaiki kondisi ini?

In my opinion, money makes all decision, bro.
So…if you want to change something, you have to be somebody, with enough money to ensure all your “fight-for-good” things are achievable.

To speak and to state your opinion is good, but it is so klise to criticize all the time,
do you know “your-most-hated” american companies did a contribution to indonesia development or “the-sinful” cigarette companies in fact absorbs the most employees and distribute most to indonesia custom revenue? Even Sampoerna had a charity foundation which supports scholarship and literally fix Indonesia education problems nowadays.

Like it or not, 10/90 pareto laws are taking control in here. It is not about the moslems, the christians, the jewish, the buddish, the atheis which make decision. Nor the bad guys or the good guys will do.

But it is all about the have and the have not, so you want a change in Indonesia? Be one of the 30 wealthiest people in Indonesia. And I bet the government will hear anything , literally anything you say, dude.

Just my 2 cents.

That’s a good idea bro, being rich and famous will indeed make my voice heard, just like what Al Gore has been doing. I’ll have to think more about that,🙂 But, I think changing this world can be made even from the simplest and smallest thing. Don’t you agree?

@ Christin Chr.: One way to make a difference is entrepreneurship. Judging by your site, this is what you are gonna do. And it looks great.

But I think you underestimate the power of ideas. Those who are interested in history may find that money didn’t cause the major changes of the world. Ideas, philosophies, religions, science did.

Whether or not we like it, Mao did not establish the China from which the present day giant grew, by being wealthy. He presented an (gruesome) ideology that fitted well in the circumstances.

The cultural revolution of the sixties didn’t liberate women and brought the Vietnam war to an end, because Timothy Leary or another Guru of the days, was rich. It happened because of the rather fuzzy but appealing philosophies of Herbert Marcuse or Cohn-Bendit.

On the other hand: Bill Gates being the richest man on earth, does not change the world. As a matter of fact big money usually prohibits real changes. In essence the rich are inherently conservative. Of course they are; change may threaten their wealth.

So if you want to beat Gates and become the next richest man of the world, you are a hero- but you will leave the world as bad as it was when you were born.

But if you think up some great ideas ( and knows how to market them), mankind fifty years from now may be a little happier because there was another Einstein or Mandela in our days.

@Colson:

thanks for your comment and visiting my site,
I am an entrepreneur indeed.

I am so sad you say Bill gates does not change the world, correct me if I am wrong but he will give approximately 90% of his wealthy to charity foundation or the poor when he died. Don’t be too sinister to the rich, they can get rich because they do a really hard work.

I admire Einstein or Mandela or another Guru with great ideas, but your point in change the world better is different with the context of the article. It is not about inventing new things or ending a war in Indonesia.

I am commenting as per Indonesian problems nowadays based on above article. The tax rate , fuel price and any major changes in economic in Indonesia is influenced by discussions with the wealthy people in here. Because that 10/90 laws. If the wealthiest people in Indonesia decides to invest all his fund outside, then it surely affect the economic condition in Indonesia, this is just a very small case. The government literally respect and hear what they say.

I am not trying to be a hero, nor support to leave the world as bad as it is. I just being realistic.

And thank you for the sentence “if you want to beat Gates and be the richest man of the world”, I keep that in my heart and will work really hard for that =)

@ Christin.ch: In hindsight I must agree with you: the financial elite is influential. In Indonesia and elsewhere. But usually they are part of the establishment, the vested interests. So, I am afraid change for the better can not be expected to come from these people.

Apart from that, nothing is wrong with entrepreneurship and hard work. On the contrary. RI could do with some genuine businessmen.

Although I am sure you do not need any encouragement to reach your goals, I wish you all the luck anyhow.

(By the way: as far as I know the Pareto rule is 20/80).

Christin: You might wanna teach me on how to be an entrepreneur? Hehe. I’ve been dreaming to be one myself. You got a wonderful site and a great business I suppose, cool.

Anyway, this article shows the fact that Indonesia is the third biggest carbon dioxide producer in the world, and who’s been causing this mess? Yes, you’re right, the rich people. The so-called 20% people who have the money are destroying the environmental resources while the 80% people are stuck in the poverty. When the flood comes, caused by the forest burning, it’s the poor who get the suffering while the rich can evacuate themselves to other countries.

I know, criticizing looks so easy for businessmen. Right?

@Colson :
yes, pareto actually 20/80, but in Indonesia, actually it is 10/90, 90% of the money circulation is controlled by 10% of the population.

And you right about financial elite somehow sometimes contribute to make this world even worse. So many conflicts of interests there. At the end of the day, the businessmen will seek for maximum profit they could gain.

What i want to say is blaming the rich for the bad stuff, poverty stuff, would not solve the problem. We need to give solution to the poor, the tool, so they can be financially independent. Not just giving them liquid cash (just what like Indonesia government do).

Recently I read the news about a regulation which prohibit people to give money to the beggar in order to reduce the number of beggar in Jakarta. And this actually not solving the root problems for the beggar. This regulation is still not announced officially and still have lots of pros and cons.

I was wondering why the government don’t use the beggar to clean up Jakarta, and establish a recycle factory. So that at least we can solve garbage problems, and give job/salary to reduce the beggar in Jakarta. How this kind of idea will be heard and executed? If it is came from 30 wealthiest people in Indonesia, I think.

So, yeah, I think idea will be more practical and achievable if there is enough money there. And this is nothing to do with underestimating the power of ideas =).

