Guebukanmonyet!

Mari Kita Sombong

Posted on: March 23, 2007

Dasar Sombong!

Anak Lt.9 bilang, “Dan buat lu tas, lu bilang I love you all. ati2 deh kalo bilang gitu. ntar ada yg cemburu lo. dan satu hal tentang lu, jangan sombong deh jadi orang. baru komentar gini doank udah tinggi. katanya terbuka untuk masukan apapun. gini nih niners!

Kata kuncinya adalah sombong.

Setelah saya mendapat kritikan tersebut saya tertarik untuk membuat artikel tentang “sombong.” Mari kita telaah mengapa ada orang yang disebut sombong. Apa sich arti kata sombong? Kalau menurut saya sombong itu berarti menonjolkan diri sendiri di dalam sebuah kalangan masyarakat sosial. Saya tertarik untuk membahas topik ini karena sudah cukup lama saya memiliki sebuah teori yang menantang budaya bangsa Indonesia. Jaya Suprana pernah berujar bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang sukanya sinis dan bukan bangsa pencipta. Benar begitu? Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang dengan pengalaman dan ceritanya masing-masing. Namun saya sendiri cukup setuju dengan kritikan Jaya Suprana terhadap bangsa Indonesia tersebut.

Lalu apakah salah dengan menonjolkan diri sendiri?

Buat kamu-kamu yang masih aktif di kampus kamu mungkin pernah berada dalam posisi seperti ini:

Aku sedang mengikuti pelajaran yang aku sukai. Pelajaran yang sedang aku ambil bener-bener pelajaran favoritku, pemasaran gitu loch! Aku sadar banget kalo pemasaran adalah pelajaran yang paling aku kuasai, semua teori pemasaran yang ada di bukunya Om Kotler aku bener-bener udah ngelotok mampus. Udah gitu dapet dosen yang yahud pula lagi, Ibu Ayu! “Giling, mantep banget,” ujarku.

Jam saat ini menunjukkan waktu 12.45, masih lima belas menit lagi untuk istirahat dan bergosip ria. “Yach udah jam segini aja, padahal lagi seru-serunya. Kalo perlu ampe jam dua juga kagak ape-ape,” kataku lagi. Bunga yang duduk di sampingku langsung menghardik, “Enak aja lu May! Pala gue udah mumet nich. Lo enak doyan pemasaran. Sial lo!” Aku Cuma bisa membalas ucapan Bunga dengan nyengir.

Tiba-tiba bu Ayu bertanya, “Coba ada yang bisa ngasi contoh nyata dari topik yang baru kita bicarakan?” Kelas tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Semua diam seribu bahasa. Ada yang pura-pura membuka buku, pura-pura cari ide, dan ada juga hanya hanya manggut-manggut sok mikir. “Wah, gue bisa nich,” sahutku pelan. “Yaudah tar, gue yang jawab dech.”

“Eh, jangan!” jawab Bunga kepadaku. “Kenapa emang?” “Kan tadi lo udah jawab sekali, masa lo mau jawab lagi? Ntar dimusuhin anak sekelas loch. Ntar dibilang sombong mentang-mentang anak KU!”

Karakter dan cerita di atas adalah fiktif.

Nah, disitulah salahnya masyarakat Indonesia yang hanya memiliki satu kata untuk mengartikan sebuah kegiatan dimana seseorang menonjolkan diri sendiri, yaitu sombong. Namun teori saya adalah seperti ini:

Menonjolkan diri (kemampuan diri) di antara sesama pada media yang tepat adalah PERCAYA DIRI. Menonjolkan diri (kemampuan diri) di antara sesama pada media yang tidak tepat adalah SOMBONG.

Media yang Tepat

Perbedaannya terletak pada media yang kita miliki. Media yang tidak tepat akan menghasilkan kesombongan dan media yang tepat dapat menjadi sebuah tempat untuk menyalurkan rasa percaya diri kita terhadap sesuatu yang bisa kita lakukan.

Seperti cerita di atas, apakah karakter dalam cerita tersebut memiliki sebuah media yang tepat untuk mengeluarkan pendapatnya? Apakah sebuah kelas dalam kampus adalah media yang sesuai untuk mengeluarkan kemampuan akademisnya? Tentu saja! Kalau Anda menjawab tidak lalu dimana lagi Ia bisa melakukannya? Perbedaan antara menjadi seorang yang sombong dan seorang yang percaya diri terkadang memang sangat tipis. Saking tipisnya sering kali hanya orang yang bersangkutan yang benar-benar bisa memutuskan apakah Ia sedang menjadi orang yang sombong atau orang yang percaya diri. Karena seorang yang sombong pun sebenarnya adalah orang yang percaya diri, hanya saja orang yang sombong sering kali berpura-pura percaya diri untuk memperoleh perhatian.

Tapi kamu mesti hati-hati apabila kamu merasa sedang berada dalam media yang tepat, ingat tips berikut ini:

  1. Jangan berlebihan dalam mengeluarkan kepercayaan diri kamu itu. Seperti yang telah saya katakan, perbedaan antara kesombongan dan percaya diri terkadang begitu tipis. Kamu harus hati-hati agar tindakan kamu tidak membuat orang lain mencibir sinis. Kamu harus tahu kapan mulai dan kapan juga berhenti. Karena seperti salah satu prinsip di hidup ini: Segala sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik.
  2. Pahami budaya (shared values) apa yang dimiliki oleh lingkungan sosial yang sedang kamu hadapi. Budaya memainkan peranan yang sangat penting dalam men-judge kepribadian seseorang. Bisa saja kamu dijuluki orang yang sombong atau belagu di lingkungan kampus Trisakti tapi begitu kamu berkunjung ke Untar (sekedar contoh) kamu dianggap pribadi yang pintar dan menyenangkan karena kamu mengetahui banyak hal. Karena budaya lah yang menentukan apakah suatu kondisi di dalam lingkungan sosial adalah media yang tepat atau tidak.
  3. Faktor-faktor lainnya yang mungkin terjadi untuk situasi dan kondisi tertentu.

Namun bukan berarti karena budaya di lingkungan sekitar kamu yang begitu kolot dalam menerima ide-ide baru lalu kamu menjadi ragu-ragu dalam bersikap dan mengekspresikan diri. Kalau kamu berlaku seperti itu maka kamu akan menjadi orang yang merugi. Coba kamu bayangkan, kalau saja Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak mencalonkan diri menjadi capres pada tahun 2004 karena takut dibilang “sombong” maka sudah pasti sekarang dia bukan presiden RI. Kalau kamu terlalu takut untuk dibilang “sombong” saya jamin kamu tidak akan pernah bisa jadi orang yang BESAR.

Salah satu contoh yang bagus adalah presiden Amerika Serikat saat ini, George W. Bush. Terlepas dari keputusannya dalam memerangi terorisme yang membuat begitu banyak orang di dunia membencinya, George W. Bush merupakan satu contoh pemimpin yang tidak takut dibilang “sombong.” Pemimpin seperti itulah yang diinginkan oleh lebih dari 150 juta penduduk Amerika Serikat, setidaknya hingga tahun 2004. Seorang pemimpin yang yakin akan kemampuannya, seorang pemimpin yang konsisten, dan yang pasti seorang pemimpin yang PERCAYA DIRI (tidak goyah walau banyak orang mencibirnya). Coba kamu perhatikan gaya Bush di TV ketika Ia memberikan keterangan kepada publik tentang perang di Irak. Dengarkan nada bicaranya. Lihat dengan seksama gerak tubuhnya: bagaimana Ia menggerakan kedua tangannya, bagaimana Ia berdiri diatas podium, atau bagaimana kedua matanya memandang ke depan dengan tajam! Ia tahu yang Ia mau (karena Ia tahu medianya tepat).

Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin hebat dunia lainnya seperti Ahmadinejad, Nancy Pelosi, Bill Clinton, Mahathir Mohammad, atau SBY. Orang-orang hebat di dunia tahu dan benar-benar meresapi perkataan ini: “Great Life doesn’t require a mediocrity*” Oleh karenanya mereka selalu berlomba-lomba untuk menjadi yang paling percaya diri ketika mereka dihadapkan dengan media yang tepat.

Bagaimana dengan kamu semua?

Ketika saya mulai meneteskan air mata, saya akan mengingat ejekan teman saya di SMP dulu, “Dasar gendut lo!”

Ketika saya mulai letih dan malas, saya akan mengingat sindiran dosen pemasaran saya dulu, “Ach, kamu mah gak tau apa-apa!”
Ketika kedua mata saya terasa perih dan kedua kaki terasa pegal, saya akan mengingat bentakan Magdalena Wenas, “Lo kira lo siapa?!” Dan mungkin ketika hati saya terasa sakit dan jiwa ini mulai lelah, saya akan mengingat perkataan Anak lt.9, “Jangan sombong dech jadi orang!”

Nama saya adalah Tasa Nugraza Barley. Silahkan siapa saja mengatakan saya sombong atau 1001 nama lainnya. Mungkin saya memang sombong, mungkin saya memang cuma menang putih. Tapi yang pasti saya memang bukan seorang yang biasa-biasa saja. Saya LUAR BIASA!

*Mediocrity: Seseorang yang memiliki pemikiran yang biasa-biasa saja.

15 Responses to "Mari Kita Sombong"

Hi,
thx for visiting my blog.

I got your blog URL from “Indonesia matters”.
And your postings on SBY and Ummat Islam Bodoh attracted me.

My blog’s not about Indonesia. But you can still put up a link if you want. thx.

Pemikiran yang menarik. Beberapa diantaranya gua sangat setuju bahwa bangsa ini perlu lebih “sombong” dengan diimbangi pembangunan kapasitasnya.

BTW, dalam konteks apaan loe dibentak Magdalena Wenas? Huehuehehe, jadi penasaran gua…

Bravo buat situsnya!

-Michael.

Thanks Bung Michael atas komentarnya. Memang terkadang “sombong” diperlukan asal tidak berlebihan. Kita tidak boleh jadi bangsa yang “pemalu” terus menerus.

Dibentak ama Magdalena Wenas? whaha. Kita membicarakan orang yang sama bukan? kan bisa aja orang berbeda dengan nama yang sama. Kalau pengalaman gue itu terjadi dalam konteks hubungan kerja. Mungkin aja emang salah gue, tapi yang pasti pengalaman itu memberikan gue semangat untuk bisa membuktikan kalau gue bisa lebih baik. Tapi buseet, bentakannya maut jo. hehe.

Thanks for the support for this site.

bicara soal sombong konteksnya luas juga ya.. aku coba telaah dari sisi fisik seseorang aja dech!

Jujur aku dulu termasuk salah satu kandidat cowok ter-Cool ato mungkin ter-sombong di kampus! banyak yg bilang aku angkuh, dingin, sok jual mahal, sok kegantengan dah pokonya ga ada bgusnya lah..sempet membebani sih, ga mau banget diCap anak sombong! sempet kepikir bwt berubah! tp bingung jadi apa?
akhirnya ktemu jawaban bhw smua yg kasi ak komentar di atas tuh org2 yg ga kenal ma aku, ya wajarlah! aku tau orangnya aja enggak!
tp diantara org2 yg kenal aku ga ada mslah apa2, ga ada yg bil ak sombong, meski kadang2 agak moody sih.. epreithing paen-paen aja!

jadi aku ga perlu berubah jadi orang yang sok friendly kan? tar malah dibilang sok kenal, sok tebar pesona! repotkan..

RUUAARR BIASA!!!!

Tasa, I really like this posting of yours. In Indonesia, I am known as a motivator, whose passionate way of sharing ideas is oftentimes considered “sombong.”

I have a definition of “sombong.” An arrogant/snobbish person doesn’t know how to balance between mind and heart, while a confident person has both elements in equal proportions.

I’ve wrote a posting about this in my English/French blog:
http://www.jenniesbev.com/2007/05/05/redefining-intellectual-snobbism-and-obnoxiousnism/

Of course, throughout my lifetime, I have received many “sombong” accusations. Still, I keep my “sombong” ness by balancing things out between superior mind and superior heart.

Just my two cents, Tasa. Keep being an impressive “bukan monyet” blogger. I’m proud of your “sombong”ness.

Salam dari sesama “orang sombong,”

Jennie S. Bev

Jake: Seperti yang disebutkan di dalam artikel selama tidak terlalu berlebihan “sombong” boleh-boleh saja. Sekarang, definisi terlalu berlebihan sangat relatif Anda harus pintar melihat kondisi dan budaya yang dimiliki oleh lingkungan sekitar.

Mba Jennie: Thanks for your comment. And your article is great and so inspiring! Yeah, I know how it feels to be called that way. It feels so weird, it’s like you want to do the best that you have but people just don’t like it. Thank you Mba for your support, let’s make our so-called sombongness a reason for us to move on.

Salam dari “orang sombong”🙂

Sombong itu sebenarnya pakaian Allah swt, hanya milikNya, kita hambanya yg tidak bisa dipungkiri memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kita emang harus sombong, asal jgn berlebihan. Terkadang rasa sombong akan sstu bisa memotivasi diri kita dlm meraih apa yg kita inginkan. Misalnya ada teman yg ngajak kita utk berkompetisi dlm mengejar nilai “Halah Gampang, klo cma buat ngedapetin nilai 10″…well pstinya kita ndk mau kalah karena statement yg kita lontarkan menunjukkan bahwa kita bener2 mampu, Alhasil kerja keras pun dimulai.
Tapi satu hal rasa sombong yg ada pada diri kita jg harus diimbangi dengan sstu yg nggak cuma omong kosong. Jadi ndak sia2…..

Hey Navra,

Setuju sombong yang sebenarnya hanya milik Allah semata. Kita sebagai manusia sepatutnya menggunakan ‘kesombongan’ yang telah diberikan oleh Tuhan dengan memanfaatkan segala karunia yang kita miliki dalam kehidupan sehari-hari, yaitu memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki.

Salam.

[…] soal “being sombong” ini bermula sejak saya suka mampir di blog Adik yang baru saya temui di Dunia Maya ini, yang ternyata bertempat tinggal berjarak hanya 5 jam dengan […]

Hai Om guebukanmonyet…
stuju deh… kykna saya harus menyebarkan virus sombon ini mulai dari kampus, deh…
wehehehe…

Lam Kenal, om…😀

Gue setuju berat dengan komentar tentang sombongmu… selama kita melihat dan menyikapi sombong tersebut dari definisi yang positive, gue rasasah-sah aja tuch…
yang penting khan tidak menyangkut SARA and tidak dilontarkan dg nada yg keras,alias TERIAK!!!!!
Sombong khan termasuk motivasi juga supaya kita juga lebih baik dari orang tersebut. TUL/NGGAK???

Salam kenal for TAZA… From : Ita.Wahyuningtyas

Betul Ita, gue setuju. Selama “sombongnya” tidak berlebihan dan dilakukan dengan tujuan untuk menjadi percaya diri maka sah-sah aja.

Salam kenal juga yach. Nice knowing you🙂

wah menarik, saya dan teman2 lainnya pasti pernah mengalami hal serupa cuma gak ngeh apa namanya:mrgreen:

Tasa, well, elu udah tau bedanya pergaulan anak Indonesia (Jakarta khususnya) dan pergaulan Amrik sono. Kalo boleh dan pantas dibilang katrok emang katrok hehe.

Udah banyak sharing dari anak2 yang pernah tinggal di luar negeri kemudian pindah ke Indonesia mendapat cultural shock dari pergaulannya. Saya emang belum pernah tinggal selain di Jakarta, tapi saya bisa merasakan keterkejutan mereka akan respon negatif dari teman2 sepergaulan.

Kalo dari cerita fiksi yang Tasa tuliskan, bisa dibilang di Indonesia ini freedom of speech dibatasi atau dilarang sama sekali. Cuma menjawab kesekian kalinya pertanyaan dari dosen harus memikirkan efeknya yaitu sikap teman2 kepada kita setelah kelas bubar? Ya ampun penting banget apa yach penilaian mereka thd gue? Picik!!

Lagi-lagi masalah sudut pandang. Sistem pendidikan Indonesia sukses mengajarkan setiap anak2 Indonesia untuk memandang dari sudut negatif, picik, takut mengungkapkan kebenaran, dsb. Emang betul ada sindiran keras yang seperti ini “Orang bodoh dipiara di Indonesia, orang pintar gak laku di Indonesia” saat mengetahui betapa banyaknya orang2 cerdas Indonesia hengkang ke luar negri seperti pak Habibie.

Saat Tasa mengucapkan “I love you all!” aja salah. Padahal siapa juga yang naxir ama elo, ge-er!!!:mrgreen: hahaha…tapi inilah kenyataannya. Meski budaya tapi termasuk yang negatif karena senang menghakimi tanpa fakta dan data yang kuat. Sabar ya kalo begaul ma kita2?! hehehehe😆

Wah saya juga udah lama kepikiran hal ini…
Saya dulu lebih kepikiran soal bangga dan sombong, sih. Definisi ala saya: bangga itu lebih ke apa yang telah dicapai dan percaya diri lebih ke yakin kalau kita bisa mencapai sesuatu (percaya atas kemampuan diri).

Perenunga saya dimulai dari perasaan heran kalo temen saya cerita mengenai prestasinya tanpa bermaksud pamer (cuma sekedar cerita pengalaman aja) temen saya yang lain sambil bisik2 ke saya nyeletuk ‘sombong banget, sih’. Adik saya juga pernah bilang sombong ke salah satu pembicara yang menggunakan pengalaman pribadinya yang memang oke banget sebagai contoh untuk ditiru. Wah, padahal kapan lagi kan denger pengalaman hidup keren begitu dari sumbernya langsung?

Menurut saya sih setiap orang berhak membanggakan dirinya (ya iyalah masa benci diri sendiri?) pun di depan orang lain. Bangga itu hal yang wajar dan saya adalah tipe orang yang senang mendengar kisah2 sukses orang lain. Kalau kita kesal dengan cerita mereka, mungkin itu sih kitanya aja yang sirik alias kepingin seperti itu tapi apa daya nggak punya modal (fisik dan non-fisik).

Yah, kebanyakan kita tuh sebenarnya seneng banget kalo dipuji tapi sok2 nggak mau dipuji karena takut dibilang sombong. Karena kultur kayak gini nih bangsa kita kurang punya penghargaan atas prestasi orang lain, kurang memberi pujian yang tulus ke orang lain. Padahal kondisi saling memberikan pujian yang tulus satu sama lain bisa menjadi bahan menumbuhkan rasa percaya diri untuk memberikan hasil yang lebih baik lagi. Karena kultur kayak gini juga banyak orang2 cerdas dari bangsa kita yang minggat ke negara lain atau perusahaan asing dengan alasan merasa lebih dihargai di tempat ‘asing’ tersebut. Denger2 sih Pak Habibie juga pindah kewarganegaraan karena masalah kurang dihargai di negaranya sendiri. (Entah gosip, entah fakta)

Hemm… terus sombongnya yang kayak gimana tuh? Berdasarkan perenungan pribadi setelah mengamati sekitar saya, orang yang sombong itu adalah orang yang merendahkan orang lain. Jadi, kalau kita membanggakan diri sendiri tapi tetap memandang orang lain pada ketinggian yang sama dengan kita, tidak ada masalah dengan hal itu. Tapi kalau kita membanggakan diri sendiri, merasa kita lebih hebat, tidak suka melihat orang lain lebih hebat dari kita atau menganggap orang lain nggak ada apa2nya (lebih rendah dari kita), itu baru namanya sombong.

Hmm… jadi kalo ada yang yang membanggakan diri sih sok2 aja asal jangan sampe merendahkan orang lain. Puji diri sendiri atas prestasi yang dicapai, puji orang lain juga atas prestasi mereka. Semua orang luar biasa, bukan cuma kamu aja, bukan cuma mereka aja, kita semua luar biasa!😀

Cintai diri sendiri, cintai sesama!

Saya baru aja mampir di blog anda dan baca tulisan ini, ternyata ditulisnya sudah cukup lama tapi tentunya tidak atau belum basi. Selain isinya bagus, juga gaya bahasanya menarik sekali. Anda nampaknya memiliki pemikiran kritis, sekaligus memiliki juga bakat sastra. Sering-sering donk menulis dengan gaya sastrawan, karena di negara kita sudah langka penulis yang memiliki gaya menulis seperti anda. Penulis mana yang mempengaruhi gaya penulisan anda ? Apakah Chairil Anwar ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: