Guebukanmonyet!

Islam Melarang Poligami

Posted in Agama, Budaya, dan Moral by guebukanmonyet on February 13th, 2007

Poligami Telah Ada Sejak Dulu

Isu poligami memang tidak pernah ada habisnya, selalu saja menarik untuk dibahas dan ditelaah. Sejak ratusan hingga ribuan tahun yang lalu praktek poligami sudah menjadi bagian dari kebudayaan umat manusia di dunia.

Contohnya adalah bagaimana film-film masa kini selalu menggambarkan raja-raja jaman dulu memiliki selir yang jumlahnya bisa mencapai ratusan. Dan berdasarkan fakta yang dikumpulkan para ahli sejarah kenyataannya memang para pemimpin dunia berabad-abad lalu hampir selalu memiliki istri lebih dari satu.

Di jaman dahulu ketika handphone atau internet belum ditemukan, memiliki istri lebih dari satu mungkin menjadi salah satu simbol kesuksesan seorang pria. Kalau pria urban jaman sekarang mengoleksi mobil, handphone, atau apartemen sebagai simbol-simbol kesuksesan maka para pria yang hidup berabad-abad yang lalu menjadikan istri sebagai lambang kesuksesan mereka.

Ketika itu jelas tingkat pendidikan manusia masih berada dalam level yang sangat rendah apabila dibandingkan dengan jaman sekarang. Ketika dunia semakin berubah ke arah yang cepat dan terglobalisasi, para wanita di seluruh dunia bersatu dan menuntut persamaan hak dengan laki-laki. Apabila dahulu para perempuan di Indonesia “nrimo” saja untuk hanya kerja di dapur dan ngurus anak dan suami, maka perempuan jaman sekarang akan berani untuk bilang, “Tidak, gue juga mau berkreasi!”

Nah, sekarang isu poligami kembali merebak ke permukaan masyarakat Indonesia setelah Kyai Kondang Aa Gym menikah lagi dan mempraktekan poligami. Pada konfrensi pers yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu Ia dengan tegas mengakui bahwa dirinya mempraktekan poligami yang diiyakan oleh istri pertamanya, teh Nini.

Banyak kalangan yang kecewa dan marah terhadap keputusan Aa Gym terutama dari kalangan perempuan. Sebagian besar dari mereka menyesalkan keputusan yang dilakukan oleh Aa Gym karena menyakiti perasaan teh Nini dan jutaan perempuan di Indonesia. Tindakan yang dilakukan oleh Aa Gym ini ditakutkan akan memberikan contoh yang buruk bagi generasi muda.

Bagi sebagian kalangan komunikasi mungkin apa yang dilakukan Aa Gym tersebut akan “menodai” reputasi atau image-nya di depan publik. Dan itu memang mungkin saja terjadi. Karena pada kenyataanya Aa Gym selama ini dikenal sebagai seorang Kyai yang mampu menarik hati berbagai kalangan tidak saja kalangan menengah kebawah tapi juga kalangan atas (kalangan yang lebih sulit untuk didekati secara religius).

Berdasarkan pengamatan penulis, reputasi Aa Gym tidak akan terlalu banyak berpengaruh di lapisan bawah namun sepertinya Aa Gym harus rela kehilangan banyak penggemar dari kalangan menengah keatas. Hal ini dimungkinkan karena orang-orang yang berada di lapisan menengah keatas memiliki tingkat pendidikan yang jauh lebih baik serta tingkat ekonomi yang lebih mapan sehingga keadaan tersebut memungkinkan mereka untuk memiliki cara pandang yang lebih beragam dan kemampuan untuk menjadi independen di tengah-tengah masyarakat.

Penulis sangat percaya bahwa Islam adalah agama rahmat untuk semua umat manusia di dunia ini, tidak hanya umat muslim sendiri tapi juga umat yang beragama lain. Penulis juga sangat percaya bahwa Islam memberikan “peluang” bagi seluruh umatnya untuk memiliki pandangan yang berbeda atau beropini dalam menanggapi isu-isu yang dialami manusia di dalam kehidupan. Sehingga menurut penulis sah-sah saja apabila Aa Gym berpendapat bahwa poligami adalah perintah Tuhan dan sah-sah saja apabila penulis berpendapat bahwa poligami tidak dianjurkan atau tidak diperbolehkan di dalam Islam. Dan menurut hemat penulis adalah kewajiban kita untuk menyebarkan kebaikan dengan berdasarkan hal-hal yang kita percaya itu baik.

Agama dan Budaya

Islam seperti juga agama-agama lain yang ada di dunia ini selalu dan akan terus menjadi bagian dari budaya peradaban manusia. Budaya akan selalu mempengaruhi agama dan begitu pula sebaliknya. Sama seperti catatan cerita sejarah yang tidak akan pernah lepas dari kepentingan penguasa.

Di banyak tulisan di dunia, agama banyak disalahkan sebagai dasar munculnya ketidakadilan dalam kehidupan. Suara-suara lantang muncul dari golongan-golongan tertindas atau kaum minoritas seperti masyarakat kulit hitam di benua Amerika, suku tionghoa di Indonesia, bangsa Yahudi pasca perang dunia ke-2, atau kalangan feminim di seluruh dunia.

Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Mengapa perempuan tidak boleh menjadi Imam sholat?” “Mengapa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin negara?” hingga ke pertanyaan, “Mengapa laki-laki boleh berpoligami?” terus diutarakan oleh banyak kalangan terutama aktivis perempuan. Namun, benarkah Islam atau agama-agama lain menjadi dasar dari ketidakadilan di dunia ini? Apakah benar Islam memperbolehkan laki-laki untuk “menindas” kaum perempuan melalui praktek poligami?

Ada satu contoh sederhana bagaimana kebudayaan memainkan peran yang menarik dalam mempengaruhi agama. Contoh ini sangat nyata dan penulis yakin banyak dari pembaca yang tidak menyadarinya karena sudah terlalu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Contoh ini terjadi di dalam kebudayaan barat sehinggat memberikan gambaran jelas bahwa “ketidakadilan” agama atau budaya tidak hanya terjadi di kalangan agama Islam atau budaya Timur. Coba Anda pergi ke Gramedia dan pilih lah sebuah buku tentang agama atau ketuhanan terbitan Bahasa Inggris. Pilih yang mana saja Anda suka! Mulailah baca dan coba Anda telaah. Apakah Anda bisa melihat “ketidakadilan” itu?

Apabila Anda seorang perempuan seharusnya Anda dapat menyadari bahwa golongan Anda sedang didiskriminasi oleh budaya melalui buku itu! Kalau belum menemukannya carilah kata GOD (Tuhan) lalu kemudian carilah kata ganti orang ketiga dari kata “God” tersebut. Sudah kah Anda menemukannya? Coba jawab dalam hati apakah ganti ganti orang ketiga untuk “God.” Betul sekali, jawabannya adalah “He” dan “Him.” Saya yakin Anda sudah mengerti maksud saya. Kalau belum coba jawab pertanyaan ini, “Kok bisa penulis buku itu memberikan kata He dan Him untuk kata ganti God“? “Memangnya dia tahu kalau Tuhan adalah seorang laki-laki?”

Alasan budaya barat memberikan kata ganti orang ketiga “He” dan “Him” untuk kata “God” karena budaya tersebut beranggapan bahwa hanya kaum laki-lakilah yang mampu merepresentasikan sifat-sifat Tuhan.

Tuhan dari jaman nabi Adam hingga jamannya Bill Gates seperti sekarang ini selalu digambarkan sebagai sesuatu Zat yang Maha Kuat, Maha Benar, Maha Adil, Maha Tinggi, Maha Perkasa, dan sebagainya: Sifat-sifat yang bagi mereka dimiliki oleh kalangan pria.

Kenyataannya adalah sejarah membuktikan bahwa hampir seluruh penafsir-penafsir Al-Quran, Hadist, serta ayat-ayat tambahan lainnya adalah laki-laki. Sehingga konflik kepentingan menjadi sebuah hal yang sangat mungkin terjadi. Itu merupakan nature hampir semua manusia.

Ambil contoh diri Anda sendiri. Apabila Anda merasa bahwa suatu hal adalah benar dan Anda mencoba membuktikan bahwa itu benar maka Anda akan mencari data-data yang akan mendukung pandangan Anda. Dan apabila Anda tidak menemukan data-data yang mendukung pandangan Anda, secara intuitif Anda akan memaksakan untuk mengolah data-data tersebut supaya seakan-akan sesuai dengan pandangan Anda.

Seperti sebuah ungkapan, “Fakta tidak pernah bohong tapi interpretasi bisa berbeda-beda.” Pembaca mungkin masih ingat dengan kasus yang menghebohkan dunia Islam awal tahun 2005 lalu dimana seorang profesor, teolog Islam, dan feminis Dr. Amina Wadud Muhsin menjadi imam sebuah solat Jumat di Amerika. Keberanian Amina ini didasarkan atas semangatnya untuk mendobrak dominasi maskulinisme dalam dunia Islam.

Poligami dalam Islam

Kembali ke soal poligami, penulis mendapat banyak masukan dari sebuah tulisan pendek karya Faizah SA, seorang staf pengajar di Ponpes Krapyak. Melalui tulisannya, Faizah SA menggugat keberadaan UU RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang menerangkan kebolehan poligami selama mengantongi ijin dari istri sebelumnya serta UU RI No. 7/1989 pasal 49 yang menugasi pengadilan Agama untuk menangani poligami.

Lebih jauh Faizah menjelaskan bahwa kedatangan Islam membatasi jumlah istri maksimal empat di tengah-tengah budaya yang begitu patriarkhi dimana dengan mudah ditemukan seorang pria beristrikan lebih dari lima orang. Faizah menyebutkan bahwa syarat maksimal empat istri tersebut diikuti dengan syarat ketat yang bagi sejumlah pemikir muslim tidak mungkin bisa terpenuhi oleh seorang laki-laki.

Asas keadilan disini bukan sekedar keadilan kuantitatif namun juga keadilan kualitatif dan diujung ayat yang sering dijadikan dasar bagi kebolehan (mubahah) praktek poligami Tuhan mewanti-wanti, “Dan apabila kamu takut tidak bisa berbuat adil, maka nikahilah seorang saja” [QS. 4:3]. Menurut Faizah, itu berarti ideal moral yang dicanangkan Al-Quran adalah praktek monogami. (Meneguhkan Kembali Gerakan Anti Poligami)

Alasan dibolehkan poligami di awal generasi Islam mengambil ungkapan Muhammad Abduh menurut Faizah adalah (1) Saat itu jumlah laki-laki lebih sedikit dibandingkan perempuan akibat perang, (2) Untuk mempercepat penyebaran Islam karena diharapkan dengan menikahi seorang perempuan maka seluruh keluarganya pun memeluk Islam, dan (3) Mencegah munculnya konflik antar suku.

Penulis percaya bahwa Islam adalah agama yang tidak akan habis dimakan jaman. Artinya Islam akan senantiasa mengisi setiap sisi kehidupan setiap umat manusia karena apa yang diajarkan oleh Islam tidak akan pernah ketinggalan jaman. Namun bukan berarti segala isi yang ada di dalam Al-Quran dapat kita implementasikan mentah-mentah ke dalam kehidupan dunia saat ini.

Karena perlu diingat Al-Quran layaknya kitab-kitab suci lain merupakan cerminan keadaan dunia saat itu. Apabila praktek poligami “diperbolehkan” pada jaman itu bukan berarti praktek poligami dapat begitu saja diberlakukan pada masa sekarang. Praktek poligami mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti keadilan, menolong sesama, membantu yang lemah, meningkatkan harkat martabat manusia hingga penyebaran agama Islam.

Nilai-nilai seperti itulah yang senantiasa menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia yang tidak akan pernah mati ditelan masa. Di jaman nabi Muhammad alasan penyebaran Islam sangat relevan untuk dijadikan sebagai dasar berlangsungnya praktek poligami karena jaman dulu belum ada yang namanya internet, telepon genggam, televisi, radio, dan lain-lain. Maka praktek poligami menjadi sebuah media yang sangat efektif dalam melakukan penyebaran agama Islam. Namun, apakan media itu masih relevan untuk saat ini?

Sementara itu Faqihuddin Abdul Kodir, MA, dosen STAIN Cirebon dan alumnus fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah, menyebutkan bahwa dalam Alquran ada tiga poin yang terkaitan dengan poligami. Yang pertama, anggaplah semacam memberi kesempatan untuk poligami. Kedua, peringatan atau warning agar belaku adil: fain khiftum allâ ta‘dilû fawâhidah (kalau engkau sangsi tidak dapat berlaku adil, satu sajalah! -Red). Ketiga, ada ayat yang mengatakan, walan tashtatî’û ‘an ta’dilî bainan nisâ’ wain harashtum. Artinya, kamu sekalian (wahai kaum laki-laki!) tidak akan bisa berbuat adil antara isteri-isterimu, sekalipun engkau berusaha keras.

Ini artinya, menurut Faqihuddin, kalau kita melakukan komparasi atas berbagai ayat, kesimpulannya adalah satu ayat membolehkan poligami, sementara dua ayat justru (seakan-akan) menafikan terwujudnya syarat pokok berpoligami: masalah keadilan. Intinya, dua ayat justru mengekang poligami. Kalau kita menggunakan proporsi seperti tadi, akan dihasilkan perbandingan dua ayat banding satu. Dan ingat, satu-satunya ayat yang seakan membolehkan poligami, yaitu Qs An-Nisa: 2-3, konteksnya adalah perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang (Nabi pun Setia Monogami).

Apabila teh Nini mengatakan bahwa dirinya rela dan ikhlas Aa Gym menikah lagi dan mempraktekan Poligami walau pertama kali ia sempat syok, sayangnya tidak semua perempuan di dunia yang memiliki ketabahan hati seperti teh Nini.

Masalah poligami memang sudah masuk ke dalam konteks sosial artinya menyangkut kepentingan orang banyak dalam hal ini perempuan. Apabila ada beberapa perempuan yang merasa mendapatkan keadilan dalam praktek poligami, apakah memang demikian secara keseluruhan?

Kebanyakan dari mereka justru menjadi korban dari ketidakadilan dan perlakuan semena-mena dari sang suami yang menuntut untuk nikah lagi. Belum lagi dampak psikologis dan sosial yang dihadapi oleh anak-anak mereka. Sehingga sangat disayangkan apabila Aa Gym yang merupakan idola baru di tengah gersangnya iklim kehidupan di Indonesia justru memberikan contoh yang kurang baik. Seakan-akan Ia mengajak orang lain untuk berpoligami, walau di berbagai kesempatan Ia selalu menyebutkan betapa seseorang harus berhati-hati apabila ingin berpoligami.

Poligami pada Nabi Muhammad

Perlu diingat bahwa Nabi Muhammad memiliki apa yang disebut dengan khushûsiyyât, atau spesifikasi yang dimiliki Nabi yang tidak dimiliki dan tidak boleh dituruti orang lain. Mungkin dalam hal ini termasuk masalah poligami juga.

Bahkan Nabi marah besar ketika mendengar putri beliau, Fatimah, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib. Nabi pun langsung masuk ke masjid, naik mimbar dan berkhutbah di depan banyak orang, “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib,” sabda Nabi, “innî lâ ‘âdzan, (saya tidak akan izinkan), tsumma lâ ‘âdzan (sama sekali, saya tidak akan izinkan), tsumma lâ âdzan illâ an ahabba ‘ibn Abî Thâlib an yuthalliq ‘ibnatî, (sama sekali, saya tidak akan izinkan, kecuali bila anak Abi Thalib (Ali) menceraikan anakku dahulu).”

Lalu Nabi melanjutkan, “Fâthimah bidh‘atun minnî, yurîbunî mâ ‘arâbahâ wa yu’dzînî mâ ‘adzâhâ, Fatimah adalah bagian dari diriku; apa yang meresahkan dia, akan meresahkan diriku, dan apa yang menyakiti hatinya, akan menyakiti hatiku juga.” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Akhirnya Ali bin Abi Thalib tetap bermonogami sampai Fatimah wafat (Nabi pun Setia Monogami). Dari kutipan tersebut dapat dilihat betapa sakitnya hati Nabi Muhammad ketika mendengar bahwa putrinya akan dipoligami oleh suaminya. Perasaan sakit yang teramat dalam tersebut diutarakan oleh Nabi dengan mengatakan bahwa apabila Fatimah sakit hatinya maka hati Nabi pun akan menjadi terluka.

Nabi sendiri dengan setia mendampingi Khadijah binti Khuwalid RA, selama 28 tahun dan berpoligami dua tahun setelah Khadijah meninggal selama 8 tahun. Hal itu pun dilakukan dengan alasan-alasan di atas yang sudah disebutkan ditambah dengan keinginan Nabi Muhammad untuk mengangkat harkat perempuan yang di masa itu benar-benar tidak mendapat keadilan.

Apabila memang Aa Gym melakukan poligami dengan alasan ingin menolong seorang Janda beranak tiga, lalu mengapa ia harus menikahi seorang Janda yang masih muda dan cantik jelita? Bukankah masih banyak janda-janda tua di panti jompo yang hidupnya jauh lebih menderita dari istri barunya itu?

Penulis sangat tidak setuju apabila praktek poligami dijadikan sebagai solusi untuk menghindari zina dan selingkuh yang saat ini katanya sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Jawabannya mudah saja, hidup bermonogami dan bahagia!

Keadilan materi mungkin saja bisa terjadi, tapi apakah bisa terjadi keadilan hati? Saya kira tidak! Tanpa bermaksud memojokkan Aa Gym, saya hendak mengutip pernyataan Dra. Maria Ulfah Anshori, ketua umum Fatayat NU, dalam sebuah interview pada tahun 2002, “Andai saja Rasulullah hidup di zaman kita ini, pasti beliau tidak akan melakukan praktek poligami.”

Foto diambil dari sini.

Referensi

Meneguhkan Kembali Gerakan Anti Poligami

Nabi pun Setia Monogami

Benarkah Poligami Sunah?

Jika Rasul Hidup Sekarang, Tak akan Poligami!

133 Responses to 'Islam Melarang Poligami'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Islam Melarang Poligami'.

  1. ri@ said, on April 16th, 2007 at 11:33 am

    Poligami.. Gw denger aja uda pengen nangis!
    Hidup akan terlihat sempurna jika sudah menikah dengan satu istri dan punya anak. Tapi satu yang pasti hidup akan LEBIH sempurna lagi apabila sang suami tidak menyakiti hati sang istri dengan berpoligami.

  2. guebukanmonyet said, on April 16th, 2007 at 11:48 am

    Hehe. I agree with you. Having one wife and some kids sounds so perfect that having another wife or worse more than two wives is a stupid decision a man can make. Sometimes, men might find one wife is not enough but that is life: everything is not always enough. But as nothing is perfect, the imperfectness that we have is actually what makes this life so beautiful.

    Thanks Ria for your comment. I’m sure you will make a wonderful wife.

  3. Rian Labaona said, on April 30th, 2007 at 9:07 am

    dalam cinta suami istri dituntut kesetteian untuk saling mencintai sampai mati. tidak ada kata “cerai”. berani mengatakan “saya mencintai dia” berarti berani mengambil resiko untuk setia bersama dia. dan hanya dia yang aku cintai tiada yang lain. hendaknya kata ini tetap hidup dalam hati kedua pasangan seperti saat masih meerajut kisah asmara “hanya engkau sayang, tiada yang lain”. karena itu untuk saya POLIGAMI adalah hal yang paling saya benci dalam hidup berkeluarga. apa pun alasan untuk membenarkan bahwa ppligami itu bisa dilakukan yang penting melalui proses hukum, atau dengan alasan agama dan lainnya, tetap saya tidak suka. alasan saya karena laki-laki itu bukan manusia super yang boleh semaunya menguasai perenmpuan. dan saya harap agar Tuhan menghukum laki-laki yang pingin punya banyak istri. lebih apa sih sampai mereka pingin punya banyak istri? POLIGAMI, NOOOOOOO.

  4. kontoro said, on June 11th, 2007 at 1:29 pm

    Poligami atas nama agama, membunuh juga atas nama agama. Terorisme atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara
    makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.
    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan
    Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan
    korban dari imperialisme Arab (Indonesia menjadi pemasok turis calon haji yang terbesar di dunia). Orang-orang Arab ini memang hebat telah menemukan cara untuk memasukkan devisa.
    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

  5. Saleh Aziz said, on June 11th, 2007 at 6:35 pm

    Islam tidak cocok untuk wanita karena Islam merendahkan derajat wanita.

  6. B Ali said, on July 21st, 2007 at 7:14 pm

    Ada yang bertanya: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban saya adalah: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10 atau 25? Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense dan absurde seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak, maka orang muslim hanya menurutinya saja secara taken for granted.

    Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Jadi umat muslim terjebak.

  7. ila said, on July 25th, 2007 at 8:25 pm

    mmmmhmmh hal yang cukup menyakitkan hati. poligami bukannya cuma salah satu sunnah Rasullah. kayak ngak ada lagi kegiatan ibadah lain.

    tpi kita jaga ngak tau mungkin ada sebagian wanita siap untuk itu.
    tapi hati2 lah wahai kaum pria jangan sampai lo meninggalkan orang2 yang lo cintai karena lo suka dengan orang lain. lo sendiri akan tau akibatnya, akan jauh dari kebahagiaan. dan poligami tanpa persetujuan istri pertama pun itu jga ngka sah Sama halnya kalian Berzina. ayo pilih mana?

    bikin esmoni bahas masalah ini heee.

    wanita mana yang pengen di madu??????????

  8. guebukanmonyet said, on July 27th, 2007 at 2:00 am

    Rian: Yes, say no to poligamy. Pernikahan yang benar adalah satu kali seumur hidup. Jangan kotori cinta suci dengan nafsu sesaat.

    Kontoro, Azis & BAli: Mmh, saya tidak heran mengapa begitu banyak pihak yang antipati dengan Islam dan agama. Banyak pihak yang menganggap agama justru menghasilkan kekacauan dalam dunia ini. Ini harus menjadi pelajaran penting bagi orang-orang yang mengaku beragama.

    ila: Hehe, topik ini emang selalu bikin banyak perempuan emosi. Iya gak? Setuju banget mana ada perempuan yang rela dimadu? Kasian banget gak sich? Udah jadi manusia yang lemah secara fisik masa mau diinjak-injak secara emosi? No way. Itu mengapa Nabi pun marah besar ketika tahu putrinya hendak dimadu. Jadi orang-orang yang berpoligami merasa mereka bisa sehebat nabi Muhammad.

  9. muslim said, on July 29th, 2007 at 7:13 am

    koq komentar saya dihapus? padahal saya mau meluruskan pemahaman yang salah lho!

  10. muslim said, on July 29th, 2007 at 7:14 am

    saya setuju kalo poligami itu pasti menyakitkan, karena kita hanya manusia biasa. tapi tidak perlu sampai menjelek2an agama islam segala.

  11. muslim said, on July 29th, 2007 at 7:15 am

    seperti kita belum bisa melaksanakan semua ajarannya

  12. muslim said, on July 29th, 2007 at 7:17 am

    buat monyet! eh sorry guegebukmonyet, klo bisa topik yg menyerempet sara tidak dimuat oke! jangan di hapus lagi lho, capeeeee deeh!

  13. guebukanmonyet said, on July 29th, 2007 at 10:27 am

    Halo Muslim. Maaf komentar-komentar Anda sebelumnya saya hapus, hal itu dikarenakan selama ini banyak orang menulis komentar pedas hanya sekedar iseng. Saya sungguh senang ternyata Anda datang kembali, berarti Anda tidak sekedar lewat.

    Namun sebelumnya, bagaimana kalau Anda mencantumkan nama dan alamat e-mail yang asli sehingga Anda menjadi seorang pengkritik yang bertanggung jawab? Bukankah itu yang diajarkan oleh Islam?

    Saya dengan bangga mengaku bahwa saya beragama Islam dan tanpa keraguan saya menganggap bahwa Islam pada dasarnya menolak poligami. Apakah saya salah dengan memiliki pandangan tersebut? Saya ingat ada sebuah ayat yang menyebutkan, ” Agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku.” Islam memang sebuah agama yang luar biasa, Islam adalah sebuah agama yang cinta damai, kasih sayang, serta mengajarkan semua umatnya untuk bertoleransi. Melalui ayat tersebut dijelaskan bahwa umat Islam menghargai perbedaan dengan umat beragama lain. Setuju donk? Nah, apabila Islam menghargai perbedaan dengan agama lain masa Islam tidak menghargai perbedaan pandangan yang terjadi di kalangan Islam sendiri? Kondisi ini lah yang membuat komunitas Islam tidak bisa berkembang dan masih saja berkutat pada urusan-urusan yang tidak penting.

    Kalau Anda mendukung poligami dan menganggap bahwa itu adalah perintah Tuhan maka itu sah-sah saja dan menjadi kewajiban Anda untuk memberikan pengetahuan tentang poligami yang benar kepada lingkungan Anda. Saya memilih menjadi bagian dari orang-orang yang tidak setuju terhadap praktek poligami dan perlu saya ingatkan bahwa tampaknya mayoritas masyarakat Indonesia (minimal kaum perempuan) berada di belakang saya sehingga saya merasa berkewajiban untuk menyebarkan apa yang saya yakini ini kepada khalayak luas. Kondisi pro dan kontra seperti ini bukan berarti menjadi sebuah medan perang baru bagi umat muslim untuk saling menjatuhkan namun kondisi ini harus dilihat sebagai sebuah media bagi kita untuk saling mengenal dan mempelajari Islam lebih dalam lagi. Di Al-Quran kan juga disebutkan bahwa Allah menciptakan kaumnya berbeda-beda (termasuk perbedaan pandangan) supaya kita bisa saling mengenal (berinteraksi).

    Thanks loch kritik dan sarannya, ditunggu tanggapannya :)

  14. wila said, on August 3rd, 2007 at 9:05 am

    nah gitu dong tas. jangan pernah sakiti hati perempuan. mungkin ada yang beranggapan wanita itu makhluk lemah tapi gw mikirlagi. ap benar???? tapi apa kta2 itu cocok tu kita berikan pada seorang ibu???

    wanita itu jangan dikasihani tapi di hargai keberadaanya. intinya jika mau selamat jangan pernah ada berniat tuk sakiti wanita.
    heee. (bukan ancaman lho tapi renungkanlah wahai para kaum pria) ingat ibu mu jga seorang wanita

  15. guebukanmonyet said, on August 6th, 2007 at 8:28 am

    Gitu apanya Wila? hehe. Oke dech, jangan pernah sakiti hati perempuan yah? Tapi laki-laki kan manusia juga yang kadang melakukan kesalahan.

    Gue setuju kalau perempuan itu harus dihargai keberadaannya karena perempuan itu diciptakan oleh Tuhan bukan untuk jadi babu para lelaki yang bisa disuruh-suruh terus. :)

  16. hatinurani21 said, on August 11th, 2007 at 2:37 am

    Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali. Ini situsnya: http://hatinurani21.wordpress.com/

    MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?

    Pengantar

    Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
    Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

    Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
    - Bs. Belanda selama 300 tahunan
    - Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
    - Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
    - Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
    - Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
    Gerilya Kebudayaan
    Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
    - Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
    - Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
    - Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
    - Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
    - Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
    - Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
    - Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
    - Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
    - Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
    - Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
    - Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
    - Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
    - Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

    - Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
    - Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

    - Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
    Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
    - Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
    - Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
    - Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
    - Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
    - Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
    - Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
    - Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
    - Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

    Penutup

    Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

    Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

  17. guebukanmonyet said, on August 11th, 2007 at 3:05 pm

    Terima kasih atas artikelnya, luar biasa! Saya pasti akan berkunjung ke blog tersebut.

  18. oky said, on August 14th, 2007 at 11:25 am

    mmm. poligami itu sebenarnya produk siapa? Jauh sebelum syariat diturunkan melalui nabi Muhammad di tahun 610 masehi, peradaban manusia di penjuru dunia sudah mengenal poligami, menjalankannya dan menjadikannya sebagai bagian utuh dari bentuk kehidupan wajar. Bahkan boleh dibilang bahwa tidak ada peradaban manusia di dunia ini di masa lalu yang tidak mengenal poligami. Bahkan sampai satu-dua abad yang lalu dibanyak negara kerajaan non muslim raja2, pejabat2 istana, masyarakatnya dan Soekarnopun masih melakukan poligami kan. hehe. menurut saya Justru Islam memberikan aturan agar poligami itu tetap selaras dengan rasa keadilan dan keharmonisan. Misalnya dengan mensyaratkan adanya keadilan dan kemampuan dalam nafkah. Begitu juga Islam sebenarnya tidak membolehkan poligami secara mutlak, sebab yang dibolehkan hanya sampai empat orang isteri. Dan segudang aturan main ketat lainnya sehingga meski mengakui adanya poligami, namun poligami yang berkeadilan sehingga melahirkan kesejahteraan. Dan kini masyarakat barat dan sebagian masyarakat Indonesia banyak yang ikut-ikutan mengharamkan poligami. Namun anehnya, sistem hukum dan moral mereka malah membolehkan perzinahan, homoseksual, lesbianisme dan gonta ganti pasangan suami isteri. Padahal semua pasti tahu bahwa poligami jauh lebih beradab dari semua itu. Sayangnya, ketika ada orang berpoligami dan mengumumkan kepoligamiannya, semua ikut merasa ‘jijik’, sementara ketika hampir semua lapisan masyarakat menghidup-hidupkan perzinahan, pelacuran, perselingkuhan, homosek dan lesbianisme, tak ada satu pun yang berkomentar jelek. hehe. Saran saya buat saya dan anda kita jangan dulu lah mengatas namakan Islam tanpa benar2 memahaminya.

  19. guebukanmonyet said, on August 14th, 2007 at 11:46 am

    Siapa bilang saya tidak berkomentar jelek terhadap perzinahan dan pelacuran? Seperti yang sudah saya sebutkan di komentar sebelumnya, apabila Anda mendukung praktek poligami maka itu hak Anda dan ada baiknya Anda menyebarkan apa yang Anda percaya itu baik.

    Islam yang saya percaya tidak menganjurkan poligami. Nabi Muhammad saja melarang putrinya dipoligami, jadi menurut saya setiap orang yang berpoligami merasa bisa sama atau lebih hebat dari Nabi. Emang mungkin?

  20. Idriss said, on August 14th, 2007 at 4:36 pm

    @oky

    Kenapa orang-orang pada bersikeras menghalalkan poligami, tindakan yang tercela ini?

    Mereka hanya mau dua pilihan, yaitu berzina atau berpoligami. Aneh sekali cara membuat pilihan. Ya kedua-duanya tidak dong.

    Ada lagi pilihan yang lain (dua pilihan). Pilih salah satu sebagai muslim:
    Jadi budak atau jadi teroris?

    Kita tahu pilihan oky. Ya sikap inilah yang terjadi saat ini.

  21. oky said, on August 14th, 2007 at 7:35 pm

    gue bukan monyet : betul sekali Islam tidak menganjurkan poligami, dan manusia tidak akan bisa sesempurna Muhammad SAW dan saya rasa motif orang berpoligamipun lebih dari 90% bukan karna ingin mencontoh Rasul tetapi karna mereka merasa hal tersebut tidak dilarang dan memang Rasul sendiri tidak pernah melarang sahabat2nya pada saat itu untuk berpoligami dan dalam syariatpun tidak terdapat pelarangan poligami. Namun Nabi pernah melarang putrinya untuk dipoligami oleh Ali tetapi tidak melarang sahabat2nya yang lain yang pada saat itu masih berpoligami dan umat muslim pada umumnya untuk melakukan poligami kenapa? menurut kebanyakan ulama dan ahli syariat pelarangan poligami pada Fatimah ra selain karna Ali hendak “menghimpunkan” Fatimah dengan Juwairiyah yang notabenenya adalah putri dari musuh Allah, Fatimah sendiripun adalah Putri kandung Rasul dan mempunyai kedudukan yang istimewa bagi Rasul sangat istimewa. wah gw salut sama lu Tas tapi kalau soal yang ini mungkin kita kurang sepaham ya. hehehe

    idris : Menurut saya pilihannya ada tiga : 1. berzina, 2. berpoligami (halal dengan syarat2 yang ketat dan sudah pasti banyak yang menentang, mendiskreditkan, bahkan mencaci maki), dan 3. monogami.

  22. guebukanmonyet said, on August 14th, 2007 at 11:15 pm

    Idris: Saya kira menjadi muslim bukan berarti menjadi budak, yah tergantung dari sudut pandang mana yang kita pakai. Tapi toh tidak ada salahnya menjadi “budak” Tuhan. Thank you.

    Oky: Thank you informasinya. Menurut gue kita tidak bisa menerapkan mentah-mentah apa saja yang dilakukan oleh pengikut Nabi pada jaman itu, Islam adalah agama yang tidak mati ditelan jaman karena memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Iya bos, kayaknya kita berbeda pendapat soal ini, hehe. Tapi itu tidak masalah, perbedaan tidak harus membuat kita bertengkar kan tapi justru dapat membuat kita menjadi erat. Gue juga selalu berdebat soal ini sama Rusdi, dia mau poligami kayaknya, hehe. Salut juga buat lo dan teman-teman, gue tunggu gebrakan anak-anak JBRB!

  23. oky said, on August 15th, 2007 at 9:46 am

    Betul sekali, masa karna orang yang berpoligami kita yang harus menghabiskan waktu untuk beradu argumen. lebih baik kita satukan tenaga untuk membuat Jakarta menjadi lebih baik. Lho harusnya lu dong yang harus disalutin, bukannya JBRB itu sebuah karya emas dari lu Tas? hehehe. kita disini lagi merintis nih, menyatukan visi dan berusaha selalu bergerak, kapan lu akan bisa hadir disini?

  24. idriss said, on August 15th, 2007 at 11:57 am

    @oky,

    Kenapa kita harus menuruti/mencontohi orang-orang yang hidup pada jaman tribal? Semua hal-hal yang dibolehkan pada jaman tribal itu adalah perlakuan tercela sekarang. Pemikiran orang-orang saat itu sama sekali tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang ini. Kita harus meninggalkan hal-hal yang merugikan dan meresahkan kita.

  25. oky said, on August 15th, 2007 at 1:30 pm

    @ idriss : gimana kalo kita berusaha aja meneladani sifat2 Rasul dan sahabat2nya kecuali poligaminya? setuju? karena memang seharusnya demikian :
    Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Fath ayat 29)

  26. guebukanmonyet said, on August 16th, 2007 at 2:36 am

    Oky: Betul sekali Oky, gue setuju. Thanks buat dukungannya, insyallah gue bisa segera bergabung secara langsung dengan JBRB, mohon doanya. Kutipan ayat yang indah bos, thanks buat pencerahannya. Btw, gimana kalau jadi kontributor blog JBRB? Kayaknya punya bakat menulis nich.

    Idris: Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pandangan Anda, karena kenyataannya kita tidak bisa menutup mata bahwa begitu banyak perilaku umat muslim yang menyimpang dengan mengatasnamakan agama dan Tuhan. Menurut saya, kesalahan dari kita adalah tidak fokus pada esensi ibadah dan ajaran Islam yang sesungguhnya, sehingga seringkali implementasi kita kurang sesuai dengan perkembangan jaman. Tapi bukan berarti saya berpendapat bahwa semua perilaku Nabi dan pengikutnya sudah ketinggalan jaman, hanya saja menurut hemat saya kita semua kurang mau mencari makna dari perilaku2 mereka lebih dalam.

    Allah memberkati kita semua.

  27. sejati said, on August 19th, 2007 at 10:26 pm

    Artikel ini menarik sekali. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/

    AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

    Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

    Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

    Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

    Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

    Agama bumi dan agama langit.

    Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:

    “Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)

    Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

    Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).

    Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

    Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

    Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.

    Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.

    Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

    Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?

    Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit” ;) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.

    Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

    Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.

    Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.

    Masalah wahyu

    Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

    Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.

    Pertama, kesalahan mengenai fakta.

    Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.

    Kedua, kontradiksi-kontradiksi.

    Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir

    Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

    Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

    Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.

    Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.

    Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).

    Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?

    Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.

    Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.

    Kesimpulan.

    Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

    Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

    Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.

    Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

    (Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).

    Catatan kaki:
    I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
    2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
    3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
    4). Ibid hal 720.

  28. eka said, on August 30th, 2007 at 11:23 am

    Menarik….

    Mbak Tasa Nugraza Barley,.. bikin tulisan yg lain doong,..

    Misal, Analisa mengapa Laki-Laki kaya sangat mudah mendapatkan wanita… Or kenapa wanita mudah jatuh cinta pada laki-laki kaya…

  29. guebukanmonyet said, on August 31st, 2007 at 12:25 am

    Terima kasih. Tapi ada koreksi, seperti yang saya tulis di atas kanan blog ini:

    guebukanmonyet is Tasa Nugraza Barley. I am a free man with thoughts and dreams. I see my life and this world a bit differently from anyone else. That is because I know what I want and I know for sure that I don’t want to be the same.

    A man, bukan A mbak. Hehe. Saya cowok tulen loch.

    Btw, ide yang bagus. Topik yang menarik untuk dijadikan sebuah artikel. Kira-kira ada masukan?

  30. Lewisa said, on September 6th, 2007 at 9:48 pm

    Mbak Eka, mungkin karena wanita cenderung memilih hidup mapan daripada hidup susah. hehehe…
    Kebetulan suami saya sudah agak berumur dan -katakanlah- kaya raya. Sebelum saya memutuskan menikah, rasanya seluruh dunia mengatakan saya ini pencari harta.
    Saya sempat bimbang, apa iya saya ‘demen’ karena hartanya, saya juga sempat sholat istikhoroh. Akhirnya, saya menikah, menentang arus.
    Saya menikah karena cinta, dan sekarang, kami sedang jatuh, tidak berpenghasilan dan hanya menghabiskan tabungan yang tersisa, tapi ternyata saya masih cinta.
    Jadi sekarang, saya tidak mudah menjatuhkan cap ato vonis ‘pencari harta’ pada wanita yang bersuamikan orang kaya.
    Semua orang punya alasan, dan pastinya berbeda-beda.

    Jadi, kenapa wanita lebih mudah jatuh cinta pada lelaki kaya…, menurut saya begini:
    “Kalau sama-sama gratis, sama-sama cepat, dan sama-sama kering dari hujan, mbak Eka memilih naik metromini ato taksi?”
    Kemapanan dan kenyamanan selalu penting untuk ketenangan hati wanita (diiringi dengan cinta tentunya) :-)

  31. Jennie said, on September 7th, 2007 at 7:47 am

    Saya tidak beragama Islam dan tidak mau “sok ngerti.” Hanya secara universal, jika mau jeli membaca/menafsirkan kitab suci maupun buku-buku religius mana pun, biasanya identifikasikan yang mana nilai-nilai (values):

    - etika (ethics alias biasanya disebut “nilai-nilai” saja)
    - dogma (doctrine alias aqidah)
    - kultural (cultural)

    dan yang untuk kepentingan institusi religi (alias “defensive system” agama tersebut).

    Dan bagi para wanita yang lebih gampang “jatuh cinta” pada lelaki kaya raya… well, bagi saya tidaklah berlaku karena kelimpahan materi bukanlah diri orang itu sendiri namun konsekuensi dari kepribadian orang itu (ingat “mindset sukses”). :)

  32. guebukanmonyet said, on September 9th, 2007 at 2:40 am

    Lewisa: Interesting what you said, “Kalau sama-sama gratis, sama-sama cepat, dan sama-sama kering dari hujan, mbak Eka memilih naik metromini ato taksi?” I think we can’t really blame that way of thinking. Every one has his or her preferences in life, that’s just human.

    Jennie: Nice Mba :) Mindset sukses yah? Hehe. I have to learn more on that from you.

  33. Nash said, on October 15th, 2007 at 4:15 am

    Sangat menarik saya membaca keluhan dan juga anggapan tentang poligami. Sesungguhnya ayat poligami yang disebutkan penulis banyak ertinya dan bisa juga ditafsirkan secara berbeda. Maka ada yang menafsirkan secara nagatif dan ada juga yang menafsirkan secara positif. Ada juga yang menghilangkan fakta sejarah ketika menafsirkan sesuatu ayat dan ada juga yang mengambilnya sejarah sacara mengikut nalurinya atau kehendaknya agar ia dapat menyakinkan kepada pembaca lain dengan pendapatnya. Saya bukanlah seorang yang anti poligami tapi saya seorang yang ingin melihat keadilan dalam poligami.

  34. guebukanmonyet said, on October 15th, 2007 at 1:38 pm

    Benar sekali, setiap ayat pasti dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Begitulah manusia dan pemikirannya, akan selalu berbeda, tapi bukankah memang Tuhan menciptakan manusia dengan berbeda-beda?

  35. Nash said, on October 16th, 2007 at 1:59 am

    Kerna itu kita pasti juga mengerti akan berbedaan wanita yang menerima poligami, Ada yang setuju dengan poligami ada juga yang ngak setuju. Tapi saya yakin yang ngak setuju peratusannya lebih tinggi dari yang setuju. Jika semua wanita setuju berpoligami, nanti ngak kecukupan wanita dimuka bumi ini. Banyak lelaki yang bujangan, hehe,

    Hidup ini penuh dengan warna warni nya. Cantikkan.

  36. yonna said, on October 24th, 2007 at 2:51 pm

    topik poligami gak ada matinye :mrgreen: banyak guyonan tentang poligami misalnya ada kisah seorang laki-laki yang mempunyai 4 istri, ke-4 nya dibelikan rumah dan mobil tapi mau tau suaminya tidur di mana? tidur di mobil hahahahahahhaha

    atau elegi suami yang istrinya dua, setiap pergi ke istri pertama gak dikasih makan dan minum termasuk hubungan suami-istri karena si istri pertama menganggap “ah istri mudanya udah ngasih” begitupun dengan anggapan istri kedua…walhasil udah punya dua istri tapi tetep terlantar hahahahhahah

    Btw salut ma Tasa, isi artikelnya akurat, rupanya Tasa cukup selektif dalam memilih referensi sehingga mempersempit keraguan visitor yang membaca artikel ini. itu aja komen saya salam :)

  37. harriansyah said, on October 24th, 2007 at 4:07 pm

    tasa, semakin menarik tulisan anda ini.

  38. anwar said, on October 25th, 2007 at 9:32 am

    bagaimana mas dengan kasus ZINA yang dilakukan mantan anggota DPR, karena tidak boleh poligami maka ia berzina??? kenapa poligami no zina yes!!!!

  39. guebukanmonyet said, on October 27th, 2007 at 1:42 am

    Yonna: Hehe, bener banget tuh. Intinya punya istri lebih dari satu merepotkan ya? Jadi lebih enak punya satu istri aja, hidup lebih damai dan bahagia. Lol. Terima kasih.

    Harriansyah: Terima kasih atas dukungan Anda.

    Anwar: Well, bagi saya poligami NO dan perzinahan juga NO.

  40. raudhah said, on October 30th, 2007 at 2:40 pm

    Setahu saya islam tidak melarang poligami. Sah-sah aja. Asal bisa memenuhi syarat poligami. silahkan aja. Aa gym berpoligami, sah aja. mengapa orang lain sewot, istrinya (keluarganya) aja gak sewot. Mestinya orang yang sewot itu malu dg keluarga Aa gym. Keluarga Aa gym damai-damai aja. Mengapa keluarga Aa gym bisa menerima Aa gym berpoligami? Karna keluarga Aa gym paham betul ajaran islam. Jadi kalian gak perlu sewotlah.

  41. zahra said, on November 9th, 2007 at 2:17 am

    speechless…amazed sebenernya, masih ada cowok yang ngga mau poligami…HOREEE!!! susah cari cowok jaman skarang, kalo ngga gay, maunya poligami, atau kawin cepet-cepet, atau brengsek…duhh…

    saya sebagai cewek sih…ya tentunya ga setuju sama poligami. Saya juga taunya poligami boleh karena alasan2 yang udah dikasih sama guebukanmonyet. cuma yah..al-quran kan emang implisit (setau saya implisit), jadi pemahaman orang bisa beda…kalo saya sih ngga sewot sama aa gym…saya setuju, toh istrinya nerima, kenapa kita rame? cuma saya sewot sama efek yang ditimbulkan aa gym. Kan jadinya cowok-cowok jadi tambah pengen poligami. Ntar gimana nasib saya dan temen-temen cewek saya, dan cewek-cewek lain yang ngga mau dipoligami dong…?

  42. guebukanmonyet said, on November 9th, 2007 at 2:31 am

    raudhah: Benar juga sih, tapi saya kan membahasnya dari sudut pandang akademisi. Aa Gym sebelum berpoligami seakan-akan mendukung praktek monogami dengan selalu membawa “satu” istrinya ke tiap ceramahnya dan selalu mengekspos kondisi keluarganya yang sakinah, jadi wajar banyak orang yang kecewa begitu ia berpoligami.

    zahra: Terima kasih buat dukungannya. Intinya sih, saya tidak bilang bahwa orang yang mendukung poligami itu PASTI salah, perbedaan itu boleh kok dalam Islam. Tapi memang fakta bahwa mayoritas perempuan di dunia ini sakit hatinya apabila dipoligami.

  43. apri yanti said, on November 12th, 2007 at 3:47 pm

    aq sng bgt ma artikel nya
    biar2 qta pada tau semua
    thanx bgt ya
    btw
    gw ga suka dgn cara pndg aa gym
    knln yuuuks di email aq
    http://www.yanti_zal@yahooo.co.id

  44. yonna said, on November 14th, 2007 at 12:01 pm

    bentar….Tas, kok ambil referensinya dari Islam Lib semua kayanya? Jadi gak nyaman mbacanya deh pas tau referensinya dari mana….Islam Lib gitu loch?! Atau Tasa emang pro sama pahamnya Islam Lib? Jadi bingung (?)

  45. guebukanmonyet said, on November 14th, 2007 at 12:11 pm

    apri: Thanks buat dukungannya. Btw, alamat emailnya salah yah?

    yonna: Wah, emangnya ada apa dengan JIL? Kalau saya sih bukan anggota atau apa, cuman memang saya mendapatkan banyak artikel yang berkualitas di sana. Saya sendiri tidak menganggap JIL itu adalah aliran sesat atau gimana, menurut saya mereka adalah kumpulan Muslim yang memiliki pandangan berbeda terhadap Islam. Mungkin kesalahan mereka adalah terlalu ekstrim dalam melawan arus mainstream yang ada, sebuah pesan yang benar bisa salah kalau disampaikan secara salah.

  46. yonna said, on November 14th, 2007 at 12:26 pm

    kaget, kaget tau-tau ada Tasa nongol se-ASAP ini :lol:

    oke…kalo Tasa bisa memilah mana info yang bagus bener dengan yang bagus salah dari JIL, saya adem baca artikel ini :)

    gak gimana-gimana, saya udah seneng dan setuju cuma kaget aja pas tauk ada Islam Lib yang emang ekstrim dalam memahami materi kehidupan jika dihubungkan dengan Islam.

    Fiuh….hampir aja lari terbirit-birit meninggalkan blog ini :mrgreen:

  47. Pemburu said, on November 14th, 2007 at 4:53 pm

    Oleh Adian Husaini :

    Liberalisasi Islam memang sudah menjadi tantangan yang sangat serius bagi umat Islam. Sebab, mereka bukan hanya salah, tetapi juga aktif membela yang salah. Ketika umat Islam menyatakan bahwa Ahmadiyah, agama Salamullah, Qiyadah Islamiyah, pornografi, dan sebagainya adalah paham sesat dan tindakan salah, maka kaum liberal berdiri pada garis depan untuk membela mereka. Begitu juga ketika umat Islam menolak shalat dalam dua bahasa, maka kaum liberal pun membelanya(sholat dalam 2 bahasa).
    Seperti kita ketahui, kaum liberal sangat menjunjung tinggi paham relativisme tafsir padahal pemikiran tersebut adalah pemikiran yang absurd dan konyol. Dengan pemikiran ini, mereka telah menghilangkan otoritas dalam penafsiran. Padahal, ini jelas tidak mungkin. Dalam kehidupan ini, selalu ada otoritas dan standar dalam penilaian sesuatu. Standar itu tentu didasarkan pada penilaian yang umum dan normal. Pada umumnya, manusia akan menilai bahwa Presiden SBY lebih tampan dibandingkan Thukul Arwana. Pada umumnya manusia akan menilai bahwa Inneke Koesherawati lebih cantik jika dibandingkan dengan pelawak Omas atau Rini Bonbon.
    Karena manusia adalah makhluk yang satu, maka manusia bisa mempunyai standar yang satu. Kita bisa melihat, biasanya yang terpilih sebagai Miss Universe adalah wanita yang memang cantik menurut ukuran rata-rata manusia normal. Pada umumnya, kaum laki-laki memang lebih kuat secara fisik ketimbang kaum wanita, sehingga dibuat kategorisasi olah raga antara laki-laki dan wanita.
    Dalam logika relativisme ala post-modernist, memang segalanya bisa menjadi relatif. Di rumah sakit jiwa, seorang yang sakit jiwa bisa menuduh dokternya yang gila, bukan dia yang gila. Standar siapa yang digunakan untuk menentukan seseorang itu sakit jiwa atau tidak? Tentulah yang dipakai standar dokter jiwa. Bukan standar orang sakit jiwa.
    Pada umumnya dan normalnya orang Islam akan mengatakan bahwa kelompok Qiyadah Islamiyah adalah salah, karena memang sudah keluar dari batas-batas ajaran pokok dalam Islam. Itu umumnya dan normalnya. Tentu kita tidak perlu terlalu mendengar ucapan miring dan ganjil yang menyatakan bahwa Qiyadah Islamiyah adalah juga benar. Pendapat seperti ini adalah pendapat aneh dan syadz. Sepanjang sejarah ada saja pendapat nyeleneh seperti itu.
    Islam adalah agama wahyu yang memiliki batas-batas yang jelas. Ada rukun iman dan rukun Islam. Orang yang menolak kenabian Muhammad saw, pastilah sudah berdiri di luar Islam. Agama lain juga memiliki batas-batas atau definisi sendiri. Kaum Kristen yang tidak mengakui otoritas Gereja Katolik dalam penafsiran Bibel, maka dia sudah berdiri di luar agama Katolik, meskipun dia juga mengakui Yesus sebagai Tuhannya.
    Karena itu, sangatlah aneh dan absurd dan keliru jika kaum liberal menyatakan, penafsiran apapun terhadap Al-Quran bisa dibenarkan.

  48. yunir said, on November 14th, 2007 at 9:26 pm

    Great post!
    But I think the second section, “agama dan budaya” should be an article on its own with further discussion. Because it’s not entirely coherent with your main discussion which is ‘polygamy’ and not ‘chauvinism in Islam’

    Anyway, I have two criticism on your arguments. One main and one small critic.

    1. Purpose of marriage.
    You acknowledge that in premodern times, polygamy was alright because it was beneficial and that people get married for various reasons such as social, economical and political.

    But you seem to suggest that marriage in contemporary times is based on ‘love’ only.
    And therefore, marriage should be restricted to one man and one woman. One man two woman is offensive to the woman. Polygamy therefore, should be abolished.

    I think this assumption is not entirely true, even in modern times. Marriage is not all about one man falling in love with another woman and live together till death do them apart. That’s the Christians’ believe. Not Islam.

    Islam is practical.
    (Which is why divorce is permitted, but that’s a different issue altogether.) Islam recognizes the fact that people get married for various reasons, regarless of the time we live in - premodern, modern, 10yrs time, 50yrs time….

    If the first wife does not wish for the husband to engage in polygamy, then say so. If the husband ignores this, go to the court and appeal or get a third party involved to settle disputes in the most calm manner.

    2. The second smaller critic is on the verse that meant, “kamu sekalian (wahai kaum laki-laki!) tidak akan bisa berbuat adil antara isteri-isterimu, sekalipun engkau berusaha keras.”

    This verse is referring to the matters of the heart. Not physical behaviour.

    That is, if a man has three wives, it is not possible for him to not have a favourite one.
    The Prophet s.a.w for instance, loved siti Aisyah the most. But still, the man must act equally towards all the wives. For instance, if the man wants to give present to the favourit wife, he must give it to all others also.

    And the preceeding verse, that says “marry only if you can afford it,” refers to physical/behavioural aspects, not the matters of the heart. The two verses are therefore, not contradictory.

    ——-
    A disclaimer, I am in no way saying that a man has the right to freely engage in polygamy, according to his desires. I am merely saying that existing arguments against polygamy is based on assumptions that are not applicable everywhere.

  49. colson said, on November 14th, 2007 at 10:44 pm

    @ yunir: Good for you: a comment which breaks the esoteric character of the discussion on an apparently very relevant topic. Thanks.

  50. guebukanmonyet said, on November 15th, 2007 at 1:44 pm

    Yonna: Jangan kaget donk ach.

    Pemburu: Thanks for the article.

    Yunir: Long time no see bro. Thanks for the comment. Mmmh, for me love can be translated into many ways. If you think that Islam is very practical, I think that even supports my idea that love is so needed in an Islamic marriage. How can you implement a good marriage without the feeling of love and joy? Of course, the definition of love here is not the kind of love you find in Hollywood movies. And the fact that divorce is allowed in Islam doesn’t mean that love is not encouraged, there’s this love saying, “love is not always about having.”

    On your second criticism, I have to say your opinion makes sense. But, your argument that prophet loved Aisyah the most should be proven. I stated clearly in the article, qualitative and quantitative justice is the kind of justice that should be implemented.

  51. yonna said, on November 15th, 2007 at 2:10 pm

    jelas aja kaget tau-tau ada penampakan :mrgreen:

    well, poligami emang sering disalahartikan dan dimanfaatkan untuk nafsu belaka, tapi ada juga yang beralasan untuk berdakwah. bener-bener dilema kalo implementasinya sih?! membahas poligami seakan gak ada habisnya. saya capek baca diskusi yang cuma debat kusir, tapi di blog ini lumayan…masing2 netter punya argumen walau copas tapi gak apa daripada gak jelas :D

    poligami bukan masalah menyakiti hati atau tersakiti hatinya, tapi lebih dari itu. seorang suami harus memiliki tanggung jawab lebih besar daripada pria beristri satu untuk menafkahi anak istri-istrinya dengan proporsional dan fair. pertimbangkan pula efek keluarga poligami terhadap tumbuh kembang jiwa anak-anaknya, apakah ada dampak psikologis terhadap anaknya yang perempuan misalnya? jangan sampai terlena dengan keakuran para istri sementara perasaan anak tidak diperhatikan. yang ada hanya menunggu bom waktu meledak saja….salam :D

  52. Hendra said, on November 15th, 2007 at 2:45 pm

    InsyaAlloh saya laki-laki, Islam dan Jawa banget, meski ada orang yang bilang saya feminist, bukan lagi islam dan sangat tidak njawani….

    Apapun alasan tekstual yang diambil untuk mengukuhkan “sunnah” satu itu sepertinya rentan pembiasan. Seperti embel-embel yang kemudian mengekor dari penafsiran teks Qur’an, seperti menghindari perselingkuhan apalagi zina, ini sudah mutlak merupakan MODUS….yang intinya merupakan upaya semaunya sendiri, membabi buta, dan mungkin jadi adalah kelelahan “MOCO” pesan Qur’an yang humanis tembus dimensi ruang dan waktu.
    Sekalipun ada oknum manusia bergenital kan perempuan yang turut membenarkan semua ini, menurut hemat kata saya, ya dah ndak papa… la wong semua yang benar dari manusia ini sangat relatif kok…wajarkan…soalnya bukan TUHAN. Tapi andai ada yang tidak setuju dengan “sunaah” satu ini (termasuk saya) baik perempuan atau laki ya mbok plislah…meski ini ruang dialektik yang terbuka lebar… mbok ndak perlu lagi esmoni, palagi menggunakan kata-kata yang dari kelayakan awam masyarakat kesekarangan, masih bisa dikategorikan sebagai bentuk kekerasan bahasa gitu. Koreksi juga ke saya andai masih ada juga yang mbias dari statemen2 yg saya keluarkan.
    Maaf juga kalo mungkin agak dipandang ego tinggi dan ke pedean. Saya hanya bisa menjalani apapun setelah saya “memilih” itu benar (dalam kerelatifan manusia saya). Hal kilafiyah, pro-kontra, mahzab hanya bagian dari kompilasi in put bagi saya.

    Mari bareng-bareng “membangun cinta” atau “menjalin kasih/silahturami” dengan indah…soalnya lagi numpang lewat atau intens ikutin diskusi2 seperti ini, aslinya kan semua masih ada kepedulian membangun bangsa ini dengan tetap ada keberpihakan atas nilai universal yang dikaji bareng dari “fenomena infiltrasi budaya asing -arab/timteng” to…

    mari ber Islam dengan rendah hati dan penuh toleran, sama-sama weningkan pikir dan lembutkan hati dalam berbudaya.

  53. Pemburu said, on November 15th, 2007 at 5:37 pm

    Yup mari berislam dengan rendah hati dan toleran, tapi tetap menjaga batas2 sebuah toleransi. Jangan hanya diamkan suatu pelanggaran, kemungkaran dan keburukan sekecil apapun, bertindak dan katakan kebenaran dan kebaikan itu meskipun pahit. Hukum siapa yang paling benar dan paling baik untuk diikuti? Hukum Allah atau Hukum manusia? bagi saya Hukum Allah yang paling baik dan benar dan wajib ditaati suka maupun terpaksa.

  54. guebukanmonyet said, on November 16th, 2007 at 1:39 pm

    Yonna: Masukan yang sangat bagus Yonna, like always. Saya setuju tanggung jawab adalah sebuah hal yang sangat penting dalam praktek poligami yang sayangnya jarang diperhatikan oleh para suami berpoligami. Anak mana coba yang rela orang tuanya berpoligami?

    Hendra: Setuju tuh Mas, mari berislam yang rendah hati dan toleran. Makin hari kok makin banyak aja debat kusir hanya karena seseorang dianggap melawan ajaran agama, padahal yang nyerang juga gak tahu banyak tentang agama yang bersangkutan.

    Pemburu: Setuju kalau hukum Allah wajib ditaati, masalahnya hukum Allah itu diterjemahkan oleh manusia dari kitab suci, dan sayangnya banyak manusia yang curang dalam melakukan proses terjemahan tersebut. Jadi, kita sebagai umat yah harus hati-hati saja.

    Salam damai untuk semua.

  55. Pemburu said, on November 16th, 2007 at 4:27 pm

    Maksudnya mungkin penafsiran ya, Tafsir adalah penjelasan dari tiap-tiap potongan ayat yang ada di dalam Al-Quran, memang tidak semua tafsir bisa dibenarkan karena sekarang ini banyak orang2 yang tidak memiliki ilmu dan otoritas ikut2an dalam menafsirkan Al-Quran, oleh karena itu kita seharusnya menyerahkan tugas penafsiran kepada ahli tafsir karna merekalah yang punya otoritas dalam menafsirkan Al-Quran. Tapi kita tidak perlu kuatir karna dari zaman sahabat Nabipun telah banyak ulama2 tafsir yang seharusnya dijadikan rujukan setiap umat Islam, tercatat berjuta lembar halaman tafsir pernah disusun oleh para ulama. Tetapi dari semua tafsir tersebut tidak pernah ada perbedaan dalam hal-hal pokok dalam Al-Quran. sehingga hanya umat Islam saja yang mengucap nama Tuhannya dengan lafaz yang sama di seluruh dunia, yaitu ”Allah”, tidak berbeda karena faktor waktu dan tempat. Padahal, hingga kini, kaum Yahudi dan Kristen masih berdebat tentang siapa nama Tuhan mereka. Umat Islam tidak pernah mengangkat Muhammad saw sebagai Tuhan atau anak Tuhan, betapa pun umat Islam sangat mencintai Rasulullah Muhammad saw, dan setiap hari pagi, siang dan malam menyebut nama Muhammad dalam shalat. Umat Islam shalat menghadap kiblat yang satu; takbir, ruku’, sujud, salam, dengan cara yang satu. Umat Islam bisa shalat di masjid mana saja dengan tenang, karena cara ibadahnya sama. Semua umat Islam berpuasa wajib di bulan Ramadhan. Umat Islam berhari Raya Idul Fithri pada 1 Syawal dan ber-Idul Adha pada 10 Dzulhijjah. Umat Islam sepanjang sejarah mengakui kewajiban zakat. Umat Islam sepanjang sejarah melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci, Itulah Islam yang otentik. Islam yang satu. Islam yang sama sepanjang sejarahnya, dari generasi ke generasi, dari satu tempat ke tempat lain. Tidak ada yang namanya Islam Arab, Islam Jawa, Islam Cina, Islam Amerika, Islam Hongkong, dan sebagainya. Juga tidak ada yang namanya ”Islam abad ke-7”, ”Islam abad ke-10”, atau ”Islam abad ke-21”. dan sebagainya. Islam adalah Islam, yang sama antara satu generasi dengan generasi yang lain. Sama antara satu tempat dengan tempat lainnya.

  56. agungk said, on November 19th, 2007 at 12:44 pm

    saya agak setuju dengan jalan pikiran yonna.
    saya heran koq sebahagian besar menitikberatkan perwakinan itu pada kontrak suami dan istri.
    padahal kalau cuman untuk itu gak perlu ada pernikahan. orang toh bisa hidup saling mencintai seumur hidup tanpa menikah.
    yang benar, pernikahan adalah wahana untuk menjamin lingkungan yang supportive bagi perkembangan anak/keturunan. wahana ini musti menjamin kepastian status dan hak anak. Yang mampu mewujudkan kondisi dan tujuan diatas boleh dianggap telah sukses dalam pernikannya. Tidak memandang apakah suami berpoligami atau tidak. Tapi istri berpoliandri naturally defy tujuan diatas, karena sianak jadi tidak jelas siapa bapaknya.
    Saya tidak melihat permasalahan ini dari sisi agama saja, tapi pula dari sisi naluriah manusia itu sendiri sebagai mahluk hidup. Bila kita mengabaikan naluriah alamiah kita, itulah awal kepunahan sebagai species (teori darwin lho).

  57. yonna said, on November 19th, 2007 at 1:32 pm

    @agungk
    kok agak mas? nanggung nih, mau GR eh gak jadi deh :mrgreen:

    Sebelumnya saya gak bermaksud menunjukkan rasa benci pada teori poligami karena Islam sudah mengaturnya, memang bukan kewajiban apalagi sunnah Rasul, poligami cuma pintu darurat :D

    Gini, efek keluarga poligami terhadap kehidupan selanjutnya bisa panjang dan gak abis2. Anak jadi korbannya ya betul?! Seorang anak bisa saja membenci orang tuanya terutama bapaknya karena dipandang si bapak punya nafsu gede sampai harus menikah lagi, apalagi kalo nikahnya ma perawan muda sehingga akibat rasa benci tsb membuatnya melawan dan membantah nasihat bapaknya tsb…padahal melawan kepada orang tua dosanya sangat besar dan balasannya (kualat) langsung diperoleh dalam waktu dekat, di sisi lain si anak jadi begitu karena bapaknya yang membuat ia seperti itu…sangat dilema.

    Atau seorang anak menjadi enggan menikah karena takut dipoligami seperti ibunya atau ditolak orang lain karena dicap “like father like son” hingga pedekate sana sini hasilnya nol besar. Sebuah dilema lagi.

    Atau saat si bapak meninggal dunia dan saatnya pembagian waris. Inilah peliknya pembagian waris, satu bapak satu ibu saja udah repot apalagi kalo satu bapak banyak ibu, gak kebayang. Dalam hukum nasional dan hukum Islam diatur bahwa harta yang diperoleh selama perkawinan adalah harta bersama. Lantas sampai sejauh mana harta bersama dianggap milik suami dan istri pertama, suami-istri pertama-istri kedua, dst? Belum lagi jika ada campur tangan dari keluarga bapak….daripada warisan jatuh ke para istri lebih baik diambil oleh mereka. Pun jika tidak ada masalah saat itu, ternyata masalah datang di kemudian hari di mana anak2 mereka berebut harta warisan dengan saling melaporkan ke polisi, dsb. Si Bapak mungkin sudah tenang di alam sana, tapi anak cucunya yang harus nerima getahnya. Si bapak makan nangka, istri-anak-cucunya kena getahnya.

    Secara praktis, poligami bisa mendatangkan banyak masalah bagi siapapun yang terkait, karena melibatkan banyak orang dan harus dilalui selama bertahun-tahun sehingga tertorehlah sejarah baru dalam keluarga mereka. Sejarah yang tidak akan terlupa oleh siapapun yang mengetahui lika liku suatu keluarga poligami.

    Lihatlah kenyataannya supaya bisa membangkitkan akal sehat dan iman kita…salam.

  58. guebukanmonyet said, on November 19th, 2007 at 2:40 pm

    Pemburu: Iya, setuju bro. Masalahnya, penafsiran para ulama tersebut harus ditafsir lagi oleh kita-kita ini yang kadang menafsirkan secara keliru karena kurangnya panduan atau ilmu yang kita miliki.

    agung: Setuju banget Mas, pandangan yang sangat bagus. Banyak pihak yang melupakan nasib para anak ketika membicarakan poligami, seakan-akan pernikahan itu cuma tentang urusan syahwat saja.

    Yonna: Wah, lagi-lagi sebuah masukan yang sangat bagus dari Yonna. Benar banget, sangat setuju tuh. Praktek poligami itu banyak menimbulkan masalah dan ketidaknyamanan dalam keluarga. Kalau ingin poligami harus pikir 1000 kali deh pokoknya, jangan cuma pikirin nafsu aja. Kebanyakan suami yang poligami selalu mencari perempuan muda untuk dinikahi, jelas itu bukti bahwa mereka lebih mementingkan sisi seksualitas. Kenapa coba mereka tidak menikahi janda-janda tua korban kemiskinan? Kenapa juga Aa Gym mesti menikahi janda muda* yang cantik jelita? Wah, kok jadi ngomongin orang lain? Gak bener nich. Hehe.
    *katanya sih mantan model.

    Salam damai.

  59. Pemburu said, on November 19th, 2007 at 3:41 pm

    Memang benar poligami bisa mendatangkan masalah bagi yang menjalankannya, karena itu bagi orang yang hendak melakukan poligami dituntut agar mempertimbangkan keputusannya secara matang dari berbagai segi, baik materi, nonmateri, kondisi diri dan keluarganya dan juga kondisi istri dan keluarga istrinya. Biar bagaimana pun ketika seorang suami memutuskan untuk menikah lagi, maka yang harus pertama kali terlintas di kepalanya adalah masalah tanggung jawab nafkah dan kebutuhan hidup untuk lebih dari satu keluarga sekaligus. Nafkah tentu saja tidak berhenti sekedar bisa memberi makan dan minum untuk isteri dan anak, tapi lebih dari itu, bagaimana dia merencakan anggaran kebutuhan hidup sampai kepada masalah pendidikan yang layak, rumah dan semua kebutuhan lainnya.
    Mengenai masalah warisan, Islam secara garis besar sudah sangat mendetail membahasnya dalam Al-Quran. Namun yang menjadi permasalahan saat ini ketika masih hidup kebanyakan seorang suami atau istri (jaman sekarang) tidak membedakan (memisahkan) yang mana harta suami dan yang mana harta istri, terlepas dari apapun alasannya hal tersebut sudah sangat sering menimbulkan masalah dikemudian hari ketika salah satunya meninggal. Permasalahan pembagian harta warisan tersebutpun sangat sering dijumpai pada sebuah keluarga baik yang berpoligami maupun yang bermonogami (kayaknya seringnya malah yang monogami karena jumlah keluarga yang poligami saat ini sangat sedikit).
    Kesimpulan saya mengenai poligami adalah hal tersebut adalah hal yang sulit diterima ditengah budaya masyarakat saat ini tapi beda kasusnya jika poligami dilakukan pada 50 tahun yang lalu.
    Tapi yang pasti Islam tidak melarang poligami karna berdasarkan kesepakatan ulama2 dari jaman dulu hingga saat ini dan didukung dengan tidak ada dalil2 baik secara umum maupun khusus, tersirat maupun tersurat mengenai pelarangan poligami maka POLIGAMI = MUBAH (dibolehkan).

  60. arachman said, on December 14th, 2007 at 12:43 am

    assalamu’alaikum…
    saya ingin memberikan ilustrasi :
    ada seorang suami dengan kehidupan cukup namun belum diberi rizki mendapat keturunan, telah meminta izin untuk berpoligami kepada istrinya dan istrinya jelas melarangnya. disatu sisi ada seorang perempuan yang sudah menantikan ada seseorang yang meminangnya namun sampai sekarang belum ada yang meminangnya ….
    - untuk contoh kasus suami tersebut, dapat teredam dengan sendirinya bila mampu menahan keinginan, tapi bila tidak mampu dikhawatirkan akan terjadi “zina” .
    - untuk kasus perempuan tersebut yang semakin lama menanti akan terombang-ambing dan goyah… semoga datang yang diharapkan meminang, namun bila yang datang hanya untuk “sekedar” dan dikhawatirkan akan terjadi “zina”.
    semakin banyak pria bermental “BEJAT”(terutama yang memakai dalil kesenangan semata) dan populasi perempuan lebih banyak dimana bentuk “zina” akan semakin dan semakin merebak.
    Memang kita selalu mengharapkan yang baik-baik untuk kita, namun belum tentu itu baik menurut -Nya.
    jelas bila mau berpikir, ada sebab ada akibat.
    seruan kepada para suami sebelum meminta izin istri untuk berpoligami, “Sadari diri” sudah adilkah saya? karena pasti tanggung jawab bertambah, berpoligami untuk ibadah atau sekedar nafsu??
    untuk istri, senantiasa berharap keridhoan Allah swt semata, karena ridho-Nya lebih dari segalanya.
    wallahu alam .

  61. oky said, on December 31st, 2007 at