I wish u best luck and God bless

@Tasa:
hahaa… teaching you? Bly me, I am still nobody, I just work hard , and so many things I have to learn. I read books, and I think books are best Guru instead of experiences =). Stuff like The Secret, Cashflow Quadrant, Brand and marketing positioning, Psychologic/Managing people books like Anthony Robbins, Fish! Series, also lots of blogs like yours ;p

I love to read critics, just want to encourage that everyone should think about the solution so the critics will surely end up in positive way. Not blaming one party, but figure out the win-win solution.

Just my 2 cents, bro. Don’t take it personally😀

Christin: Yeah I’ve read some books you mentioned, indeed great ones, especially Fish! that’s really an inspiring book. I know, too much criticizing is not good, I know that🙂 Thanks for reminding though. I have a small business too right now, and yeah it’s damn hard. Best wishes.

Memang orang kita yang suka jual kayu dan menjarah hutan itu orang mana ya..Maklum dia gak ikut nanam mungkin dulu moyangnya kali yang dah gak punya kemaluan he he he

Hehe, benar-benar. Pokoknya emang gak punya malu dech. 2,5 juta hektar hutan lenyap setiap tahun!

an italian friend of mine just asked me why Indonesians love to cut trees and burn forests.. haha, I was totally speechless.. we really have to call for draconian measures against illegal logging..

ngmg2, met lebaran bro.. mohon maap kalo ada salah, haha..

Yeah, that’s a good one bro, hehe. Terima kasih buat ucapannya, mohon maaf juga kalau gue ada salah. Thanks for being a great blogging pal.

sebelumnya, maap yah kak tasa, saya cuman baca sebagian komen di atas saya soalnya komen2 berbahasa asing itu bikin perih mata saya. hehe… maklum, saya orang kampung.

EGOIS! itu yang saya piikirkan tentang orang2 sini ketika selesai dikompori artikel kakak.
bener deh, orang sini susah banget disuruh buang sampah pada tempatnya. gw bersyukur juga karena punya sekolah yang cukup baik mendidik murinya untuk buang sampah pada tempatnya. setelah beberapa kampanye pun, keliatan bahwa yang buang sampah sembarangan mulai berkurang. mungkin itu karena di lingkungan sekolah ada banyak tong sampah. entah gimana sikap mereka kalo tong sampahnya dikit… apakah nyari tong sampah dulu atao langsung nyampah di tempat.

kesadaran emang penting banget. orang2 yang gak bisa jaga TEMPAT HIDUPNYA SENDIRI jelas orang2 bego yang merasa dirinya pinter. mungkin faktor kejelekan mutu pendidikan indonesia bisa jadi kambing hitam. entahlah..

gw pun punya pengalaman dicela orang gara2 buang sampah selalu pada tempatnya. ini terjadi pas gw lagi liburan ke aceh dan medan.
tau gak sih, di aceh tuh, gw cuman bisa ketemu tong sampah di hotel tempat gw nginep yang terbilang lumayan mewah. di tempat umum, museum sekalipun, taman2, dll…. wuih! sampah bertebaran di mana2! hebatnya juga, gak ada petugas kebersihan sama sekali yang keliatan! bayangin deh, pantai2 indah, yang belum tercemar polusi dan limbah, di aceh harus diselingi dengan sampah2 di pasirnya. sampahnya bukan cuman sampah bungkus makanan dan plastik2, ada pecahan botol bir dan popok bayi!

medan masih mending. meskipun (sebagian kecil) orang masih jaga kebersihan, tapi itu cuman berlaku di kota2 besar. dalam perjalanan ke kota kecil dan di kota kecil, kebiasaan buang sampah sembarangan pun merajalela.

tentunya, gw selalu menyediakan kantong plastik untuk buang sampah di dalam mobil. berusaha mempelopori orang2 lain untuk buang sampah di sana juga penting. meskipun mereka mencela, kita jangan mau kalah. inget, kita mendukung misi penyelamatan dunia dengan membuang sampah pada tempatnya, sementara mereka mendukung kehancuran dunia dengan membuang sampah sembarangan. so, kita tuh kudu menjelaskan ke mereka betapa penting membuang sampah pada tempatnya dan betapa ketidaksadaran mereka membuat mereka tampak seperti orang bodoh tak berpendidikan.

kepanjangan gak neh…?

Sekarang adalah sebuah negara yang goblok dan rakus!, dan penduduknya yang paling goblok adalah anda sendiri… ga tahu malu, sudah menghujat, mencaci tapi masih cari makan dan berak di Indonesia… mikir dong !. Indonesia tidak membutuhkan orang-orang seperti anda yang bisanya hanya teriak-teriak tapi aksinya Nol besar !… percuma bung… lakukan dari diri sendiri baru teriak. Jangan masuk anggota NATO, No Action Talko Only.

salam.
saya pikir komentar pak toro adalah kritik. dan point dari kritik itu adalah kita harus banyak aksi.
namun demikian, saya pikir mengangkat hal sebuah isu kepermukaan itu penting juga agar manusia lain mendapat info dan perspektif sehingga akan menjadi kesadaran baru dan baik.
menanggapi saudara kristin.
uang adalah segalanya. apa betul? saya pikir ga juga sih. memang sih uang itu adalah power juga. nah yang dikhawatirkan orang yang punya power itu tidak punya semangat kemanusiaan, yang ada adalah semangat rakus..bahaya juga tuh.
they will kill manythings only for the sake of their perut and what is under perut.
thanks.
ahmad

Hi there! I know this is kind of off topic but I was wondering if you knew
where I could find a captcha plugin for my comment form?

I’m using the same blog platform as yours and I’m having problems finding one?
Thanks a lot!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: