Guebukanmonyet!

The Answer is Education

Posted on: February 13, 2007

Saya bertempat tinggal di Bethesda Maryland yang beberapa blok dari rumah saya terletak sebuah sekolah menengah pertama bernama Pyle Middle School. Di Amerika Serikat setiap murid SD hingga SMA bebas masuk sekolah publik mana saja sesuai dengan tempat tinggal mereka masing-masing dan yang luar biasanya adalah murid-murid ini tidak dikenakan biaya sepeser pun untuk mendapatkan pendidikan tersebut.

Saya beberapa kali berkesempatan masuk ke dalam gedung dan fasilitas Pyle Middle School. Di dalam sekolah tersebut semua terlihat bersih dan teratur, murid-murid usia belasan tahun dengan penuh kesadaran tinggi tidak terlihat satu pun yang melakukan aksi corat-coret atau membuang sampah sembarangan. Sekolah ini pun memiliki fasilitas yang sangat komplit mulai dari perpustakaan dengan komputer dan internet, ruang serba guna (lapangan indoor), ruang kelas yang sangat bersih dan tertata baik, kafetaria, serta kamar mandi yang saya jamin jauh lebih manusiawi dari pada kamar mandi di kampus tercinta Trisakti. Ingat bahwa murid-murid di sekolah ini tidak perlu membayar apa pun untuk fasilitas-fasilitas tersebut. Fasilitas-fasilitas tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan fasilitas yang dimiliki oleh Lab School Kebayoran Baru yang mewajibkan setiap muridnya untuk membayar 15 juta lebih untuk bisa masuk.

Tampaknya itulah kehebatan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, mereka paham betul bahwa generasi muda adalah masa depan negara. Dan pendidikan adalah satu-satunya cara untuk menjamin bahwa Amerika Serikat akan tetap menjadi negara super power untuk bertahun-tahun ke depan. Education is always the answer! Itu mengapa negara-negara maju selalu memberikan budget yang sangat besar untuk pendidikan, pada tahun 2005 Departemen Pendidikan Amerika Serikat tercatat memiliki Discretionary Budget Authority sebesar $ 57.3 Milliar. Presiden George Bush yang terkenal sebagai salah satu penyebab timbulnya perang di berbagai tempat dan sempat dijuluki “Devil” oleh Hugo Chavez presiden Venezuela percaya atau tidak merupakan salah satu tokoh yang dihormati oleh dunia pendidikan Amerika Serikat. Pada 8 Januari 2002 Presiden George Bush menandatangani undang-undang “No Child Left Behind” yang memberikan murid serta orang tua kesempatan lebih untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih baik dan transparan.

Namun dengan segala keunggulan sistem pendidikan dalam negeri Amerika Serikat, Anda mungkin akan terkejut mengetahui bahwa masih begitu banyak pihak di Amerika Serikat yang merasa bahwa sistem pendidikan di Amerika Serikat sudah ketinggalan jaman. Setidaknya hal itulah yang ingin disampaikan oleh Majalah Time melalui edisinya bulan Desember lalu. Sebuah lelucon mengawali artikel yang ditulis oleh Claudia Wallis dan Sonja Steptoe: Rip Van Winkle bangun di abad ke-21 setelah tidur panjangnya selama seratus tahun dan tentu saja Ia sangat terkejut dengan segala hal yang Ia saksikan. Para pria dan wanita terlihat sibuk berjalan kesana kemari sambil berbicara kepada sebuah alat yang menempel di telinga mereka. Anak-anak muda terlihat asyik duduk di atas sofa sambil menggerak-gerakan sebuah alat elektronik di depan layar TV. Setiap tempat yang Ia datangi mulai dari bandara, rumah sakit, pusat perbelanjaan, hingga perkantoran tidak henti-hentinya membuat Rip terkesima. Tetapi ketika akhirnya Ia memasuki sebuah ruangan kelas, orang tua itu tahu dengan jelas dimana Ia berada. “Ini sudah pasti sebuah sekolah!” teriaknya. “Kita juga memiliki ini di tahun 1906. Hanya saja sekarang papan tulisnya berwarna hijau!”

Sistem pendidikan bagi anak-anak di Amerika Serikat dirasakan banyak pihak sudah tidak sesuai dengan Google dan Youtube era. Sekolah-sekolah di Amerika Serikat memang tidak sepenuhnya ketinggalan jaman, tapi menurut banyak kalangan pendidikan di dalam negeri mengingat cepatnya perubahan-perubahan yang terjadi di area lain dalam kehidupan, sekolah-sekolah publik memiliki kecenderungan untuk tertinggal. Anak-anak Amerika menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka sama seperti apa yang kakek dan nenek mereka lakukan: duduk di bangku kelas, mendengarkan guru, menulis catatan, dan membaca buku pelajaran yang sudah kadarluarsa begitu buku-buku tersebut dicetak.

Dalam lima tahun terakhir, perbicangan pendidikan di Amerika Serikat terfokus pada penilaian kemampuan baca, tes matematika, dan mengurangi jarak pencapaian prestasi di antara murid-murid dari latar belakang sosial yang beragam. Namun banyak ahli pendidikan yang terus mengingatkan bahwa bukan hanya hal-hal itu saja yang perlu dikhawatirkan tetapi hal-hal lain untuk menjawab apakah generasi muda Amerika Serikat akan gagal di dalam ekonomi global karena mereka tidak dapat berpikir dalam masalah-masalah abstrak, bekerja dalam tim, menyimpulkan informasi berguna dari orang-orang yang berbahasa asing.

Saat ini sistem pendidikan pre-K hingga kelas 12 (SMA kelas 3) di Amerika Serikat dirasakan memiliki target yang terlalu dangkal. Kemampuan dalam membaca dan matematika yang merupakan fokus dari ujian nasional “No Child Left Behind” oleh banyak ahli pendidikan Amerika dinilai terlalu minim. Keahlian teknis dan ilmiah memang diperlukan tanpa keraguan, tapi itu saja tidak cukup. Saat ini ekonomi global menuntut tidak saja keahlian tinggi akan disiplin akademik tradisional tapi juga yang oleh banyak ahli pendidikan disebut dengan keahlian abad 21. Keahlian-keahlian tersebut adalah:

  1. Knowing More about the World. Anak-anak adalah penduduk dunia, bahkan seorang anak yang hidup di lokasi terpencil di Amerika Serikat pun harus bertindak seperti itu. Semakin terkoneksinya perekonomian dunia membuat dunia berubah menjadi sangat kecil. Perusahaan-perusahaan dari Amerika dan seluruh dunia berlomba-lomba membuka cabang di banyak negara sehingga mereka membutuhkan kemampuan untuk memahami budaya lokal masing-masing negara dengan lebih cepat dan efektif.
  2. Thinking Outside the Box. Kemampuan untuk berpikir di luar kotak telah menhasilkan Google, Youtube, Paypal, MySpace, dan masih banyak lagi. Kemampuan dimana seseorang mampu melihat adanya peluang di saat orang lain hanya melihat kesengsaraan.
  3. Becoming Smarter about New Sources of Information. Di dalam sebuah era dimana informasi tersedia begitu berlimpah dan berubah cepat, murid-murid abad ke-21 harus mampu memproses informasi tersebut dan mampu membedakan antara informasi yang dapat diandalkan dan yang tidak. “Sangat penting bahwa muris-murid mengetahui bagaimana mengelola informasi tersebut, menafsirkan, mengecek keasliannya, dan bertindak berdasarkan informasi itu,” ujar salah satu petinggi Dell, Karen Bruett.
  4. Developing Good People Skills. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa EQ atau Emotional Intelligence adalah sama pentingnya dengan IQ dalam lingkungan kerja saat ini. “Kebanyakan inovasi saat ini terjadi dalam tim-tim dalam jumlah orang yang banyak,” kata mantan CEO Lockheed martin Norman Augustine. Tambahnya lagi, “pendidikan seharusnya menitikberatkan pada kemampuan komunikasi, kemampuan untuk bekerja sama dalam tim dan orang lain dari latar belakang budaya yang berbeda.”

Nah, pertanyaan saya sekarang adalah bagaimana nasib pendidikan di Indonesia? Pendidikan gratis hingga SMA tampaknya masih sangat jauh dari impian. Dengan kondisi otonomi daerah yang belum jelas nasibnya, pendidikan gratis dan berkualitas sangat sulit untuk terealisasi. DKI Jakarta pun yang terkenal sebagai provinsi yang katanya memiliki perputaran rupiah terbesar di Indonesia baru bisa memberikan pendidikan gratis bagi murid-murid sekolah dasar. Kualitas? Tidak usah ditanya!

8 Responses to "The Answer is Education"

I like this site. It’s very suit for Indonesia !

Saya termasuk orang yang mengenyam pendidikan yang rendah,, ya karena saya di Indonesia. Ini tidak untuk merendahkan, tatapi betul-betul menyadari bahwa Indonesia memang berpendidikan yang rendah.. dan perlu menyontohi negara maju seperti Amerika..
saya harap ada pejabat Indonesia yang membaca artikel ini dan membawanya ke forum nasional untuk mendapatkan perhatian.

well, emang bener juga kalau dilihat dari segi tehnologi dan kemajuan, INDONESIA ketinggalan 100 TAHUN lebih dibandingkan USA.

namun banyak hal masih bisa kita banggakan dari negara kita dan banyka pula hal yg tidak kita banggakan dari negara kita.
Gw sndiri baru2 ini melihat Oprah Winfrey SHOW dan agak2 shock juga walaupun USA dgn segala kemajuannya masih memiliki kelemahan di sistem pendidikannya (walau itu msh sgt wajar), ada satu sekolah di daerah California dimana satu sekolah tersebut harus menampung lebih dari 5000 siswa dari kelas 1-12. Dan rata2 satu kelas terdiri atas 40 lebih siswa, sedangkan ideal dalam satu kelas terdiri atas 20 an siswa. not so much different from Indonesia, right!
Dan mereka yg sedang akan lulus pun masih bnyk yg memiliki cita2 atau keinginan untuk melanjutkan ke kuliah, tanya kenapa?!?!?!

Dan ini menjadi suatu pembelajaran tersendiri bahwa masih banyak Pe-eR untuk kita semua,,,,,,,,,,

Bedanya kalau di Amerika cuma sedikit terjadi kondisi seperti itu. Sementara Indonesia, kondisi itu terjadi dari sabang sampai merauke.

Tapi berdasarkan pengetahuan gue, apabila ada masalah publik seperti itu kalagan politik dan yang terkait akan cepat meresponnya. Karena tekanan dari publik bisa dapat mempengaruhi dengan efektif pemerintah dan dunia politik. Itulah keunggulan sebuah negara yang sudah mempraktekan demokrasi selama ratusan tahun.

Memang benar masih begitu banyak hal yang bisa dibanggakan dari Indonesia. Itu juga menjadi salah satu alasan gue menulis artikel ini.

Thanks komentarnya Bung HP? whahaha…. Sendirinya masih jomblo lo! ngemeng ajee…

Sukses!

Thanks Monalisa atas komentarnya.
Pendidikan di Indonesia memang masih jauh dari yang diharapkan, tapi saya rasa masa ada peluang!

Waahhh beda jauh banget yah pendidikan di Amerika dari pendidikan di Indonesia, pastinya Amerika akan banyak melahirkan generasi muda yang akan terus menjaga keberlangsungan negara mereka menjadi negara Super Power di Dunia.
Sedangkan Indonesia, jangankan memikirkan tingkat kualitas Pendidikan, sepertinya pemerintah Indonesia juga masih dibuat pusing dengan urusan bagaimana memperbaiki taraf kemiskinan di Indonesia.

Pernah dengar pendapat tentang “Lingkaran Setan Kemiskinan” ? Kalau terlahir dari orangtua yang taraf hidupnya kurang baik, maka anak2nya juga hidup dalam kondisi kurang baik pula, bagaimana bisa hidup baik jika para penduduk miskin tidak mampu menyekolahkan anak2 mereka dengan selayaknya, para orangtua lebih memilih mengajak / memaksa anak mereka membantu pekerjaan yang mereka lakukan dengan alasan tidak mampu menyekolahkan karena kesulitan ekonomi, misalnya anak petani diajak membantu ayahnya menggarap sawah, anak pemulung dipaksa membantu ayahnya mendorong gerobak, yang lebih parah lagi terkadang anak2 ini diperalat untuk menjadi pe-minta2 atau mengemis (ini adalah kenyataan yang benar terjadi di Negeri kita, ironis memang), Saya jadi ingat pengalaman saya ketika pertama kali diajak teman Menggunakan KRL, didepan kampus terdapat stasiun kereta yang dilalui KRL jurusan Bogor-Jakarta, saya terkadang Menggunakan fasilitas kereta api ekonomi untuk keperluan transport, pemandangan yang saya temui didalam kereta adalah mungkin pemandangan yang akan membuat anda yang belum pernah Menggunakan KRL menjadi bergidik, jijik, terpana, menangis, bahkan bersyukur, saya tidak tahu pasti tapi itu perasaan yang saya rasakan ketika pertama kali saya menginjakkan kaki kedalam gerbong sarana transport tersebut. Bagaimana tidak, saya yang merasakan masa kecil saya diisi belajar, bermain dan kegiatan menyenangkan lainnya, melihat dan membandingkan dengan anak2 kecil yang menyeka mukanya saja belum bisa tapi mereka ber-jongkok2 manyapu lantai gerbong KRL dengan Menggunakan sapu lidi seadanya tanpa Menggunakan alas kaki, dan jangan tanyakan bagaimana keadaan pakaian yang melekat pada tubuh mereka, mereka tidak mempedulikan bagaimana kebersihan, kesehatan mereka sendiri yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana agar para penumpang kereta kasihan dan memberi mereka sedekah, saya yang teramat sangat prihatin dengan keadaan anak tersebut mengeluarkan sejumlah uang dari kantong saya untuk memberinya sedekah, setelah sang anak menjauh, teman saya yang sudah terbiasa Menggunakan KRL setiap hari berkata kepada saya, “nggak usah dikasih lagi wid, itu udah biasa kali!” , saya bengong, teman saya yang tidak punya hati nuranikah atau saya yang emang baru ngeliat aja… akhirnya perbincangan saya dan teman saya mendebatkan tentang masalah hati nurani, adanya kesempatan antara pengemis dan pemberi (kalau tidak ada yang memberi, maka tidak ada pengemis,itu pendapat teman saya), serta peran pemerintah dalam mengadakan pendidikan gratis lewat BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan sampai ke program GN-OTA (Gerakan Nasional-Orang Tua Asuh). Dan selama perjalanan 20 menit didalam gerbong berlalu tanpa ada pihak yang puas dengan hasil pemikiran masing2, dan selama 20 menit itu juga mata saya menjadi lebih terbuka terhadap Dunia yang “kejam” bagi beberapa orang ini (keadaan anak kecil yang memprihatinkan tersebut, baru satu dari seribu macam pemandangan memprihatinkan yang saya temui di gerbong tersebut) dan saya menjadi lebih bersyukur untuk apa yang telah saya miliki dan belum saya miliki.

Maksud saya mengemukakan cerita diatas adalah sungguh masih banyak terdapat realita2 yang ada diluar kuasa kita sebagai seorang manusia, anak muda, dan warga negara dari sebuah bangsa Indonesia, dan menjadi tugas kita generasi muda yang diberikan kesempatan lebih baik untuk melihat ini semua sebagai pemacu untuk memajukan negara kita. Karena bukankah seorang manusia akan lebih mulia, jika keberadaannya dapat berguna bagi orang lain, terlebih untuk saudara kita sendiri bukan?

Best Wish

Widya

“Somethings Stuck In My Head”

Thanks Widya for your comment. I really do wish you could stop by and give more comments in the future.

“Lingkaran Setan Kemiskinan” is indeed one of the worst things that’s happening in our country. More people are stuck in poverty and once they get in that circle it seems so hard for them to get up.

Our country needs more young people like you who are motivated to help others and has a big concern for our country’s improvement.

Thanks for your comment.

Kita udah mulai meninggalkan paradigma lama niy ttg pendidikan. Dulu kita terbiasa dicekokin.Skrg saatnya utk bisa belajar mandiri, tidak tergantung dari kurikulum (yang ganti2 mulu itu..hehe..). Kan udah banyak resources-nya, contohnya internet. Bisa belajar bnyk hal dari internet. Cuma ya itu, di internet kadang informasinya terlalu bnyk, overload, dan hrs di-verifikasi jg kebenarannya. Ya, bljr utk bener2 belajar aktif lah..(jg inget CBSA..hehe..inget ga? Cara Belajar Siswa Aktif..jargon lama..) Blogging ini jg cara belajar juga lho..Merepetisi apa yg udah diketahui n share ke yg lain..Saling belajar..Seru juga kan?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Read My Articles on

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

About Me

guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. He's a free man with unique thoughts and dreams. He sees his life and this world differently from anyone else. That's because he knows what he wants; and for that reason he doesn't want to be the same. Read why he blogs, here.

Contact Me

guebukanmonyet@gmail.com

Categories

Copyright©2009

All articles and essays were written by guebukanmonyet. Before commenting remember that Life Accepts Differences.
%d bloggers like this: