Guebukanmonyet!

Saya Benci Emansipasi Perempuan

Posted on: March 29, 2007

Saya setuju apabila kaum perempuan di seluruh dunia atau di Indonesia meminta diperlakuan secara adil. Saya setuju apabila perempuan meminta agar para pelaku kekerasan terhadap kaum mereka ditindak tegas. Saya setuju apabila kaum perempuan meminta diberikan fasilitas pendidikan yang lebih baik. Tapi saya tidak setuju ketika para perempuan sudah melupakan kodrat mereka sebagai “perempuan.”

Seorang penulis terkenal dari Amerika keturunan India bernama Dinesh D’Souza pernah mengkritik para aktivis perempuan atau yang dikenal dengan sebutan feminis. Ia mengkritik seperti ini:

The feminist error was to embrace the value of the workplace as greater than the value of the home. Feminism has endorsed the public sphere as inherently more constitutive of women’s worth than the private sphere. Feminists have established as their criterion of success and self-worth an equal representation with men at the top of the career ladder. The consequence of this feminist scale of values is a terrible and unjust devaluation of women who work at home.

Kesalahan kaum feminis adalah menganggap bahwa nilai pada dunia kerja lebih baik dari pada nilai yang terdapat di dalam rumah (keluarga). Kaum feminim mendukung bahwa area publik sebagai kedudukan yang lebih pantas bagi kaum perempuan dari pada area pribadi. Para kaum feminis telah menciptakan, sebagai kriteria kesuksesan dan pencapaian diri, sebuah representasi sejajar dengan kaum pria di tangga atas dunia kerja. Konsekuensi dari aksi para feminis ini merupakan penilaian yang buruk dan tidak adil bagi perempuan yang bekerja di rumah.

Perempuan lupa akan kodratnya. Perempuan jaman sekarang saling berlomba-lomba untuk menunjukkan bahwa mereka dapat sama hebat atau lebih hebat dari kaum pria di dunia kerja dan berbagai aspek lainnya dalam kehidupan. Mereka lupa bagaimana awal cerita penciptaan kaum perempuan oleh Tuhan.

Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini secara seimbang. Ada hitam ada putih. Ada tinggi ada rendah. Ada orang berkulit hitam dan ada juga orang yang berkulit putih atau coklat. Begitu pula Tuhan meciptakan dua jenis manusia: perempuan dan pria. Semua itu pasti ada maksudnya.

Tuhan memang menciptakan perempuan lebih lemah secara fisik dari pria. Apabila pria diberikan karunia otot yang kuat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan keras maka perempuan dikaruniai Tuhan dengan tetesan air mata dan hati yang sensitif. Namun tampaknya perempuan tidak puas dengan pemberian Tuhan tersebut. Pemberontakan perempuan dimulai ketika mereka mulai melakukan hal-hal yang dulu hanya dilakukan oleh pria. Untuk melancarkan aksinya perempuan meledek Tuhan dengan berdandan seperti pria. Para perempuan pun mulai memakai celana panjang yang sebelumnya hanya digunakan oleh pria. Kemudian mereka memotong rambut mereka pendek untuk terlihat lebih “gahar” dan sedikit maskulin. Usaha perempuan tampaknya berhasil, hampir di setiap kebudayaan di dunia adalah hal yang normal melihat perempuan memakai celana panjang namun ketika pria memakai rok mereka akan disebut “bencong.”

Perempuan lupa akan kodrat mereka. Fitrah mereka. Mereka lupa bahwa mereka begitu indah.

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya. Saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita. Pasalnya, mereka tercipta dari tulang rusuk. Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah yang paling atas. Jika berusaha meluruskannya, engkau akan membuatnya patah. Dan jika dibiarkan, ia akan terus bengkok. Karena itu, saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita.” (Al-Bukhari)

Tulang rusuk merupakan sebuah kiasan yang digunakan oleh Rasul SAW untuk menggambarkan penciptaan perempuan. Walau ada kalangan yang mengartikan bahwa perempuan pertama yaitu Hawa dibuat dari tulang rusuk Adam namun tidak sedikit pula yang menentangnya dan beranggapan bahwa “tulang rusuk” adalah sebuah kiasan yang menggambarkan betapa “rapuhnya” seorang perempuan. Namun kerapuhan seorang perempuan itu justru menjadi kekuatan baginya. Sebagaimana fungsi tulang rusuk dalam tubuh manusia adalah melindungi organ dada maka salah satu fungsi dari seorang perempuan dalam kehidupan ini adalah untuk melindungi. Ia melindungi anak-anak, suami, dan keluarganya.

Hati seorang perempuan yang lebih sensitif dari pada hati pria juga dikiaskan melalui tulang rusuk yang merupakan tulang paling “lemah” dalam tubuh manusia. Namun sekali lagi, justru hati yang sensitif inilah yang merupakan sebuah kekuatan dari perempuan. Hati mereka yang sensitif memudahkan mereka untuk meneteskan air mata dan mengatakan, “aku minta maaf.”

Perempuanlah yang mengandung janin dan bayi selama sembilan bulan di dalam perut dan bukan pria. Perempuanlah yang berdiri tegak dan mengatakan “Tidak” ketika orang lain ingin merebut kebahagiaan anak-anak mereka dan bukan pria. Perempuanlah yang berani untuk “mengemis” sekali pun ketika suami mereka berada dalam kesusahan. Jadi siapa bilang bahwa perempuan itu lebih lemah?

Saya mendukung sepenuhnya usaha kaum perempuan yang ingin meningkatkan kualitas kehidupan mereka di segala bidang. Saya mendukung apabila kaum perempuan ingin memperoleh pendidikan setinggi mungkin dan mengejar kesuksesan dalam karir. Saya hanya ingin perempuan untuk tetap ingat bahwa mereka adalah perempuan.

65 Responses to "Saya Benci Emansipasi Perempuan"

Yaaah.. itulah kesalahan yang sering dibuat oleh kaum feminis. Mereka tidak sekedar mengejar emansipasi (=persamaan hak), tapi ingin mendominasi🙂

Tapi.. yang membuat saya khawatir adalah.. bahwa setelah begitu banyak kemajuan yang “tampaknya” dicapai wanita, ternyata mereka hanya mendapatkan kemajuan semu. Seperti kejadian dalam pemilihan Miss Indonesia ini: pada akhirnya wanita bukan dinilai dari brain & behavior tidak menyumbang sebanyak beauty & breast😉

Nice thought from you. It is true that feminists have given a false perspective of how women’s emancipation should be implemented. The movement of women’s emancipation has gone towards a condition where women are forgetting their self-given values.
A beauty contest is an example how women are perceived as commodities. It’s men who want to see women in bikinis, not women themselves. It’s true that today physical beauty and breasts are more important than inner beauty. Too bad.
Thanks for the wonderful point of view from mba Maya.

Wow, what an Ignite Article !
As a young woman, i was a little upset at first, but after i read the whole article, what i get from the writer’s purposes is to remind that the woman have they nature of caracter tobe… a WOMAN.
What’s the differences between Woman and Man, if we talk about the grouping into Sex; Female and Male, it is divided to the Biological differences which is cromosom, hormonal characteristics, internal and external sexual organs.
How about Masculine and Feminine?, it is a GENDER concept where individuals identified oneself as a Man or a Woman, or Neuter (neither masculine nor feminin) to play her/his social role in the society. The World Health Organization define “Gender” as a differences status and role between man and Woman, which formed by the society in appropriation with the value of culture. The Conclusion is when we talk about GENDER, the topics has a closed relation with the society mindset and point of view, It is a social-cultural issues.
The Feminist usually talk about the Gender Equality and shouted about the Women Emancipation as a concept that women can also be actively participate in all level of decision making, wether on Domestic and on the Public room. Gender Equality is about Women Empowerment. So it is not a Big matter if a Vocal Feminist doing her Role in the Public, only if she does not forget the supreme power that God give her, of being a Mother, a Sister, a Daughter, a Girl, or a Lover.
Perlu diingat, bahwa tidak semua kaum feminis yang Vokal dalam urusan persamaan hak wanita, telah melupakan kodratnya, contoh saja Ratu Rania dari kerajaan Jordania, sosok yang patut dijadikan idola bagi para kaum perempuan muslim, tidak hanya cerdas dan berkuasa, Queen Rania of Jordan adalah seorang yang vokal dalam memperjuangkan hak-hak pemberdayaan wanita terutama pada bidang pendidikkan wanita di negaranya dan di seluruh dunia, beliau juga seorang Ibu muda dari 3 orang anaknya, dan seorang istri yang tunduk pada suaminya. Betul sekali bahwa memang sudah kodratnya posisi laki-laki adalah lebih dari perempuan seperti yang tersirat dalam ayat:
“Laki-laki adalah pemimpin atas perempuan-perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan dengan sebab sesuatu yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka perempuan yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri dibalik belakang suaminya sebagaimana Allah telah memeliharakan atas dirinya…” (QS. An-Nissa:34)

Jika ada perempuan yang berdandan seperti laki-laki, menurut saya itu hanya merupakan proses pencarian jati diri-nya sampai mendapat apa yang diinginkan, yaitu pengakuan lingkungan tempatnya berada. Ini juga merupakan pengaruh budaya barat yang di junjung dan cenderung dijadikan kiblat oleh oleh para generasi muda perempuan. Pada akhirnya seorang perempuan jika telah mendapatkan apa yang diinginkan, naluri terdalamnya sebagai seorang wanita akan memikirkan tentang kebutuhan lain untuk mencintai, dicintai, menyayangi, berkeluarga, memiliki anak, membahagiakan dan dibahagiakan.
As the Quotes said:
“Woman was created from the ribs of a Man.
Not from his head tobe above him
Nor from his feet to be walk upon him,
But from his side to be Equal
Near to his arm to be Protected
And close to his heart to be Loved”

Saya adalah seorang perempuan muda yang sedang dalam proses pencarian identitas, saya mengerjakan rutinitas rumahan, berusaha melakukan pekerjaan saya dengan baik dan juga tidak lupa melakukan hal yang menyenangkan bersama teman-teman saya, dengan kadar keimanan yang masih mengalami proses naik dan turun sebagai seorang muslim. Hanya ingin mengajak teman2 kaum perempuan tetap berusaha dengan baik mencapai tujuan dalam hal Duniawi tanpa melupakan kodrat Khairati kita yang sesungguhnya. Tetap memegang prinsip sebagai perempuan Indonesia yang berbudaya, dan tetap mencerminkan sikap perempuan Muslim yang salehah.

Best Wish

Widya
“Something’s Stuck on My Head”

Dear Widya,

Thanks for your comment. The thing is feminists make unclear definitions to young women all around the world. Now, girls think that they have to fit those western standards to become women that this world wants. Not everything is wrong.

But women just should understand their self-given values more deeply and wisely. Their presence in this world is not to compete the men in all aspects but rather to embrace their values and try to enlight this life. But, I’m not saying that men are better and women can’t do what men do.

Of course I know that you are a woman who never forgets your traditional and religious moral values. Good for you.

Wishing you all the best,

[…] Kaum Liberal selalu berada di jajaran paling depan dalam memperjuangkan hak asasi manusia, emansipasi wanita, anti rasisme, hak aborsi bagi wanita, atau pernikahan homoseksual. Sejauh ini kalangan liberal […]

Quoted from guebukanmonyet:

… Konsekuensi dari aksi para feminis ini merupakan penilaian yang buruk dan tidak adil bagi perempuan yang bekerja di rumah.

Memang sayang sekali kalau sampai pergerakan emansipasi ini membuat ‘pekerjaan-rumah-tangga’ seakan-akan lebih rendah nilainya dibanding di tempat kerja. Padahal, memiliki ‘ibu yang bijak’ (di rumah) tidaklah ternilai harganya. Kalau mau dihargai, seperti di tempat kerja, tentunya harganya akan jauh lebih tinggi!!!

sebenernya saya si setuju banget.. klo ce yang mendominasi co..
so strange to hear and to see it
kenapa co juga ga berusaha keras, jangan sampai mau didominasi ce donk
klo ce menjadi ibu rumah tangga, kadang bosen juga si.. apalagi kalo ga ada kegiatan, dan ce itu pernah merasakan hidup bebas (alias dulu pernah kerja or kuliah)
semua itu tergantung tipe ce nya.
Hey co, buktiin dirimu sendiri😀
Eh ya, sebaiknya bagi para ce, jangan tll menginjak2 harga diri co.. hehhe
Kalo yang ce mendominasi, berilah kesempatan pada co mu biar mendominasi..
buat apa gitu lo saling berebutan.
Seperti yang dikatakan di bible, ‘Hai istri tunduklah dirimu pada suamimu’

udah ah jangan ngomongin tentang perempuan…yg penting gw kerja tapi gw gak melupakan keluarga gw dirumah..dan gw pake celana panjang bukan berarti pengen seperti laki2, yah sekedar simple aja…

Ok mba Bintang, setuju. Saya suka kok cewek bercelana panjang jeans, seksi! Hehe.

EMANSIPASI PEREMPUAN? YANG MANA?

oke! gw setuju perempuan perlu emansipasi karna gw benci jadi BABU dirumah.
oke! gw setuju perempuan butuh emansipasi karna gw benci jadi BODOH!!.
oke! gw setuju perempuan wajib emansipasi
karna gw benci jadi LAP PEL para lelaki!!.

walaupun begitu, emansipasi perempuan jangan ampe kelewatan.. mentang-mentang ibu kita kartini menang, kita lupa kalo kita “perempuan”..

malu dong ma cowok, kodrat mereka bukan menyapu, memasak, berkebun plus ngelon-in anak, tapi mereka juga MAMPU bekerja seharian cari uang buat MAKAN, the point is: MEREKA BISA MELAKUKAN PEKERJAAN YANG BUKAN MILIK MEREKA!

tapi KITA SEBAGAI PEREMPUAN!! MASA MASAK AIR GAK BISA!! ARRGGGGGGGHHHHH

seharusnya emansipasi itu, wanita yang uda bisa pekerjaan rumah, mereka juga jago di pekerjaan kantornya..

intinya:
EMANSIPASI PEREMPUAN=SUPERWOMAN
mengerti anak-anak??

Posting ini adalah bukti perlunya gerakan emansipasi perempuan. Perempuan dan laki2 adalah individu yang bisa memilih kodratnya masing2. Jadi tidak ada kodrat laki2 atau kodrat perempuan. Yang ada hanyalah individu.

Pekerjaan rumah atau mengurus anak adalah pekerjaan laki2 dan perempuan. Jika seseorang ingin mengurus rumah atau anak, maka itu karena dia memang ingin melakukan itu; bukan karena dia perempuan atau laki2.

Kecenderungan memasukkan perempuan ke dalam satu kotak (seperti mengatakan adanya kodrat perempuan) adalah suatu bentuk penindasan. Maka itu perlu gerakan emansipasi wanita.

Pemikiran yang bagus Dude. Tapi sekarang saya tanya, apakah melahirkan bisa dilakukan oleh laki-laki?🙂

Ya tentu ada konstrain fisik/biologis.

Melahirkan dilakukan oleh perempuan. Tetapi tidak ada alasan fisis/biologis bahwa perempuan harus menjadi ibu. Ibu adalah peran sosial yang dikonstruksi secara sosial. Jadi laki-laki pun bisa mengurus anak (teknologi memungkinkan laki2 bisa menyediakan susu untuk anak).

Analogi: tentu setiap manusia berbeda secara fisik/biologis: bentuk hidung, warna kulit, rambut, mata dll. Tetapi adalah perilaku seperti monyet jika kita mengatakan hanya mereka yang berambut keriting boleh menjadi dokter, dan berambut lurus menjadi pilot.

Intinya konstrain fisika/biologis tidak otomatis menjadi konstrain sosial; alias pendefinisian kodrat.

Saya setuju dan tidak setuju.

Setuju bahwa kondisi fisik perempuan tidak bisa dijadikan alasan bahwa perempuan hanya boleh melakukan “pekerjaan perempuan.” Walaupun itu juga ada batasannya. Contoh, secara fisik perempuan lebih lemah dari laki-laki sehingga tidak ada perempuan yang jadi kuli bangunan, kalau pun ada jumlahnya luar biasa sedikit. Tidak ada yang protes kan soal ini?🙂

Tidak setuju karena artikel saya sebenarnya mengedepankan potensi lahiriah perempuan sebagai “perempuan” yang dikaruniai kemampuan-kemampuan laten non fisik oleh Tuhan. Contoh, perempuan memiliki kemampuan untuk menjadi lebih sensitif dan lembut sehingga hampir semua bayi akan berhenti menangis setelah digendong dan dibelai oleh ibunya, suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh para ayah.

Saya sebenarnya mendukung gerakan emansipasi wanita tapi bukan yang berlebihan dan terlalu kebarat-baratan dimana kaum perempuan didukung untuk berkompetisi dengan para pria di semua bidang kehidupan.

Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan maksud dan tujuan, that’s why this life is so wonderful.

Thanks atas masukan dan idenya!🙂

YUP. that’s what makes us (ladies) so wonderfull.. we know, honey, we know..

nice thoughts…..I Understand what you mean, I as women very touch. During this time we always confuse with the meaning of “EMANSIPASI WANITA”

mmmm ngak ada habisnya ych klu mau ngomongin masalah ce.
di saat wanita mulai mau membenahi diri kenapa kurang ada dukungan.
wanita itu baik itu akan memeberikan dampak yang positif pada masyarakat. kalu ngak salah ada hadist nabi
” jika baik wanita maka baiklah negaranya, dan jika buruk wanita maka buruklah negaranya”

makanya wanita itu harus kuat, dan jangan sampai di remehkan
terjadinya emansipasi wanita jangan disalah artikan hal ini tuk berkompetisi dengan pria. itu menurt gw salah bangt. seharusnya ada dorongan lagi dri pria mendukung kaum wanita ke arah yang lebih baik.

mari berfikir ke arah yang lebih baik

devil’s little sista: It’s good that you know, keep up the good job!

Yenny: Yes I agree, the so-called women emancipation introduced by the Western feminists could be an insult to out culture. Well, it’s not that I agree women should just be in the kitchen all the time, but you know what I mean right?🙂

Wila: Mari berpikir ke arah yang lebih baik, setuju. Negara yang baik pasti memiliki kaum perempuan yang baik pula karena para perempuan yang baik akan menghasilkan generasi muda yang kuat dan luar biasa.

ngerti sii,, kalo wanita ga seharusnya memanfaatkan emansipasi wanita sebagai alat untuk: memperalat pria, mendahului pria, merendahkan pria, dan memakainya sebagai alasan : “Aku kan cewek!”

tapi,, dari apa yang sudah saya baca di atas,,

berarti tomboii itu dosa donx??

apa cwe ga boleh berekspresi sebebas-bebasnya?

kreatifitas dan pemberontakkan kan manusiawi,, Tuhan juga kok, yang ngasih,,

nice topic🙂

kenapa sih muncul pemberontakan dari kaum perempuan? kenapa muncul termination “woman’s liberalization atau woman’s lib”?

mereka muncul karena perempuan dianggap lebih rendah daripada laki2, bahkan mereka tidak punya persamaan hak di muka hukum (equality before the law), dianggap tidak cakap hukum untuk melakukan transaksi bisnis misalnya dan bentuk penjajahan lainnya. karena sudah ratusan tahun diperlakukan seperti itu akhirnya muncul pemberontakan kaum perempuan yang dinamai emansipasi, kaum yang membawa pembaharuan ini bereaksi cukup keras terhadap tindakan sewenang2 kaum lelaki selama ini, sehingga akhirnya mereka malah menentang dan mengingkari kodratnya sebagai perempuan.

jika saja tidak ada aksi ekstrim dari kaum lelaki dalam memperlakukan perempuan maka tidak akan muncul reaksi ekstrim dari kaum perempuan sendiri. untuk di awal kondisi, reaksi ini bisa dimaklumi. tapi lama-lama hukum dan keadilan berpihak pada perempuan, hak dan kewajiban yang mereka perjuangkan bisa terwujud. namun bagi yang kebablasan, sampai sekarang pun masih gak puas. ini masalah point of view, para kaum feminis masih memposisikan diri mereka sebagai kaum teraniaya dan tertindas padahal gak ada peraturan dan perlakuan jama sekarang ini yang membuat mereka menjadi demikian. istilah gaulnya, jadul banget loh:mrgreen:

sebenernya jika dari jaman dulu para lelaki dan perempuan sudah memperoleh ilmu pengetahuan yang baik terutama mengenai hak dan kewajiban mereka sebagai laki-laki dan perempuan tentu masalah ini tidak perlu memanjang sampai sekarang. oke lah jaman dulu sudah berlalu dan tidak usah dibahas lagi. jaman sekarang dengan canggihnya teknolgi informasi, kita bisa memperoleh ilmu mengenai hak dan kewajiban laki-perempuan dengan mudah kok?!

saya gak berniat membahas agama sekarang, tapi sebagai umat dari agama paripurna yaitu Islam yang juga mengatur hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan, sebenernya tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya dan tidak ada yang lebih rendah kedudukannya. Islam sudah menjamin hal ini dari dulu, tinggal kita nya saja mau percaya dan mau paham atau tidak.

Jika di Al Quran dikatakan bahwa laki-laki adalah qowwam perempuan, maka harap dipahami bahwa qowwam berarti pembimbing bukan pemimpin yang bisa sewenang2 menyakiti perempuan. Pembimbing yang punya tanggung jawab terhadap perempuan, melindungi perempuan, dsb. But it doesn’t mean perempuan itu lemah tak berdaya sama sekali. Justru perempuan itu sama kuatnya dengan laki-laki, mereka kuat disaat tubuh mereka lemah (seperti sedang haid, hamil, melahirkan, menyusui).

Perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya kembali lagi ke dapur, sumur, kasur. Justru perempuan wajib mendapat pendidikan karena sebagai seorang istri dan ibu kelak yang akan mengurus rumah tangga dan menjadi pendidik anak2nya, dia harus punya bekal pendidikan yang baik. Jadi pendidikan yang diperoleh seumur hidupnya bukan untuk menjadikan ia wanita karir yang lupa kodratnya tapi sebagai perempuan cerdas yang bisa mendidik anak2nya dengan baik. Ingat pameo ini: dibalik laki2 sukses terdapat istri yang sukses, dibalik anak2 yang sukses terdapat ibu yang sukses.

Kemudian, dalam Al Quran dituliskan bahwa kedudukan laki-laki perempuan adalah sama yang membedakannya adalah ketakwaannya kepada Allah SWT. See?! Laki-perempuan punya kedudukan sama, hanya Allah SWT yang berwenang menentukan kedudukan siapa yang lebih tinggi, siapa yang lebih takwa dan semua itu hanya Allah yang Maha Tahu.

Jadi kalo kita semua tahu hak dan kewajiban laki-perempuan sudah diatur dengan jelas…maka gak perlu ada penjajahan vs pemberontakan lagi, maksudnya penjajahan kaum lelaki terhadap perempuan dan pemberontakan kaum perempuan alias feminis terhadap lelaki. Jadi kita gak perlu meributkan hal yang sudah jelas diatur, dont’t sweat on a small stuff lah?!

Ivory ebony living in a perfect harmony….🙂

Ya ….
Memang perempuan tetaplah perempuan. Bagaimanapun dia, seperti apapun dia, mau bentuk tubuhnya kek, mukanya jerawatan apa mulus sekalian, tetep aja nantinya bakalan kebagian jodoh masing-masing.

Itulah yang ibu guruku pernah katakan waktu SD.
Yakinlah para perempuan, Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang. Apalagi kita adalah hambanya…

Junjungan kita aja Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi para perempuan.

Intinya……
Ya udahlah … ngga usah takut ngga dapet jodoh. Semua itu udah ada takarannya, udah ada yang ngatur.
Kalopun kita ngga dapet di dunia, psti di akherat bakalan dikasih.

Ya… banyak2 aja do’a supaya dapet jodoh untuk imam hidup yang baik.
Percaya deh … Allah akan mengabulkan do’a kita wahai perempuan. Di dunia ngga dapet, di akhirat akan dikasih yang lebih baik, Insya Allah … Amiin !!!

stella: Yah bukan begitu. Bukan ide itu yang ingin saya sampaikan melalu artikel ini. Cewek yang tomboy tidak serta merta ia melawan kodratnya. Mungkin harus dibaca lebih dalam. Salam.

Yonna: Wow, panjang dan penuh makna banget. Hehe. Setuju dengan Yonna, kita sebenarnya tidak perlu bertengkar untuk urusan yang kecil seperti perbedaan kedudukan pria dan perempuan.

Izmi: Benar sekali jodoh sudah ada yang ngatur yah. Hehe. Bener-bener. Tapi berusaha tetep dong. Thanks.

@Tasa
hehehe saya juga kaget pas abis klik submit ternyata jadi panjang gitu…kirain kasih komentar eh malah ngepost artikel juga kayanya:mrgreen:

@Izmi
well emansipasi di bidang percintaan? saya pegang prinsip konvensional. Laki-laki ngejar perempuan, perempuan tinggal say yes or no aja. karena soal kejar-kejaran gitu, kembali kepada prinsip menempatkan sesuatu pada tempatnya. Gimanapun juga gak semua hal harus disamaratakan dengan alasan emansipasi. Yang ada malah mbikin laki2 ilfeel doang:mrgreen:

Jodoh ada di tangan Tuhan? ya betul, karena ada di tanganNYA, jangan lupa minta untuk diberikan kepada kita, karena gak mungkin kita loncat-loncat ngambil jodoh yang terletak di tangan Tuhan kan?!:mrgreen: oke garing….tapi serius, berdoalah minta diantarkan seorang jodoh yang terbaik untuk kita…jika Tuhan yang mengantarkan insya Allah jalannya dipermudah.

kok jadi ngomongin jodoh sih? ya udahlah terlanjur OOT ya sekalian OOT peace😆

dear guebukanmonyet….

mungkin udah telat ya…

Gak papa wis, aku juga gak terlalu suka wanita harus beremansipasi, tapi dari komentar-komentar diatas banyak juga yang mendukungnya. Allah lebih tau apa yang kita kerjakan.

semuanya kita kembalikan kepada Allah, dan tetap menjelaskan dengan lemah lembut kepada istri dan anak-anak perempuan kita tentang “istri salehah, menjaga rumah seindah surga, menjaga ahlak sebening mata, konaah selendangnya dalam rumah tangga, sejuk hatinya tunduk pandangnya”

Kebaikan Allah tidak bisa di pas-paskan dengan apapun
Suratan Allah tidak untuk dibuat sedemikian rupa cocok
Allah yang memiliki kita pria dan wanita

Fajar: Terima kasih atas komentarnya Mas Fajar. Saya setuju dengan Anda. Saya setuju kok dengan gerakan aktivis perempuan yang menuntut persamaan hak di dunia kerja dan lainnya, artikel ini ditulis bukan untuk menentang itu. Yang perlu diingatkan kepada para perempuan modern adalah bahwa mereka itu tetaplah perempuan yang memiliki kodrat yang luar biasa yang tidka dimiliki oleh para laki-laki. Mereka memiliki kekuatan untuk membesarkan anak-anak mereka dan menjaga suami mereka. Kurang lebih seperti itu.

thanks.

Salam.
menurut saya saya sih, emansipasi itu perlu karena pengertian yang saya pahami bahwa emansipasi itu menuntut adanya persamaan atau equality.
perempuan dalam konteks emansipasi berarti perempuan punya hak untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan seluas-luasnya. dengan demikian, pendidikan tidak boleh dimonopoli oleh kaum laki-laki saja.
tapi di masyarakat, saya pernah mendengar “ah buat apa perempuan belajar tinggi-tinggi, kalau akhirnya harus ke dapur juga”. saya pikir memang pola pikir tersebut masih berkembang pada sebagian dimasyarakat indonesia. dan efeknya kurang menguntungkan karena tersimpul kecenderungan asumsi bahwa perempuan itu tidak perlu banget untuk belajar.
kekerasan terhadap perempuan juga ternyata banyak terjadi. saya tidak tahu persis apakah kekerasan ini terjadi karena anggapan bahwa perempuan itu lemah gemulai sehingga sangat mudah dirobohkan?
saya pikir, kekuatan sejati bukan terletak pada otot tapi pada kecerdasan, ketabahan, karakter dan kekuatan nalar.
dan perempuan harus diberdayakan agar kecerdasan dan kekuatan nalarnya bisa mengendalikan luapan emosinya sehingga terjadai keseimbangan sikap.
kalaulah secara biologis, perempuan itu lebih lemah dari laki-laki, tapi tidak ada alasan untuk melemahkannya.
laki-laki dan perempuan hidup saling bergantung. laki-laki tidak bisa hidup tanpa perempuan, begitu juga sebaliknya.
sekian.
ahmad. riyadh

Thanks buat Bung itsme di Riyadh, It’s always nice to read your comment. Thanks for sharing once again. Kesalahan kita para pria adalah menganggap perempuan adalah makhluk yang lemah, mereka mungkin lebih lemah secara fisik dari pria tapi ternyata mereka lebih kuat loch secara mental. Fakta membuktikan bahwa para pria memiliki rentang usia yang lebih pendek dibandingkan para perempuan, mereka lebih mudah stres dan mati duluan. Too bad for men.

@ yonna:

“para kaum feminis masih memposisikan diri mereka sebagai kaum teraniaya dan tertindas padahal gak ada peraturan dan perlakuan jama sekarang ini yang membuat mereka menjadi demikian. istilah gaulnya, jadul banget loh”

hm..kalau saja itu benar adanya..because have you ever think that they might fight for the whole women in the world, not just for them? have u ever notice that in Africa women should queue for water distribution after men? or in aceh after tsunami, women have difficulties to change cloths in barracks cause they must share one small room with men? or the fact that most of birth control used in asia are women birth control, while women has the alot more complicated reproduction system, compare to men? or hundreds of women facing dilemma between working or abandoning their children because offices can’t provide day care service?

In the US, feminism is so broad. but as i dont suggest you to mix between islam and moslem, please dont get mix between feminism value and feminist.

i am a feminist also, i fight for gender equality in any way i can, but not burning bra or support lesbianism movement. please don’t mock feminist just in general, some of them fight for human right from their heart.

Mulia: Interesting point of view. I’m 100% sure that there are lots of feminists out there who are not contaminated by American pop culture. That’s exactly the kind of feminist movement we need.

@ guebukanmoyet:

thank you for your reply. very much appreciated, and i felt a bit relieved after reading it.

if i may be honest with you, i was offended by your title from the first place. after reading it, i spent some days feeling mellow. i must face the fact that people (who are clearly educated) think negative of the feminist. I mean saying that you hate emansipasi wanita because of such examples, is the same as if i say i hate american because bush decided to invaded iraq or i hate muslims because imam samudra killed hundreds of people in the name of islam.

i honestly wish, many would be wiser than that. but the good thing is; you make me realize how such irrational act have marked the fight for gender equality with humiliation. it creates distrust and negative impression from people to the whole feminist now. Interestingly but unfortunately, some of the energy in socializing how important gender equality is, should be made to rehabilitate the image of gender equality it self.

i almost made a respond post saying how disappointed i was. but i hold my self. i think life, is a process of learning for many of us. and i am sure you too, will change all the time, becoming a better and better person. including, understanding feminism in a wiser and wiser point of view.

you are so influential-i suggest you to be conscious of that. and i do think you are a good person. and this is why i am saying this, not mocking behind or leave irresponsible comment. I hope you don’t get me wrong. I don’t judge you any further than what you wrote. I truly believe you are one of Indonesian assets that could really bring changes.

i should have send this by email privately, but sorry i dont have ur email address.

keep on learning, writing and influencing in the best way we can to be the best human being. fastabiqul khoirot, as the scholars said.

kind regards,
mulia

Thank you for your support as well as your criticism.

I appreciate your honest thought very much and I’m sure I can learn a lot from you. I’d like to remind you that some of my titles may look quite irritatin, thus I recommend all my readers to take a careful time to read every article.

The truth is, I support feminism very much. I really do. It’s just that I don’t quite support such movement heavily funded by the American pop culture. I just don’t feel right because I think our young Indonesians are losing their cultural taste more and more.

Feel free to send me e-mails at guebukanmonyet@gmail.com

I’m glad that you found my blog and give me such wonderful comments🙂

I thank you back.

@mulia
makasih ma tambahannya. pastinya, saya sebagai muslimah juga merasakan pedihnya kaum perempuan yang tertindas tsb, yang saya kritik itu feminis yang udah kelewat batas.

saya memakai Islam sebagai dasar argumen, agar pendapat saya tidak sekedar “omdo”.

pandangan negatif terhadap kaum feminis itu adalah kenyataannya, gak cuma saya aja yang memilikinya tapi juga banyak orang lain. kenapa pandangan negatif itu timbul? artikel tasa lah yang sudah menjelaskannya. kalo akhirnya jadi menggeneralisir dan menyinggung anda, saya minta maaf, toh saya memberi kritik dengan gaya mocking supaya para feminis yang saya anggep kelewat batas itu mau introspeksi sedikit dan gak lgsg marah🙂

terima kasih untuk tambahan infonya, anda tidak termasuk feminis yang saya kritik karena anda berjuang di jalur yang benar, keep the good job mas/mbak mulia🙂

[…] think it’s true. I realized after reading Saya Benci Emasipasi Wanita article in Guebukanmonyet’s blog, that the prejudice people have over feminism is partly created by the feminism movement it self […]

“Contoh, perempuan memiliki kemampuan untuk menjadi lebih sensitif dan lembut sehingga hampir semua bayi akan berhenti menangis setelah digendong dan dibelai oleh ibunya, suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh para ayah.”

Ini excerpt dari article “The Making of a Modern Dad” yg di publish di website Psychology Today:

Although testosterone may be the “primary” male sex hormone, research makes it clear that other hormones are also significant, especially during the transition into fatherhood Wynne-Edwards believes the research is “a validation of the experiences that men know they have had. It also goes a long way to bumping testosterone off its pedestal as the only hormone that is important to men.”

Parke believes that the research suggests something even more radical: “Men are much more androgynous than we think.” We have the capability to be aggressive and nurturing. The traditional view of men as predominantly aggressive really sells men short and denies their capability to experience the range of human emotions.

The research suggests that a man’s hormones may play an important role in helping him experience this full range of emotions especially in becoming a loving and devoted dad. In fact, it offers the first evidence that to nurture is part of man’s nature.

Jadi according to research, bapak2 memliki potensi besar untuk jadi nurturing seperti seorang ibu. Dimana testosterone level mereka turun, estrogen dan prolactin level naek. Tetapi kenapa kebanyakan bapak2 lebih memilih untuk jadi “distant dan unattached”? Karena faktor dorongan sosial yg menyatakan bahwa laki2 tak bisa nurturing seperti perempuan, laki2 harus keras, harus kaku, harus insensitif, dst.

Jadi kalo kita bicarakan “kodrat”,, research sudah ada yg menyatakan bahwa nurturing capabilities memang ada di dalam fisik laki2, cuma mereka tidak eksplorasi potensi ini karena berbagai macem alasan yg ada dasarnya di “kodrat yg di tentukan oleh sosial values bukan biological tendencies”.

Dan dari pengalaman pribadi, bapak dari anak aku bisa comfort si kecil pas masih bayi dan dia sangat ‘hands on’ bantuannya. apakah ini berarti dia kurang ‘jantan’? mungkin di mata masyarakat, tetapi di mata biology, dia berhasil embrace all factors that a man, and it really is not all about testosterone and aggression or insensitivity.

Very interesting ns. Who knows, men can be pregnant someday in the future. Thank you!

I hope that remark was not a mockery on my comment, but I concede that what I perceive may not be your intent, so I shall give your comment the benefit of the doubt.
I apologize for my rambling commentary, but my point in writing and posting is that we, all of us (or perhaps just ‘many’ ), fall into these pigeonholed categories of what and how we should be based on our gender.
You wrote of “kodrat” wanita, and then there’s also “kodrat” laki2, but if the research in the article is sound and that men are biologically able to be sensitive and nurturing fathers, then what does that mean for these “kodrats” we staunchly hold on to and burden others with.

Nadia: Hehe, that wasn’t a mockery at all. I sincerely apologize if you think that way.

Anyway, about your previous comment, I think it needs to be explores deeper. I guess, it’s true that more men are able to nurture their babies better and better. I support that idea. And I think that fact is really good.

But when we talk about “kodrat” we have to be more careful. “Kodrat” for me simply means a function that every person has, given by God. By this I don’t mean that I don’t support women’s rights to be equal at work and others. I’m simply pointing out the functions that every single one of us has.

Woman, for example, are the only ones who have the functions to be pregnant. Unless, modern science can somehow find out how to make men pregnant someday in the future. Such function or “kodrat” has lots of consequences that even Oprah can’t deny.

“Kodrat” shouldn’t be a burden, it should be embraced as another bless given to us by God.

Thank you🙂

@ yonna:
thank you, neng🙂

@ ns and gue bukan monyet:
you should differ between gender and sex. sex is what given-biologically. gender is what created by time, culture and values. women got pregnant, have breasts and vagina-that is sex. but women can better nurture baby and change diapers-that’s gender.

i am not sure about kodrat. it’s rather abstract beween arabic and indonesian meaning to me.

Mulia, thank you for your comment. I am not sure what “gender” is in Indonesian, but when I speak of “kodrat” and the burdening of “kodrat”, I refer to the societal standards put on us because of our gender and not the biological capabilities we have based on our sex.
Perhaps then there is a biological “kodrat” which is like you said, Tasa, that women have the biological capability to become pregnant whereas men cannot. And then there’s the societal “kodrat” like women have to be in the kitchen, men are the sole providers, men cannot be sensitive, women cannot be logical, and so forth.

These societal “kodrats” tend to impede in a person’s ability to explore and empower themselves, like men who want to be nurturing fathers but does not because he feels it won’t be masculine to do so. Or a woman who wants to be vocal but does not because “it is not her place, it is not feminine” to do so.

The constraints placed on all of us, at one time or another, because of our gender (or societal “kodrat”), are not because of God given biological tendencies, as in the example from the research showing how men, are in fact, biologically capable to be sensitive and nurturing fathers. but are held back because of societal pressures to be what others think defines a man, and his masculinity.

The example of a career woman vs stay-at-home moms, I feel, is there because again society has won over our minds and have put in us the belief that we have to be one or the other to be someone of consequence in our surroundings. When we don’t have to be, we can be both, we can be either or. That choice should be left to us, and our decision, whatever it is, should be carried out without judgement by the society we are in. Only then will we realize that being one or the other doesn’t make us any more of a woman or a better person, but it is just a choice we made, that we felt was best at that time for our family.

And this, I feel gets lost in the feminist cause, and that is why there’s so much backlash against it. I don’t know if I am a feminist or not, but what I do believe the basic premise of the feminist agenda is the equal right to have a voice, be heard, and make decisions without backlash against our person because of our gender.

intinya, kita semua yang berdiskusi di sini sepakat bahwa laki-laki dan perempuan punya hak dan kewajiban yang sama, perempuan berhak mendapat perlakuan yang setara pula tanpa melupakan atau mengabaikan kewajibannya sebagai perempuan.

saya lebih senang memakai istilah perempuan daripada wanita, karena wanita lebih terkesan merendahkan perempuan, wani dan ta singkatan dari wani = berani, ta = ditata, jadi perempuan itu maksudnya berani ditata. tapi kalo perempuan, puan adalah bahasa Melayu yang menghormati perempuan, kalo perem-nya saya gak tau artinya apa.

perempuan emang seperti tulang rusuk, makanya perempuan perlu laki2yang bisa membimbingnya dan melindunginya. laki-laki punya sifat egois, makanya mereka juga perlu perempuan yang bisa meredam sifat egois tersebut. jadi, tanpa ada penindasan dan pemberontakan, jika sama2 mengetahui kewajiban, hak masing2 tidak perlu ada friksi yang mengusung emansipasi. tentu, ini adalah harapan, mudah2an tidak ada lagi perempuan yang ditindas oleh laki2 dan sebaliknya tidak ada lagi perempuan yang kebablasan memperjuangkan emansipasi, salam.

American pop culture
.
Saya salah baca “poop culture”, LOL 😀
.
Very good article, beautifully written.
Thank you.

@Tasa
hey, elo kedatangan tamu nih…bang Harry Sufehmi mampir ke GBM. bukan sembarang tamu pastinya, elo bisa berguru ke bang Harry selain ke mbak Jennie hehe.

mengenai laki2 yang secara biologis gak bisa hamil, coba buka:

http://www.people.com/people/article/0,,20187678,00.html

Mulia: Thanks for your comment, I guess we should learn more about “kodrat.”

Nadia: Yes, I agree that there are two kinds of kodrat. The God-given one and the one that’s standardized by the society. By saying earlier that I support the God-given kodrat I don’t deny all the choices that a woman can have in her life.

Yonna: Cielah yang ahli tentang percintaan, haha. Intinya saling mengisi yah.

sufehmi: Halo Mas salam kenal🙂 Thank you.

Grace: I just saw it this afternoon while jogging at the gym. He’s a transgender right?

Sip! Setuju BGD!

hmmm..gw baru baca postingan ini, Tas..
awalnya gw iseng googling tentang emansipasi..karena temen gw ada yang nanya, gimana penulisannya yg bener..tapi, tiba-tiba gw menemukan judul yang menarik perhatian gw, lebih menarik lagi, karena ternyata sang penulis familiar buat gw.

Dengan agak kecewa sama judulnya, gw membaca. karena gw mikir, masa siy seorang GBM pikirannya cuma sebatas yg tersirat di judul. tapi ternyata kekecewaan gw terjawab. bener dugaan gw, di balik judul yg kontroversial itu, ada pemikiran2 seorang Tasa.

memang, sekarang ini kayaknya udah banyak orang (wanita) yg keliru mengartikan makna emansipasi. dengan dalih emansipasi, banyak wanita yang jadi cenderung melupakan kodratnya. sangat disayangkan!

kalo buat gw pribadi, gw akui, gw emang ga mau dianggap lemah sama laki-laki. gw selalu berusaha untuk mandiri & ga mau tergantung sama laki-laki. tapi, gw sadar banget klo gw, sebagai cewek, masih memiliki kekurangan, keterbatasan, ketidakmampuan, dsb. Dan..yang bisa melengkapinya ya..cowok..
demikian juga sebaliknya, cowok juga ada kekurangan, yang hanya bisa dilengkapi oleh cewek. karena memang sudah ditakdirkan bahwa cewek & cowok utk melengkapi.

Mungkin yang harus dicermati, baik oleh cewek maupun cowok, pada dasarnya setiap manusia perlu dihargai, demikian juga cewek. Seperti yang sudah dikatakan Tasa & beberapa yang lain, dalam agama sendiri, perempuan menempati posisi yang istimewa. jadi seharusnya para perempuan, bangga menjadi perempuan & bukan malah berusaha menjadi laki2 wanabe.

walaupun, sampai sekarang kita masih melihat beberapa tindakan pelecehan & diskriminasi terhadap perempuan, gw rasa yang masih salah adalah karena pola pikir masyarakat yang cenderung masih ke arah patrilineal. tapi bukan berarti hal itu ga bisa diubah.

sebenernya, kalau kita mau memperhatikan lagi, di masyarakat sendiri, perempuan juga punya posisi yang istimewa. contoh yang sederhana, dalam banyak hal perempuan didahulukan daripada laki-laki. istilah “ladies first” bukan untuk menganggap perempuan lemah, tapi untuk menghargai perempuan itu sendiri.

*Proud to be a lady!”

Anggie: Thanks buat komentarnya. Sangat setuju dengan pendapatnya, perempuan jelas jangan mau dianggap selalu lemah dan cengeng namun hal itu tidak menjadikan perempuan sombong dan tidak menghargai kelebihan yang mungkin dimiliki oleh pria. Semua akan menjadi indah apabila kita dapat saling mengisi kekurangan masing-masing kan.

Keren banget tulisannya. Saya aja sampe cape bacanya. Tapi tulisannya memang benar (bukan benar-benar salah). Saya kagum.

@mulia – I thought I knew the meaning of “gender”, turned out I got it wrong. Cheers.
.
By that definition, my gender seems to be female, hehe. I can handle my 4 kids *alone*, and laughing all the way through it. Changing diapers? Check. Feeding the baby? Check. Taking them to a walk to city center by bus? Check. Calming the crying babies? Check. When I feed them, each of them will be eating at least 2 plates.
And I enjoy to be with them very much. From waking them up in the morning, preparing them for school, taking them for their afternoon nap, playing with them, until I say goodnight – every single moment is great joy to me. They are the BEST friends I’ve ever had.
When I had to choose between going to work and staying at home, I would choose staying at home EVERY single time.
.
Alas, my current job decription is the breadmaker for the family. So I can only have the joy at weekends or when they’re off the school. My dream is to homeschool them all, with me working from home all day. So I can be with them all the time.
.
I know, I may sound pretty weird to you by now. I don’t believe in equality. I believe in teamwork.
.
It’s just like in an office. There’s someone for the job. In family, there’s more job than available people. So each person (husband/wife) must do several jobs each. But there must be somebody covering each and every job. And it must ensure the availability of good environment for the children to grow up.
.
As long as that’s done, I don’t really care who’s the breadmaker, who’s the housewife, who’s cooking, etc. I’ve seen men who can handle kids much better than women. I’ve seen women whose leadership put men to shame. I’ve seen men cooking delicious food. I’ve seen women bringing more money than men. Etc.
.
Ensure all the jobs are covered. Ensure there’s good collaboration between each team (family) members. Ensure that the children’s welfare is above all – our own egos be DAMN*D. The last one is especially most important and the most despicable thing can ever happen in a family. Folks, there’s no longer *me* in a family, it’s now **us**
.
A happy family will bring you true, everlasting happiness.

namun ketika pria memakai rok mereka akan disebut “bencong.”
.
Except in Scotland😀
.
And with no underwear ! **wind blows**
.
Nice knowing you too Tasa. I’ll be visiting your place from time to time.
Thank you for sharing.

@Bang Harry
“Changing diapers? Check. Feeding the baby? Check. Taking them to a walk to city center by bus? Check. Calming the crying babies? Check. When I feed them, each of them will be eating at least 2 plates.”

Btw, changing diapers? I wish my hubby did the same thing😆

Is it true that parents’ maturity depends on their children’s number? Hehe, curhat colongan…..lanjut.

Menurut teman gue wanita itu lebih gampang masuk surga dibanding pria, cukup jalankan 4 hal aja,
1. Shalat Wajib 5 waktu
2. Puasa Ramadhan
3. Menjaga kehormatan
4. Menghargai suami
hanya 4 loh syaratnya….mudahkan…coba bayangkan dengan pria selain wajib menjalankan rukun islam pria juga bertanggung jawab terhadap Ibu, Isteri, Adik dan Anak

hahaha tapi itu semua hadiah yang sesuai dari Allah mengingat perempuan mempunyai peran yang penting dalam kehidupan ini. Oleh karena itu Nabi berpesan sayangi Ibumu, Ibumu, Ibumu kemudian Bapakmu

haha…emansipasi n feminisme itu basiii…

Gak usah memusingkan istilah2 aneh itu…siapapun elo (cewek ato cowok) yg penting lakukan yg terbaik, buat diri sendiri, keluarga, n orang laen…n hargai semua orang, baik itu cowok maupun cewek..

n buat para cewek kl gak mau dilecehkan sm cowok, tunjukkin kl lo bisa…apapun bidang dan jalan yg lo pilih, lakukan aja dengan sebaik mungkin…

just a few comment from me
*cewek yang benci disebut feminis*

[…] Comment on Saya Benci Emansipasi Perempuan by h5h […]

setuju banget.

wanita diciptakan berbeda dengan pria, maka biarkanlah mereka berbeda.

mari kita kampanyekan pentingnya laki-laki dan perempuan saling melengkapi(bukan berdiri sendiri-sendiri dan menjadi yang terbaik dalam segalanya) dalam kehidupan!

-_-
Ga penting bgt siy……

yap!subhanalLah, ana sepakat……

Tulisan ini enak dibaca dan perlu ! Tulisan ini juga mengingatkan kita tentang posisi, hak dan kewajiban.

femins adalah gerakan yang bodoh dan bahlul.

aku tidak perlu baca teks ini sebab aku sudah lama membenci feminis……..

hak saksama? male hating, male bashing….

aku benci feminism…..dan ia adalah sebuah gerakan anti lelaki.

laki-laki dan perempuan sudah punya tugas masing-masing.ibarat perusahaan/negara jika tugas masing-masing tidak dilakukan dengan baik dan merebut tugas yang bukan tugasnya, apa jadinya???kebanyakan penggerak emansipasi perempuan adalah yang gagal dalam berumah tangga.dan mengajak perempuan lain untuk menirunya.hati2 yaaaa!!!!!

thanks very good.

laki-laki dan perempuan sudah punya tugas masing-masing.ibarat perusahaan/negara jika tugas masing-masing tidak dilakukan dengan baik dan merebut tugas yang bukan tugasnya, apa jadinya???kebanyakan penggerak emansipasi perempuan adalah yang gagal dalam berumah tangga.dan mengajak perempuan lain untuk menirunya.hati2 yaaaa!!!!!

emins adalah gerakan yang bodoh dan bahlul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: